
Hari itu tiba, hari dimana Dhyanda akan menikah dengan lelaki pujaan hatinya. Dhyanda memakai gaun pengantin yang dipilihkan Kinara untuknya. Gaun putih model off the shoulder dengan aksen high slit, cukup simpel, namun tetap terkesan elegan dan mewah.
Begitu juga Aldrick, Lelaki tampan itu semakin gagahnya mengenakan setelan jas satu dengan warna yang seluruhnya berwarna putih. Mulai dari kemeja, rompi, dasi hingga bawahannya, membawa kesan sakral yang kental. Dengan ditambah detail saputangan saku berwarna gold. membuat ketampanannya semakin sempurna bak titisan dewa Yunani.
Pernikahan itu memang cukup dibilang sederhana versi keluarga besar O'Neill. Namun tidak untuk versi Dhyanda. Menurutnya, pesta pernikahan ini terbilang mewah. Banyak tamu undangan yang datang, meski Aldrick bilang ini hanya setengahnya.
'Setengahnya aja banyak gini? apalagi kalo semuanya,' batin Dhyanda meracau saat kakinya mulai merasa pegal karena dari tadi berdiri menyalami tamu yang datang.
"Kamu capek?" bisik Aldrick bertanya.
"Bohong banget kalo bilang nggak cape, Kak" sahut Dhyanda balas berbisik sambil meringis.
"Tahan sedikit lagi ya, bentar lagi juga bubar," ucap Aldrick sambil mengelus punggung perempuan yang kini sudah menjadi istrinya, menenangkan.
Dari kejauhan Imel dan Belina datang. Dhyanda memang sengaja hanya mengundang mereka berdua. Ia pasti mengundang Imel sebagai sahabat dekatnya yang menjadi saksi dari kisah asmara dirinya dan Aldrick sejak dulu. Juga Belina, dia teman kampus yang lumayan dekat dengannya. Dhyanda tidak mau teman-teman lain dikampus tau soal pernikahannya dengan pengusaha muda sekelas Aldrick. Cukup Belina saja yang tau.
"Selamat Dhyanda!!" heboh Imel dan Belina berebut minta salaman lebih dulu, dengan pasangan yang baru sah jadi suami istri tiga jam yang lalu tadi.
"Akhirnya kalian datang juga," ucap Dhyanda, kehadiran merekalah yang membuat gadis bergaun putih itu kembali bersemangat.
"Sorry telat, macet banget tadi. Sepanjang jalan berapa kali kita nemuin yang hajatan. Lagi musim kawinan kali ya," sewot Belina.
"Ho'oh, Dhy. Untung kemarin kita janjian berangkat bareng. Kalo nggak masa iya gue kemari naik metromini," tambah Imel sambil mengelus gaun Dhyanda takjub, "Lo cantik banget lho, Dhy. Ngiri gue," ucapnya.
Dhyanda tersenyum, "Lo mau kaya gini?" tanya Dhyanda, dan mendapat anggukan langsung dari Imel. "Pepet terus Kak Vero, trus ajak nikah aja dia, nanti gue kasih pinjem deh gaun ini tanpa uang sewa, haratis" ujarnya sok serius.
"Yaah, bekas Lo pake dong," sambar Belina yang ikut menyimak. "Nggak sekalian kasih pinjem juga lakinya buk?" imbuh Belina lagi dan langsung mendapat cubitan dari Dhyanda dilengannya.
"Sembarangan, dia limited edition tau!" geram Dhyanda. "Jangankan dipinjam, disentuh pun gue larang. Awas aja ya kalian," ancamnya melotot.
Belina spontan tertawa, ngerasa puas ngerjain istri dari pewaris tahta O'Neill grup ini.
__ADS_1
"Yaah, bucin juga dia," ledek Imel yang ikut tertawa.
"Siyalaan ya kalian, bikin rusuh," ujar Dhyanda memanyunkan bibirnya cemberut. Namun akhirnya ikut tertawa juga cekikikan. Lupa kalau dirinya tengah jadi ratu sehari dan disorot beberapa kamera disekitarnya.
Aldrick yang sedari tadi mendengar ocehan para tiga gadis itu pun ikut tertawa. Apalagi melihat ekspresi Dhyanda yang selalu ceria membuat lelaki itu selalu terpesona, begitu menggemaskan.
Tak lama kemudian Aaron dan Kinara datang, mereka meminta Aldrick dan Dhyanda menyambut keluarga William yang baru saja datang. Terpaksa Dhyanda harus meninggalkan kedua temannya itu terlebih dulu.
