Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Keseriusan Aldrick


__ADS_3

Keesokan harinya, ketika Aldrick menjemput Dhyanda pulang kuliah dikampusnya, Aldrick sengaja mengajak Dhyanda mampir ke sebuah tempat.


Suasana belum terlalu sore, jalanan masih cukup padat merayap karena memang ada di jam-jam pulang karyawan pabrik.


“Kayanya ini bukan jalan pulang deh,” kata Dhyanda curiga.


Aldrick mengangguk, "Kita emang nggak pulang dulu, mampir ke tempat lain sebentar,” katanya.


“Wait! Ini kan jalan menuju rumah orangtua mu kan?” Dhyanda mulai mengingatnya, meski udah cukup lama dia tak pernah lagi berkunjung kesana.


“Yup. Mama, Papa dan Aleena udah pulang dua hari lalu. Sekarang pengen ketemu kamu katanya. Kamu diundang makan malam oleh keluarga besarku,” ucap Aldrick santai.


“Hah?” Dhyanda langsung berubah panik. Ia mengitarkan pandangan gugup, makan malam dengan keluarga besar O'Neill? Siapa saja? Sekarang?


“Kenapa salah tingkah gitu? Sebelumnya Kamu udah kenal kan sama Mama?” tanya Aldrick yang melihat Dhyanda nampak kelimpungan dan bingung.


“Kamu jangan ngerjain aku ya Kak!” gemas Dhyanda menatap dendam pada lelakinya.


“Aku nggak niat ngerjain. Niatku cuma bawa calon menantu ke keluarga besarku. Ngerjainnya dimana coba?” tanya Aldrick tak mengerti.


“Kak! Aku lusuh, lecek, berantakan gini dan baru kuliah dari pagi, kamu bawa ketemu keluarga mu? Bisa dibantai abis-abisan aku sama Papamu nanti,” sengal Dhyanda kesal.


“Kenapa sih? Kamu sempurna dimataku. Kalo kita harus pulang buat ganti baju atau pergi ke salon buat make up kamu, yang ada mereka malah kesal nungguin kamu, gagal deh kenalin kamu ke Alena, Tante Rea dan Om Marshall”


“Jangan bercanda ya Kak, siapa lagi mereka? Aku nih serius panik. Aku bahkan nggak bawa oleh-oleh buat Papa dan Mamamu, gimana mau dapet kesan baik kalo datang aja udah nggak sopan?” protes Dhyanda belum bisa tenang.


“Tante Rea dan Om Matthew itu orangtuanya Casey. Tante Rea adiknya Papa, begitu juga dengan Om Marshall. Kebetulan mereka juga akan ada. Momen ngumpul seperti itu nggak boleh disia-siakan. Aku pengen sekalian ngenalin kamu, Dhy”


“Ah, pokoknya aku nggak siap, Kak. Boleh mundur sekarang? Kan belum nyampe,” pinta Dhyanda belum juga reda paniknya. Dia benar-benar tidak fokus dengan apa yang dikatakan Aldrick barusan.

__ADS_1


“For God sake, Dhy. Kenapa sih? Ketemu keluarga aku doang, bukan sidang skripsi ini. Lagipula kamu udah kenal deket sama Mama, suasananya nggak akan se-horor yang kamu bayangin, ” ucap Aldrick gregetan.


“Udah 2 tahun lho Kak, aku nggak ketemu Tante Kinara. Lama banget itu, aku jadi canggung tau!” protes Dhyanda, “emang kamu nggak malu bawa aku?” suara Dhyanda kini meluruh, hilang percaya diri.


“Bangga banget malah. Percaya sama aku, semua bakalan baik-baik aja,” bujuk Aldrick dengan tangan kiri yang menggenggam jemari kanan Dhyanda untuk meyakinkannya.


“Tapi aku begini Kak, lusuh banget ya ampun,” keluah Dhyanda.


“Cukup dateng dan jadi pasanganku, kamu udah kaya ratu buatku, sugar baby. Percayalah!”


“Enggak, enggak. Ini nggak bener kan Kak. Aku bisa kenalan sama keluarga besarmu dilain waktu ya, ya?” mohon Dhyanda.


“Dhy, aku serius lho soal hubungan kita. Aku pengen kamu jadi istriku, ngenalin kamu ke keluarga itu langkah awal biar kamu lebih tau hidupku.”


