
Pesta pun usai, Aldrick buru-buru membawa Istrinya itu kembali ke rumah miliknya. Dia menolak tawaran para orangtua untuk menginap dihotel tempat tadi acara tersebut digelar.
Sesampainya dirumah itu, Dhyanda lebih dulu membersihkan badannya yang terasa sudah lengket dan sangat tidak nyaman. Dhyanda tidak terbiasa dengan gaun yang menjuntai, sepatu high heels, dan riasan yang menurutnya tebal kaya topeng. Ia segera mengenyahkan itu semua dari tubuhnya. Kini badannya terasa segar dan ringan setelah selesai mandi dan mengenakan gaun tidur pemberian Atreya sebagai kado pernikahan.
Kamu ganti baju dulu, gerah banget ngeliatnya," ujar Dhyanda dengan cekatan membantu melepas jas suaminya.
"Lingerie yang kamu beli waktu itu nggak kamu pake?" tanya Aldrick iseng.
"Katanya buat bualan madu nanti," sahut Dhyanda.
"Bulan madu, Dhy, bukan bualan," ralat Aldrick gemas.
"Terserah deh, mau bualan kek, bulan kek, yang penting ada madunya kan?" konyol Dhyanda.
"Pinter," ucap Aldrick seraya mengusap puncak kepala Dhyanda, "Madu kan manis ya? itu yang paling penting," ujarnya terkekeh.
Jas dan kemeja yang melekat ditubuh Aldrick pun sudah terlepas, sekarang lelaki itu bertelanjang dada. Ia lalu duduk disisi ranjang, melepas sepatunya dengan ditatap takjub oleh Dhyanda yang sudah berpikiran jauh kedepan.
Apakah malam ini mereka akan melakukan ritual malam pertama? Apa Dhyanda sudah siap? Mungkin Aldrick sudah jauh lebih siap di usianya yang sudah matang, tapi Dhyanda? gadis itu masih terbilang muda, masih dibawah 24 tahun dalam versinya yang dibilang kemudaan dalam usia ideal menikah.
Seperti dalam benak Dhyanda, Kini Aldrick berbaring diranjang tanpa berniat mengenakan baju ganti. Ia sengaja membiarkan dada seksi telanjangnya membuat Dhyanda panas dingin.
"Kamu sengaja ya, Kak? mandi dulu sana lho!" kata Dhyanda canggung, pipinya sudah terlihat kemerahan kikuk dan salah tingkah.
Aldrick tertawa melihat gelagat menggemaskan itu. Dibawanya jemari Dhyanda agar menyentuh dada bidang berhias ABS samar diperutnya yang menggoda. Lantas ditariknya pergelangan tangan Dhyanda agar gadisnya itu berbaring memeluknya.
"Kita udah sah kan, kamu bebas sentuh-sentuh aku, dan aku juga bebas sekarang ngapa-ngapain kamu tanpa penolakan," bisik Aldrick mengecup kening Dhyanda penuh cinta.
Dhyanda menggeliat risih, apalagi saat kedua telapak tangannya bertengger di dada Aldrick yang bermuatan zat adiktif itu. Meski belum mandi, wangi tubuh Aldrick masih tercium menyegarkan. Entah parfum jenis apa yang Aldrick pakai sampai wanginya tidak hilang begini. Dhyanda tak berani menatap Aldrick, takut keblabasan dan menerjangnya lebih dulu. Gengsi banget kan sebagai cewek.
"I love you, wife" lanjut Aldrick.
"Kamu serius bucin sama aku, Kak?"
"Bukannya balas I love you juga, malah nanya yang lain," sungut Aldrick tak terima.
Dhyanda berjenggit tapi tawa menghiasi wajahnya. Dipeluknya Aldrick erat-erat, lelaki itu balas merengkuh Dhyanda, membawanya dalam pelukan yang hangat.
__ADS_1
"Kamu serius cinta sama aku?" tanya Dhyanda lagi, entah untuk kesekian kalinya, meyakinkan dirinya sendiri.
"Buat apa coba aku nikahin kamu? Aku emang nggak pinter ngomong romantis, Dhy. Cinta itu action!" balas Aldrick genit.
"Actionnya? kayak yang kamu lakuin selama ini? atau masih ada lagi versi lain menurutmu?" tanya Dhyanda sangat lugu.
"Ayo, kita praktekin sekarang!" Aldrick mengerling.
"Ya?" Dhyanda mengerjap bingung.
Aldrick tak bisa lagi menahan tawanya dihadapan Dhyanda. Bagaimana Aldrick akan tega menyakitinya malam ini meski akhirnya Dhyanda mungkin akan menikmatinya juga. Tapi Lelaki itu sudah tak bisa melawan hasratnya lagi.
Dhyanda tak menolak saat Aldrick menindih tubuhnya. Keduanya berpandangan lama dalam diam. Benarkah mereka akan melakukannya sekarang? Apa Dhyanda harus menyerahkan miliknya pada Aldrick malam ini setelah sah terikat pernikahan? Ya tentu saja, Lelaki normal siapa yang tak tahan dengan malam pertamanya.
"Mau lemon tea?" tanya Dhyanda menghindari rasa gugup yang menyerangnya bertubi.
"Aku lagi nggak pengen lemon tea malem-malem gini, sugar" bisik Aldrick mesra, mendirikan bulu roma disekitar Dhyanda.
"Kalo gitu kita tidur, kamu pasti cape seharian ini berdiri terus kan?" saran Dhyanda, berusaha menguasai dirinya.
