
Sesampainya di rumah, selepas membersihkan diri Dhyanda hendak membuatkan sesuatu untuk makan malam. Diliriknya sepiring nasi goreng diatas meja makan yang tak disentuh apalagi dicicipi Aldrick tadi pagi. Dhyanda mengerucutkan bibirnya sedikit kecewa, lalu diambilnya nasi goreng utuh itu untuk dimasukan kedalam tong sampah yang berada disisi meja dapur.
"Kalo gue masak, terus dia nggak suka dan nggak mau makan kaya tadi pagi, mubazir dong namanya," gumamnya ragu. Akhirnya gadis itu memilih memasak mie rebus instan untuk dirinya sendiri. Sambil menunggu air mendidih, Dhyanda memotong-motong sawi putih dan menyiapkan bumbu lainnya.
Terdengar langkah seseorang masuk, Dhyanda menoleh, ternyata Aldrick baru saja datang. Lelaki itu tergesa-gesa menuju kamarnya tanpa menyapa Dhyanda yang sudah jelas nampak didepan matanya.
"Kak!" panggil Dhyanda inisiatif menyapa. Tak ada balasan, Dhyanda segera mematikan kompor lalu mengikuti langkah Aldrick.
“Kak Al marah sama aku?” tanya Dhyanda lirih, terdengar putus asa. Dhyanda sudah tak tahan dengan sikap Aldrick yang tiba-tiba berubah sejak pagi tadi. Dasar kekanak-kanakan!
Aldrick akhirnya menoleh. Ia begitu merindukan wajah imut yang polos ini. Sampai hampir mati rasanya ia menahan diri untuk tidak memeluk Dhyanda dan mengusap pucuk kepalanya itu.
“Aku harus segera ke kantor lagi sekarang.” Kata Aldrick tak menjawab pertanyaan Dhyanda.
"Bukannya baru balik?", tanya Dhyanda heran.
"Ngambil ini," ucap lelaki itu menunjukan flashdisk yang sudah ada ditangannya pada Dhyanda.
"Kalo cuma ngambil flashdisk, kenapa Kak Al nggak minta aku aja yang bawain ke kantor?" kata Dhyanda.
Aldrick hanya menatap gadisnya itu sekilas, tanpa berucap apa-apa dia berkemas hendak pergi lagi.
Namun Dhyanda tidak menyerah. Ia mengejar Aldrick dan berusaha mengimbangi langkah lebar kekasihnya itu.
“Kak Al marah ya? aku sadar kalo ngomong suka seenaknya, nggak pernah dipikir dulu. Suka ceplas-ceplos dan kurang ajar. Kalo Kak Al tersinggung karena itu aku minta maaf”, ujar Dhyanda berhasil membuat langkah Aldrick berhenti.
“Maksud kamu aku ini terlalu sensitive sampe harus tersinggung sama sikap konyol kamu itu?” gumam Aldrick datar.
__ADS_1
“Enggak gitu juga, Al!!” Dhyanda tidak sabar lagi, matanya mengembun, ia merasa sedih tanpa sebab. Tangannya meraba tangan Aldrick, berusaha menahannya agar tidak pergi. “maafin gue,” bisiknya tertunduk. Ia tahut, takut kehilangan seseorang yang amat ia sayangi.
“I have to go, Dhy!” Aldrick menggoyangkan lengannya agar Dhyanda melepas cengkeramannya. Ia tidak tega mengibaskannya karena takut Dhyanda tersinggung.
“Maafin aku” pinta Dhyanda lirih, “mungkin Kak Al nggak sengaja ngedenger omongan aku yang kelewatan dan keterlaluan tadi pagi, makanya kamu begini. Aku minta maaf” tambahnya.
Melihat embun dimata Dhyanda, Aldrick luluh. Ia menghela napas panjang, lantas memutar sedikit tubuhnya agar bisa saling berhadapan dengan Dhyanda.
“Aku harus pergi sekarang, Dhy. Mereka nunggu aku dikantor, penting” kata Aldrick dengan nada bicara yang lebih lembut, “maaf juga untuk terlalu bersikap masa bodoh sama kamu. Kebetulan dikantor sedang sibuk, ada beberapa proyek yang harus aku urus bersamaan”
"Oh," respon Dhyanda lalu tersenyum lega. “Jadi aku di maafin kan ya, ya?” mohon gadis itu mengedip-kedipkan matanya genit.
Aldrick tersenyum simpul, membuat Dhyanda bersorak saking senengnya.
“Kenapa kamu minta maaf? Emang kamu ngerasa salah apa?” tanya Aldick sedikit lebih santai.
“Ya aku juga nggak tau. Ngerasanya kamu jadi beda aja sama aku. Emang marah kenapa sih? aku ngomong apa?” tanya Dhyanda balik.
Ekpresi Dhyanda berubah seketika. Jadi, setelah seharian menjadi beban pikirannya, hingga mengemis-ngemis minta maaf, Aldrick hanya mengerjainya?
“Nggak lucu!!” sentak Dhyanda dengan bibir bergetar. “apa menurut Kak Al aku ini main-main? Aku serius lho minta maaf, terus Kak Al jadiin ini lelucon? Luar biasa”
“Iya, aku tau kamu serius,” balas Aldrick sedatar biasanya.
“Terus?” Dhyanda berkacak pinggang. Ia marah sekarang. “Ada ya cowok begini gilanya ngerjain ceweknya? Sampe gue kepikiran lho! Bahkan tadi siang dikelas nggak bisa focus gara-gara lelucon konyol ini” pekiknya tak bisa lagi mengontrol emosi.
“Tenang dong, kenapa malah jadi kamu yang emosi,” kata Aldrick.
__ADS_1
“Lo luar biasa keterlaluan Al, keterlaluan jahatnya sama gue! “ cecar Dhyanda meluapkan emosinya.
“Cuma kamu yang begini sama aku, Dhy” ucap Aldrick jujur, semakin menyuluit emosi Dhyanda.
“Ah, karena gue keterlaluan, nggak sopan sama Lo makanya lo begini? Lo jadiin bahan lelucon?”
“Cukup, Dhyanda. Kamu berlebihan,” bisik Aldrick malas berdebat lagi.
“berlebihan? Gue berlebihan?” Dhyanda memukul-mukul dadanya sendiri, kesal karena Aldrick benar-benar mempermainkan perasaannya.
Melihat emosi Dhyanda yang sudah meluap Aldrick segera mendekap Dhyanda. Menyandarkan kepalanya didada bidang Aldrick. Mencoba memberi ketenangan. “Aku yang salah, aku minta maaf” lirihnya seraya mengusap lembut rambut Dhyanda. Gadis itu pun akhirnya luluh dan tenang kembali.
"Jam berapa kamu pulang?" tanya Dhyanda manja.
"Nggak lama. Kamu tidur duluan aja, nggak usah nunggu aku apalagi harus tidur di sofa kaya kemarin malem. Berat tau gendong kamu itu," ujar Aldrick dengan tatapan meledek, membuat sang gadis mengerucutkan bibirnya gemas.
"Nggak lama kan?", tanya gadis itu lirih.
Aldrick menggeleng memberi jawaban. "Tadinya bisa aja nyuruh Vero buat ambil flashdisk ini kemari. Tapi aku terlalu rindu buat liat kamu dulu disini,"
"Aiaa... so sweet banget kamu sih Kak," Dhyanda tersipu, wajahnya seketika memerah dan langsung mendapat kecupan lembut dari Aldrick.
"Aku pergi dulu ya," Aldrick akhirnya pergi lagi.
.
.
__ADS_1
.