Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 49


__ADS_3

Selama Rangga terus mengelus perutnya, sampai tangan itu mulai berhenti karna Rangga yang ternyata sudah terbawa dalam buaian mimpi. Yah, laki laki itu sudah terlelap, sedang Maurin yang tadinya mulai merasakan kantuk. Kini kantuk itu tiba tiba saja menghilang, seakan apa yang di lakukan Rangga hari ini cukup membuatnya sedikit kagum.


Maurin tersenyum gadis itu mencoba untuk bangkit dengan sedikit mendudukkan badannya, mata satunya menatap penuh dengan teduh dan tangannya mengelus dengan lembut rambut lebat milik Rangga.


"Entah apa aku bisa bertahan untuk membencimu dan mempertahankan kekecewaan ini, ketika sedang di hadapi oleh situasi seperti ini. Aku mulai merasa jika kehamilanku memintaku untuk terus dekat denganmu." Gumam Maurin, yang tentu tidak dapat di dengar Rangga yang benar benar sudah terlelap.


Maurin terus menatap Rangga yang terlelap, begitu terlihat raut wajah kelelahannya. Maurin sebenarnya merasa tidak tega jika terus terusan menghukum Rangga dalam kekecewaannya, tapi di balik itu Maurin tetap harus melakukannya. Karna hitung hitung itu bisa menjadi pelajaran untuk Rangga.


Cukup lama Maurin menatap wajah tampan itu, sampai dimana Maurin juga merasa ngantuk. Gadis itu lalu mencoba memejamkan matanya dengan rambut Rangga yang masih setia berada di sela sela jemari Maurin.


Tidak berapa lama akhirnya Maurin juga terlelap gadis itu akhirnya menyusul Rangga mengarungi mimpi, jika di lihat keduanya begitu romantis dan terlihat jika saling menyayangi.


Waktu beranjak mengikuti alur malam, dan jam pun sudah menunjukkan pukul 02.30 wib, di tengah terlelapnya mata Rangga tiba tiba mengerjap. Rasa lapar dan perutnya yang minta di isi mampu membuat Rangga terbangun dari tidurnya, laki laki itu mulai mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang berada di ruang rawat Maurin. Sampai akhirnya mata Rangga terbuka sempurna. Senyuman Rangga langsung mengembang ketika hal pertama yang di lihatnya adalah wajah ayu Maurin yang terlelap. Lalu ketika Rangga hendak mengapkan duduknya, laki laki itu sedikit terkejut kala baru menyadari jika jemari Maurin terikat rambutnya.


Dengan posisi yang masih menunduk Rangga dengan perlahan melepaskan jemari Maurin dari rambutnya, kusut dan berantakan cukup terlihat dari rambut milik Rangga.


"Apa kamu sengaja Rin, atau memang itu tidak di sengaja. Apa saat aku tidur kamu mengusap kepalaku, ah apapun itu aku cukup menyukainya." Gumam Rangga, hatinya cukup diterpa kebahagiaan saat bangun bangun jemari Maurin berada di rambutnya.


Cukup lama Rangga masih menatap wajah ayu milik Maurin, lalu laki laki itu bergegas bangkit. Perutnya yang cukup lapar meminta Rangga untuk segera mengisinya.

__ADS_1


Sesaat Rangga melihat ke arah jam dinding, Rangga ragu apakah masih ada orang yang jualan makanan di jam seperti ini, tapi Rangga akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Maurin sebentar untuk ke kantin dengan harapan ada yang menjual makanan untuk mengganjal perutnya.


Laki laki itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang cukup sepi, langkahnya menuntun Rangga menuju area dimana di khususkan untuk kantin kantin yang berjualan di rumah sakit. Sesampainya di kantin Rangga mencoba bertanya ke beberapa kantin yang masih buka, namun jawaban yang hampir sama di dapatkan tidak ada yang menjual nasi, atau memang hari itu sudah dini hari.


Tidak ada pilihan lain Rangga yang jarang sekali memakan mie seduh instan akhirnya dengan terpaksa membeli mie instan itu. Dengan segelas teh dan mie instan yang sudah di seduh dengan air panas Rangga segera kembali ke ruang rawat dengan sebelumnya membayarnya.


