Pembantu Pengganti

Pembantu Pengganti
Bab 51


__ADS_3

Saat Rangga hampir sampai di depan pintu kamar rawat Maurin, sebelum Rangga hendak masuk. Seorang suster yang sebelumnya di mintai oleh Rangga untuk menjaga Maurin, membuka pintu lalu keluar dan tanpa sengaja berpapasan dengan Rangga.


"Ya tuhan syukurlah tuan, anda sudah balik." Kata suster itu menampakkan raut wajah yang begitu lega saat melihat kedatangan Rangga.


"Ada apa su, apa ada yang darurat?." Tanya Rangga seketika semburat rasa khawatir nampak di wajahnya.


"Sebenarnya gak ada apa tuan, tapi semenjak kepergian tuan Rangga pasien tidak henti hentinya menangis. Saya rasa itu karna hormon kehamilannya. Mungkin pasien ingin selalu dekat dengan tuan." Jelas Suster itu.


Rangga menghembuskan nafas lega, setelah beberapa saat nafasnya seakan tertahan kala kekhawatirannya terhadap Maurin. "Baiklah sus, kalau gitu saya masuk dulu. Makasiih yah sus udah jagain dia." Kata Rangga yang segera di angguki oleh suster dan Rangga pun berlalu masuk ke dalam kamar rawat Maurin.


Saat pintu terbuka Rangga langsung menjuruskan tatapannya ke arah Maurin, nampak gadis itu tidur dengan menghadap ke dinding. Dengan pelan Rangga masuk lalu menutup pintu. Laki laki itu lalu mendekat dan duduk di kursi sebelah ranjang, dengan tangannya meletakkan Bika Ambon ke meja nakas yang di sediakan dari rumah sakit.


"Rin..." Panggil Rangga lembut. Namun, setelah beberapa saat Maurin masih saja tidak menghiraukan Rangga. Dan Rangga pun mengetahui jika Maurin hanya pura pura untuk tidur untuk menghindarinya.


Rangga terdiam, menatap lekat ke arah punggung Maurin. Rangga mengerti jika Maurin mungkin merasa kesal padanya, Rangga tidak ingin memaksa lalu laki laki itu berdiri dia ingin meluluhkan Maurin dengan caranya sendiri. Setelah tubuhnya berdiri tegap Rangga melepaskan sepatu yang di pakainya lalu Rangga dengan perlahan naik ke atas ranjan dan membaringkan tubuhnya dan memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Maurin. Lalu tangan kekarnya melingkar di pinggang Maurin dan menjangkau perut rata Maurin lalu dengan lembut Rangga mengelus perut rata Maurin.


Maurin yang sedari tadi berusaha agar tetap memejamkan mata dan tidak menghiraukan apa yang di lakukan Rangga. Seketika matanya mulai terbuka di tambah Rangga semakin mengeratkan tubuhnya pada Maurin.


"Aku sudah membawakanmu Bika Ambon itu sayang..." Kata Rangga berbisik menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Maurin. Menikmati aroma vanilla yang masih belum menghilang.


Maurin ketika mendengar kata Bika Ambon seketika membalikkan badannya, yang membuat Rangga seketika langsung memberikan ruang untuk Maurin. Dan saat ini posisi Rangga dengan Maurin saling berhadapan mata keduanya saling mengunci.


Lalu tanpa sedikit pun kata yang keluar, tangan Maurin mengusap sisa tepung yang masih setia menempel di dahi Rangga.

__ADS_1


"Apa kamu tadi membuatnya sendiri?." Tanya Maurin dengan masih fokus mengusap dahi yang sebenarnya sudah bersih.


"Tidak! Aku meminta mama untuk membuatkannya, dan aku hanya membantu sedikit." Jawab Rangga tersenyum tipis, sungguh suasana hati Maurin begitu mudah berubah dan Rangga mulai menyadari jika dia harus menyediakan banyak kesabaran untuk menghadapi sikap Maurin dengan hormon kehamilannya.


Maurin membulatkan matanya, setelah mendengar jawaban dari Rangga. Tangannya pun langsung menurun menguraikan belaian itu yang cukup di nikmati oleh Rangga. "Mamah maksut kamu nyonya Eli?." Tanya Maurin memastikan.


Rangga mengangguk semakin membuat Maurin terkejut. " Kenapa tuan?, aku gak memaksa jika memang gak ada kenapa sampai harus meminta pada Nyonya!." Maurin lantas memberondong Rangga dengan kata katanya.


