
"Apa bisa aku berdua saja dulu bersama Maurin?." Ucap Rangga yang di peruntukkan untuk pada semua orang yang berada di sana, kecuali Maurin.
Seketika semua orang saling tatap, lalu sesaat kemudian mereka menyadari jika Rangga ingin berbicara empat mata saja bersama Maurin. Dengan senyuman tipis semua orang meninggalkan ruangan itu hingga hanya tersisa Maurin dan Rangga di ruang rawat itu.
Maurin yang melihat orang orang semua menuruti ucapan Rangga seketika sedikit bingung, di tambah dia juga merasa canggung setelah Eli mengatakan semuanya pada Rangga.
"Kenapa mereka semua harus keluar tu- tuan?." Tanya Maurin dengan wajah tertunduk.
Rangga tersenyum, posisinya masih sama lalu Rangga melangkahkan kaki mendekati ke arah Maurin, duduk di kursi samping ranjang dan Rangga lalu semakin mendekat dan menatap lekat Maurin membuat Maurin semakin tidak nyaman.
"Kenapa sayang?, Apa kamu mengkhawatirkan keadaanku hmm..." Kata Rangga, perkataan itu cukup mampu membuat perasaan Maurin tidak karuan.
Maurin menggeleng pelan, rasanya cukup berat dan merasa malu untuk mengakuinya. "Tidak seperti itu tuan, nyonya hanya salah faham. Sebenarnya aku melamun karna memikirkan kapan aku bisa segera keluar dari rumah sakit." Jelas Maurin, tentu itu bukan jawaban yang sebenarnya.
Sedikit kecewa jelas di rasakan Rangga akan jawaban Maurin yang tidak ingin mengakuinya, tapi terlepas dari itu Rangga tetap merasa senang ketika dirinya mulai di rindui oleh Maurin meski Maurin tidak mengaku.
Rangga menjawabnya hanya manggut manggut seakan dia percaya akan apa yang di katakan oleh Maurin. "Soal kapan kamu pulang sabar dulu yah, karna kamu harus bedrest selama beberapa hari lagi. Ingat disini ada janin yang harus berkembang baik dengan ibu yang sehat." Jelas Rangga pelan, mencoba memberi pengertian pada Maurin.
"Ngomong ngomong tentang pulang, setelah dari sini kamu kembali ke rumah kan Rin?, Ke rumahku yang saat ini menjadi rumah kita." Kata Rangga yang memang masih belum mengetahui keputusan Maurin setelah kepulangannya dari rumah sakit.
"Bukankah kita sudah membahas itu tuan, aku tidak mau kamu bertanggung jawab akan bayi ini. Aku akan tetap merawatnya sendiri." Maurin seketika mengingat jika dia tetap harus mempunyai pendirian akan keputusan yang di buatnya.
DEGG
__ADS_1
Rangga jelas terkejut, mengira jika selama perawatan Maurin menerima berbagai perilakunya, dan juga sudah mau untuk berbicara atau pun bercanda dengan dia, bahkan sikapnya pun mulai sudah menerima akan kehadirannya. Tapi kenapa ibu dari anaknya itu justru masih kekeh untuk agar dirinya tidak bertanggung jawab akan bayi yang di kandungnya.
"Kenapa Rin?, Bukankah seharusnya memang seperti itu. Kamu harus ingat jika aku adalah ayah dari anak yang kamu kandung." Jawab Rangga, seketika suasana hatinya berubah.
"Tapi kamu juga harus menghargai keputusanku tuan, aku hanya ingin selama kehamilanku aku berada di rumah paman dan bibi. Tetap saja setelah aku kabur dari rumah itu, dengan kehamilan ini bukan berarti aku tinggal di rumah ibu atau rumah besarmu lagi tuan. Aku akan tetap tinggal di rumah paman dan bibi." Jelas Maurin menekankan akan keputusannya yang sudah tidak bisa di ganggu gugat.
"APA CUMAN KAMU AJA YANG BERHAK ATAS ANAK INI, AKU JUGA RIN..." Rangga yang tidak bisa mengontrol emosinya mulai meninggikan suaranya pada Maurin.
"WALAU BEGITU KAMU JUGA HARUS MENGERTI TENTANG KENYAMANKU TUAN, AKU GAK BISA UNTUK KAU PAKSA AKU GAK MAUUUU..." Maurin yang tidak kala sakit saat Rangga mulai meninggikan suaranya, juga membalas dengan suara yang tidak kala tinggi.
