
"I thought that he was your fiance, right?" ujar Sarah, manager hotel yang memberitahukan Annely tentang reservasi sky lounge atas nama Aldrick O'Neill. "Tapi kami malah mempersiapkan keperluannya untuk melamar seorang gadis diatas sana," katanya lagi.
Annely terdiam tanpa suara. Disampingnya Sarah menatap Annely penuh rasa ingin tahu tanggapannya. Mereka tengah duduk disofa lobby setelah mengantar tamunya keluar. Baru saja pemilik hotel dan manajer hotel itu menjamu tamu penting.
"Ini cuma perjodohan bisnis yang sepakati orangtua, Sar. Seorang Aldrick Putra O'Neill nggak pernah menginginkan perjodohan," kata Annely datar, seakan tak begitu terpengaruh dengan apa yang tadi dikatakan Sarah.
"Tetep aja, Ann, kenapa coba dia harus melamar perempuan lain di sky lounge hotel milikmu, apa nggak ada hotel lain?" kata Sarah, ia justru tidak terima melihat Aldrick seolah mencampakkan Annely.
Annely terdiam sesaat, kini pandangan mata perempuan itu lekat pada sepasang kekasih yang baru saja keluar dari lift. Terlihat mereka tengah saling menggoda, bahkan seakan tak perduli orang sekitar yang menatapnya canggung. Annely kembali memalingkan pandangannya. Cemburu sih tidak, tapi ia merasa baru kali terkalahkan oleh seseorang dari kalangan biasa yang bahkan jauh diatas levelnya. Dan itu bisa ia lihat dari pakaian sederhana tanpa brand yang Dhyanda kenakan.
"Mungkin mereka nggak tau, tapi itulah bukti kalo hotel kita memang yang terbaik. Nggak ada yang salah," balas Annely santai pada Sarah, sahabatnya. "Ternyata tindakan lelaki itu bisa romantis juga," gumamnya kemudian.
Sarah menggeleng tak setuju. Justru kini dirinya yang marah dan kesal saat melihat Aldrick memeluk pinggang perempuan lain dengan mesra sambil beberapa kali berbisik manja ditelinga gadis yang ternyata Dhyanda. Annely perempuan terhormat, tidak seharusnya ditempatkan dalam posisi seperti sekarang.
"Perasaan kamu ke dia gimana sih, Ann? Lo cinta apa nggak sih sebenarnya?" tanya Sarah. Kedua matanya masih mengawasi gerak gerik Aldrick dan Dhyanda yang masih asik melihat dua lukisan yang dipajang dekat lift sambil asik membicarakan sesuatu.
Annely mengembangkan senyumnya, "Cinta? buatku cinta itu tumbuh perlahan diantara dua orang yang udah saling kenal. kalo kayak aku ke Aldrick, ini sekedar perasaan cewek yang nggak mungkin nolak oleh pesonanya," ucapnya sangat tenang.
"Tapi kalo orang bisnis tau soal ini, bukannya kamu bakalan malu? beberapa rumor soal perjodohan kamu sama dia udah tersebar, Ann" ucap Sarah khawatir dengan reputasi sahabatnya.
"Untungnya baru Rumor. Perjodohan dalam bisnis itu wajar, Sar. Dan batalnya perjodohan yang didasari pemaksaan begitu pasti juga sangat wajar. Dunia bisnis itu kejam, aku harus kuat menghadapi segala macam terpaan. Lagipula sejujurnya Aldrick bukan tipe aku, aku lebih menyukai supermodel dan berbadan atletis daripada pebisnis macam dia. Aldrick nggak masuk dalam salah satu kategori tipe aku," ujar Annely sambil berdiri dari duduknya. Ia memberanikan diri berjalan menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai lima. Rencananya malam ini Annely akan menginap dihotel pemberian sang Ayah ini.
.
__ADS_1
"Cincinnya pas kan?" tanya Aldrick was-was takut jemari Dhyanda terlalu kecil saat memakai cincin darinya.
"Pas dan aku suka banget, Kak. Pinter deh kamu milihnya, sederhana tapi cantik," puji Dhyanda bangga. "Mahal ya?" tanyanya.
"Itu nggak mahal, Dhy. Sorry, harganya standar karena cuma pake satu berlian. tadinya ada sih yang satu lingkar penuh berlian gitu. kupikir kamu nggak akan suka," terang Aldrick lugu.