"Karna aku gak mau sayang, jika anak kita ngiler kalo gak di turuti keinginannya." Kata Rangga yang membuat Maurin memaku, seketika Maurin terdiam karna tidak percaya dengan apa yang Rangga katakan. Sebuah perkataan yang cukup melelehkan hatinya.


"Kenapa diam?." Tanya Rangga semakin menggoda.


"iiissh... Apaan sih, emang gak boleh kalau aku diam." Jawab Maurin. Lalu Maurin segera bangkit dan dengan cepat Rangga membantunya. Dan Rangga segera menuruni ranjang.


"Boleh... Biar aku ambilkan." Rangga meraih Bika Ambonnya lalu membuka kotak yang membungkusnya, dan Rangga segera memotong Bika Ambon itu.


Sesaat Maurin berhasil mengalihkan pembicaraan tadi, saat ini Maurin menatap lekat ke arah Rangga hatinya sedikit mulai kembali luluh di tambah Maurin yang baru menyadari akan penampilan Rangga yang berantakan persis seperti orang yang baru selesai bertempur di dalam dapur.


"Jangan ngeliatin terus kayak gitu, aku tahu papah dari calon anakmu ini begitu tampan." Kata Rangga saat menyadari jika Maurin terus memperhatikannya.


"iiisshh... Pede banget, padahal bukan karna itu aku merhatiin kamu. Tapi karna penampilan kamu yang berantakan kayak orang yang baru selesai masak buat orang hajatan." Jawab Maurin lalu memalingkan wajahnya.


Rangga terkekeh, laki laki itu lalu menghampiri Maurin dengan kue Bika Ambon yang sudah terpotong potong.

__ADS_1


"Mau aku suapin?." Ujar Rangga sembari mengulurkan kue itu.


Maurin langsung beralih menatap kue yang masih berada di tangan Rangga, lalu Maurin mengambil kue itu dan segera melahapnya. Maurin membulatkan matanya kala kue itu terasa begitu enak.


"Enak?." Tanya Rangga saat melihat wajah Maurin seakan langsung ceria.


"Enak bangeeeetttt..." Jawab Maurin semakin menambah kelegaan di hati Rangga kala perempuan yang membuat berhasil jatuh cinta, sangat menikmati kue itu.


Maurin dan Rangga menikmati Bika Ambon itu berdua, dengan sesekali Rangga menyuapi Maurin. Ketika sudah merasaenghabiskan cukup banyak Bika Ambon Maurin sudah merasa kenyang.


"Aku udah kenyang!." Kata Maurin menggeleng menolak Bika Ambon yang akan di siapkan oleh Rangga.


"Baiklah, kalau gitu minum dulu yah." Rangga bergegas bangkit meletakkan Bika Ambon itu lalu mengambil sebotol air mineral.


Jam sudah menunjukkan pukul 05.45 wib, Rangga lega ketika Maurin telah cukup banyak menghabiskan Bika Ambon dan setelahnya langsung tertidur. Dan Rangga juga bersyukur karna Maurin tidak memuntahkan makanan yang telah di makannya mengingat Maurin makan tepat saat pagi hari. Rasanya Rangga semakin hari semakin dalam mencintai Maurin, laki laki itu bahkan tidak pernah puas dalam memandangi wajah polos Maurin yang tertidur. Baru saja Rangga menarik tangannya dari perut Maurin, sekarang tangan kekar itu kembali berada di atasnya. Rangga terus mengelus dengan sesekali berbicara pada calon bayi yang mungkin masih sebesar biji kacang itu.


Disaat Rangga menikmati momen itu, tiba tiba saja Elea dan Revan langsung masuk ke dalam ruang rawat, saat yang bersamaan Revan dan Elea melihat apa yang di lakukan Rangga. Dan tersemat rasa haru di benak Elea ketika melihatnya.


"Maaf aku kira tadi tidak ada orang!." Kata Elea terlihat bodoh saat dia dan Revan langsung menyerobot masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Tidak apa apa." Jawab Rangga lalu mengusaikan kegiatannya, dan berdiri menyambut kedatangan kedua teman Maurin.


"Apa Maurin baru saja tertidur?." Tanya Elea lalu duduk di kursi saat Rangga berdiri.

__ADS_1


( Haii guys... kalian bisa mampir ke Ig aku yah Abiyasapages02, disana tadi aku promosi tentang novel yang akan aku up. kalian bisa baca potongan dari isi novelnya lalu DM yah lanjut di up atau gimana😊 ) terimah kasih❤️


__ADS_2