
Keesokkan harinya, mengejar jam tujuh pagi, Dhyanda berlari mengejar bus angkutan menuju sekolah. Tak ada sisiran rambut, atau bedakan diwajahnya, semua serba seadanya karena dia tak sempat melakukannya. Sejak tadi subuh Dhyanda sudah sibuk didapur, mencuci piring, mencuci pakaian, lalu membuat sarapan untuk dirinya dan Ibu Arumi yang masih belum bisa beraktifitas normal sejak kejadian kecelakaan kemarin. Beruntung Dhyanda tiba disekolah tepat waktu karena lalu lintas Jakarta cukup padat tapi tidak sampai macet berjilid-jilid. Kelas sudah ramai dan Imel sudah menyambutnya dengan raut penuh tanya melihat penampilan Dhyanda yang berantakan pagi ini.
“Not a word!” tahan Dhyanda saat Imel sudah siap membuka mulutnya. “Gue bangun jam 4 subuh. Asli gue masih ngantuk banget” lanjutnya langsung menempelkan pipinya dimeja, lantas memejamkan mata.
“Rambut lo gak disisir ya?” tanya Imel ngeyel. “Bu Nina masuk, Dhy!”
Dhyanda tak memperdulikan peringatan Imel yang memberitahukan Ibu Nina si guru matematika killer itu udah datang. Matanya terasa sangat berat, ia benar-benar tertidur. Bahkan Dhyanda melewatkan 15 menit waktu pelajaran Bu Nina dengan hanya tidur tanpa mengikuti penjelasannya.
“Dhy! Serius ya Lo! Sampe ketahuan Bu Nina abis deh!” bisik Imel berusaha membangunkan Dhyanda.
“Semalem gue kurang tidur, Ibu gue kecelakaan, trus paginya gue udah bangun buat nyiapin kebutuhan ibu selama gue disekolah” balas Dhyanda lemah.
“kalau kurang tidur kenapa harus masuk sekolah, Dhyanda?” tegur Bu Nina mengejutkan.
Dhyanda langsung mengangkat kepalanya, di depan kelas sana, bu Nina sudah menatap tajam ke arahnya.
“Maaf Bu,” sesal Dhyanda dihadapan siswa yang lain.
“Jangan masuk kelas saya kalo kamu memang tidak tertarik dengan mata pelajaran saya!” sengal Bu Nina horror.
“Maaf Bu, saya nggak akan ngulang begitu lagi,” mohon Dhyanda menundukan kepalanya, sangat menyesal.
“Jangan diulang!” pesan Bu Nina luluh. Ia tau Dhyanda murid yang cerdas dan cukup berprestasi, itulah kenapa ia merasa perlu mengampuni Dhyanda kali ini.
*
“Tadi Lo bilang ibu Lo kecelakaan? “ tanya Imel saat bel tanda jam istirahat pun baru saja berbunyi.
“Iya, Mel. Ibu gue ketabrak mobil sepulang dari jualan kemaren” jawab Dhyanda sambil memasukkan alat tulisnya ke dalam tas sebelum ditinggal ke kantin.
“Terus kondisi gimana?” tanya Imel berantusias.
__ADS_1
“Untungnya gak parah sih, hanya luka-luka di tangan dan kakinya. Makanya pagi ini gue sibuk banget karena harus menggantikan pekerjaan ibu” ujar Dhyanda.
“Gitu dong, anak sholeh” tepuk Imel dibahu Dhyanda. “Ke kantin Yuk!” ajaknya.
Belum juga Dhyanda berdiri dari kursinya, beberapa teman sekelasnya tiba-tiba menatap Dhyanda horror. Fiona nampak asik membandingkan sesuatu diponselnya dengan wajah Dhyanda. Merasa terganggu, Dhyanda beranjak dan mendekati Fiona, ia merebut ponsel Fiona dan menemukan foto dirinya hendak dicium oleh seorang laki-laki yang wajahnya disamarkan. Ditambah difoto itu terlihat Dhyanda mengenakan pakaian minim kurang bahan yang menampakkan lekuk tubuhnya yang mulai menonjol. Foto itu tersebar di forum web sekolah, dan jelas itu adalah hasil editan yang sangat rapi.
“Jelas bukan Dhyanda! Ini editan! Berhenti ngeliat Dhyanda dengan pandangan mesum begitu!” teriak Imel membela.
