
Rangga segera memarkirkan mobilnya di garasi, laki laki itu seakan mendapat semangat yang begitu besar dan tidak sabar untuk segera bertemu dengan Maurin. Atau mungkin perasaan bahagianya saat ini yang menjadi salah satu pengakuan jika laki laki itu sudah benar benar menyadari perasaan sebenarnya pada Maurin.
Saat Rangga masuk ke dalam rumah, sama seperti saat dirinya masuk ke dalam rumah orang tuanya, rumah itu terlihat sepi seperti tidak ada aktivitas.
"Mauriiinnn..." Panggil Rangga memanggil Maurin dengan suara keras.
Setelah beberapa saat setelah Rangga mencoba memanggil Maurin, gadis itu tidak menyauti sama sekali panggilan dari Rangga, dan saat itu pula Rangga mulai merasakan khawatir. Dengan kasar Rangga meletakkan jas dan tas kantor dengan sembarang di kursi ruang tamu, lalu segera mengecek keberadaan gadis itu dan putranya.
Sesaat perasaan Rangga merasa lega, setelah membuka pintu kamar Maurin, yang memperlihatkan dimana Maurin tengah memeluk Aden dengan penuh kasih sayang keduanya terlelap di atas kasur.
Melihat itu membuat perasaan Rangga sedikit merasa kagum dan haru, melihat putranya yang begitu terlihat nyaman dalam pelukan Maurin di tidur nyenyak nya. Setelah puas memandangi keduanya Rangga kembali menutup pintu lu segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian agar badannya terasa segar setelah penat seharian di sibukkan bekerja.
Setelah menyelesaikan mandi dan mengganti pakaian, Rangga ingin langsung tidur karna badannya benar benar lelah, tapi di satu sisi Aden tengah tidur bersama Maurin. Dan itu membuat Rangga ingin kembali menghampiri Maurin dan Aden, Namun Rangga masih mencoba untuk berfikir berulang ulang.
Setelah beberapa saat Rangga berfikir, akhirnya Rangga memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya sendiri dan menghampiri Maurin dan Aden yang tengah terlelap.
Dengan pelan laki laki itu membuka pintu, agar suara pintu yang terbuka tidak dapat mengganggu tidur keduanya.
__ADS_1
Rangga lalu masuk dan tidak lupa untuk menutup kembali pintunya dengan pelan, langkahnya pun kini Rangga mencoba melangkah dengan pelan agar tidak menimbulkan suara.
Sesaat Rangga kembali terdiam, memandangi Maurin dan Aden, rasa kantuk kembali menyerang dan membuat Rangga tidak dapat menahannya. Rangga yang masih tersadar tidak kembali ke kamarnya laki laki itu memilih untuk naik ke kasur dengan pelan lalu merebahkan tubuhnya di samping Maurin yang kini posisi Maurin berada di tengah di apit oleh dua laki laki berbeda usia dan generasi itu, dan secara spontan Rangga melingkarkan tangannya di pinggang Maurin yang tampaknya tidak terganggu dengan pergerakan kecil Rangga. Laki laki itu segera terlelap setelah menemukan dekapan yang selama ini tidak pernah di rasakannya.
Malam itu di atas kasur yang sama ketiganya terlelap dan tertidur dengan nyenyak sepanjang malam kehangatan pelukan saling menyalur di antara ketiga yang saling menautkan pelukan.
Sepanjang malam ketiganya tidur dengan nyenyak, hingga di jam pukul tiga dini hari. Maurin mulai mengerjapkan matanya, dan saat kesadarannya sedikit demi sedikit mulai terkumpul Maurin merasa ada sesuatu yang berat tengah melingkar di pinggangnya. Sesaat Maurin mencoba meraba lengan kekar Rangga, dan Maurin langsung membulatkan matanya dan kesadarannya langsung kembali kala menyadari jika yang melingkar di pinggangnya adalah lengan seorang laki laki.
