Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 61


__ADS_3

Rangga yang melihat Maurin telah menyadari kedatangannya lalu segera keluar dari dalam mobil. Laki laki itu segera menghampiri Maurin yang kini tengah menatapnya.


"Silahkan masuk tuan, paman dan bibi ada di dalam." Maurin mempersilahkan Rangga agar segera masuk.


Setelah menemui paman dan bibi dari Maurin, Rangga dan paman saling mengobrol untuk beberapa saat. Tampak kini paman Maurin mulai bisa sedikit menerima Rangga atau bahkan sebenarnya sudah menerima namun, masih belum menampakkan keakraban yang sesungguhnya.


"Mumpung masih sore, lebih baik paman bantuin kamu buat mindahin barang barangmu ke dalam." Tidak ingin memakan waktu lama paman mengajak Rangga untuk memindahkan barang barangnya.


Tidak terlalu banyak barang yang di bawa Rangga ke rumah itu, hanya kasur bantal serta beberapa pakaian dan laptop untuk Rangga gunakan bekerja.


Setelah memasukkan barang itu semua ke dalam, paman memutuskan agar Rangga untuk tidur di ruang keluarga yang tepat selaras dengan kamar Maurin. Yang terpenting Maurin dan Rangga tidak serangan untuk menghindari hal hal yang tidak di inginkan. Mereka pun menghabiskan sore dengan beberes barang barang milik Rangga menata dengan sedemikian rupa kasurnya sampai hari hendak beranjak malam aktivitas itu baru saja selesai.


"Kalau udah selesai lebih baik kalian mandi dulu setelah itu kita makan malam bersama." Ujar sang bibi yang baru keluar dari dapur.


"Baik bi..."


Suasana baru dan bahkan suasana itu tidak pernah sekalipun Rangga merasakannya, meski paman dan bibi tinggal di rumah yang sederhana tapi kenyamanan begitu Rangga rasakan.


Setelah Rangga mandi dan sekalian berganti pakaian di dalam kamar mandi, laki laki itu segera menyusul dimana semua orang telah berada di meja makan.


"Malam paman bibi." Sapa Rangga.


"Malam sayang..." Dan tidak lupa Rangga menyapa perempuan yang begitu di cintainya, Rangga menyapa sembari mengelus pucuk kepala milik Maurin. Sampai gadis itu merasa malu akan paman dan bibinya yang melihat perlakuan Rangga padanya.


Rangga pun segera duduk, lalu sungguh di luar perkiraannya menu yang kini berada di hadapannya. Cukup berbeda bahkan jauh berbeda, meski Maurin terkadang memasukkannya yang bahannya tidak jauh berbeda tapi menu kali ini cukup terlihat sangat sederhana. Tumis kangkung, tempe goreng dengan sambel yang lengkap berada di cobeknya.

__ADS_1


"Maaf tuan, jika menunya seadanya kami memanfaatkan sayur mayur yang tumbuh di belakang rumah." Kata bibi yang membuyarkan kepulauan Rangga.


"Tidak apa apa bi, ini sudah lebih dari cukup dan istimewa karna Maurin sering memasakkan menu yang sama saat berada di rumah." Jawab Rangga tmelemparkan senyuman pada bibi. Mendengar Rangga yang menjawab Maurin hanya tersenyum tipis.


Mereka pun akhirnya makan malam dengan hening tanpa ada yang berbicara satu pun, semuanya tampak menikmati menu malam itu.


Setelah menikmati makan malam, Maurin bergegas membantu sang bibi untuk membereskan perabotan kotor yang telah mereka gunakan. Namun, saat bibi hendak membawa piring kotor itu tiba tiba saja suara Rangga menghentikannya.


"Bi, lebih baik bibi dan paman istirahat aja, ini biar aku dan Maurin yang mengerjakannya." Kata Rangga sembari mengambil alih tumpukan piring kotor itu.


Sejenak bibi masih terbengon lalu menatap ke arah suaminya. "Udah Bu, turutin aja apa katanya." Ujar Paman saat mengerti jika bibi meminta pendapat padanya.


Akhirnya bibi dan paman memilih untuk segera berlalu dan meninggalkan Rangga dan Maurin di dapur.


