Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Suasana Hatinya


__ADS_3

"Suara kamu bagus" puji David, manager One Cafe tempatnya Imel kerja part time.


"Biasa aja Bang" sahut Dhyanda santai, "Bay the way, makasih lho udah ngijinin manggung" ujarnya sungkan.


"Harusnya saya yang terimakasih. Kamu bikin pengunjung disini terhibur. Bener gak, Mel?" kata David melirik Imel yang berdiri disamping Dhyanda.


Imel reflek mengangguk, "Bener kan, Bang. Temen ku ini suaranya emang bagus" ucapnya seraya mengacungkan ibu jari tangannya.


"Gimana kalau kamu saya kontrak di kafe ini buat nyanyi, Mau?" tawar David dan sukses membuat Dhyanda dan Imel membelalakkan matanya.


"Apa?" seru Dhyanda dan Imel bersamaan. Sejenak mereka saling beradu pandang tak percaya.


"Deal?" tawar David sekali lagi.


Dhyanda sedikit tercengang, antara kaget dan tak percaya. Baru perform sekali sudah ada yang tertarik untuk kerjasama.


"Serius nih, Bang?" Imel kembali meyakinkan.


"Serius lah. Gimana, kamu bersedia?" tanya manager kafe tersebut menatap Dhyanda.


"Ehmm... aku pikir-pikir dulu ya Bang. Lagian aku harus minta pendapat ibu dirumah. Aku gak berani langsung kasih keputusan" ujar Dhyanda.


"oke, never mind. Saya tunggu jawaban mu secepatnya" ujar David menepuk bahu Dhyanda sambil berlalu pergi kembali ke ruang office kafe.


"Saran gue sih mending Lo terima tuh tawaran bang David. Lumayan kan, Dhy" gosok Imel agar Dhyanda menyetujui.


"Gak bisa gitu aja kali. Gue musti ngomong ibu dulu" sahut Dhyanda kembali duduk di mejanya lalu menyeruput lychee smoothies pesenannya.


"Iya juga sih", Imel manggut-manggut mengerti. "kalo gitu gue lanjut kerja deh, Lo duduk-duduk manis aja dulu, kalo mau pesen yang lain panggil gue!" ucapnya lagi buru-buru pergi menyambut pengunjung kafe yang baru saja datang.


Dhyanda mengangguk setuju, ia mengitari sekeliling suasana kafe yang semakin ramai dikala malam menjelang. Pengunjung kafe ini rata-rata kalangan remaja hingga dewasa, sebagian dari mereka nampak berpasangan. Mungkin karena ini malam Minggu jadi wajar saja. Dhyanda tidak merasa sendiri, Alunan musik mengiringi membuat dirinya merasa terhibur.


"Casey?" gumam Dhyanda saat peredaran matanya menemukan sosok familiar tengah duduk dimeja paling sudut.


Dhyanda menyeruput habis minumannya lalu menghampiri meja yang diyakini itu Casey. Dhyanda tidak mungkin salah, Pemuda asal Berlin itu sangat kentara diantara pengunjung lainnya.


"Lo disini?" sapa Dhyanda terlihat sok akrab langsung menarik kursi dan duduk dihadapannya.


Lelaki yang serius menatap layar laptop itu pun mendongak, menatap sekilas Dhyanda kemudian kembali menatap layar tipis itu didepannya tanpa membalas sapaan gadis jovial itu.


"Sendiri?" tanya Dhyanda lagi. Kali ini lelaki itu mengangguk. "Yes, berarti gue nggak ganggu dong" ujar Dhyanda tanpa sungkan.

__ADS_1


"Excuse me?" Casey mengerutkan keningnya. Sejujurnya ia merasa kurang nyaman dengan kedatangan Dhyanda yang tiba-tiba meski ia sebelumnya sudah melihat gadis itu bersenandung di stage kafe tadi.


"Keberatan ya? oke, sorry kalo gue ganggu" Dhyanda paham dan hendak berdiri namun tangannya keburu dicekal.


"No!! you have a seat", cegah Casey lalu mempersilahkan Dhyanda untuk duduk kembali.


"Beneran nih nggak ganggu?" tanya Dhyanda jadi ragu.


Casey menutup layar laptopnya, "Sekarang udah nggak" ucapnya.


"Oh, oke" gumam Dhyanda.