Semua orang yang berada di luar, seketika sama sama berdiri saat tiba tiba terdengar suara Rangga dan Maurin sama sama meninggi. Mereka seketika khawatir akan apa yang terjadi di dalam sana.
"Sebaiknya kita masuk, takut jika mereka tengah bertengkar." Kata Ivan yang langsung di setujui semuanya. Tanpa permisi lagi mereka bertiga langsung masuk dengan Eli yang menggendong Aden.
"Ada apa ini?." Ucap Ivan saat masuk, dan melihat keduanya tengah bertengkar.
"Ibuu." Rengek Maurin yang seketika Rosma langsung menghampiri putrinya, dan Maurin langsung memeluk ibunya.
"Ada apa ini Rangga?." Ivan kembali bertanya kala pertanyaannya masih belum mendapat jawaban.
"Paah... Maurin menolak untuk tinggal bersamaku setelah pulang dari rumah sakit. Aku gak mau pah, itu juga anakku." Rangga akhirnya mengeluarkan suaranya menjawab pertanyaan dari sang ayah.
"Apa tuan fikir, dengan mudahnya tuan bisa menyuruhku kembali ke rumah tuan. Sedangkan aku masih belum bisa memaafkan apa yang tuan lakukan!." Maurin seketika menyahut ucapan Rangga, situasi semakin rumit kala keduanya tidak mau mengalah.
__ADS_1
"KAMU HARUS INGAT RIN, YANG DI DALAM KANDUNGAN KAMU JUGA ANAKKU..." Sentak Rangga sampai seisi ruangan di penuhi akan suaranya yang menggema.
"OOOHHH JADI TUAN MEMINTAKU UNTUK KEMBALI HANYA KARNA ANAK INI. OKEEE JIKA MEMANG SEPERTI ITU AKU TIDAK AKAN KEMBALI KARNA TUAN TETAP SAMA TIDAK PERNAAH BERUBAH. EGOIIS." Maurin tentu semakin meninggikan suaranya kala Rangga menjawabnya dengan menyentak dirinya.
Semua orang semakin merasa bingung dan pusing, melihat keduanya yang terlihat perdebatan yang keduanya juga tidak mau saling mengalah. Sama sama mempertahankan keputusannya masing masing.
"Udaaah udaaah... Jangan kalian teruskan. Kamu juga Ga, apa tidak bisa kamu menerima dulu keputusan Maurin. Dia sedang hamil Ga, jangan kamu malah seperti anak kecil gini." Eli langsung mengeluarkan suaranya ketika melihat Rangga yang hendak kembali berbicara.
"Tapi maaah, tidak bisa seperti itu dia juga anakku maaah..."
"Siapa yang bilang itu anak orang lain, siaaapaaa... Mamah hanya meminta kamu agar mengerti tentang perasaan Maurin yang tengah hamil. Apa kamu tidak bisa mengalah pada perempuan terlebih itu adalah calon ibu dari anakmu." Eli seketika memberikan jawaban menohok pada Rangga, membuat laki laki itu sadar apa yang di lakukannya tadi.
Sesaat hanya hening, dan sesaat kemudian tangis dan isakan Maurin terdengar, Maurin sungguh tidak bisa menahan lagi air mata yang sedari tadi ingin keluar.
"Aku minta biarkan aku bersama ibu dulu hikss... Aku ingin istirahat." Kata Maurin di tengah isakannya.
Eli yang mengerti akan kondisi Maurin dengan bahasa tubuhnya meminta Ivan dan Rangga untuk keluar Namun, Rangga yang masih saja kolot tidak mau untuk menuruti ucapan dari Eli.
"Aku gak mau maahh, aku akan tetap berada disini." Ujar Rangga masih mengotot.
"Pah..." Eli memanggil singkat Ivan, lalu belum sempat Ivan memberikan jawaban Eli langsung berlalu keluar dari ruang rawat itu
Ivan yang mengerti akan apa yang di kodekan dari Eli, tanpa menyuruh Rangga. Laki laki yang masih besar tenaganya itu langsung menyeret Rangga paksa dengan menatapnya tajam. Rangga yang melihat akan kemarahan dari sang ayah seketika tidak bisa melawannya dan tanpa perlawanan hanya dengan tatapan tajam Rangga langsung keluar dari ruang rawat dan menatap Maurin yang tidak melihatnya sama sekali.
__ADS_1