Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 37


__ADS_3

Ekspresi mengejutkan tergambar dari raut wajah Elea dan Revan, apa yang di ceritakan oleh Maurin membuat keduanya semakin emosi di tambah saat Maurin menceritakan hal yang paling terakhir dimana Maurin menceritakan malam kelam itu.


"BODOOH KAU RIN, BODOOH!!." Sentak Revan pada Maurin laki laki itu tidak habis pikir dengan sahabatnya itu, kenapa bisa kejadian sebesar ini di pendamnya sendiri.


"Maafin aku Van... El... Aku tau kalian pasti kecewa padaku. tapi aku bener bener bingung, aku ingin lepas dari laki laki itu pleasee..." Isak Maurin apa yang terjadi padanya membawa Maurin dalam kebingungan.


"AKU BISA TINGGAL DIAM, AKU HARUS NGASIH PELAJARAN PADA LAKI LAKI ITU." meskipun Revan marah dan kecewa melihat tangis Maurin begitu memilukan hatinya. Laki laki itu pun langsung berdiri untuk berniat mencari Rangga.


"Van... Pleasee Van, jangan!! Aku gak mau masalah ini semakin besar." Maurin langsung menggenggam lengan Revan, mencegah laki laki itu agar masalah tidak semakin membesar.


Revan hanya terdiam saat di cegah Maurin, laki laki itu lalu menatap ke arah Maurin yang sudah berderai air mata.


"Udahlah Van, jika itu keputusan Maurin biar saja tidak perlu sampai kamu harus menghampiri laki laki itu, kasian juga dia." Ujar Elea tidak tega melihat keterpurukan Maurin, di tambah Maurin yang menangis terisak.


"Tapi ini gak bisa di biarin El, seenaknya aja laki laki itu menyakiti Maurin!" Sahut Revan yang masih emosi kala mengingat cerita Maurin.


"Stop Van, gak usah kamu terbawa emosi seperti ini. Disini aku pun sama marah saat melihat Maurin seperti ini, tapi di satu sisi Maurin bercerita pada kita bukan untuk kamu menambah masalahnya tapi untuk kita mendengarkan apa yang dia mau. Karna itu mungkin akan menjadi jalan terbaik untuk Maurin." Jelas Elea yang lebih mengerti tentang kondisi sahabatnya, Elea mengerti tentang keresahan Maurin.


Setelah mendengar penjelasan dari Elea hati keras Revan mulai melunak, laki laki itu lalu meraih tangan Maurin dan menggenggamnya. Revan tentu tidak tega melihat air mata yang terus jatuh, Revan mengusap pipi Maurin yang di genangi air mata.


"Maafkan aku Rin, aku jadi terbawa emosi." Kata Revan pada Maurin lalu menuntunnya agar kembali duduk.


"Gapapa Van, wajar kamu marah seperti ini aku yang seharusnya meminta maaf pada kalian." Kata Maurin, mulai merasa lega kala Revan mulai menurunkan emosinya.


"Tentang masalah ini apa Bu Rosma sudah tau?." Tanya Elea lembut agar Maurin semakin tenang.


Maurin hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban singkat dan jelas.

__ADS_1


"Lalu, bantuan apa yang kamu inginkan dari kita Rin. Katakanlah aku dan Elea akan membantumu." Dan kini giliran Revan yang bertanya, sungguh persahabatan yang cukup sempurna.


"Nanti malam aku ingin keluar dari rumah itu, nanti aku akan mengemasi barang barang ku lalu bisa kah kalian mengantarku ke rumah paman dan bibi yang berada di desa." Kata Maurin menjelaskan rencananya, yah setelah melihat kemesraan Bella dan Rangga. Membuat Maurin memutuskan untuk meninggalkan saja laki laki itu, meskipun Rangga pernah memberikan harapan padanya.


Elea dan Rangga saling tatap setelah mendengar penjelasan Maurin, sebuah rencana yang cukup bagus untuk Maurin yang ingin lepas dari genggaman Rangga.


"Lalu bagaimana dengan Bu Rosma Rin?." Tanya Elea, yang juga di khawatirkannya terlebih Bu Rosma, bekerja di rumah kedua orang tua Rangga.


