Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 31


__ADS_3

Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Rangga segera berjalan memasuki Club Malam itu, laki laki itu mengedarkan pandangannya seluas memandang ruangan di dalam Club, laki laki itu berusaha mencari sosok yang ingin di temuinya di tengah ruangan gelap yang di penuhi gemerlapnya lampu, Rangga akhirnya menemukan keberadaan Aditya, laki laki itu segera menghampiri Aditya yang ternyata tidak hanya sendiri. Dan Aditya langsung meminta temannya itu untuk pergi.


"Masih berani lo minta ketemu." Kata Rangga dari arah belakang, Aditya segera berdiri setelah menyadari kedatangan Rangga.


Aditya melemparkan senyuman licik.


Lalu Aditya mengulurkan tangannya Namun, setelah beberapa saat tangan yang terulur itu tidak di terima oleh Rangga, yang akhirnya Aditya kembali menarik tangannya.


"Jangan banyak basa basi, aku hanya ingin meminta maaf saja padamu." Kata Aditya lalu menyusul duduk.


"Minta maaf untuk apa?, Bukankah kau sengaja melakukan itu agar Maurin bisa dalam pelukanmu." Ucapnya yang tidak bisa santai menghadapi Aditya.


"Baiklah sepertinya kau tidak bisa santai."


Aditya berusaha membawa Rangga dalam obrolannya, obrolan itu berlangsung lama dan tidak luput Rangga juga meminum minuman yang telah di siapkan dan di pesankan oleh Aditya tanpa menyadari jika Aditya telah berencana buruk padanya.


Seteguk demi seteguk minuman dalam botol itu mulai menipis, Rangga yang cukup tahan akan alkohol baru merasakan mabuk itu datang, kepalanya terasa begitu berat, senyuman senyuman tidak jelas itu tercipta, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh namun, reaksi obat perangsang itu seperti masih belum bereaksi.


Aditya yang masih cukup sadar kembali memanggil temannya yang ternyata sudah memperhatikan mereka sejak kepergiannya.


"Antarkan dia balik Dre, ini alamat rumahnya, dan ini kunci mobil miliknya." Titah Aditya pada Andre, sembari memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat lengkap kediaman Rangga beserta sebuah kunci mobil yang memang di letakkan di atas meja.


Andre segera melakukan perintah Aditya, lalu memapah Rangga yang sudah merasakan kepalanya yang begitu berat. Dan membawanya menuju basement untuk di antarkan ke rumahnya.


Setelah kepergian Andre yang memapah Rangga, Aditya segera berdiri sesekali mengeryitkan dahinya karna dirinya pun juga mulai merasakan pusing.


"Sial! Sepertinya aku sudah lama tidak minum minum, kenapa efeknya cepat sekali." Umpatnya yang merasakan pusing.

__ADS_1


Tak mau berlama lama Aditya segera bangkit untuk meninggalkan Club Malam itu, laki laki itu meninggalkan tempat itu dengan perasaan leganya melihat rencana awalnya mulai berjalan mulus.


Sedangkan di perjalanan Rangga mulai merasa bingung di tengah mabuk yang masih berdasarkan badannya mulai merasa panas, sepanjang jalan Rangga mulai mengibas ngibaskan bajunya kala rasa panas itu menjalar ke seluruh tubuh. sedangkan Andre hanya melirik ke arah Rangga yang dapat di pastikan obat itu mulai bereaksi.


Andre segera mengklakson dan dengan cepat pak Dono membukakan gerbang untuk mobil Rangga. Sesampainya di depan rumah Andre segera memapah Rangga yang merasakan panas itu semakin menjadi hasratnya tiba tiba tidak tertahan.


Braakk.


Pintu terbuka kencang yang menimbulkan suara keras, yang tentu terdengar Maurin dari dalam kamar.


"Tinggalkan saja aku disini." Ucap Rangga pada laki laki itu, dan Andre mendudukkan Rangga di sofa ruang tamu.


Tanpa berbicara sepatah kata pun Andre segera keluar setelah apa yang di perintahkan Aditya padanya telah berjalan baik.