Cukup lama mereka terdiam tanpa ada yang mulai pembicaraan. Dhyanda hanya manggut-manggut kecil mengikuti alunan musik kafe, kedua matanya beredar mengamati orang-orang disekitar. Hingga tatapannya berhenti pada sosok dihadapan yang tengah serius membalas pesan pada ponselnya. Melihat Casey, gadis itu jadi kembali teringat Aldrick. Ah, Kemana saja dia hingga tak memberi kabar selama dua Minggu ini? Dhyanda ingin sekali menanyakannya hal itu pada Casey, tapi dia amat sungkan. Terlebih dirinya memang kurang akrab dengan sepupu Aldrick itu.


"Suara Lo tadi lumayan. Jago juga ya main gitar" ujar Casey kaku. Ia berusaha untuk memulai pembicaraan.


"Jadi tadi Lo liat gue? ah, jadi malu..." Dhyanda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Berlebihan. Gue kan cuma basa basi" gumam Casey.


"Apa?" Dhyanda mendengarnya samar karena suasana yang riuh.


"Nggak apa-apa. Bay the way Lo emang suka musik ya?" tanya Casey mengalihkan.


Casey tertegun. Rupanya pacar kakak sepupunya itu mampu membuat dirinya sedikit tertarik dan penasaran dengan siapa dan bagaimana sosok Dhyanda yang sebenarnya.


"Hmm... bagaimana kabar Tante Kinara? sehat-sehat kan?" tanya Dhyanda kemudian.


"Tante Kinara kan di London. Emang pacar Lo nggak bilang?"


"Oh, gue nggak tau itu. Dari kapan?" Dhyanda sedikit terkejut.


"Sebulan yang lalu. Waktu itu Aleena sakit, jadi Tante langsung bertolak ke London" ujar Casey.


Dhyanda sadar dirinya bukan siapa-siapa bagi keluarga besar Aldrick. Banyak hal yang dia nggak tau, bahkah untuk ingin tau kabar Aldrick saat ini pun begitu kesulitan baginya.


"Memangnya kak Al sama Aleena itu tinggal bersama ya?" tanya Dhyanda.


"Ya iya lah, mereka kan kakak-adek. Mereka punya rumah di London, dan Lo gak tau juga hal itu?" sahut Casey seraya tertawa meledek.


Dhyanda mengerucutkan bibirnya kesal, 'Sialan ni orang. Kalo bukan sepupunya Aldrick udah gue jitak!' batinnya dongkol.

__ADS_1


"Sorry, gue harus balik sekarang" ujar Casey lalu bergegas memasukkan laptop ke dalam tasnya.


"Eh, tunggu! ada yang mau tanyain sama Lo" cegah Dhyanda buru-buru.


"Apa lagi?"


"Udah dua Minggu ini gue kesulitan komunikasi sama kak Al. Lo tau kenapa?" tanya Dhyanda memberanikan diri untuk bertanya.


"What??" Casey tertawa mendengar pernyataan Dhyanda barusan.


"Lucu?" sinis Dhyanda tak terima.


Casey mencoba menghentikan tawanya, "mungkin Lo udah dilupakan" sahutnya kembali terkekeh dan langsung mendapat pukulan keras dari Dhyanda dilengannya. "Aww, preman juga Lo main pukul segala!" protesnya sambil memegang lengannya sedikit kesakitan.


"Serius kalo ngomong! kalo bener begitu emang gue nggak bisa lupain dia apa?" tegas Dhyanda jadi impulsif.


Casey menghembuskan nafasnya pasrah, ternyata perempuan dihadapannya ini lagi nggak bisa diajak bercanda, lebih tepatnya saat ini Dhyanda lagi sensi. "Lo tenang aja, Abang gue bukan tipe cowok seperti itu. Mungkin dia lagi sibuk, setelah itu pasti dia ngabarin Lo" ujarnya lalu beranjak pergi.


Kali ini Dhyanda tidak mencegahnya, ia hanya terdiam menatap punggung Casey yang mulai bergerak menjauh menuju pintu keluar kafe.


"Shit!! kenapa gue jadi impulsif gini?" gumam Dhyanda merutuki dirinya.


"Siapa yang impulsif?" Imel tiba-tiba datang dari arah belakang Dhyanda. "btw yang barusan itu siapa?" tanyanya.


"Oh, dia?" Dhyanda menunjuk ke arah pintu keluar.


"Iya, yang barusan duduk disini ngobrol sama Lo" tegas Imel.


"Dia sepupunya Aldrick"


"Oya? kenapa Lo nggak panggil gue, Dhy?" sesal Imel.


"For what?"


"Kenalin ke gue lah" spontan Imel.


"Seriosly?" Dhyanda menggelengkan kepalanya karena merasa konyol.


.


.

__ADS_1


.


Jika kau mengingatku, maka aku tak peduli jika semua orang melupakanku.


__ADS_2