Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 29


__ADS_3

"baiklah Paman... Bibi... saya permisi dulu." Rangga segera bangkit setelah mengutarakan semuanya pada Pertama dan Mila.


Di susul dengan kedua orang tua Aditya, yang juga ikut berdiri menerima uluran tangan dan menjabat tangan Rangga ketika pamit untuk pulang, karna Rangga juga tidak bisa meninggalkan Maurin terlalu lama.


Pratama dan Mila hanya menatap nanar kepergian dari Rangga, setelah mobil Rangga menghilang dari pandangan keduanya, Mila dan Pratama lalu saling pandang dengan wajah keduanya yang terpancar kesenduan setelah mendengar perkataan Rangga.


"Ayo masuk mah, kita bicarakan ini kembali." Kata Pratama yang ingin mencari jalan keluar dari permasalahan ini, meskipun Pratama harus pasrah menerima keputusan Rangga tentang perusahaan yang harus menyelesaikan antara kerjasama.


"Jam segini anak kita masih belum pulang mah! apa yang di katakan Rangga itu semua benar?." Kata Pratama setelah keduanya duduk di sofa ruang tamu.


Jika di fikir memang benar karna biasanya Aditya sudah berada di rumah di jam jam seperti ini, tapi dengan kebetulan juga Rangga tiba tiba datang membicarakan masalah yang cukup mengejutkan dimana dengan Aditya yang tidak pulang, menguatkan keyakinan Pratama dan Mila tentang apa yang di katakan Rangga itu semua benar.d


"Yaudah lebih baik sekarang papah telfon Aditya, kira kira ada dimana sekarang tuh anak.!" Ucap Meli menjadi geram sendiri, sungguh di luar perkiraannya jika putranya bisa melakukan hal itu.


Tanpa menunggu lama Pratama segera menghubungi nomor Aditya, namun beberapa kali Pratama mencoba Aditya tidak kunjung menerimanya.


"Gimana pah?." Tanya Meli.


"Gak di angkat mah."


"Trus pah, jangan nyerah telfon trus sampe bisa." Kata Melli yang ingin sekali untuk segera melontarkan kata kata pedasnya untuk Aditya.


Sedangkan di lain tempat Aditya tengah menatap ponselnya yang trus berbunyi tanpa henti, Aditya sengaja tidak mengangkat telfon dari sang papah.

__ADS_1


"Duuuh Dit, berisik tinggal angkat aja susah banget!." Ucap Bella yang merasa kesal mendengar nada dering yang sama berbunyi berulang kali.


Setelah mendengar gerutuan dari Bella, Aditya segera meraih ponsel yang di geletakannya di sofa dengan sedikit malas Aditya menggeser tombol hijau ke atas.


Seperti perkiraannya, langsung terdengar suara sang mamah yang tiba tiba langsung memberikan pertanyaan beruntun tentang keberadaannya, dan Aditya hanya menghela nafas kasar ketika Pratama memintanya untuk segera pulang karna ada sesuatu yang ingin di bicarakan padanya, dan tentu Aditya sudah menebak jika pasti kedua orang tuanya akan menanyakan masalahnya bersama Rangga.


"Ada apa Dit? Mereka bilang apa?." Tanya Bella penasaran.


"Mereka hanya memintaku buat pulang, dan sepertinya Rangga bergerak dengan cepat belum beberapa jam kejadian itu berlangsung laki laki itu sepertinya sudah mengadu pada papah dan mamah." Jelas Aditya menatap lurus ke arah dinding, sembari otaknya memutar bagaimana cara untuk mengatasi masalah ini.


" Gila banget tuh Rangga, kira kira dia ngomong apaan sama orang tuamu." Bella sampai terkagum dengan apa yang di lakukan Rangga, ntah apa yang sedang ingin dia rencanakan.


"Entah, yang terpenting Bel, kamu harus ingat ini yang jelas sekarang dia mencintai pembantunya itu tidak main main, dia sudah menunjukkan perjuangan untuk cintanya dari sini." Kata Aditya agar Bella selalu dalam balutan emosi, yang di harapkan agar wanita itu tidak lengah ketika trus fokus ingin mendapatkan Rangga.


