
Air mata Maurin tiba tiba saja langsung lolos, dan dengan cepat gadis itu menghapusnya. Tanpa mencoba untuk memperdulikan Rangga yang kini menatapnya, Maurin langsung saja masuk dan berlalu menuju dapur.
Keyakinannya kini semakin kuat untuk segera meninggalkan rumah itu, Maurin tidak ingin terus terusan merasa sakit. Di tambah sepertinya Rangga yang belum bisa lepas dari Bella, sedangkan itu hanya pikiran Maurin saja yang saat ini sedang kalut.
Maurin langsung menutup pintu dan tidak lupa untuk menguncinya, gadis itu melanjutkan tangis yang sempat tertahan. Maurin membungkam mulutnya agar isakannya tidak terdengar gadis itu menenggelamkan kepalanya di bantal dan dengan puas menumpahkan kesedihannya yang begitu menusuk relung hatinya.
"Apa kau tadi sengaja Bel?." Tanya Rangga setelah kepergian Maurin.
"Yah Ga, emang kenapa meskipun ku sengaja. Bukankah bagus kemesraan kita dapat di lihat orang lain." Jawab Bella tanpa rasa bersalahnya.
"Lebih baik sekarang kau kembali saja Bell, lagi pula kau kesini tidak ada apa apa." Kata Rangga mengusir secara halus.
"Kau mengusirku Ga, apa karna gadis itu sudah datang." Tidak semudah itu untuk Bella langsung pergi, wanita itu tentu harus dengan cara lebih keras lagi agar dapat segera pergi.
"Gak ada Bell, please tinggalin aku Bell aku pulang lebih awal hanya untuk menikmati waktu bersantai." Rangga memohon, sungguh sulit untuk meminta mantan istrinya itu pergi. Rangga pun pasti tau apa maksud dari Bella yang tiba tiba datang, karna wanita itu memastikan kedekatan antara dirinya dan Maurin. Tapi satu hal yang tidak di ketahui oleh Rangga jika yang merencanakan kejadian tadi malam adalah mantan istrinya itu.
Melihat Rangga yang berusaha untuk memintanya pulang pada akhirnya Bella memutuskan untuk pulang, setelah mendapat kepastian jika Rangga dan Maurin sepertinya masih baik baik saja itu sudah cukup untuk Bella. Dan dia harus segera memberitahukannya pada Aditya.
Rangga menghela nafas ketika Bella akhirnya pergi juga, sesaat laki laki itu terdiam lalu ingatannya yang kembali mengingat Maurin membuat Rangga memutuskan untuk berlalu. Dan berniat untuk menemui Maurin.
__ADS_1
Padahal seharusnya Maurin sudah keluar dari dalam kamar, tapi saat Rangga lihat tidak ada aktivitas apapun di dapur. Dan terlihat pintu kamar Maurin tertutup rapat, tidak sampai di situ Rangga mencoba mendekati pintu kamar itu.
"Maurin, apa kamu baik baik saja." Ucap Rangga dan tidak lupa mengetuk pintu.
Maurin seketika mendongakkan kepalanya yang sedari tadi di tenggelamkannya di bantal, gadis itu langsung mengusap air matanya dengan mata yang sudah terlihat sembab akibat terlalu lama menangis.
"Aku baik baik saja, sebentar lagi aku akan keluar." Jawab Maurin dari dalam.
Rangga yang mendengar suara Maurin yang serak khas orang setelah menangis, Rangga menjadi curiga jika gadis itu habis menangis.
"Baiklah." Rangga hanya memberikan jawaban singkat itu, sesaat Rangga berfikir apa yang menjadi tangis gadis itu apa karna tadi dirinya yang bersikap dingin atau yang pasti jelasnya Maurin telah melihat adegan di sengaja oleh Bella.
Setelah merasa jika Rangga sudah pergi, Maurin segera bangkit gadis itu mengingat jika dia ada janji dengan teman temannya untuk bertemu. Dan Maurin segera bergegas melakukan pekerjaannya agar selesai lebih awal.
