Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Ada aku sekarang


__ADS_3

Langkah Dhyanda terasa lebih ringan saat menjejak lantai perusahan besar sekelas O'Neill grup ini. Seusai makan siang dan jalan-jalan bersama Imel, ia bergegas naik bus untuk menemui Aldrick dikantornya. Kekasihnya itu tadi menelepon Dhyanda dan memintanya untuk datang. Itu artinya, Dhyanda akan bertemu dengan lelaki tercintanya dikantor.


"Hei, Dhy!" sapa Vero saat melihat Dhyanda datang untuk yang kedua kalinya ke gedung perusahan O'Neill grup. "langsung dari kampus nih?" tanyanya sambil sesekali melihat ke layar komputernya.


"Nggak, tadi abis bareng Imel dulu sebelum kemari," sahut Dhyanda mengembangkan senyumnya.


"Oke, kamu tunggu didalam aja ya, ayo ku antar!" saran Vero beranjak dari meja kerjanya lalu mengajak Dhyanda masuk ke ruangan Aldrick.


"Sepi Kak. Pada kemana?" tanya Dhyanda mengitari pandangan ke ruangan Aldrick yang kosong dan dingin karena AC ruangan itu dibiarkannya tetap menyala.


"Masih ada rapat, paling bentar lagi juga balik. Kamu tunggu disini dulu ya! Mau minum apa? nanti aku minta OB buatin," kata Vero perhatian.


"Nggak usah Kak, aku belum haus" jawab Dhyanda sungkan.


"Beneran nih? kalo udah haus nanti bilang ya, Aku didepan, masih ada kerjaan yang harus segera diselesaikan," kata Vero akhirnya berpamit kembali ke meja kerjanya. Dhyanda pun mengangguk memberi balasan.


Belum sempat Dhyanda meneliti dan mengamati plakat-plakat berjejer rapi yang dipajang dalam lemari, suara pintu ruangan terbuka lagi. Dhyanda yang sedang menunduk mengamati isi lemari kaca itu pun mendongak, dan sang pacar datang begitu gagahnya didampingi Sony dan satu staf kantor lainnya. Mereka nampak masih membahas proyek yang tengah dikerjakan meski ini sudah lewat dari jam kerja. Wibawa dan kharisma Aldrick terpancar dari tubuhnya menyilaukan Dhyanda. Apalagi jas rapi bermerk mahal yang menegaskan status sosialnya. Aldrick adalah yang paling terpancar diantara lelaki lain di sebelahnya. Saat itulah Dhyanda tersadar, Aldrick berada jauh tinggi diatas levelnya.


"Hei Dhyanda!" sapa Sony sok akrab.


Dhyanda mengernyit sejenak. Merasa tidak mengenalinya. Tapi ia tau kalau orang itu pastilah rekan kerja Aldrick, akhirnya Dhyanda pun tersenyum ramah sambil mengangguk sebagai responnya pada Sony.


"Ah sorry, kamu pasti belum kenal saya kan? Saya Sony," Lelaki yang usianya dua taun diatas Aldrick pun mengulurkan tangannya pada Dhyanda.


Ya, Dhyanda sering mendengar Aldrick menyebut nama Sony selain Vero. "Dhyanda" gumam Dhyanda menyambut tangan Sony untuk berjabat tangan.


"Kamu tunggu sebentar ya," kata Aldrick lalu meminta Dhyanda untuk duduk disofa karena dirinya masih ada kepentingan dengan Sony dan satu staf lainnya.


"Hari ini atur jam lembur sampe jam 12 malem bang, sampein ke HRD biar dapet tembusan uang lembur untuk staf khusus," pinta Aldrick pada Sony yang masih terdengar oleh Dhyanda yang sudah duduk manis di sofa tak jauh dari meja kerja Aldrick.


Akhir-akhir ini perusahan Aldrick tengah menjadi pusat perputaran saham global yang sangat diperhitungkan. Untuk menjaga nilai saham tetap stabil, Aldrick harus mulai menyeleksi proyek berdasarkan ketepatan dan permintaan. Itulah kenapa Aldrick sedikit lebih banyak bekerja keras dan sering lembur, ditambah tanggung jawabnya menjadi double karena Aaron masih berada di London dan baru akan kembali dua Minggu lagi.


"Berarti yang tawaran dari Jerman kemarin kita pertimbangkan lagi Bos?" tanya Ardi, staf khusus yang ikut bersama Sony.


"Kamu coba pelajari lagi dulu proposalnya bareng Jovanca. Nanti kalo emang nggak ada celah yang bisa merugikan pihak kita, biar saya yang ambil keputusan, nggak perlu nunggu Pak. Aaron kembali." jelas Aldrick profesional.


"Siap Bos! kalau gitu saya kordinasi dengan Jovanca" ujar Ardi mantap, lalu berpamit keluar lebih dulu dari ruangan Aldrick.


"Terus tugas gue ngapain Bos?" tanya Sony berbicara informal selepas Ardi pergi.

__ADS_1


"Tugas Lo ambil di Vero, Bang. Dia yang ngasih tugas," sahut Aldrick lalu memberi kode agar Sony segera keluar dari ruangannya.