"Itulah kamu Rin, yang masih belum mengenal tentang saya. Tentu saya bisa melakukannya, tapi kamu aja yang gak pernah ngelihat aku cuci piring. Kamu lupa sebelum kamu bekerja di rumahku sementara aku melakukan pekerjaan rumah sendiri. Yah meskipun itu hanya sehari karna kamu tiba tiba saja udah datang." Jawab Rangga membanggakan dirinya.


"Baguslah tuan."


Akhirnya Maurin dan Rangga mencuci piring bersama, Rangga memanfaatkan waktu itu agar bisa semakin dekat pada Maurin. Sesekali saat Maurin tidak sadar Rangga langsung mencuri ciuman dan mendaratkannya di pipi Maurin, jika boleh jujur saat Rangga melihat penampilan Maurin yang seperti saat ini jiwa kelakiannya seakan di tarik.


"Oh yah tuan, kalau tuan nginep disini sama aku. Lalu bagaiman dengan pekerjaan tuan?. Jarak tempuh dari rumah ini dan kantor tuan itu begitu jauh." Tanya Maurin yang pertanyaannya baru sempat ia tanyakan pada Rangga.


"Soal itu gampang sayang. Aku akan tetap datang ke kantor. Aku sudah mengatur secadule ku, aku akan datang ke kantor sedikit siang menyesuaikan jarak tempuh ku dari sini kesana." Sebagai sang pemilik perusahaan tentu memudahkan Rangga untuk mengatur waktunya sendiri dengan sedikit berbeda. Yang terpenting urusan pribadinya masih berjalan tanpa mengganggu tanggung jawabnya selama bekerja.


Setelah beberes di dapur, Maurin dan Rangga beranjak ke depan. Rumah terlihat sepi yang sepertinya paman dan bibi pun sudah tertidur.

__ADS_1


"Ini masih termasuk sore. Dan jam segini paman dan bibi udah tidur?." Tanya Rangga sedikit heran, bahkan jam masih belum menunjukkan pukul 9 malam.


"Paman dan bibi udah terbiasa tidur jam segini tuan, karna mereka pasti merasa lelah setelah seharian ke kebun dan sawah. Yah seperti ini kehidupan di desa tidak ada gemerlap dan keseruan seperti kehidupan di kota, tapi disini kita bisa menemukan ketenangan yang sebenarnya." Jelas Maurin agar Rangga mengerti dengan kehidupan yang mungkin Rangga masih belum familiar akan itu. Dan Rangga menjawabnya dengan anggukan tanda di mulai mengerti.


"Apakah tuan tidak ada pekerjaan yang harus di lakukan?." Tanya Maurin.


"Gak ada Rin. Sebelum aku kembali berangkat kesini aku terlebih dahulu menyelesaikannya." Jawab Rangga.


"Dari pada kita disini gak ngapa ngapain, kita keluar yuk ngobrol." Ajak Rangga pada Maurin. Jelas setelah lama Maurin menghilang dari kehidupannya kerinduan itu masih ada bahkan sepertinya tidak langsung habis begitu saja.


"Baiklah..." Keduanya segera keluar dari rumah setelah Maurin menyetujui ide dari Rangga.


Di kursi yang di letakkan di teras Rangga dan Maurin saling mengobrol. Obrolan keduanya telah berlarian kemana mana, dengan sesekali terselip tawa kecil dari Maurin kala Rangga menyahutinya dengan lelucon.


"Rin..." Panggil Rangga melembut.


"Iya tuan, apa ada sesuatu." Jawab Maurin.


"Apa aku boleh mengelusnya, aku merindukannya Rin." Rangga meminta hal yang cukup sederhana pada Maurin yaitu mmingin mengelus perut Maurin yang bahkan masih rata itu.


Sesaat Maurin ragu, lalu ketika Maurin kembali menatap sorot mata Rangga yang tampak memohon. Akhirnya Maurin menganggukkan kepalanya tanda dia menyetujui permintaan dari Rangga.


Mendapat persetujuan dari Maurin tampak binaran dari wajah Rangga terpancar laki laki itu lantas segera berdiri lalu merendahkan tubuhnya dengan menumpukan lututnya yang di teku pada lantai.


"Aku akan mengelus dan mengajaknya mengobrol." Ujar Rangga menatak ke arah Maurin yang kini sejajar dengan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2