Teekk...
Maurin sedikit tersentak kala suara gelas di letakkan itu berbunyi sedikit keras, tiba tiba Maurin langsung merasa canggung bahkan rasa itu lebih kuat dari pada awal kali bertemu. Rangga yang berada disitu langsung mencuci gelas yang di letakkan secara kasar, sepanjang keduanya berada di dapur tidak ada satu kata pun yang keluar. Di tambah dengan Maurin yang setelah melihat kejadian saat dirinya baru masuk rumah, dan kejadian itu semakin meyakinkan Maurin untuk pergi dari rumah itu.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Maurin kembali ke dalam kamar, Maurin segera bebersih kamar. Lalu mengganti pakaian dan mengoles make up tipis di wajahnya. Setelah penampilannya rapi Maurin langsung mengirim pesan pada Elea jika dirinya sudah mulai menuju ke arah mall.
__ADS_1
Setelah mendapat jawaban dari Elea, Maurin segera bergegas untuk berangkat, saat dirinya keluar Rangga diam diam memperhatikan apa yang di lakukan Maurin. Laki laki itu merasa sedikit penasaran kemanakah Maurin akan pergi, gadis itu langsung pergi tanpa pamit.
****
Seperti biasa Elea tidak melupakan untuk mengajak Revan, Maurin yang sudah bertemu mereka di basement langsung saling menyapa. Gadis itu mencoba untuk seceria mungkin agar masalahnya dapat terlupakan.
"Seperti biasa, kita makan dulu yah." Kata Maurin memancarkan keceriannya.
"Siap."
"Ayooo berangkat." Revan langsung menggandeng tangan Maurin, dan meninggalkan Elea yang hanya bisa geleng geleng kepala saat melihat kelakuan Rangga yang akan melupakannya saat bertemu dengan Maurin.
Rangga mencengkram setir mobil saat melihat keceriaan Maurin bersama temannya terlebih gadis itu begitu ceria saat bersama Revan. yah, diam diam karna rasan penasarannya Rangga mengikuti kepergian Maurin.
Tidak sampai di situ Rangga terus mengikuti langkah Maurin dan teman temannya. Saat Maurin berhenti di sebuah pujasera yang menyediakan beberapa menu makanan seafood, Rangga pun ikut berhenti laki laki itu dengan hati hati agar tidak ketahuan.
Setelah memesan beberapa menu berbeda agar bisa merasakan semuanya, ketiganya memilih sebuah tempat duduk di paling pojok agar cukup nyaman untuk di buat mengobrol yang terkadang obrolan mereka akan sampai heboh.
Rangga pun sebaliknya laki laki itu mencari tempat duduk untuk tetap memantau kegiatan mereka, bahkan saat ini Rangga terlihat seperti mata mata yang tengah mencari sebuah informasi yang nantinya akan di berikan pada bosnya tapi perbedaannya dia mencari informasi untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Sepanjang Rangga melihat kegiata Maurin dan temannya, hatinya seakan terus di remas dan di uji, di tambah gerak gerik Revan yang terlihat selalu mendekati Maurin. Tidak tahan melihatnya terlalu lama, akhirnya Rangga melepaskan topi untuk menutupi wajah dan memilih untuk berpindah tempat agar Maurin melihat keberadaannya.
Seperti yang sudah di perkirakan Maurin seketika terdiam dan mematung , saat melihat kehadiran Rangga disana. Rangga yang sudah mengetahui jika Maurin telah melihatnya, Rangga langsung menatap tatapan Maurin yang kini tengah berfokus menatapnya. Sesaat tatapan keduanya saling mengunci, Rangga melemparkan tatapan tajamnya pada Maurin, menciptakan siratan ketidaksukaannya. Tapi sesaat Maurin langsung melepas kuncian tatapan itu dan kembali fokus bercengkrama dengan teman temannya, dan tanpa di sadari apa yang di lakukan Maurin membuat Rangga semakin terbawa emosi.