Dengan pelan Rangga mendorong pintu dengan lengannya karna kedua tangannya sudah penuh memegang mie dan segelas teh hangat, laki laki itu dengan hati hati masuk ke dalam agar tidak menimbulkan suara yang bisa saja membuat Maurin terganggu lalu terbangun.


Akhirnya Rangga dapat menghela nafas lega setelah pada akhirnya berhasil duduk di sofa tanpa membangunkan Maurin, laki laki itu segera meletakkan teh hangat di atas meja lalu lanjut dengan membuka mie instan yang di tutup. Seketika semerbak aroma mie instan rasa soto itu menyebar ke seluruh ruangan. Rangga yang sudah merasa lapar akhirnya segera menyuapkan mie itu ke mulutnya. Dan baru beberapa suapan tiba tiba.


"Hoeekk..." Dengan tiba tiba Maurin langsung terbangun, dan perempuan itu membungkam mulutnya dengan kedua tangan, Rangga yang hendak menyuapkan kembali mie itu segera mengurungkannya lalu bergegas menghampiri Maurin.


Saat berada di dalam kamar mandi, cairan kuning yang terasa pahit langsung di muntahkan Maurin. Terlihat Maurin memuntahkannya cukup kesusahan ketika tidak ada yang bisa di muntahkan namun tubuhnya reflek untuk muntah hingga akhirnya yang keluar hanya cairan kuning yang begitu terasa pahit memenuhi mulutnya.


Maurin yang sudah merasa mereda rasa ingin muntahnya, segera menyandarkan tubuhnya ke dinding terlihat keringat muncul di pori pori keningnya, dan nafasnya punsedikit memburu.


"Tadi makan apa sih, gak enak banget baunya." Gerutu Maurin pada Rangga yang tiba tiba saja merasa kesal. Karna aroma makanan yang di makan Rangga cukup membuatnya mual.


"Apa begitu tercium, tadi aku hanya memakan mie instan seduh." Jawab Rangga cukup merasa bersalah.

__ADS_1


"Bisa di bawa keluar aja, aku gak tahan baunya..." Maurin benar benar tidak bisa menahan aroma dari mie instan itu, entah mungkin hormon hcgnya mulai banyak.


"Baiklah, kamu tunggu sini aku akan bawa keluar. Jangan sampai berjalan sendiri tunggu sampai aku masuk dan membantumu untuk kembali ke ranjang." Kata Rangga akhirnya Rangga berinisiatif untuk memindahkan mie yang baru beberapa sendok di makannya.


Maurin hanya mengangguk menyetujui, akhirnya Rangga keluar dari kamar mandi dan meminta Maurin untuk sementara memegang cairan infusnya. Laki laki itu menghela nafas saat rasa laparnya tiba tiba menghilang, dan tanpa menunggu waktu lama akhirnya Rangga membawa minuman dan makanannya keluar. Setelah sebelumnya meneguk teh hangat itu, Rangga kembali masuk ke dalam kamar lalu kembali menghampiri Maurin.


"Sudah aku keluarkan semua, ayo kembali." Kata Rangga lalu mengambil alih kantong infus yang berada di genggaman Maurin.


Maurin mengangguk. Lalu akhirnya Maurin keluar dengan bantuan Rangga. Rangga dengan segera membantu Maurin untuk kembali ke atas ranjang.


Sesaat keduanya hanya terdiam dengan Maurin yang mengalihkan pandangannya, namun Rangga menatap dalam ke arah Maurin. Hingga tiba tiba di tengah keheningan keduanya suara perut Maurin berbunyi. Yang reflek membuat Rangga tersenyum tipis.


"Kamu mau makan apa?." Tanya Rangga langsung yang mengerti jika Maurin tengah merasa lapar.


Maurin yang mendapat tawaran dari Rangga seketika menatap ke arah laki laki itu.


"Apa boleh?." Tanya Maurin ragu.


"Boleh, kan ini juga demi ibu dan anakku Disni." Jawab Rangga sembari mengusap lembut perut rata Maurin.

__ADS_1


__ADS_2