Sontak Maurin langsung bangun dari bebaringnya dengan pergerakan yang cukup kasar dan membuat Aden sedikit terusik, spontan Maurin langsung mengelus elus punggung Aden agar anak itu tidak terbangun. Sedangkan laki laki yang berada di sampingnya tidak merasa terganggu sama sekali akan pergerakan yang cukup kasar itu.
Setelah Aden sudah merasa tenang, jantung Maurin seakan terpompa cepat saat Maurin kembali teringat akan lengan yang melingkar di pinggangnya. Maurin mematung lalu matanya melirik ke arah lengan yang masih mendarat di tubuhnya, lengan kekar itu Maurin seperti mengenalnya. Lalu Maurin mencoba mengalihkan lirikannya untuk melihat siapa laki laki itu dan pikiran Maurin mulai menebak siapa laki laki itu.
Tidak mau kedahuluan Rangga terbangun, Maurin pun sedikit demi sedikit mulai beranjak dari kasur untuk segera turun dan Maurin melakukannya dengan penuh hati hati.
Sedikit mulai merasa lega kaki Maurin akhirnya sudah turun, ketika Maurin hendak melakukan badannya tiba tiba saja sebuah tangan kekar menariknya.
"BUUUGG" badan Maurin dengan sempurna jatuh di atas tubuh Rangga, yah sedari Maurin terbangun dan menciptakan gerakan saat itu Rangga mulai terbangun. namun, berpura pura masih terlelap.
__ADS_1
Sesaat mata keduanya saling menatap dan terkunci, bahkan hembusan nafas dua duanya begitu saling terasa, beberapa saat Mauris segera tersadar.
Namun, ketika Maurin hendak bangkit Rangga menahan dengan begitu erat tubuh Maurin hingga membuat Maurin tidak dapat bergerak.
"Maaf tu- tuan saya harus pindah!." Ucap Maurin yang jelas kini jantungnya tidak karuan dengan posisi yang cukup memporak porandakan perasaannya saat ini.
"Mau pindah kemana? Bukankah ini sudah kamarmu?." Tanya Rangga semakin merapatkan tubuhnya.
Mendapat jawaban seperti itu, Maurin tidak bisa menjawab lagi. Tepatnya gadis itu merasa bingung harus bagaimana yang jelas saat ini dia ingin lepas terlebih dahulu dari situasi yang cukup mencanggungkan untuk Maurin.
Tidak mendapat jawaban Rangga sesaat menatap lekat manik mata yang begitu dekat dengannya, lalu Rangga dengan pelan menjatuhkan tubuh Maurin di tempat semula.
"Aku tahu banyak pertanyaan yang kini beterbangan di fikiranmu tentang hal ini, tapi biarkan itu akan terjawab sendiri. Dan biarkan ini seperti ini dulu jangan menolak!." Ucap Rangga di tengah kantuk yang kembali melanda, mendengar ucapan Rangga pintu perasaan Maurin seakan tersentuh kala mendengar ucapan dengan suara lembut Rangga yang baru pertama kali di dengarnya.
Rangga kembali tertidur setelah mengucapkan kata kata itu, tidak lupa lengannya yang kembali melingkar di pinggang Maurin. Dan jarak di antara keduanya semakin tidak ada jarak apalagi kini Maurin, benar benar dapat menatap wajah tampan milik laki laki yang di kaguminya.
Saat Maurin puas memandangi wajah laki laki tampan itu, Maurin segera kembali berbalik ke hadapan Aden, Maurin mendekap tubuh anak laki laki itu dengan sayang.
__ADS_1
Setelah Rangga kembali tertidur lelap, sebaliknya dengan Maurin tidak dapat memejamkan matanya. Tentu gadis itu teringat akan kata yang di ucapkan Rangga. Entah Rangga mengucapkan dalam keadaan sadar atau tidak tapi itu mampu membuat Maurin tidak dapat kembali memejamkan matanya.
Nafas Rangga yang terasa di tengkuk Maurin, juga menjadi alasan Maurin merasakan kebahagiaan di malam yang akan beranjak pagi. Hatinya cukup merasa bahagia dan kebahagiaan itu tidak dapat tergambarkan.