Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Aku bisa menghadapinya


__ADS_3

Imel menghembuskan napasnya, ia sendiri bingung apa yang harus ia lakukan untuk membantu Dhyanda saat ini.


“Mungkin lo perlu jelasin ke guru BK, biar mereka yang nantinya meneruskan ke kepala sekolah. Lo harus cepat klarifikasi, Dhy. Sebelum foto itu benar-benar tersebar diluar” usul Imel cukup cerdas.


“Biar gue ngatur napas dulu, Mel” ucap Dhyanda sembari menyeka air disudut matanya.


Imel paham, kini Dhyanda tengah menghadapi masalah yang cukup serius. Ia duduk disisi Dhyanda, membiarkan sahabat baiknya ini menyandarkan kepala dibahunya. Di tengah pikiran yang terus  bertanya-tanya siapa pelaku yang berani mengedit foto Dhyanda, Imel yakin pasti orang itu yang iri dengan Dhyanda.


“Perlu gue temenin ke ruang BK?” tanya Imel setelah membiarkan Dhyanda melepas penatnya.


Dhyanda menggeleng. “Jangan terlibat sama gue saat ini Mel. Gue gak mau mereka yang udah ngehina gue, ikut memandang rendah lo.” Ucapnya.


Imel mengerti maksud Dhyanda, “Oke, Lo cukup jelasin ke guru BK, dia pasti bantu. Pihak sekolah juga tidak akan diam saja untuk masalah ini” balas Imel.


“Iya Mel. terimakasih Lo selalu ada buat gue" ucap Dhyanda tersenyum samar. Oya, di grup masih rame?” tanya Dhyanda yang enggan menyalakan kembali ponselnya setelah ia putuskan untuk mematikannya tadi.


Imel mengecek ponselnya. Ada sesuatu yang janggal yang ia temukan. Diberikannya ponsel itu pada Dhyanda. Mungkin semesta tengah menolong Dhyanda melalui tangan orang lain. Grup whatsapp tidak bisa dibuka, semua anggotanya left grup secara otomatis. Begitu pula dengan web sekolah, tidak bisa dibuka dan selalu muncul peringatan forbidden.


“Tuhan lagi tersenyum sambil natap Lo, Dhy” kata Imel.


“Siapa pun hackernya kalo dia cowo gue bakalan pacarin dia” kekeh Dhyanda sedikit terhibur.


“Kayak sinetron lo. Lagipula mau dikemanain tuh Mr. Al”  sahut Imel ikut merasa senang melihat Dhyanda menyungging senyuman.


Dhyanda tersenyum gamang, "Bercanda gue, Mel. Gak mungkin lah gue berpaling dari dia" ucap Dhyanda jadi merindukan kekasihnya itu. 'apa hari ini dia ada jadwal mengajar ya? kok dari pagi gak keliatan' batin gadis itu bertanya sendiri.

__ADS_1


"Yah, bucin juga Lo, Dhy" Imel terkekeh.


“Gue ke ruang BK dulu. Masalah ini harus segera selesai pokoknya” ujar Dhyanda berpamit.


Langkah Dhyanda mantap. Di depan pintu ruang BK, Dhyanda mengetuk pelan dan menyembulkan kepalanya. Disanalah Dhyanda menemukan Aldrick tengah duduk dan berbicara serius dengan Ibu Niar, sang guru BK. Seperti terkoneksi telepati, Aldrick menoleh ke arah pintu, membuat pandangannya dan Dhyanda bertemu. Tak fokus dan saking buru-burunya Dhyanda ingin menemui ibu Niar, tanpa disengaja ia menabrak Pak Gingin, guru bahasa Indonesia yang terkenal sedikit nyinyir. Air minum yang dibawa Pak Gingin tumpah, sedikit mengenai baju seragam Dhyanda yang membuat basah dibagian dadanya.


“Dhyanda!” sapa Pak Gingin menyadari siapa yang menabraknya, “benar kamu yang di foto itu?” tanyanya tanpa filter.


“Saya difitnah Pak. Itu bukan foto saya, itu jelas hasil editan!” ujar Dhyanda membela diri.