"Terimakasih atas kedatangannya," sapa Aldrick menyapa Tuan William, istri, serta putrinya, Annely.
Mereka pun mengucapkan selamat kepada Aldrick dan Dhyanda begitu ramah. Seperti tidak pernah terjadi kesepakatan perjodohan sebelumnya.
"Saya denger kamu masih kuliah ya? dimana?" tanya Annely menyapa Dhyanda.
"Iya, Kak. Di Tunasjaya," jawab Dhyanda tersenyum manis.
"Oh," respon Annely irit.
"Oya, Al. Minggu depan Annely ulang tahun, kamu datang ya," kata nyonya William yang dari awal sudah berharap Aldrick akan menjadi menantunya. "Bawa istrimu juga tentunya," tambahnya seraya melirik Dhyanda lalu tersenyum.
"Bulan madu kemana nih habis ini, Al?" tanya William menggodanya.
"Kerjaan dikantor lagi banyak, Om. Kayanya ditunda dulu, lagipula Istri saya Minggu depan ujian semester dikampusnya," ujar Aldrick. Sementara Dhyanda hanya mengangguk mengiyakan tanpa perlu ikut berkomentar.
Setelah cukup berbincang, Kinara dan Aaron mengajak keluarga William itu untuk duduk di tempat VIP yang sudah disediakan.
"Akhirnya pergi juga," gumam Aldrick menghela napasnya lega.
"Kamu nggak nyaman?" tanya Dhyanda, dan langsung mendapat anggukan setuju dari Aldrick. "Nggak sopan," ucapnya lagi.
"Lha, kamu sendiri?" Aldrick balik bertanya.
__ADS_1
"Hhmm..." Dhyanda sedikit berfikir, "Nggak nyaman juga," jawabnya. "Aku kagum lho sama Annely, perfect banget dia. Udah cantik, elegan, berkelas pula. Tapi anehnya kok ada ya cowok yang nolak pesona yang seindah itu?" tambahnya lagi seraya melirik Aldrick.
"Jangan mulai deh, kamu mau aku batalin pernikahan ini trus milih Annely yang menurutmu perfect itu?" ujar Aldrick berbisik.
"Enggak!" teriak Dhyanda spontan, hingga beberapa pasang mata yang berada dekat dengan mereka langsung meliriknya.
Mati kutu, Dhyanda benar-benar malu. Tapi bukan Dhyanda namanya yang tidak bisa menguasai keadaan.
"Kenapa, Dhy?" tanya Ibu Arumi dan Atreya yang datang tak jauh dari Dhyanda. Mereka sedari tadi asik mengobrol sampai akhirnya teralihkan dengan teriakan Dhyanda barusan.
"Eh, nggak apa-apa Bu" sahut Dhyanda. Lalu pandangannya beralih ke Atreya, "Tante cantik sekali," ujarnya memuji Mamanya Casey yang tampak anggun dengan balutan dress selutut berwarna putih itu.
"Kamu juga cantik, sayang" sahut Atreya balas memuji.
"Om Matthew mana, Tan?" tanya Aldrick.
"Tuh, lagi makan sama Casey," tunjuk Atreya pada dua lelaki berjas hitam yang tengah menyantap hidangan pesta.
"Ku kira dia nggak datang," gumam Aldrick saat melihat Casey.
"Casey maksud kamu?" terka Atreya menebak gumaman Aldrick, "Ya pasti datang lah, kakak sepupunya nikah masa nggak datang," ujarnya lalu tak lama kemudian memanggil Casey.
Casey pun datang mendekat, menemui Aldrick dan Dhyanda. Ia mengulurkan tangannya pada Aldrick untuk memberinya selamat. Aldrick pun menyambutnya, ia mulai bisa melupakan apa yang pernah terjadi diantara mereka.
"Best wishes on this wonderful journey, Bro" ucap Casey tulus.
"Thanks, Lo adik gue yang super nyebelin," sahut Aldrick lalu memeluk Casey. Mereka sesaat berpelukan layaknya adik dan kakak.
Kinara dan Aaron yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa tersenyum. Begitu juga dengan Atreya dan Matthew, juga Aleena. Akhirnya perang dingin diantara mereka tamat. Semoga kedekatan diantara keduanya kembali seperti dulu. Aldrick sudah menemukan perempuan yang jauh lebih baik dari yang dulu, tak ada gunanya juga terus menerus memupuk kebencian dan kekecewaan terhadap Casey.
.
__ADS_1
.
.