
"Serius nggak apa-apa nih Lo traktirin gue, Nyonya Aldrick?" goda Imel saat Dhyanda mengajaknya makan di satu restoran western dengan harga per item yang sedikit mahal.
Imel sedang off kerja, kebetulan jam kuliah Dhyanda juga tidak full. Jadi mereka sepakat untuk menghabiskan waktu bersama dengan jalan-jalan dan makan diluar. Sudah lama mereka tidak melakukan hal itu sejak memiliki kesibukannya masing-masing.
"Gue kan tinggal sama Aldrick sekarang, jadi gue nggak perlu bayar sewa rumah, ditambah sisa uang beasiswa juga masih cukup untuk makan ditempat ginian sesekali, jadi nggak masalah asal jangan sering-sering," kekeh Dhyanda.
"Idiih, sombong Lo ya" cibir Imel sambil memilih pesanannya lagi.
"Gue bilang sekali-kali, jangan sering-sering," balas Dhyanda meluruskan.
"Ya, ya, paham gue. Lo nggak telepon suami Lo? tanya gitu, dia udah makan siang apa belom. Biar keliatan Lo ada perhatian gitu lho Dhy," goda Imel iseng lagi.
"Enggak, enggak! Dia bukan tipe orang yang bakalan seneng dapet perhatian pas lagi serius kerja. Dia itu sekarang profesional banget Mel. Lo tau sendiri kan reputasi O'Neill Grup kaya apa? Ah, itu yang kadang bikin gue be like banget sama dia, serius nih pacar gue the great Aldrick Adiguna Putra O'Neill?"
"Iya sih, kalo ada dua cowo model kaya dia gue mau satu. Dewasa dan gentleman banget. Lo mustinya bersyukur, dia udah baik dan tulus sama Lo dari dulu. Serius mau ngelindungin Lo ampe diem-diem nyari rumah kontrakan buat Lo dan Ibu Arumi,"
"Dan Lo ternyata ikut sekongkol sama dia," sela Dhyanda masih dongkol setelah tau kalau Imel tenyata tau masalah rumah kontrakan tersebut.
"Sorry," ucap Imel nyengir dengan muka sok polosnya. "Btw, cowo yang sering sama suami Lo yang mirip Li Xian itu siapanya ya? perasaan ngintilin terus dia," tanya Imel.
"Oh, Kak Vero mungkin, dia temen sekolahnya dulu yang sekarang jadi asistennya dikantor"
"Jadi namanya Vero", gumam Imel mengulangnya.
"Kenapa Lo tiba-tiba nanya soal Kak Vero? Ganteng karena mirip Li Xian idola Lo itu? jangan-jangan Lo suka ya?" cecar Dhyanda penuh selidik.
Imel tersipu malu, wajahnya memerah. ia mengalihkan pandangannya dari Dhyanda dengan pura-pura lagi melihat buku menu.
"Udah ah, lagian nggak pantes juga gue punya perasaan yang aneh-aneh ke dia. Gue mah apah atuh, cuma pelayan kafe biasa, bukan mahasiswi kaya Lo yang pantes dipacarin cowok-cowok model mereka," ungkap Imel jujur.
"Ih apaan sih, jelek banget pikiran Lo Mel" ujar Dhyanda, "Jadi beneran Lo suka sama Kak Vero? Casey lewat aja apa gimana nih?" tanya Dhyanda pada Imel yang suka berubah-ubah mengagumi seseorang.
"Ah, Casey... gue masih penasaran sih sama dia. Lo nggak pernah ketemu dia lagi btw?" tanya Imel. Dhyanda hanya menggeleng sebagai balasan. "Menurut Lo dia sama Pak Aldrick gantengan mana sih?"
Dhyanda mendengus, "Lo nanya gue yang jawabannya Lo sendiri udah tau," sahutnya. "Buruan pesen makanannya! gue ke toilet dulu", Dhyanda berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju toilet restoran.
.
BRUKK!
__ADS_1
"Aaa... maaf, maaf!" spontan Dhyanda saat tak sengaja menabrak seseorang dipintu toilet saat akan masuk.
"It's oke," kata perempuan cantik itu seraya memegangi pundaknya yang tadi tersenggol Dhyanda.
"Maaf, saya nggak tau anda akan keluar," kata Dhyanda.
Perempuan cantik yang tak lagi muda itu pun tersenyum dan mengangguk pelan.
"Udah, Ma?" seseorang datang dari koridor toilet for man, menghampiri Dhyanda dan perempuan itu didepan pintu toilet for ladies.
"Casey?" spontan Dhyanda mengenalinya.
"Dhyanda?"
Mereka saling berpandangan satu sama lain, tak percaya keduanya akan dipertemukan kembali didepan toilet sebuah restoran.
"Lo ngapain disini?" tanya Dhyanda konyol.
"Lo sendiri ngapain?" seseorang yang ternyata Casey itu malah balik bertanya.
"Ya makan lah, masa iya berobat" sahut Dhyanda.