"Ya tuhaaan brengsek kau Dit." Rangga semakin gelisah, hasrat yang beberapa tahun tidak pernah tersalurkan lalu di tambah Aditya yang menjebaknya, membuat Rangga semakin tidak bisa menahannya.


Seketika langkah Rangga terhenti kala melihat Maurin yang ternyata keluar dari dalam kamar, mungkin gadis itu mendengar akan kedatangannya.


Pengaruh alkohol dan obat perangsang yang sama sama bereaksi, membuat Rangga yang melihat Maurin tidak bisa lagi mengontrolnya.


"Tu- tuan kenapa?." Tanya Maurin melihat Rangga dengan penampilan berantakannya.


Tanpa menanggapi pertanyaan Maurin, laki laki itu menghampiri Maurin. Dengan tiba tiba Rangga mencekal lengan Maurin dengan kencang.


"Tuan kenapa? Jangan seperti ini sakit tuan." Keluh Maurin ketika Rangga benar benar mencekal lengannya dan menggenggamnya erat.


Melihat ada perlawanan dari Maurin, Rangga tidak hanya mencekal erat tangan Maurin laki laki itu menyeret Maurin menuju ke dalam kamarnya, melihat sikap Rangga yang begitu aneh semakin membuat Maurin panik. Maurin mencoba melawan dan berusaha melepaskan cekalan Rangga.

__ADS_1


"Tuan aku gak mau..." Maurin terus berontak namun, Rangga yang sudah tidak tahan akan semuanya sudah kehilangan kesadarannya.


Setelah Rangga berhasil menyeret Maurin ke dalam kamarnya, laki laki itu langsung mendorong Maurin ke atas tempat tidurnya.


Bruuughhh.


Tentu Rangga membalikkan badannya menuju pintu untuk mengunci pintu kamar, sedangkan Maurin jantungnya mulai berdetak cepat ketakutan mulai merayapi perasaannya.


"Maaf aku harus melakukan ini." Kata Rangga lirih yang masih dapat terdengar oleh Maurin.


Rangga menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, Maurin sontak langsung Mundur menghindari Rangga, dan dinginnya AC tak mengurungkan keringat yang mulai bercucuran membasahi keningnya.


"Tuan sadar tuan, tuan gak bisa melakukan ini padaku." Jerit Maurin ketika Rangga mulai mendekatinya.


Dan dalam sekali tangkapan Rangga berhasil membawa Maurin dalam pelukannya ketika Maurin berusaha untuk kabur, Rangga membawa Maurin dalam pelukannya lalu dalam sekali gerakan Maurin sudah berhasil dalam kukungannya.


"Tuan aku mohooon jangan lakukan ini." Maurin terus memohon pada Rangga, namun efek dari sesuatu yang telah di minumnya membuat Rangga tidak memperdulikan permohonan Maurin.


Laki laki itu menatap Maurin dengan penuh nafsu seperti akan meledak, Rangga tidak lagi memperdulikan rengekan air mata Maurin yang telah bercucuran mengalir membasahi rambutnya yang menjadi tempat genangan air mata itu.


Nafas Rangga terdengar begitu berat semakin mendekati wajah Maurin yang sudah tidak bisa melawan kala kedua tangannya telah di kunci oleh Rangga dengan satu tangan kekarnya.


"Hmmmmpppt..."


Tanpa aba aba Rangga menyambar benda kenyal yang terasa manis itu, bahkan di bawah kesadarannya Rangga dapat menikmati rasa manis yang belum pernah di rasakannya.


Maurin mencoba mengunci bibirnya yang dengan keras Rangga mencoba untuk merengsek dan memaksa memasukinya dan Rangga akhirnya dapat menikmati benda kenyal itu dengan leluasa kala tak sengaja Maurin membuka mulutnya ketika merasa kehabisan nafas

__ADS_1


Setelah puas bermain dengan benda kenyal yang cukup memabukkan Rangga, bibir laki laki itu mulai menurun menyusuri indahnya leher putih Maurin, gadis itu tetap berusaha memberontak walau hanya terasa sia sia karna tenaganya yang tidak cukup kuat melawan kekuatan Rangga.


__ADS_2