"Aku lagi nggak pengen istirahat, Dhy. Kamu bilang mau aku praktek," bisik Aldrick sudah mulai menciumi leher Dhyanda. Dan Dhyanda pun mengerti, ia hanya diam seolah mempersilahkannya.
"Terus, kamu mau ngapain?" Dhyanda sudah bergerak gelisah, tak kuasa menahan serangan taktis Aldrick yang begitu halus tapi mematikan itu.
"Aku mau kamu, I want you tonight, wife" desah Aldrick sangat seksi ditelinga Dhyanda.
Jantung Dhyanda berdebar kencang, adrenalinnya bagai dipacu keluar. Rasa nyaman dan hasrat yang sering Aldrick tunjukan kali ini membuat Dhyanda tak berdaya. Gadis itu menelan salivanya susah payah. Sudah siapkah ia menghadapi serangan suaminya? Apakah ini awal masa depannya dengan calon sang penguasa O'Neill grup yang tersohor itu? Apa sudah waktunya Dhyanda melepas miliknya sekarang?
"Kamu udah nggak punya kesempatan buat nolak aku kali ini, Dhy!" lirih Aldrick sangat seksi, memaksa Dhyanda untuk pasrah tak berkutik.
"Nggak sakit kan?" tanya Dhyanda.
Aldrick menggeleng polos, "Aku nggak tau. Mungkin sakit sedikit tapi kesananya enggak."
"Pelan-pelan, aku nggak mau sakit seperti kata Belina. Katanya dia sampai nggak bisa jalan abis begitu," ucap Dhyanda polos.
"Apa?" Aldrick langsung melotot, "Mulai sekarang jauhin si Belina itu, nggak bener tuh cewek!" pinta Aldrick jadi kesal karena sudah meracuni pikiran gadisnya macam begitu.
__ADS_1
Dhyanda hanya mengangguk, ia membasahi bibirnya yang kering dengan lidahnya. Melihat itu jadi membuat Aldrick merasa tergoda dan semakin bersemangat. "Let's do it!" bisik Aldrick kemudian.
Wajah gadis itu makin memerah saat Aldrick dengan sengaja melepas gaun tidurnya, sambil mengecup leher dan wajahnya.
Malam itu, semua terjadi. Aldrick benar-benar menuntut kepemilikan atas diri Dhyanda. Semalaman mereka saling bicara, pun saling berbalas menggoda.
"Jangan ngerengek minta nambah lain ya," seringai Aldrick sambil duduk dibibir ranjang, mengambil gelas berisi air putih dan menegaknya haus. Peluh masih membasahi punggung dan dadanya, nampak berkilap memantulkan cahaya lampu tidur dari sekujur tubuhnya yang hanya dibalut low rise trunk boxer hitamnya saja. Sementara diatas ranjang, Dhyanda membungkus tubuh telanjangnya hingga leher, berpaling malu. Tiga kali Dhyanda merengek minta lagi dan itu membuat Aldrick kewalahan, apalagi kondisi tubuhnya yang sedang lelah membuat lelaki itu benar-benar lemas.
.
Pagi-pagi, Dhyanda bangun dipelukan Aldrick. Ia mengerang kecil, membuat Aldrick yang juga terlelap disampingnya ikut membuka mata. Bukannya beranjak, Aldrick justru semakin memeluk erat gadisnya yang sudah tidak gadis lagi semalam, menarik Dhyanda menyusup di dadanya.
"Kamu nggak ke kantor?" tanya Dhyanda sambil berusaha mengambil napas.
"Lupa ya? aku lagi cuti lho ini," balas Aldrick dengan mata yang tetap terpejam.
"Ah, kita baru nikah ya," kata Dhyanda polos.
"Ya udah, tidur lagi aja. Nanti bangun rada siangan lagi," kata Aldrick enteng.
"Aku laper. Kamu tidur aja kalo masih ngantuk. Sekalian aku buatin kamu sarapan ya," balas Dhyanda menggeliat.
Tahu bahwa Dhyanda ingin bangun, Aldrick melepas pelukannya. Ditatapnya lembut wajah cantik sang istri yang semalam telah menyerahkan miliknya yang paling berharga. Aldrick akhirnya memiliki tubuh dan jiwa Dhyanda sepenuhnya. Dalam hati Aldrick berjanji bahwa tak akan pernah membiarkan Dhyanda kecewa bahkan berjalan pergi dari hidupnya.
"Masih sakit?" goda Aldrick iseng saat melihat Dhyanda sangat hati-hati bergerak.
Dhyanda menggeleng, "Sakitnya nggak seberapa, tapi capeknya luar biasa," ucap Dhyanda yang langsung memungut pakaian untuk dikenakannya.
"Aku kira mau ngerengek minta lagi," kekeh Aldrick nyengir.
"Apaan sih!" Dhyanda jadi malu. "Perih lho, awas aja kalo habis ini berani mencampakkanku!" ancam Dhyanda penuh drama.
"Kita udah nikah, Dhy, nggak mungkin aku mencampakkan kamu. Kurang-kurangin nonton drama tuh," ujar Aldrick makin keras tertawa. Diamatinya Dhyanda yang sudah berpakaian lengkap. Seksi, ceria, cantik dan selalu menggemaskan.
Bagaimana ia bisa menolak pesona polos istrinya ini? sebesar apapun komitmennya untuk tidak menyakiti tubuh Dhyanda semalam, tetap saja pada akhirnya Dhyanda kesakitan. Serigala tidak bisa berubah menjadi kucing manis penurut yang akan menurut pada tuannya. Darah pemburu Aldrick hanya aktif dan agresif saat perempuan itu adalah Dhyanda, istrinya kini.
.
__ADS_1
.
.