Freya tak mau membuang waktu, ia berlari keluar kelas, mencari Gio, ketua OSIS juga admin diforum online sekolah.
“Terserah kalian mau bikin gosip apa!” teriak Dhyanda sebelum benar-benar berlalu.
Semua mata memandang aneh kearah Dhyanda. Nama baiknya tercemar. Meski bukan foto asli, bagi orang yang tak mengenalnya, pasti akan percaya saja dengan foto yang tersebar karena begitu rapinya hasil editing.
“Gio, tolong Lo hapus foto itu di FOS!” seru Dhyanda begitu menemukan Gio tengah berada diruang OSIS bersama Gavin, kakak kelas XII yang terkenal tampan rupawan dan masih aktif di organisasi OSIS.
“Foto apa?” goda Gio pura-pura.
“Kamu seksi banget lho, Dhy. Badan kamu bagus” Gavin ikut-ikutan menggodanya.
“Forum diskusi disalahgunakan buat posting hoax, lo mau gue aduin ke kepala sekolah?” emosi Dhyanda memuncak.
Dhyanda tidak menyangka, sejak kemarin dia spot jantung dengan kejadian yang datang tiba-tiba. Mulai ibu Arumi yang ketabrak, dan hari ini harga dirinya yang harus dipertaruhkan. Seakan segala masalah datang bertubi menyambangi gadis itu.
“Udah? Udah lega sekarang? Gue udah delete foto itu” Gio menunjuk komputer milik OSIS dihadapan Dhyanda.
Dhyanda menghela napas, “Makasih, Yo” ucapnya setengah hati. Dhyanda masih berpikir Gio lah yang tega memposting foto editan tersebut.
“Sorry, Dhy. Gue nggak bertanggung jawab lagi kalau foto itu udah nyebar ya” ujar Gavin menambahkan. Ia merasa tanggung jawabnya dengan Gio hanya mengelola, bukan mengatur postingan yang muncul di kanal tidak resmi sekolah itu.
“Oke, biar gue urus sendiri”, balas Dhyanda beranjak pergi.
Saat menuruni tangga, Imel datang menyambut Dhyanda dengan wajah sedikit panik. Jelas ada raut kesal khawatir yang tak bisa Imel sembunyikan.
__ADS_1
“kenapa?” tanya Dhyanda begitu lugunya.
“Lo nggak cek grup whatsapp kelas?” tanya Imel tak sabar.
“Gue belum sempet buka HP dari tadi, emang kenapa?”
Imel bimbang, ia merasa tidak tega memberitahu pada Dhyanda perihal kejadian yang menimpa sahabatnya ini. Melihat sikap imel, Dhyanda berinisiatif membuka ponselnya sendiri. Tangan Dhyanda bergetar hebat, ia syok. Hampir saja ponsel ditangannya jatuh, tapi Imel sigap menangkapnya.
“Kita buru pelakunya!” ucap Imel mencoba menghibur.
Foto tidak senonoh dengan wajah Dhyanda yang dipublikasikan di forum online sekolah memang sudah dihapus oleh Gio dan Gavin. Namun, di daring media social kelas XI, Dhyanda dihujat habis-habisan. Bukan tidak mungkin jajaran guru disekolah ini mendengar juga berita ini.
“Lo minum dulu, Dhy!” Imel menyodorkan air mineral yang sempat dibelinya sebelum menemui Dhyanda.
“Tadinya gue masih ngerasa bisa ngatasin ini. Tapi seandainya udah tersebar keluar sekolah dan menyangkut nama baik sekolah, gue nggak tau harus gimana. Lo baca kan Mel hujatan mereka ke gue? gimana kalo foto itu udah nyampe keluar sekolah? gimana kalo ibu gue sampe tau masalah ini? orang-orang sok pinter yang gampang kemakan hoax akan lebih menghujat gue” setitik air mata Dhyanda menetes. Ini adalah puncak dari ketegarannya. Sisi lemahnya tak bisa lagi ditekan, ia menyerah.
Menangis tidak penyelesaian suatu masalah, namun jadikan itu suatu kekuatan untuk kamu tersenyum.
.
.
.
The struggles I'm facing, The chances I'm taking, Sometimes might knock me down but No I'm not breaking, I may not know it But these are the moments that, I'm going to remember most yeah
Just got to keep going And I gotta be strong
Just keep pushing on, (the climb, Miley Cyrus)
__ADS_1