"Siap, gue ngerti maksud Lo", kekeh Sony akhirnya pamit hendak menemui Vero. "Dasar bucin!" gumamnya sambil berlalu.


"Lembur lagi? kamu udah makan Kak?" tanya Dhyanda kemudian.


Aldrick menjatuhkan tubuhnya disamping Dhyanda, "Kamu mau temenin aku lembur?"


"Disini?" Dhyanda mengerjap.


"Aku lagi butuh semangat kamu Dhy," ucap Aldrick sambil menyelipkan rambut ketelinga Dhyanda yang terjulur hampir menutupi wajahnya.


"Boleh, tapi aku dapet uang lemburan juga lho ya," canda Dhyanda terkekeh.


"Oh dapet lah, yang ngasih lemburan buat kamu nanti langsung dari aku," ujar Aldrick.


"Asiik," Dhyanda kegirangan.


Terdengar pintu ruangan Aldrick kembali ada yang mengetuk. Vero datang dengan membawa paper bag berisi makanan pesanan Aldrick via online.


"Makan dulu Pak Bos," pinta Vero menyerahkan kantong berisi makanan pada Aldrick. Dhyanda dengan cekatan membuka box makanan tersebut.


"Bos Aldrick selalu mesen ini kalo lembur," kata Vero.


"Lo pesen cuma sekotak? terus Dhyanda makan apa?" protes Aldrick saat melihat cuma ada satu kotak makan yang dikeluarkan Dhyanda dari paper bag.


"Yah lupa kalo ada nyonya juga," gumam Vero sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Aldrick melotot, "Buruan pesenin lagi!"


"Eh, nggak usah Kak! aku belum laper kok. tadi siang udah makan sama Imel," ujar Dhyanda.


"Itu siang, ini udah menjelang malem lho Dhy", kata Aldrick memiringkan kepalanya menatap gadisnya


"Tapi aku belum laper,"


"Oke, kamu ikut makan," pinta Aldrick. Ia membuka kotak makan itu. "Ayo buka mulutnya! Aaa..." Aldrick menjepit makanan Jepang itu menggunakan sumpit dan mendaratkannya kedalam mulut Dhyanda yang spontan sudah menganga. "pinter," Aldrick mengulum senyum, merasa gemas dengan Dhyanda yang ngaku masih kenyang tapi saat makanan sudah didepan mulut langsung dilahapnya.


"Romantis bener Bos, ngiri gue," ujar Vero yang menyaksikan adegan seperti itu didepan mata.

__ADS_1


"Makanya buruan cari pacar!" Aldrick melirik sekilas pada Vero.


"Ah, tiap malem lembur terus gimana mau dapet pacar," keluh Vero protes.


"Abis proyek ini selesai, gue kasih Lo cuti seminggu buat nyari pacar,"


"Bener Al? seriusan ini?" kata Vero antusias.


"Emang gue pernah nggak serius?", tantang Aldrick.


"Siapp bos!" kekeh Vero semangat. lalu berpamit keluar dari ruangan karena tidak mau berlama-lama mengganggu dua sejoli itu.


Mereka menikmati makanannya sekotak berdua, Aldrick menyuapi Dhyanda bergantian dengan dirinya.


"Tadi siang aku ketemu Casey ditempat makan lho Kak," kata Dhyanda disela ngunyahnya. Namun Aldrick diam tak merespon. "Dia lagi sama Mamanya tadi," ucapnya lagi.


"Tante Rea di Jakarta?" kali ini respon Aldrick terlihat terkejut.


Dhyanda mengganguk, "Mamanya cantik ya? aku malah merasa pernah bertemu dengannya dimasa lalu," kata Dhyanda berusaha menggali ingatan masa lalunya yang seperti terpotong begitu saja.


Aldrick menghentikan kunyahannya, "Tante Rea itu udah lama tinggal di Berlin, kalian kapan ketemunya coba?"


"Kamu lupa kalo lahir dan pernah hidup disana?" Dhyanda menegakkan tubuhnya demi bisa menatap ekspresi Aldrick.


"Oh iya ya, bisa jadi. Ibu Arumi belum mau cerita ke kamu secara detailnya gimana?" tanya Aldrick jadi penasaran dengan asal usul kekasihnya itu.


Dhyanda menggeleng, "Ibu cuma cerita kalo Ibu kandungku meninggal pas aku lahir, terus Ayahku pergi nggak tau kemana, aku dibawa ibu Arumi ke Jakarta dengan bantuan pengacara ayahku karena aku nggak punya famili lagi disana," kenangnya begitu menyedihkan.


"Kamu nggak inget kenapa ayahmu pergi?" tanya Aldrick.


"Aku masih 6 tahun waktu itu, ingatanku sepertinya bermasalah deh, ada bagian momen-momen yang ilang dari ingatanku. Aku pernah berada dikondisi yang sangat mengerikan. Dimana ada suara tembakan, adu mulut, dan perkelahian. Tapi nggak jelas juga seperti apa. Setiap aku mengingatnya aku merasa ketakutan dan terancam, Ak----"


"Cukup! sekarang ada aku disini. Nggak ada yang boleh mencipta air mata diwajah Nyonya Aldrick," ungkap Aldrick sengaja memotong cerita Dhyanda. Dia hanya tidak mau melihat kesedihan lagi diwajah gadisnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2