"Nah itu tau jawabannya, pake nanya gue", gumam Casey. Dhyanda yang bisa mendengar gumaman Casey pun hanya memanyunkan bibirnya kesal. Gadis itu merasa sikap Casey terhadapnya selalu menyebalkan tiap kali bertemu, jelas sekali kalau Casey tidak menyukai dirinya.
Casey spontan melirik ke arah suara perempuan yang tengah berdiri memperhatikannya sedari tadi. "Bukan!" jawabnya cepat. "kita cuma kenal biasa," jelas Casey mempertegas.
Mendengar hal itu kening Dhyanda berkerut, ingin rasanya ia menyangkalnya, tapi untuk apa? toh memang mereka cuma kenal biasa itupun tidak disengaja. Meski sampai mati pun Dyanda tetap merasa berhutang budi pada Casey yang sudah menolongnya waktu itu.
Perempuan yang berdiri disamping Casey itu ternyata Mamanya, ia baru datang dari Jerman bersama suaminya untuk menjenguk Casey.
"Bagaimana kalau kita ajak sekalian temanmu ini makan siang bersama?"
"Ma!!" Casey mengedipkan matanya berkali-kali memberi kode pada Mamanya, tapi malah diabaikannya.
"Kamu mau kan?", tanya Mama Casey pada Dhyanda yang sedari tadi menatapnya bengong.
"Heuh?" Dhyanda terkesiap, "Hhmm, tante ini Mamanya Casey?" tanyanya ragu.
Perempuan itu mengangguk, "Saya Atreya, Mamanya Casey" ucapnya tersenyum ramah.
__ADS_1
"Come on, Ma! Kasian Daddy nunggu", Casey menarik tangan Mamanya dan pergi begitu saja meninggalkan Dhyanda yang masih berdiri kaku menatap wajah perempuan cantik yang mengaku ibunya Casey.
.
"Kamu ini ya, kenapa narik-narik Mama begitu? nggak sopan meninggalkan teman begitu saja tanpa pamitan lebih dulu," omel Atreya, setelah kembali ke meja yang sudah dipesannya di restoran tersebut.
"What happened?" tanya Lelaki yang duduk sedari tadi menunggu Istri dan Anaknya kembali dari toilet.
"Kamu tau, Matt? anakmu ini sudah bertindak tidak sopan pada seorang perempuan", Atreya mengadu pada suaminya, Matthew.
"What?" Matthew kini beralih pada Casey yang sudah kembali duduk manis dikursi sambil menyeruput minumannya. "Apa betul begitu?" pertanyaan itu kini ditujukan pada Casey.
Casey melepaskan sedotan yang menempel dibibirnya, "Aku sama dia nggak begitu dekat, tapi Mama bisa langsung gitu aja ngajak dia makan bareng sama kita," ucapnya membela diri.
"Keliatannya dia gadis yang baik. Entah kenapa aku ngerasa langsung dekat dengannya. Wajahnya terasa familiar. Apa dia teman kuliahmu? siapa namanya?" tanya Atreya jadi penasaran.
"Aku udah bilang Dhyanda bukan temanku, Ma. dia juga bukan teman kuliahku, kampus kita berbeda. Dia kuliah di Tunasjaya jurusan Manajemen,"
"Jadi namanya Dhyanda? kuliah di Tunasjaya jurusan Manajemen? kalau bukan teman kok kamu bisa hapal sejauh itu ya," kata Atreya tertawa kecil terkesan menggodanya.
"Ma!!", Casey tak sadar wajahnya menghangat. Atreya yang melihat mimik wajah anak sulungnya itu pun hanya tertawa.
"Siapa yang kalian bicarakan?" tanya Matthew mengerutkan dahinya bingung.
Casey terdiam, ia melanjutkan makan siangnya yang tadi sempat tertunda.
"Tadi aku bertemu dengan seorang gadis dipintu toilet. Ternyata dia temannya Casey, tadinya mau sekalian aku ajak makan siang bareng kita, tapi Casey menolaknya padahal gadis itu belum menjawab iya atau tidak, apa itu nggak sopan namanya?" ujar Atreya mencoba menjelaskan pada suaminya, Matthew.
"Nggak gitu Ma!" sanggah Casey, lalu pandangan matanya beralih pada dua gadis yang tengah duduk dimeja sebelah pojok sana, "Dhyanda kesini sama temannya, apa malah justru kita yang nggak sopan kalo mengajaknya makan?"
Atreya mengikuti arah mata Casey, dilihatnya Dhyanda dan Imel yang tengah mengobrol asik sambil menikmati makanan yang dipesannya.
"Kamu menyadari keberadaan mereka sebelumnya?" tanya Atreya tanpa mengindahkan pandangannya terhadap Dhyanda yang membuat perempuan itu begitu penasaran.
"Iya, aku sudah melihatnya sejak ia datang kemari," gumam Casey masih memandang Dhyanda dari kejauhan.
Kadang melihat dari jauh dan mengagumi diam-diam itu lebih menenangkan daripada dekat tapi aku tahu kamu nggak bisa jadi milikku.
.
__ADS_1
.
.