“Tapi mir---“


“Pak Gingin,” Aldrick tiba-tiba memanggil dan mendekatinya, menyelamatkan Dhyanda dari situasi tak menyenangkan ini, “Temani  saya makan siang, Pak. Saya yang teraktir” ajak Aldrick sengaja membiarkan Dhyanda menemui ibu Niar agar lebih leluasa mencurahkan masalah yang kini dihadapi gadisnya itu. Bukannya Aldrick tidak peduli dengan masalah Dhyanda, ia hanya memberikan ruang untuk Dhyanda menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun jika Dhyanda sudah tak sanggup, Aldrick sudah tau apa yang harus ia lakukan untuknya.


“Baju kamu basah,” Aldrick menyodorkan sapu tangannya, “jangan sampe tembus pandang” bisik Aldrick tak lama kemudian berlalu pergi dengan Pak Gingin setelah berpamitan dengan Bu Niar sebelumnya.


"Ibu senang akhirnya kamu datang kesini, Dhyanda" ucap Bu Niar masih menyunggingkan senyumannya.


Dhyanda menumpahkan semua emosi jiwanya yang kini tengah bersarang dihatinya. Antara sedih, kesal, marah, dan benci kini menyatu didalamnya. Dia juga menjelaskan pada Bu Niar bahwa foto yang tersebar itu editan. wajah difoto tersebut memang dirinya, tapi anggota tubuh yang lain ia meyakini bukan dirinya. Tapi tunggu! Dhyanda mulai sadar dengan foto editan itu. Gesture lelaki bersamanya yang disamarkan itu kok mirip sekali dengan Aldrick.


'What the hell!' dalam hati Dhyanda mengumpat. Kemarin saat dirumah makan itu Aldrick kan sempat menciumnya. Apa foto itu memang benar foto dirinya dan Aldrick kemarin? jika benar, siapa kira-kira yang mengambil pose itu lalu memotretnya dan mengedit pakaian Dhyanda menjadi seseksi begitu?


"Oh my God!" gumam Dhyanda tak bisa membayangkan jika itu memang benar.


"Ada apa, Dhy?" tanya Bu Niar yang sedari tadi memperhatikan wajah galau Dhyanda setelah mengklarifikasi masalah foto tersebut.

__ADS_1


"Oh, nggak Bu" lamunan Dhyanda buyar seketika, "Ibu saya gak perlu tau masalah ini kan, Bu?" tanya nya kemudian.


"Harusnya sih tau, Dhy."


"Tapi Bu, kemarin ibu saya baru mengalami kecelakaan. Sekarang kondisinya masih belum stabil. Saya gak mau ibu tau dulu masalah ini. Ibu Niar bisa bantu kan?" pinta Dhyanda memelas.


"Nanti ibu coba bantu bicarakan dulu dengan kepala sekolah ya. Kamu yang tenang dan jangan terlalu dipikirkan jika itu memang bukan foto kamu yang sebenarnya" ujar Bu Niar seraya memegang bahu Dhyanda.


"Iya, Bu. Itu bukan tubuh saya. Bahkan saya mana punya pakaian seksi kaya begitu" ucap Dhyanda, membayangkan memakai baju kurang bahan seperti di foto itu aja udah bikin Dhyanda geli dan risih, apalagi memakainya.


"Iya ibu tau, cewe setomboi kamu mana punya baju model gitu" sahut Bu Niar tertawa kecil. "Sekarang kamu balik ke kelas lagi, siapkan mental. Apapun yang akan kamu dengar dari mulut teman-teman dikelas, abaikan saja. Ibu yakin kamu bisa hadapi masalah ini, Dhy. Pihak sekolah juga tidak akan diam aja jika terjadi perundungan" ujar Bu Niar memberi semangat.


"Iya Bu, aku siap kok. Semua akan baik-baik saja" ucap Dhyanda akhirnya berpamit menuju ke kelasnya.


.


.


.


.


 


Anak-anak harus dapat menjalani kehidupan yang bebas dari intimidasi dan pelecehan. Sudah saatnya kita semua mengambil sikap menentang hal itu.

__ADS_1


 


__ADS_2