
"mau kemana?." Rangga mencegah Maurin ketika hendak bangkit dan berusaha melepas pelukannya.
"Ini sudah waktunya saya untuk mengerjakan pekerjaan saya." Jawaban itu tiba tiba terdengar dingin dan datar, Maurin mulai kembali berbicara dengan bahasa formalnya.
"Aku ingin kamu berbicara padaku seperti biasanya." Kata Rangga yang tentu tidak menyukainya kala Maurin bersikap seperti saat ini.
Maurin hanya diam tanpa menjawab kembali perkataan Rangga, gadis itu hanya berubah sikapnya setelah kejadian beberapa jam lalu, kemarahan yang seharusnya di ledakkan pada Rangga di cobanya untuk di tahan. Maurin tidak ingin gegabah untuk melakukan tindakan yang mungkin bisa saja akan merugikan dirinya, terlebih gadis itu tidak ingin jika ibunya mengetahui akan hal ini. Setelah memikirkan beberapa saat ketika Rangga membawanya ke dalam pelukan Maurin memutuskan untuk menyimpan semuanya sendiri dan berusaha untuk bersikap seperti biasanya walau sikapnya sedikit berubah menjadi dingin.
"Rin jawab! Kenapa kamu malah diam saja. Aku tahu Rin pasti kamu marah tapi kita bisa bicarakan ini baik baik Rin." Ucap Rangga mencoba memberi pengertian pada Maurin.
"Membicarakan apa tuan?, Tidak ada yang harus kita bicarakan dan tuan gak perlu khawatir aku sudah melupakan semuanya yang terjadi pada kita." Siapa yang tidak langsung merasa ragu, seorang Rangga yang tergolong laki laki sukses dan tampan, lalu akan begitu saja bisa menerimanya. Maurin tidak mau berfikiran seperti itu gadis jadi sebelum hatinya semakin merasa sakit Maurin lebih memilih untuk menerima kejadian ini walau sulit, bukan sepenuhnya menerima tetap gadis itu tidak bisa menerimanya Namun, keadaan yang membuat Maurin harus melakukannya, karna Maurin memikirkan banyak pihak yang pasti akan terseret akan masalahnya ini jika semua orang mengetahui.
Rangga mematung mendengar jawaban dari Maurin, laki laki itu tentu merasa heran dengan jawaban yang di dengarnya bagaimana bisa gadis itu berbicara dengan begitu tenangnya di saat seharusnya Maurin harus marah atau bahkan mengumpatnya.
"Tidak perlu memikirkan terlalu dalam tentang kejadian ini tuan, saya sudah benar benar melupakannya dan saya harap tuan pun begitu. Melakukan yang sama melupakan kejadian tidak penting ini." Kata Maurin lalu perlahan bangkit sembari menahan sakit di pangkal pahanya.
Perkataan Maurin cukup mampu menghunus perasaan Rangga, laki laki itu sangat tidak percaya dengan semua ini ada apa sebenarnya dengan gadis yang kini tengah menarik selimut dengan memalingkan wajahnya karna selimut itu tidak lagi menutupi tubuh polos Rangga. Sedangkan Rangga hanya mematung mencerna kembali perkataan Maurin, tanpa memperdulikan lagi gadis itu yang sudah beranjak keluar dari kamarnya yang terlihat melangkah dengan sedikit tertatih mungkin Maurin berjalan dengan menahan sakit yang masih begitu melekat.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar di dalam kamar dengan cepat Maurin mengunci pintu kamarnya gadis itu melepas selimut tebal itu dan terjatuh begitu saja memampangkan dengan nyata lekuk tubuh bak gitar spanyol yang penuh dengan kissmark yang menyebar di area dada.
Buuuggghhh.
Maurin menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, tangannya meraba selimut lalu segera membalut tubuhnya dengan selimut itu. "Hikkkss... Kenapa tuhan, kenapa aku harus mengalami ini semua aku harus bagaimana setelah ini." Isakan itu kembali terdengar matanya kembali mengeluarkan air mata yang sepertinya tidak ingin surut. Tangis Maurin semakin pecah gadis itu mengerang dengan kepala yang di tenggelamkan di bantal.
Setelah beberapa saat setelah kepergian Maurin, Rangga masih mematung rasa sesalnya semakin terasa begitu dalam rasa bersalahnya begitu besar di tambah lirikan mata Rangga tertuju ke sprainya dan melihat noda darah Maurin. Yang semakin memampang nyata jika dirinya lah yang telah merenggut kesucian Maurin, tapi sekali lagi baru kali ini Rangga merasa terhantam perasaannya kala mendengar apa yang di katakan oleh Maurin.
Sebuah ucapan yang mampu dengan cepat merubah suasana hatinya, Rangga kembali mendinginkan hatinya dan kembali merubah sikapnya kembali seperti semula.
"Baiklah, jika itu maumu Rin. aku akan melakukannya." Kata Rangga, dan segera bangkit dari tempat tidurnya untuk segera membersihkan diri karna badannya terasa lengket setelah pergumulan panasnya.
Setelah merasa semuanya telah selesai, Maurin kembali ke dalam kamar, gadis yang telah kehilangan kegadisannya menghela nafas merasa lega ketika sudah tidak melihat lagi sosok Rangga. Gadis itu segera meraih tas sekolahnya, tidak seperti biasa pagi itu Maurin tidak berbicara sepatah kata pun Maurin langsung berangkat ke sekolah. Sejujurnya Rangga merasa ada yang kurang saat Maurin bersikap berbeda padanya, Namun sekali lagi perkataan akan gadis itu membuat Rangga bersikap acuh pada gadis itu.
****
"Maurin!!" Seru Elea yang melihat kedatangan Maurin, gadis itu begitu antusias melihat kedatangan sahabatnya, di tambah sudah beberapa hari ini Maurin tidak masuk ke sekolah.
__ADS_1
"Ya ampun Rin, kamu kemana aja beberapa hari gak masuk sekolah, tanpa ngasih kabar aku tiba tiba yang datang cuman surat izin sakit. Emang kamu sakit apa Rinn, terus kenapa gak ngabarin aku sama sekali." Baru saja Maurin tiba, Elea memberondong Maurin dengan banyak pertanyaan membuat Maurin, menjadi kebingungan.
"Aduuuh El... Kalau mau tanya satu satu dulu." Ucap Maurin.
"Yah abis kamu bikin khawatir Rin..." Ucap Elea yang tentu merasa khawatir pada sahabatnya itu.
"Sebelumnya aku minta maaf El, udah beberapa hari gak ngehubungi kamu karna memang aku sakit, dan aku gak sempet buat pegang ponsel." Terang Maurin berharap Elea menjadi sedikit lebih tenang.
"Tapi Rin, beberapa hari lalu aku nyoba buat ke rumah kamu sama Revan, tapi rumah kamu sepi loh Rin." Kata Elea membuat Maurin terkejut.
"Ke rumah El!!." Kata Maurin mengulang.
"Iyah Rin."
"Ooohh Iyah El, aku sakit dan ikut ke rumah majikan ibuku. Karna ibu gak bisa merawatku di rumah karna ibu harus bekerja dan menginap di rumah majikannya." Jelas Maurin. menemukan alasan yang berharap alasan itu dapat di terima oleh Elea.
"Ooohhh... Makanya kok gak ada di rumah, tapi omong omong sekarang kamu baik baik ajah kan?." Tanya Elea memastikan kondisi Maurin.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat El, aku sudah enakan." Jawab Maurin melihatkan kebugaran tubuhnya, yang sebenarnya begitu merasa lelah dan remuk akibat pergumulan panasnya bersama Rangga.