"Cepatlah pergi Dit, nanti kita bicara kembali tentang masalah ini." Kata Bella setelah beberapa saat terdiam.


"Baiklah aku pergi dulu." Dengan tidak lupa mencium kening Bella, Aditya langsung bergegas pergi dan mengurungkan niatnya untuk menginap beberapa hari di kediaman Bella, karna di luar dugaannya masalah ini ternyata berubah menjadi serius dan harus segera di selesaikan.


Di sepanjang jalan Aditya menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia cukup menyesali kenapa kejadian tadi pagi tidak di percepat saja hingga dia bisa mendapatkan kesucian Maurin, setidaknya meski masalah besar akan datang dia bisa mendapatkan gadis yang di dambanya, tapi kekacauan itu muncul yang di luar dugaan sepupunya datang dan mengacaukan semuanya, kini Aditya harus merubah rencana awal, bagaimana masalahnya yang hadir hari ini dapat di balasnya kepada Rangga.


Raut wajah Pratama terlihat begitu marah, dia dan istrinya segera berdiri kala melihat pintu depan terbuka. Melihat wajah Aditya yang babak belur membuat Meli khawatir dan ketika dia hendak menghampiri Aditya Pratama langsung mencegahnya. babak belur di wajah Aditya semakin menambah kemarahan bagi Pratama.


PLAAAK...

__ADS_1


Tamparan yang keras mendarat di pipi Aditya, dan membuat suara itu menggema di seluruh rumah, dan tentu saja meninggalkan cap tangan yang kemerahan.


"Kenapa papah tiba tiba menamparku?." Kata Aditya merasakan panas di pipinya akibat tamparan itu bahkan mungkin baru pertama kali ini Pratama menamparnya.


"Kau masih tanya kenapa? Kau bahkan pantas mendapatkan lebih dari ini." Sungut Pratama yang hendak melayangkan pukulan Namun, Meli yang merasa tidak tega langsung menahan tangan sang suami.


"Udah paah cukup, jangan pakai kekerasan pah..." Mohon Melu yang kini sudah bercucuran air mata.


"Apa kau tau tadi Rangga datang kemari dan menceritakan semuanya, awalnya aku tidak yakin tapi setelah melihat keadaanmu itu menjadikan keyakinan ku lebih kuat jika kau melakukannya." Akhirnya terjawab sudah, yah Aditya semakin menaruh dendam pada Rangga yang ternyata benar benar mengatakan kejadian itu pada kedua orang tuanya.


"Pengecut sekali dia, mengadu pada papah dan mamah." Gumamnya meremehkan yang masih dapat di dengar oleh Pratama dan Meli.


Buuugghh.


Sekali lagi kini yang mendarat bukan tamparan tapi bogeman mentah, yang untuk pertama kali pula Aditya dapatkan dari sang papah.


"Pengecut katamu, lalu bagaimana dengan kau yang lebih dari itu Dit, apa yang Rangga sampaikan pada papah adalah alasan dimana perusahaan kita dan perusahaannya sudah tidak bekerja sama lagi." Seru Pratama semakin di buat emosi oleh Aditya.


Aditya kembali mendapat kejutan, apa yang di ucapkan oleh Pratama membuatnya tertegun, ternyata di semakin main itu yang Rangga lakukan. Apa hanya karna gadis yang bernama Maurin hingga laki laki itu memutuskan antar kerjasama diantara perusahaan, mungkin memang Iyah kala pada kenyataannya jika laki laki itu benar benar akan perasaannya pada Maurin.


Sesaat hanya hening yang hadir di antara mereka, Pratama yang sudah puas meluapkan segala emosinya pada Aditya langsung meraih lengan Meli dan menariknya agar mengikuti langkahnya untuk meninggalkan Aditya yang masih mematung.


"Jika memang seperti ini jalan permainannya, aku terima Ga, aku akan melakukan hal dimana kau akan merasakan kehancuran." Gumamnya dengan tatapan kosong, nafasnya memburu Aditya telah menganggap jika Rangga telah mengibarkan bendera perang dan Aditya akan menerima itu semua.

__ADS_1


__ADS_2