
"Terimah kasih atas perhatian kalian. Saya tidak apa apa. Dan kalian bisa melanjutkan aktivitas masing masing." Kata Kevin pada orang orang yang telah membantunya.
Setelah semua orang telah pergi, Kevin lalu menghampiri Bu Rosma yang masih berada di ambang pintu dengan wajah panik yang belum mereda.
"Apa ada yang bisa saya bantu Bu?." Tanya Kevin, berlagak seperti tidak mengetahui apa apa.
"A- anu apa pak dokter melihat putri saya yang beberapa jam lalu dokter periksa dia tiba tiba saja tidak ada di dalam kamar." Jelas Bu Rosma kepanikannya semakin menjadi.
"Apa sebelumnya ada yang menjenguk Bu, kali saja pasien tengah bersama penjenguk."
Bu Rosma seketika menggeleng. "Tidak dok, tidak ada yang menjenguknya. Ketika saya tidur dia juga ikut tidur."
"Baiklah ibu tenang dulu, kebetulan saya udah selesai waktu kerjanya. Mari saya temani Bu untuk mencari pasien." Kata Kevin lalu tanpa di minta laki laki menawarkan diri untuk ikut membantu Bu Rosma mencari Maurin.
"Terimah kasih dok." Akhirnya Bu Rosma segera mengikuti langkah Kevin. Kevin yang tentu mengetahui dimana keberadaan Maurin sekarang, langsung saja mengarahkan Bu Rosma pada sebuah taman, karna selain itu taman juga bisa menjadi tempat utama untuk mencari seseorang yang tiba tiba tidak ada di dalam ruang rawat.
Tentu saja dalam sekali pencarian, dan saat Bu Rosma dan Kevin telah sampai di area taman. Setelah beberapa saat Bu Rosma mengedarkan pandangannya, terlihatlah dengan jelas jika Maurin kini tengah bersama Rangga.
"Itu dia pak dokter, ternyata dia keluar diam diam dan membuat khawatir saya. Karna ada tuan Rangga yang mengajaknya." Ucap Bu Rosma sembari menunjuk ke arah dimana Maurin dan Rangga tengah makan makanan yang Rangga beli.
"Mari Bu kita hampiri mereka." Kata Kevin kemudian, dalam benaknya ada harapan jika Bu Rosma bisa marah terhadap Rangga.
"Bu Rosma..." Ucap Rangga seketika berdiri saat melihat kedatangan Bu Rosma bersama dokter Kevin. Maurin yang mendengar Rangga menyebut nama sang ibu langsung menoleh ke belakang.
"Apa tuan tidak bisa izin terlebih dahulu pada saya. Saya bangun tidur langsung panik kala tidak melihat Maurin berada disana." Ucap Rosma, tatapannya menyorot tajam pada Rangga.
__ADS_1
"Maafin saya Bu, saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya tidak ingin mengganggu istirahat ibu yang mungkin kelelalahan." Jawab Rangga, dan Maurin masih belum berani menimpali karna dia pun turut salah dalam hal ini.
Rosma lalu menghela nafas. Rasanya untuk ingin marah pada Rangga dia tidak bisa. Terlepas dari Rangga yang tidak lain adalah putra dari majikannya, laki laki itu juga masih mempunyai hak pada Maurin yang tengah mengandung anaknya.
"Udahlah lupakan saja, sekarang ayo Rin balik ke kamar. Udah malem gak baik hamil keluar malam malam." Kata Rosma.
"Dan dokter terimah kasih udah mau membantu saya." Kali ini Rosma beralih berbicara pada Kevin yang tidak lupa berucap terimah kasih.
"Yah Bu, sama sama. Kalau begitu saya pergi dulu." Jawab Kevin dan segera pamit, dan di angguki oleh Bu Rosma.
"Biar saya aja Bu yang mendorongnya." Rangga lalu mencegah Bu Rosma yang hendak mendorong kursi roda yangvdi duduki Maurin. Dan akhirnya Bu Rosma mengizinkan Rangga yang mendorongnya hingga kamar.
"Lain kali jangan seperti ini. Itu membuat ibu benar benar panik." Rosma kembali berbicara dan mengingatkan pada Rangga dan Maurin untuk tidak mengulangi apa yang di lakukannya.
