
Elea dan Revan hanya melongo tidak percaya, setelah Rangga menceritakan apa yang beberapa jam lalu terjadi tentang dimana Maurin yang tiba tiba meminta pada Rangga untuk membelikan sebuah kue yang cukup langkah.
"Sedikit gak percaya sih aku, karna Maurin tidak pernah bersikap seperti itu. Sungguh di luar dugaan." Ujar Elea yang masih belum percaya akan apa yang di ceritakan oleh Rangga.
"Tapi, Suster tadi menjelaskan jika ini karna hormon kehamilannya." Sahut Rangga, jika apa yang di alami Maurin itu sudah wajar dan umum yang di rasakan oleh ibu hamil.
"Kalo aku sih percaya percaya aja, soalnya aku gak bisa hamil. Jadi memang mungkin itu bisa terjadi. Tapi tidak apa selama kamu bisa menjaganya dengan baik aku sama Elea menjadi tidak terlalu khawatir dengan keadaannya." Timpal Revan sedikit ambigu membuat Elea menatapnya heran sedangkan Rangga hanya menahan tawanya mendengar ucapan Revan yang terselip kekonyolan.
"Bego kamu Van, lagian mana ada laki laki bisa hamil." Sahut Elea dan Revan langsung terkekeh.
"Yaudah kalau gitu aku sama Revan pamit dulu yah, lagian Maurin juga lagi istirahat nanti salamin pada dia kalo sudah bangun." Kata Elea pada Rangga, melihat keadaan Maurin yang cukup melegakan Elea memutuskan untuk melanjutkan pergi ke sekolah.
"Oke... Makasih udah jengukin dia." Kata Rangga.
Revan dan Elea pun segera berlalu dari kamar rawat itu, dan kini kembali seperti sebelumnya hanya sisa Rangga dan Maurin. Rangga sesaat melirik ke arah jam tangan yang setia melingkar di pergelangan tangannya. Melihat jam Rangga sebenarnya sedikit bingung antara dia harus segera berangkat bekerja karna hari ini Rangga baru ingat jika ada meeting penting bersama kolega dari perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya sedangkan di satu sisi Maurin masih belum ada yang bisa menggantikannya untuk menjaga Maurin.
Di tengah kebimbangan Rangg yang diburu waktu, tiba tiba pintua kembali terbuka dan terlihatnya Bu Rosma masuk ke dalam, Rangga seketika dapat menghela nafas lega.
"Pagi Bu..." Sapa Rangga pada Bu Rosma yang sepertinya masih memendam kekecewaan padanya.
__ADS_1
"Pagi..." Bu Rosma segera menutup pintu lalu meletakkan beberapa makanan yang di bawanya di atas meja.
"Saya sudah memasak beberapa makanan, tuan bisa sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor." Seketika hati Rangga seperti di remas, sekecewa apapun Bu Rosma pada Rangga wanita paruh baya itu masih memberikan perhatiannya pada Rangga. Bahkan Bu Rosma dapat mengerti apa yang di butuhkannya saat ini.
"Makasih Bu..." Rangga segera beranjak berdiri lalu pindah ke sofa untuk segera memakan sarapannya.
Bu Rosma lalu mendekati Maurin yang tertidur, lalu meraih tangan Maurin yang terpasang infus tatapannya seakan sedih melihat keadaan Maurin yang seperti ini. Dan saat Bu Rosma tengah menatap Maurin tanpa sengaja ekor matanya melihat sekotak kue Bika Ambon yang berada di meja nakas.
"Apa Maurin yang meminta kue ini tuan?." Tanya Rosma pada Rangga. Dan seketika Rangga menghentikan aktivitasnya sementara.
"Iya Bu tadi dini hari dia muntah dan setelah muntah dia tiba tiba meminta kue Bika Ambon." Jelas Rangga sembari kembali melanjutkan makan makanannya.
Bu Rosma yang mendengar penjelasan dari Rangga sedikit heran, jika Maurin meminta kue Bika Ambon itu saat dini hari. Lalu bagaimana Rangga bisa mendapatkannya.