"Diih, emang aku emak-emak yang lebih doyan pake perhiasan yang banyak kilauannya," sangkal Dhyanda sewot. "Ini aja aku udah suka banget. Makasih ya untuk cincinnya yang indah," Dhyanda nyengir senang, dipeluknya jemarinya sendiri dengan sebelah tangannya.
Aldrick mengangguk, diusapnya puncak kepala Dhyanda sayang. "Bener kamu nggak mau nginep?" tanyanya sekali lagi setelah Dhyanda menolak untuk bermalam dihotel mewah ini. Gadis itu tetap menggeleng sebagai jawabannya. "Oke, kita pulang ya?" tanyanya.
Kali ini Dhyanda mengangguk. Mereka pun hendak melangkah keluar. Dari kejauhan Annely datang mendekati lift dimana mereka masih disekitar sana. Aldrick sudah melihatnya, tapi ekspresinya tetap datar, seolah tak kenal. Begitupun Annely saat berpapasan dengan Aldrick dan Dhyanda. Ia tak menoleh, melirik pun tidak, bertindak layaknya orang asing.
Dhyanda sempat menoleh melihat ke arah Annely. Dalam hati ia merasa takjub melihat kecantikan dan keanggunan gadis yang barusan berlalu masuk kedalam kotak lift itu. Sungguh elegan dan melambangkan kecerdasan dalam kecantikan yang tak lekang dijamah masa.
"Oh, dia ya," balas Dhyanda masih tidak sadar dengan arah pembicaraan Aldrick.
Sambil memutari mobilnya, Aldrick membukakan pintu untuk Dhyanda. Seakan sudah hafal dengan sikap manis lelakinya, Dhyanda masuk ke dalam mobil. Baru setelah Aldrick mulai melajukan mobil, Dhyanda tersadar.
"Annely Williams? Maksud kamu, Kak?" tanya Dhyanda menoleh tegang.
"Tadi yang papasan sama kita di dekat lift. Yang pake dress selutut berwarna hitam, dia Annely Williams," terang Aldrick enteng.
"Ya? serius?" pekik Dhyanda kaget. Ia lantas meneliti tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Demi apapun aku malu!" gerutunya menutup wajah spontan.
"Malu kenapa? Nggak telanjang ini," sahut Aldrick datar.
"Dia cantik banget lho, Kak! serupa Luna Maya, tinggi, langsing, elegan, anggun dan keliatan berkelas banget. Sementara aku? Ya ampun, dekil banget," keluh Dhyanda.
"Kamu cantik, Dhy. Buktinya aku lebih milih kamu ketimbang dia," ucap Aldrick menenangkan.
"Tapi kamu ngakuin kalo dia cantik kan? nggak mungkin kamu bilang enggak," gumam Dhyanda.
"Iya emang cantik sih," balas Aldrick.
Dhyanda menghela napasnya, tidak ada yang salah dari jawaban Aldrick. Ia saja yang sebagai perempuan mengakui betapa cantik dan elegannya seorang Annely Williams. Dari caranya berjalan saja Dhyanda sudah bisa menebak seberapa tinggi kastanya Annely.
"Annely Williams punya semua girlfriend materials yang dibutuhkan setiap lelaki. Dia cantik, anggun, elegan, berkelas, sempurna banget lah. Kamu juga gitu, semua boyfriend materials ada di diri kamu. Orang numpang lewat aja pasti bakalan setuju buat bilang kalian serasi." gumam Dhyanda lagi-lagi insecure.
Aldrick menggeleng, "Nggak juga, karena aku udah jadi husband materials cewek lain makanya aku nggak tergoda sama dia meski mau dibilang serasi pun. Dan juga, karena aku bukan sebagian besar cowok yang kamu liat bakalan jatuh cinta sama Annely. Aku hanya sebagian kecil dari orang-orang yang jatuh cinta sama kamu dan nggak mau sama perempuan mana pun selain kamu. Mungkin kamu bener, semua cowok bakalan suka sama Annely yang sangat cantik versi kamu, tapi aku termasuk orang yang enggak. Bersama kamu, duniaku indah dan lebih berwarna," ujarnya panjang lebar.
Dhyanda tertegun takjub. Lagi-lagi ia salah karena telah meragukan ketulusan cinta Aldrick. Kali ini Dhyanda harus lebih banyak berjuang lagi untuk mempertahankan hubungannya yang sudah seserius ini. Aldrick miliknya, tak boleh ada perempuan mana pun yang berani menyentuh apalagi mengambil darinya. Termasuk Annely Williams.
.
.
__ADS_1
.