
Ketika Revan melihat ada sebuah apotik, Revan segera meminggirkan mobilnya.
"Aku turun dulu yah El... Van..." Kata Maurin sebelum beranjak dan di angguki oleh kedua temannya itu.
Maurin segera keluar dari dalam mobil, gadis itu melangkah mendekati pintu apotik. Sesekali Maurin menghela nafasnya, langkah gadis itu menjadi ragu, jantungnya berdebar. Tangannya segera meraih gagang pintu dan dengan sekali tarikan nafasnya Maurin langsung masuk ke dalam apotik.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan apotik yang di penuhi banyak obat obatan, vitamin dan lain lainnya.
Maurin melangkah menyusuri rak demi tak, sampai matanya menangkap pada jejeran tespack. Gadis itu kembali melangkah mendekat ke arah barisan tespeck itu. Jantungnya semakin berdebar rasa takut seketika menyelimuti perasaannya, sesaat terdiam memperhatikan lalu fikirannya kembali mengingat jika dia harus segera keluar dari apotik karna di luar teman temannya tengah menunggunya.
Dengan cepat Maurin meraih satu tespek dengan merk yang cukup terkenal, gadis itu lalu buru buru mendekati ke arah kasir dengan tidak lupa membeli obat penambah darah sesuai seperti apa yang menjadi alasannya pada Elena dan Revan.
Setelah Maurin mendapatkan apa yang di inginkannya, gadis itu segera berlalu setelah membayar dan tidak lupa memasukkan tespek ke dalam tas agar tidak di ketahui oleh Elena dan Revan.
"Udah..." Kata Elea saat Maurin telah memasuki mobil.
"Udah El... Yaudah yuk kita berangkat sekarang." Jawab Maurin, lalu meminta agar mobil segera melaju menuju sekolahan.
Di sisa perjalanan menuju ke sekolah, Maurin hanya terdiam tentu dirinya juga terus memikirkan dan berharap apa yang di fikirkannya itu tidak terjadi. Elena yang melihat keanehan dari sikap Maurin, tidak berani untuk bertanya karna Maurin sudah menjawabnya jika dirinya tengah anemia. Meski Elea merasa ragu dengan jawaban Maurin. Elena trus meyakinkan hatinya jika itu memang benar.
Setelah tidak terlalu lama perjalanan dari apotik, akhirnya mereka sampai juga di area sekolahan.
"Van... Makasih yah. Udah nganterin kita." Ucap Maurin pada Revan.
"Ya Rin. Santai aja." Jawab Revan.
Setelah itu Maurin dan Elea berniat untuk segera turun, Namun tanpa sengaja Elea menangkap sosok seseorang yang di kenalinya.
"Eeehh Rin, bentar jangan keluar dulu!." Kata Elea sembari menahan tangan Maurin yang hendak membuka pintu.
"Ada apa El..."
__ADS_1
Tanya Maurin dan Revan bersamaan, keduanya merasa heran dengan Elea yang tiba tiba menghentikan Maurin yang hendak keluar.
"Lihat disana!." Ujar Elea sembari menunjuk ke arah dimana Rangga tengah berdiri di samping mobilnya, yang sepertinya masih berusaha untuk mencari Maurin.
Sontak Maurin terkejut kala melihat siapa orang itu, jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. Sosok seorang Rangga yang sudah beberapa minggu ini tidak di temuinya. Maurin seketika merasakan panik.
"Gimana ini Van... EL... aku masih gak mau ketemu sama laki laki itu." Ujar Maurin merasa panik.
"Tenang Rin... Tenaaang kamu jangan panik!." Kata Elena mencoba menenangkan Maurin.
"Gimana aku gak panik El, Dia ada disana sedangkan kita harus segera masuk ke dalam kelas!." Jawab Maurin dengan matanya yang tertuju pada Rangga.
"Jika seperti itu lebih baik kita sekalian bolos saja Rin, karna sekali dia mendapatimu masih beraktivitas di sekolahan dia sudah menemukan jalan untuk menangkapmu." Ujar Revan.
Setelah menunggu beberapa saat sampai bel sekolah berbunyi, Rangga masih belum juga pergi. Dan saat itu Revan memutuskan kali ini mereka kembali membolos sekolah.