“Tapi aku masih kuliah,” ujar Dhyanda ngeles.


“Aku malah pengen nangis rasanya,” desah Dhyanda bercampur antara bahagia tapi juga tak sependapat dengan cara berpikir Aldrick yang sangat sistematis.


“Kamu ragu sama aku?” tanya Aldrick mengaja meminggirkan mobilnya sesaat. Ia benci melihat air mata diwajah gadisnya. “Kalo kamu nggak setuju, kasih aku alternatif, tapi jangan tolak niat baikku. Dan please, jangan nangis, air matamu itu kelemahan ku” lanjutnya.


“Kak, aku bahkan belum ngerencanain masa depanku bakalan seperti apa,” desis Dhyanda kalut, “apa bisa kita ngejalanin kehidupan rumah tangga kaya pasangan lainnya sementara asal-usul ku aja masih samar. Kamu nggak takut aku kabur dan bawa lari harta kamu?” katanya malah konyol.


“Bawa semua yang kamu butuhkan kalo emang kamu mau. Dari sekarang pun bisa. Kamu mau berapa?” tantang Aldrick.


“Kak Al! Aku serius ini,” gemas Dhyanda menyeka air matanya dibantu Aldrick.


“Aku juga serius,” balas Aldrick.


“Mana mungkin aku kabur dan bawa uangmu begitu aja Kak,” lirih Dhyanda polos.

__ADS_1


“Nah, karena aku tau kamu nggak mungkin begitu, aku mantap nikahin kamu, niat aku nggak salah kan Dhy?”


“Enggak!” Dhyanda menggeleng, “Apa kamu udah ngerencanain semua ini matang-matang? Apa nggak terlalu buru-buru untuk tiba-tiba pulang ke keluarga kamu dan bilang mau nikah?”


“Enggak, mereka yang mendesak aku buat cepet nikah. Sekarang aku udah punya calonnya, mereka bisa apa?” jawab Aldrick.


Dhyanda mendesah kasar. Berdebat dengan Aldrick tidak akan pernah membuatnya ada diposisi menang.


“Oke, Ku percayakan masa depanku sepenuhnya ke kamu,” kata Dhyanda pada akhirnya, mencipta senyum bahagia diwajah Aldrick.


“Pilihan yang tepat, sayang!” puji Aldrick lantas kembali melanjutkan mobilnya membelah jalanan. “kita mampir ke toko bunga diujung jalan sana ya, semua perempuan dikeluargaku menyukai bunga” ucapnya lagi.


“Oya? Kalo aku lebih suka bunga bank,” kekeh Dhyanda bercanda, berusaha menghibur diri sendiri ditengah ketegangannya yang hendak bertemu calon mertua dan keluarga besarnya. Dhyanda tidak tau, selain keluarga besarnya ada perempuan lain yang siap dijodohkan dengan Aldrick.


“Good! Itu yang aku suka dari kamu Dhy. Kamu itu kuat, tegar, dan realistis” terang Aldrick sambil mengusap puncak kepala gadisnya lalu mengecup dahinya lembut.


Dhyanda menanggapinya dengan senyuman cantik menghiasi wajahnya. Diraihnya lengan kiri Aldrick dan dipeluknya hangat. Ia tidak boleh mundur lagi bukan?


“Apa aku bakalan dilamar seromantis kaya di drama-drama Korea itu?” tanya Dhyanda iseng.


“Kamu mau dilamar kaya gimana? minta aku terjun dari helikopter sambil bawa bunga dan cincinnya? atau mau aku menyewa taman hiburan dimalam hari dengan menutup matamu, saat dibuka semua lampu menyala dan kita naik komedi putar hanya berdua saja? What ever you want, I'll do it!” janji Aldrick sambil terkekeh geli. Akan konyol bila dirinya benar-benar melakukan hal tersebut. Lelaki itu punya rencana sendiri untuk melamar kekasihnya ini nanti.


Dhyanda tak menjawab. Ia malah ikut tertawa konyol membayangkan jika Aldrick benar-benar melakukan hal tersebut padanya. Ia tidak ingin banyak memaksa Aldrick untuk memperlakukannya lebih baik dari ini. Bukankah menjadi pacar seorang lelaki sempurna tanpa cela seperti Aldrick menjadi impian setiap perempuan? Ia tidak mau lagi menjadi orang yang kurang bersyukur.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2