Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Swing mood


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 1:15 malam,


"Ada apa bos?" Vero langsung datang setelah Aldrick memanggilnya ke ruangan.


"Mereka masih pada lembur?" tanya Aldrick.


"Iya lah, mana berani mereka balik sebelum ada komando dari Lo," sahut Vero terdengar kesal.


"Suruh mereka pulang sekarang, pagi jam 8 nanti sudah ada dikantor lagi. Nggak boleh ada yang terlambat, gue tunggu laporannya sampe jam 12 siang nanti," ujar Aldrick. Suasana hatinya mulai membaik, rasa kemanusiaannya mulai tumbuh kembali.


"Coba dari tadi Al, Kita udah pada lelah ini," keluh Vero mengambil nafas panjang. Tapi seenggaknya tubuh lelahnya kini bisa ia hempaskan barang 2 sampai 3 jam untuk terlelap.


Vero melirik Dhyanda yang masih terjaga duduk disofa, "Penakluk macan PMS" gumamnya seraya mengedipkan sebelah mata pada Dhyanda yang tengah menatapnya juga.


Gadis itu mengulum senyum, ingin terbahak tapi takut mood sang macan kembali memburuk.


"Apa Lo bilang? macan PMS?" tanya Aldrick yang untungnya gagal paham.


"Nggak bos, itu tadi si Jovanca ngeluh sakit perut dan uring-uringan, mungkin dia lagi PMS, kelakuannya udah kaya macan aja" ujar Vero malah mengkambing hitamkan rekan sekantornya. "kalo gitu gue umumin dulu ke mereka," katanya lagi sembari pergi.


"Aku beresin ini dulu bentar ya," kata Aldrick kembali menatap layar laptopnya. Dhyanda paham maksudnya. Ia bersedia menunggu kekasih tampannya itu.

__ADS_1


"Kita menghabiskan dua pertiga dalam sehari dengan menghabiskan tenaga untuk beraktivitas. Namun bagaimanapun juga manusia emang nggak bisa jika harus terus bekerja tanpa beristirahat," ucap Dhyanda kemudian.


"Aku tau, aku emang orangnya swing mood" sahut Aldrick sekenanya. Ia lalu menutup layar laptop bersiap mengakhiri kerjaannya.


"Tapi jangan sampai karyawan kamu yang kena imbasnya," ujar Dhyanda sambil berdiri dari duduknya dan tidak ada tanggapan dari Aldrick.


Gadis itu berjalan mendekati jendela kaca yang memperlihatkan kota Jakarta saat tengah malam diatas gedung pencakar langit, lampu-lampu terang saling menyorot seperti bintang yang bertaburan dibawah sana. "Indah banget dilihat dari atas sini," gumam Dhyanda takjub.


Tiba-tiba kedua lengan Aldrick sudah menyusup ke sisi pinggang Dhyanda. Perlakuan itu membuat gadis itu menegang, menahan napas sekejap karena kaget dan tak menyangka Aldrick memeluk tubuhnya dari belakang.


Sesaat keduanya terdiam. Sunyi melantunkan rasa hangat yang meruntuhkan kebekuan dan kekakuan.


"Pulang yuk! dikantor tinggal kita berdua lho," gumam Aldrick sambil menempelkan dagunya dipundak Dhyanda mesra. Ia merindukan gadisnya.


"Lelah ya abis ngegandeng dan ngurus Casey sampe ke apartemennya?" sindir Aldrick, tapi kali ini nadanya seakan meledek.


"Kok kamu tau?" Dhyanda langsung membalikkan tubuhnya kaget. Kini mereka saling berhadapan. Tapi tangan Aldrick tak mau melepas pelukannya dari pinggang sang gadis.


"Kamu perhatian sekali sama dia, rela memeluk untuk memapahnya sampe ke apartemennya, abis itu aku nggak tau apa yang kalian lakuin didalam sana" ujar Aldrick dingin.


"Kak Al ngikutin aku? kenapa nggak nyamperin aja coba?" protes Dhyanda polos, dia tidak sadar bagaimana perasaan Aldrick sekarang.

__ADS_1


"Untuk apa? bantuanmu udah cukup buat dia seneng. Aku pastikan besok dia akan kembali ngehubungin kamu lagi untuk menemaninya"


"Jadi ceritanya kamu marah?" tuduh Dhyanda tak tahan dengan celotehan Aldrick yang semakin dingin dan menuding.


"Aku marah karena kamu nggak berani jujur, Dhy. Sampe hp terjatuh didepan pintu lift pun kamu nggak nyadar karena saking paniknya kan?" ujar Aldrick lalu mengeluarkan ponsel Dhyanda dari dalam saku jasnya dan menaruhnya diatas meja.


Dhyanda sesaat tertegun, dia masih nggak percaya dengan semuanya ini, "Aku benar-benar nggak bermaksud gitu Kak. Cuma tadi itu mendesak banget dan nggak bisa ditunda. Casey kecelakaan, dia butuh seseorang untuk membantunya. Dan aku tidak mau mengganggu kerjaan kamu yang menumpuk, makanya aku inisiatif membantunya", ujar Dhyanda melakukan pembelaan.


"Aku nggak mau nerima alasan apa pun. kamu terbukti bersalah Dhy. Apa salahnya kasih tau aku dulu, mungkin kalau itu lelaki lain aku nggak bisa maafin kamu," balas Aldrick.


Dhyanda menghela napas sebentar, ia membalikkan tubuhnya kembali menghadap jendela. Menghindari emosinya yang bisa membuat mereka kembali ribut.


Mereka sesaat kembali saling diam. Namun Aldrick masih memeluk tubuh Dhyanda dari belakang. Kedua Jemari Dhyanda meraba jemari Aldrick yang bertaut didepan perutnya. Pagi dini hari, suasana sepi Jakarta yang menemani, juga lelaki yang memeluknya penuh cinta ini. Dhyanda semakin dihantam rasa bersalah dan takut kehilangan Aldrick untuk alasan yang ia sendiri tak begitu paham. Bagaimana jika setelah ini Aldrick memilih pergi?


"Aku ngaku salah, dan aku nggak akan gitu lagi Kak, aku janji" lirih Dhyanda penuh penyesalan.


"Jangan janji kalo kamu sendiri nggak yakin bisa menepatinya," sahut Aldrick tak memberi kesempatan pada Dhyanda untuk mengungkap kedalaman rasa sesalnya.


"Beneran aku janji kali ini," sangkal Dhyanda.


"Aku nggak tau harus percaya atau nggak,'' ujar Aldrick memutar tubuh Dhyanda agar menghadapnya. "Aku hanya takut suatu saat nanti Casey merebutnya lagi dariku,"

__ADS_1


Dhyanda mengernyit bingung. Apa maksudnya? sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka? apa yang menyebabkan persaudaraan mereka bisa terasa jauh dan sedingin ini?


__ADS_2