Revan langsung membelokkan mobilnya dan meninggalkan tempat itu, Maurin hanya bisa menghela nafasnya dan tidak memungkiri ada rasa bersalah di dalam hatinya kala temannya harus terbawa masalah karnanya.
"Rin... Aku minta kamu gak usah bicara seperti itu, kita ngelakuin ini karna kita sayang sama kamu Rin..." Ucap Elea yang tidak mau Maurin terus terusan menyalahkan dirinya.
Tidak tahu harus kemana, Revan membawa mobil ke arah taman. Dari pada trus berada di tempat yang sama dan tidak ada tujuannya.
"Kita sekalian makan makan disini dan menghabiskan waktu." Kata Revan sembari melepaskan seatbelt yang melingkar di tubuhnya.
Ketiganya pun segera turun lalu melangkah bersama menuju ke arah taman yang cukup ramai akan penjual berbagai macam makanan.
Revan lalu menuntun kedua teman perempuannya ke sebuah gerobak yang menjual gado gado, seketika aroma semerbak makanan mengudara. Dan Maurin yang mencium aroma makanan yang masuk ke Indra penciumannya, tiba tiba saja perut gadis itu seperti di aduk dan wajahnya berubah menjadi pucat. Dan langkahnya seketika terhenti.
"Kamu kenapa Rin?." Tanya Revan langsung saat melihat wajah pucat Maurin.
"Gapapa Van, tiba tiba pusing aja mungkin karna aku masih belum minum obatnya." Jawab Maurin.
__ADS_1
"Yaudah kalau gitu kita cepet pesen makanan, biar sekalian nanti Maurin meminum obat setelah makan." Ujar Elea.
Mendengar apa yang di katakan Elea, Revan menyetujui, lalu ketiganya segera memesan tiga porsi gado gado. Meskipun Maurin merasa mual saat itu dia berusaha untuk menahannya agar kedua temannya tidak semakin khawatir padanya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya tiga piring gado gado lengkap dengan tiga gelas es teh di sajikan, seketika Maurin semakin mual kala melihat penampakan dari gado gado itu.
"Vann... Ell... Aku ke kamar mandi dulu yah." Kata Maurin pada kedua temannya, Maurin dan Revan mengangguk sebagai jawaban.
Setelah itu Maurin segera mencari kamar mandi umum dekat taman, posisi kamar mandi yang cukup jauh dari tempatnya membuat Maurin harus melangkah lebih lama sembari menahan perutnya yang ingin bergejolak.
Setelah sampai di kamar mandi, Maurin langsung membuka pintu kamar mandi dan langsung muntah.
"Hoeeekkk..." Suara itu menggema ke seluruh ruangan kamar mandi, semua yang ada di perutnya semua keluar.
Maurin langsung menyadarkan tubuhnya di dinding kamar mandi, rasanya tenaga Maurin terkuras habis habisan setelah muntah. Keringat terlihat bercucuran membasahi keningnya dan nafasnya yang sedikit memburu.
"Tidak salah dugaanku, karna kamu pasti berada di dalam mobil itu." Saat Maurin mencoba mengatur nafasnya, tiba tiba saja sebuah suara berat terdengar. Maurin seketika membulatkan matanya kala melihat sosok Rangga yang masuk ke dalam kamar mandi yang tidak sempat di kunci.
Maurin langsung mundur meski dan tubuhnya semakin dekat dengan dinding, dengan senyuman smirknya Rangga mendekati Maurin.
"Stoppp... JANGAN MENDEKAT!." Seru Maurin pada Rangga.
"Kenapa? Kenapa kamu takut seperti itu." Rangga semakin mendekat, dan Maurin pun semakin takut.
Langkah demi langkah semakin maju, sedangkan Maurin hanya bisa diam dan merapatkan tubuhnya ke tembok, gadis itu tampak ketakutan.
"Grreeeepp"
Rangga tanpa aba aba langsung memeluk Maurin, dengan erat Rangga memeluk Maurin. Memejamkan matanya sembari menikmati aroma wangi dari rambut milik Maurin.
Maurin sempat terkejut dengan apa yang di lakukan Rangga, Maurin merasa bingung apa yang terjadi pada Rangga dan membuat laki laki itu tiba tiba bersikap seperti ini, sebuah sikap yang bahkan Maurin sendiri kurang percaya jika Rangga bisa melakukannya pada dirinya.
__ADS_1