
Sore itu, Aldrick bersiap akan pulang. Ia ingat janjinya untuk pulang lebih awal pada Dhyanda. Aldrick ingin memberikan sesuatu untuk gadisnya itu sebagai tanda keseriusan dirinya. Namun, Vero datang ke ruangan dan memberitahu Aldrick kalau Bos besar tengah menunggu diruangannya.
Aldrick nampak membuang napasnya malas, Ia tidak tau kalau Aaron ada dikantor. Setaunya Aaron tidak akan ke kantor kalau tidak ada hal mendesak dan sangat penting. Bukannya tanggung jawab perusahaan kini sudah dialihkan pada Aldrick?
"Iya Pa, ada apa?" tanya Aldrick to the poin.
"Duduk!" perintah Aaron pada putranya yang masih berdiri didepan meja kerja.
Aldrick menarik kursi lalu menjatuhkan dirinya diatas sana. "Ada masalah kerjaan?" tanyanya lagi tidak sabar dan ingin langsung ke inti.
Aaron menutup layar laptop didepannya, kini ayah dan anak itu pun saling berhadapan. "Ini masalah Dhyanda," ujarnya datar.
"Bahas yang kemarin?" terka Aldrick malas.
"Kemarin belum selesai, Al. Kamu pergi gitu aja tanpa tau apa-apa tentang masa lalu gadis itu,"
"Maksudnya?" Aldrick mengernyit bingung. Sandiwara apalagi yang akan dimainkan Papa untuk memisahkan Dhyanda darinya. Begitu pikiran Aldrick mencurigai Aaron.
"Perlu aku pertegas lagi? apa kata-kata kemarin kurang jelas?" kata Aldrick tajam.
"Cukup, Al!!" ujar Aaron geram. Rahang kokohnya mengeras tanda ia kesal dengan anaknya yang sudah berasumsi sendiri. "Dhyanda itu anaknya Andrew O'Brien," katanya, dan sukses membuat Aldrick malah terbahak.
__ADS_1
"Are you kidding me? who's he?" tanyanya masih terkekeh. Aldrick merasa Aaron kali ini keterlaluan, mulai melibatkan gadisnya terlalu jauh.
Aaron akhirnya mengaku bahwa selama ini sudah menyelidiki asal-usul Dhyanda diam-diam. Dhyanda lahir dari seorang perempuan asal Berlin bernama Laura, namun Laura meninggal sesaat setelah melahirkan Dhyanda. Dia dari kecil hidup bersama ayahnya yang bernama Andrew O'Brien.
"So?" tanya Aldrick masih dengan nada datarnya, seolah tidak peduli dengan cerita Aaron. Baginya asal usul Dhyanda memang tidak terlalu penting.
"Andrew O'Brien itu anaknya Peter O'Brien," ujar Aaron sambil berdiri dari duduknya. Ia diam sejenak, kakinya lalu melangkah menuju jendela ruangan kerjanya. Pandangan matanya menatap keluar seraya memasukkan kedua telapak tangan dikantong celana. "Peter O'Brien itu kakaknya Claire, nenek kamu," kata Aaron meneruskan kalimatnya, tanpa berani menatap anaknya.
"What??" Aldrick terperanjat kaget, spontan ia ikut berdiri, mendekati sang Papa menuntut penjelasan lebih.
"Itu benar," balas Aaron sambil membalikkan tubuhnya kini berhadapan langsung dengan Aldrick yang sudah berada didepannya. "Papa dan Ayahnya Dhyanda itu seperti kamu dan Casey."
"Masalahnya mereka bukan orang baik, mereka bajingann semua, Al!!" geram Aaron. Rasanya ingin sekali ia mengatakan yang sebenarnya kalau Peter lah yang dulu menembak ibu sambungnya hingga tewas, dan membuat ayahnya terpukul hingga memutuskan untuk bunuh diri. Masa muda Aaron begitu memilukan. Ia harus menyaksikan tragedi itu didepan mata kepalanya sendiri.
"Dulu kira-kira 15 taun yang lalu, Tante kamu pernah diculik Andrew dan Claire. Atreya disekap dirumahnya selama beberapa hari, Papa dan Marshall terpaksa ke Berlin waktu itu untuk bantu Matthew mencarinya. Dan---"
"Cukup, Pa!! Aku nggak mau denger lagi," ujar Aldrick memotong pembicaraan Aaron tiba-tiba. "Aku sudah tau sekarang kenapa Papa larang aku berhubungan dengannya. Apapun kenyataannya aku tetap akan menikahi Dhyanda. Aku nggak peduli dia anaknya Andrew atau siapalah, tapi yang pasti dia anaknya ibu Arumi yang sudah mengurusnya dari kecil,"
"Papa hanya ingin ngelindungin kamu, Al!" bentak Aaron.
"Ngelindungin dari siapa? Dhyanda?" terka Aldrick tak terima, "Bahkan dia pun nggak pernah tau keberadaan ayahnya dimana, dan apakah masih ada atau udah mati," lanjutnya.
__ADS_1
"Andrew masih ada. Menurut orang-orang yang Papa sewa, sekarang dia di Singapore. Tidak nutup kemungkinan Andrew akan mencari anaknya kembali meski sekarang dia sudah memiliki keluarga baru," ujar Aaron.
Mendengar hal itu, Aldrick mengeratkan giginya geram, kedua tangannya mengepal seakan akan menonjok seseorang. Sulit dipercaya, ternyata asal usul gadisnya berhubungan erat dengan keluarga besar O'Neill. Aldrick tetap akan mempertahankan Dhyanda.
"Mereka mungkin bajingann, tapi tidak dengan Dhyanda," ujar Aldrick merasa yakin dengan ucapannya. "Sorry, Pa. Aku harus pergi sekarang," katanya lalu berpamit pergi. Keluar dari ruangan Aaron dengan pikiran dan hati yang mulai terbebani kenyataan yang baru saja ia ketahui tentang Dhyanda.
Langkah Aldrick langsung menuju basemen kantor untuk mengambil mobilnya. Ia tak langsung pergi, diambilnya ponsel dari dalam kantong jasnya lalu mengirim pesan pada Dhyanda.
Aldrick : Kamu udah dirumah?
Aldrick : Kita makan diluar, kamu siap-siap aku otw jemput.
(send)
Tak lama kemudian Aldrick meluncur keluar dari basemen gedung perusahan O'Neill grup. Ia ternyata tidak langsung menuju ke rumah. Mobilnya malah mampir terlebih dulu ke sebuah toko bernama 'Eternity Jewelry'
.
.
.
__ADS_1