
PLAAAKKK
Suara tamparan itu menggema, Bu Rosma begitu marah dan kecewa setelah mendengar cerita dari Maurin. Sebelumnya Bu Rosma belum pernah semarah seperti ini, Maurin hanya terisak dengan Elea dan Revan tercengang melihat apa yang di berikan oleh Bu Rosma sebagai hukuman bahkan hukuman tamparan itu saja mungkin tidak cukup untuk Maurin.
"Bukankah ibu sudah mengingatkanmu Rin, jangan sampai terlibat hubungan apapun dengan tuan Rangga, tapi semua perkataan ibumu ini seakan percuma. Karna ini sudah terlanjur." Kata Bu Rosma yang tidak bisa menahan kesedihannya, apalagi membayangkan jika kini putrinya sudah terlanjur masuk di dalam lubang hitam.
"Maaf buukk..." Hanya kata itu, yah kata maaf saja yang saat ini bisa Maurin katakan karna tidak ada kata lain yang bisa mewakili kekecewaan dari ibunya.
Elea sungguh tidak tega melihat situasi yang cukup menyedihkan, Elea pun menghampiri Bu Rosma yang masih menangis, gadis itu langsung memeluk tubuh wanita paruh baya itu agar ketenangan menyalur dalam kesedihan yang teramat dalam.
"Buu... Elea tau ibu pasti sangat kecewa pada Maurin Bu, tapi terlepas dari itu ibu harus mencoba memahami. Maurin tidak bisa menghindar dari semua yang di takdirkan padanya, jadi Elea minta tolong ibu juga dengarkan apa yang akan di putuskannya setelah ini, biarkan dia bercerita Bu." Elea mencoba memberi pengertian pada Bu Rosma, memang untuk pertama kalinya ini sulit di terima, tapi adakalanya mengalah dan memilih mendengarkan itu lebih baik.
Setelah mengatakannya Elea melepaskan pelukannya pada Bu Rosma, sedangkan Bu Rosma mulai mengerti setelah mendengarkan apa yang di ucapkan Elea, Bu Rosma pun menuntun Maurin agar bangkit dari bersimpuhnya di kaki Bu Rosma.
Tidak lama Bu Rosma pun langsung memeluk erat putrinya, benar kata Elea mungkin saat ini bukan menyalahkan tapi lebih ke mendengarkan.
"Maafin ibuk nak, gak memberimu kesempatan untuk bercerita." Maurin yang mendengarnya semakin terisak begitu luasnya hati ibunya, yang masih mau memberikan kesempatan untuk dirinya berbicara dan bercerita.
"Sekarang kamu ceritakan saja, apa yang menjadi bebanmu, ceritakan Rin. Apa yang ingin kamu putuskan!. Apa ibu harus berhenti bekerja disana?." Kata Bu Rosma membelai rambut lurus milik putrinya.
Sedangkan Elea dan Revan saling tatap dan tersenyum, melihat anak dan ibu itu mulai tenang dan membicarakan dengan kepala dingin.
__ADS_1
"Gak Bu, ibu gak perlu berhenti dari sana. Maurin cuman meminta sama ibu untuk mendukung langkah Maurin Bu." Kata Maurin dengan sisa isakannya.
"Ceritakan nak, apapun itu yang terpenting dapat memberimu jalan." Kata Bu Rosma, seakan begitu siap dengan apa yang kini akan di putuskan oleh Maurin.
"Di sekolahan Maurin udah hampir ujian, dan mulai nanti malam Maurin ingin segera kabur dari rumah tuan Rangga dan apakah ibu ingat rumah paman dan bibi yang di desa, Maurin akan tinggal disana Bu. Untuk menghindari tuan Rangga, sedangkan ibu pura pura saja untuk tidak mengetahui keberadaanku jadi seakan akan ibu juga menuntut alasan bagaimana bisa aku kabur dari rumah tuan Rangga jika sampai tuan Rangga." Jelas Maurin mendengar aturan rencana dari Maurin, itu cukup bagus karna Bu Rosma jadi tidak harus berhenti bekerja.