"Sekarang hari minggu, pasti ibu tengah pulang. Bisakah kalian juga ikut untuk menjelaskan masalah ini padanya." Ucap Maurin sekali lagi meminta pertolongan pada Elea dan Revan.


"Baiklah sekarang lebih baik kita langsung kesana, setelah kamu menceritakan siapa Rangga kita harus bergerak cepat agar kepergianmu kali ini tidak di curigainya." Kata Revan, yang langsung memahami setelah Maurin menceritakan semuanya.


Ketiganya memutuskan untuk segera menuju ke kediaman Maurin, setelah Revan membayar semua pesanan mereka ketiganya pun segera menuju mobil milik Revan.


"Kita masuk mobil aja Rin, tinggalkan motormu disini. Tadi aku sudah meminta izin pada pegawai cafe." Kata Revan yang langsung di setujui Maurin.


****


Sedangkan Rangga, laki laki itu bahkan baru saja bangun, libur bekerja membuatnya bermalas malasan untuk bangun pagi. Rangga segera bangkit dari kasur lalu meregangkan otot ototnya yang terasa kaku, setelah itu Rangga bergegas untuk mandi dan berganti pakaian.


Sepi dan sunyi itulah suasana rumah saat Rangga keluar dari kamar, mengingat jika dirinya dan Maurin semalam sempat terlibat masalah Rangga langsung bergegas mengecek kamar milik Maurin.


Saat melihat kamar tidak ad, Rangga beralih ke arah dapur. Tapi setelah Rangga mencoba mencari ke seluruh rumah sayangnya Maurin tidak ada di dalam rumah, apakah gadis itu meninggalkan rumah dan kabur.


"Apa dia berani kabur!!." Gumam Rangga setelah mendapati seluruh rumah yang terlihat rapi. Namun, Maurin tidak ada di dalam rumah.


Rangga memutuskan kembali masuk ke dalam kamar mencari ponselnya, setelah mendapatkan ponsel Rangga segera menelfon Maurin.

__ADS_1


Sedangkan di tempat yang berbeda mobil yang di tumpangi Maurin hampir saja sampai di kediamannya, dan Maurin mendapati Rangga yang tengah menghubunginya seketika jantungnya berdetak kencang.


"Gimana ini, tuan Rangga nelfon." Kata Maurin pada Elea dan Revan.


"Kamu angkat ajah Rin, biar dia gak curiga." Ucap Elea.


"Tapi kamu harus menjawabnya dengan tenang." Sahut Revan yang masih fokus menyetir.


Setelah mendapat keyakinan dari kedua sahabatnya, Maurin akhirnya menggeser tombol hija itu ke atas.


"Haloo."


Tentu hal yang pertama kali di tanyakan pasti tentang keberadaannya dimana, Elea terus menggenggam tangan Maurin agar Maurin dapat berbicara dengan lancar dan dapat meyakinkan Rangga, setelah cukup lama mengobrol akhirnya sambungan telfon itu terputus.


"Akhirnya..." Ucap Maurin menghela nafas lega, kala akhirnya telfon itu terputus juga.


"Gimana dia gak curiga kan Rin?." Tanya Elea yang ingin segera mengetahui bagaimana respon Rangga.


"Aman Ell... Aman." Jawab Maurin.


Mobil itu melaju menembus keramaian di jalan, dan mobil itu akhirnya terhenti di kediaman Maurin. Setelah jarang sekali Maurin pulang setelah Rangga memintanya untuk selalu stan by di kediamannya. Melihat rumah itu Maurin sedikit teriris kala kembalinya dia keadaan telah berubah.


Elea dan Revan tidak lupa meyakinkan Maurin untuk segera masuk, Revan dan Elea pun sudah mengerti apa yang di rasakan Maurin. Akhirnya dengan langkah ragu Maurin memasuki rumah itu dan tentu Rosma menyambut kedatangan mereka dengan antusias.


"Ya ampun Rin, kenapa gak bilang bilang kalau mau pulang nak!, Kalau bilang dulu kan ibu bisa nyiapin sesuatu buat kamu dan temenmu." Ucap Rosma senang.


"Gak perlu Bu, lagian Maurin pulang ada yang ingin Maurin bicarakan pada ibu." Kata Maurin, mimik wajah yang serius seketika memudarkan senyuman Rosma, wanita paruh baya itu seketika merasa khawatir.

__ADS_1


__ADS_2