Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
But I Miss You


__ADS_3

Tadi pagi sebelum Dhyanda terbangun, Casey dapat kabar dari Kinara kalau Aldrick dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Hubungannya dengan Aldrick memang tidak seakrab saudara sepupu pada umumnya. Tapi Casey tidak mau dianggap sebagai pengacau seperti yang sering Aldrick juluki padanya selama ini. Ia menghubungi Aldrick dan memberitahukan keberadaan Dhyanda. Juga menceritakan secara singkat tentang bagaimana kedua preman itu hampir mencelakai Dhyanda.


"Ganti baju dulu, kita pulang!" kata Aldrick pada Dhyanda.


"Baju aku basah tadi", sahut Dhyanda.


"Bawahannya ikut basah juga?"


Dhyanda menggeleng, "Cuma kotor" katanya.


"Pake dulu aja! nggak enak dilihatnya seperti itu", kata Aldrick melirik paha mulus Dhyanda yang terekspos begitu saja.


Dhyanda hanya mengangguk, lalu beranjak ke dalam kamar menuruti apa mau Aldrick.


"Kak Al dari bandara langsung kesini?", tanya Dhyanda saat keluar dari kamar, sudah memakai celana jeans miliknya tapi masih memakai kemeja pinjaman Casey.


"Ya, Casey yang bilang kamu bersamanya sejak semalam", sahut Aldrick tak lepas terus memandangi Dhyanda. Rindu melihat wajah gadis kecilnya yang kini beranjak dewasa.


"Lo kok nggak ngomong kalo Kak Al pulang hari ini?" tanya Dhyanda pada Casey dengan lirikan sinis.


"Untungnya apa gue ngasih tau Lo?" balas Casey kembali sengit.


Dhyanda mencebik kesal, ingin rasanya membalas omongannya, tapi gengsi juga depan Aldrick. Dhyanda tidak mau merusak suasana bahagia ini.


"Ayo pulang!" ajak Aldrick menarik tangan Dhyanda.


"Bang!" panggil Casey, "gimana kabar Aleena?" tanyanya dan membuat langkah Aldrick sejenak terhenti.

__ADS_1


"Baik. Lo sendiri gimana? nyaman hidup sendiri setelah merengek minta apartemen sama Daddy Lo?" tanya Aldrick datar.


"Of course!" sahut Casey enteng.


"Good boy!" gumam Aldrick sinis.


"Om sama Tante kapan balik by the way?"


"Next month" jawab Aldrick.


Sepeninggal Aldrick yang membawa Dhyanda pulang, Casey tertegun sejenak. Pastinya perih memiliki perasaan kepada seorang gadis dengan cara diam-diam. Dia hanya sanggup beradu mulut dengan gadis itu demi menutupi perasaannya.


Sudah sejatinya naluri manusia mempunyai perasaan cinta. Datangnya perasaan cinta pun terkadang tak disangka. Terkadang juga cinta sulit diungkapkan dan tak dapat tersampaikan, terlebih karena dia milik yang lain.


Hanya bisa menutup luka. Menahan api cemburu. Memendam rasa kecewa. Karena mau marah pun aku sadar, siapa aku?


"Maafin aku ya Dhy, aku telat baca pesanmu," lirih Aldrick seraya mengusap kepala Dhyanda dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang lain fokus pada kemudi.


"Bukan salah kamu, Kak. Kamu kan jauh, terlalu berlebihan kalau aku nyalahin kamu," balas Dhyanda sambil terisak. "kemarin aku hanya takut", ingatannya kembali menyeruak, tak kuasa Dhyanda menitikkan air matanya.


Aldrick tak melarang, dibiarkannya Dhyanda meluapkan perasaan. Gadisnya sudah melalui malam yang sangat berat dan membiarkannya menangis adalah keputusan yang tepat. Aldrick tau kadang tangis perempuan bukan karena lemah, tapi justru sebagai sarana penguat diri dan hati, pengobat sesak didadanya yang tak terungkap lewat kata. 


"Ada orang yang mau ngebobol rumah, Kak" cerita Dhyanda lagi. "Sampe digedor-gedor pintunya dan kenopnya patah. Makanya karena Kak Vero nggak bisa aku hubungi, aku langsung telpon polisi", ucapnya mengenang.


"Maafin Aku. Waktu itu aku lagi lunch sama orang rumah, makanya hp ku atur dalam mode diam," sesal Aldrick merasa sangat bersalah.


"It's Ok. Kupikir kamu sedang sibuk kerja," ucap Dhyanda. "Jadi aku ngenganggu acara makan siang kamu ya, Kak?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Aldrick menggeleng. Ia tersenyum simpul agar Dhyanda tak merasa semakin bersalah.


"Udah selesai, makanya aku baru liat hp dan tau kamu dua kali nyoba telpon. Vero juga lagi sama aku, dia lagi di London buat nganter dokumen penting. Maaf ya udah bikin kamu sengsara," sesal Aldrick tulus.


"Bukan salah mu, Kak. Wajar kamu sibuk, posisinya jauh pula. Tapi untungnya ada Casey yang ngepas banget lewat jalan itu. Aku mengira kamu ngirim dia untuk nolong aku" kata Dhyanda berucap lirih.


"Rencana Tuhan siapa yang tau, Dhy"


"Iya, Aku juga nggak pernah nyangka kejadian menakutkan itu bisa aku alami. Seperti mimpi buruk"


"Sekarang kamu udah sama aku. Nggak ada lagi yang berani nyentuh kamu seujung kuku pun," hibur Aldrick kaku. Ia tidak pernah berada dalam situasi semacam ini sebelumnya. Wajar jika ia juga tak mengerti harus berkata seperti apa untuk menenangkan Dhyanda.


"Aku tau itu. Kak Al pasti ngelindungin aku", sahut Dhyanda yakin.


Aldrick membalas ucapan gadis itu dengan senyuman. Tangannya mengusap lembut puncak kepala Dhyanda. "Miss you so much, my baby sugar!" gumamnya. Gadis itu pun tersenyum bangga, karena dalam hatinya juga merasakan hal yang sama.


.


Tiba di rumah kontrakan Dhyanda, mobil Aldrick langsung terparkir dihalaman depan. Tak banyak bicara Aldrick berlari memutar mobilnya, mencegah Dhyanda berjalan sendiri. Ia tau dari Casey kalau kaki Dhyanda sakit akibat terpeleset tadi dikamar mandi, Aldrick pun memapahnya masuk ke dalam rumah.


'I love you, maybe this sentence is stale. But yes I love you, Dhy'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2