"Baik Bu..." Jawab keduanya hampir bersamaan.
"Baik tuan, terimah kasih."
Rangga pun segera pulang setelah berpamitan pada Maurin dan Bu Rosma. Saat Rangga sudah keluar dan pergi. Maurin terus menundukkan kepalanya.
"Apa kamu sudah baikan sama tuan Rangga?." Tanya Rosma, yang melihat anaknya seperti sudah tidak ada apa apa saat bersama Rangga.
Maurin mengangguk. "Maurin maafin tuan Rangga Bu, tapi keputusan Maurin masih tetep kok gak berubah." Jelas Maurin.
"Kenapa gak sekalian aja sih Rin, kamu kayak nangung banget buat maafin tuan Rangga." Jawab Rosma yang sebenarnya sudah tidak masalah jika Maurin ingin baikan dan kembali tinggal bersama Rangga.
__ADS_1
"Tapi Maurin inginnya kayak gitu Bu, pokoknya Maurin selama hamil mau di rumah sama paman dan bibi. Kalau nanti tuan Rangga ingin bertemu kan tinggal kesana aja." Maurin sekali lagi mencoba menjelaskan apa yang di inginkannya.
"Baiklah. Itu terserah kamu yang terpenting sekarang kamu harus sehat dulu. Yaudah sekarang kembali istirahat." Kata Rosma pada Maurin yang sudah kembali berada di tempat tidurnya, karna sebelum Rangga meninggalkan mereka Rangga terlebih dahulu membantu Maurin untuk pindah.
****
Saat pagi hari menjelang, seperti biasanya Maurin melakukan aktivitasnya di atas ranjang pasien. Terlihat keadaan calon ibu itu semakin baik. Setelah memakan sarapannya tidak lama datanglah dokter Kevin masuk untuk memeriksanya.
"Gimana keadaannya, udah lebih baik?." Tanya Dokter Kevin sembari memeriksa Maurin.
"Udah lebih baik dok, dari pada kemaren." Jawab Maurin. Ketika saat dokter Kevin memeriksanya. Hal yang baru Maurin sadari ketika wajah dari dokter Kevin seperti tidak asing baginya, tapi dia juga tidak tahu kapan dia bertemu pada dokter itu.
"Kondisi kamu sekarang jauh lebih membaik, mungkin hanya butuh sampai malam ini kamu di rawat dan besok pagi sudah bisa pulang." Jelas Dokter Kevin setelah memeriksa.
Kefokusan Maurin saat menatap dokter Kevin seketika membuyar kala dokter Kevin menjelaskan keadaannya dan memberikan kabar baik padanya jika besok sudah bisa pulang. Tak luput dengan Bu Rosma yang seketika mengembangkan senyumannya kala putrinya pada akhirnya bisa pulang juga.
"Beneran dok, Akhirnya bisa pulang juga." Kata Maurin begitu bahagia.
"Yang terpenting kamu harus jaga kesehatan dan keadaanmu sendiri. Jangan melakukan aktivitas terlalu berat makan makanan yang bergizi minum susu dan jangan lupa vitaminnya." Jelas Dokter Kevin sebagai tambahan.
Setelah selesai memeriksa keadaan Maurin, Dokter Kevin pun pamit undur diri. Senyumannya seketika mengembang ketika Kevin menyadar jika Maurin terus menatapnya dan seperti berusaha mengingat tentang dirinya.
Di waktu yang memang tidak terduga, Kevin kembali di pertemukan pada gadis yang sudah cukup lama di carinya. Meski merasa sedikit kecewa saat waktu mempertemukannya pada Maurin dengan kondisi Maurin yang membuat penghalang untuknya yang ingin berusaha mengingatkan Maurin pada waktu itu.
"Gimana? Seneng besok udah bisa pulang?." Tanya Rosma ketika melihat wajah putrinya yang tampak begitu bahagia.
__ADS_1
"Iyah dong Bu, Maurin jadi gak sabar buat pulang." Jawab Maurin antusias.
"Kalau begitu biar ibu hubungi paman dan bibi mu agar besok bisa membantu kita menyiapkan kepulanganmu kesana." Kata Rosma lalu beranjak untuk menelfon paman dan bibi dari Maurin.