"Saya meminta mamah Eli untuk membuatkannya Bu." Sama halnya dengan Maurin, kali ini jawaban Rangga juga membuat Bu Rosma terkejut. Apakah sampai seperti itu.
"Ya tuhan, kenapa harus langsung di turuti tuan. Tuan kan bisa menurutinya jika waktu dia meminta di saat yang tepat. Berarti tadi di jam nyonya Eli lagi enak enaknya tidur dia malah membuatkan kue untuk Maurin." Rosma tentu merasa tidak enak pada majikannya itu, meski di dalam benaknya terbesit rasa haru kala seorang seperti Bu Eli mau menuruti keinginan Maurin.
"Tidak apa apa Bu, lagi pula mamah ngelakuin itu juga demi cucunya sendiri." Dan kali ini Rosma semakin merasa terharu, kala apa yang terjadi saat ini tidak seburuk dengan bayangannya, keluarga dari kalangan atas itu cukup mudah untuk menerima Maurin.
__ADS_1
"Makaasiiih tuan..." Ucap Bu Rosma.
Rangga tersenyum, lalu berdiri sarapan paginya telah usai. Setelah mengguk air putih Rangga beralih mendekat ke arah Bu Rosma.
"Bu saya harap ibu bisa memaafkan apa yang saya lakukan terhadap Maurin, sampai membuatnya seperti ini. Tapi Bu saya juga janji mulai hari ini dan seterusnya saya akan menjaga dia dan menyayangi dia Bu." Kata Rangga, kata kata lembut itu mulai meruntuhkan tembok kekecewaan Bu Rosma.
Bu Rosma lalu mengangguk, mulai yakin pada Rangga. " Makasiih tuan." Ucapnya kembali, saat ini hanya rasa syukur yang dapat di rasakan oleh Bu Rosma.
"Ooh yah Bu, saya hari ini ada meeting lagi. Saya titip Maurin yah Bu." Rangga yang sudah melihat jam semakin beranjak kembali mengingat akan kewajibannya.
"Baik tuan, lagi pula Maurin putri saya." Jawab Bu Rosma tak kala bahagia kala putrinya di perlakukan dengan begitu baik.
Rangga segera pergi setelah pamit pada Bu Rosma, laki laki itu jadi merasa lega ketika yang menggantikannya adalah Bu Rosma yang tidak lain adalah ibunya sendiri.
****
Rangga berjalan menyusuri koridor menuju ke ruangannya lalu segera menaiki lift yang akan mengantarkannya ke ruangannya paling atas di gedung itu. Saat lift terbuka Rangga segera keluar. Namun, saat Rangga hendak masuk ke ruangannya tiba tiba saja wanita yang tidak lain adalah Bella langsung muncul dan menghadangnya entah dari mana asal wanita itu.
"Apa kabar Ga?." Ucap Bella lalu menghampirinya dan merapatkan tubuhnya pada Rangga. Yang spontan Rangga langsung memundurkan langkahnya membuat jarak pada Bella.
__ADS_1
"Untuk apa kesini?. Apa kau ingin menjebakku lagi." Rangga menjawabnya dengan bengis, laki laki itu mengingat jika Bella lah yang mengakibatkan ini semua terjadi. Meski rasa syukur itu terpanjat karna sebentar lagi dia akan kembali mendapatkan seorang anak yang benar benar dari wanita yang tulus di cintainya.
Bella yang mendengar ucapan Rangga seakan menunjukkan ketidaksukaannya padanya hanya terkekeh. "Ternyata kamu menyadari Ga, kalau aku yang melakukan itu. Ooohh baiklah tapi aku senang meski kamu mengetahui itu yang terpenting rencanaku berhasil. Oh yah bagaimana dengan nasib gadis malang yang telah kau nodai itu, apakah dia meminta pertanggung jawaban padamu atau malah pergi meninggalkanmu." Kata Bella semakin menguji kesabaran dari Rangga.