Setelah mengobrol kainnya dengan sang ibu, akhirnya satu permasalahan sudah terpecahkan. Akhirnya Maurin dan kedua sahabatnya segera pamit pada Bu Rosma. Kini kelegaan cukup mendominasi perasaan Maurin.
"Makasih yah El... Vann.. udah bantuin aku sejauh ini." Kata Maurin di tengah perjalanan.
"Sama sama Rin, tapi kamu harus ingat masalah apapun itu kamu harus selalu cerita sama kita agar kita bisa menghadapi ini bersama yah kan Van." Kata Elea yang juga meminta pendapat dari Revan.
"Yooiii..." Jawab Revan, sembari memberikan jari jempolnya ke arah belakang.
"Btw Rin, di belakang rumah ada gerbangnya kah?." Tanya Revan saat mobil sudah mendekati cafe.
"Ada sih Van, tapi kayaknya gak ada akses pintu, soalnya kemaren sempet aku kesana disana ada halaman yang cukup luas dan di batasi oleh pagar dan tidak ada pintu jadi cuman ada pintu pagar depan aja. Jadi gimana yah Van?." Jelas Maurin yang sudah cukup menghafal seluk beluk area rumah milik Rangga.
"Baiklah, kalau gitu aku sama Elea tinggal nyiapin tanga buat bantu kamu ngelomoati tuh pagar." Jawab Revan yang sudah menggambar dengan matang apa apa saja yang harus di lakukannya nanti.
"Untungnya kamu hafal Rin, semua lekuk area rumah itu." Sahut Elea yang merasa bersyukur dengan begitu rencananya jadi berjalan cukup mudah.
__ADS_1
****
Sesampainya di cafe Maurin segera mengambil motornya, saat dirinya pulang pun Revan dan Elea mengantarnya sampai di jalan yang sudah dekat dengan rumah Rangga. Sahabatnya begitu peduli akan keselamatan Maurin karna mereka berdua begitu menyayangi Maurin.
"Kalau gitu aku masuk dulu yah Van... El... Makasiih." Kata Maurin saat hendak melanjutkan untuk masuk ke dalam.
"Yah Rin hati hati."
"Hati hati Rin, aku tetap menyayangimu." Dan Revan kembali seperti sedia kala, bahkan laki laki itu sepertinya masih mencintai Maurin meskipun sudah mengetahui kenyataannya.
Tentu Maurin mendengar dengan apa yang di katakan Revan, tapi gadis itu memilih untuk pura pura tidak mendengarkannya. Karna dirinya juga harus menyadari tentang apa yang sudah terjadi padanya.
Saat Maurin membuka pintu depan, matanya langsung bertatapan dengan mata elang Rangga. Sepertinya laki laki itu tengah menunggunya.
"Maaf tuan, saya balik terlambat." Ucap Maurin menunduk, dan benar benar gadis itu bersikap seperti semula, saat dirinya pertama kali datang.
"Cepat kerjakan pekerjaanmu, dan tidak perlu memasak makanan malam." Kata Rangga, laki laki itu segera berlalu meninggalkan Maurin.
Dan lebih baik bagi Maurin untuk saat ini, ketika Rangga bersikap datar dan dingin. Karna mungkin itu dapat mencegah rasa Maurin semakin tumbuh.
Tanpa ada rasa lelah gadis itu langsung bergegas membereskan seluruh ruangan di rumah, dan berkahir dengan mencuci pakaian setelah melihat jam ternyata benar apa kata Rangga yang memintanya untuk tidak memasak makan malam, karna ini sudah melewati waktu makan malam, dan Maurin menyadari jika ternyata waktunya berada di rumah sang ibu sudah cukup lama.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Maurin bergegas menuju kamar, gadis itu langsung mengunci pintu kamar. Dan memulai untuk membereskan semua barang barangnya untuk di bawanya pergi dari rumah ini.
Meminta pertanggung jawaban dari Rangga itu sudah tidak mungkin, orang seperti Rangga mungkin lebih memilih untuk membayarnya dari pada bertanggung jawab. Meski laki laki itu menjanjikan sebuah pertanggung jawaban atau bahkan pernah mengatakan rasa cinta, Maurin sudah menganggap jika itu hanya bualan yang tidak seharusnya di anggap serius.