Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Yakin kan aku, Al!


__ADS_3

"Kamu tau Dhy, sebenarnya Mama udah dipihakku. Tapi Mama diam karena masih ngehormatin Papa," terang Aldrick begitu memahami sikap Kinara, sang Mama tadi yang cenderung tak banyak bicara, "Papa juga dulu nggak sekejam itu, dia emang tegas tapi sebenarnya hatinya hangat, entah apa kali ini yang membuat keinginannya begitu kuat untuk misahin kita. Aku rasa selain perjodohan itu, ada hal lainnya yang aku nggak tau," jelasnya lagi.


"Aku tau, Tante Kinara dari dulu emang baik banget dan peduli. Menurutku Om Aaron juga gitu, mereka bangga punya anak seperti kamu Kak. Karena itulah aku justru ngerasa jadi perempuan berkualitasmu yang berperan penting dalam ngerusak hubungan baik kalian," gumam Dhyanda mengungkapkan unek-uneknya.


"Lho, nggak gitu, Dhy" bantah Aldrick.


"Harapan mereka tinggi sama kamu, Kak. Tapi kamu justru bawa aku yang bahkan nggak ada dalam wishlist mereka, khususnya Papamu. Wajar kan Papa mu bersikap defensif ke aku?"


"Tapi nggak harus nyakitin perasaan kamu pake kata-kata yang ngerendahin dong, Dhy."


"Om Aaron nggak ngerendahin aku, Kak. Aku cukup tau diri, aku nggak mau ngerusak hubungan darah kalian," sambar Dhyanda.


"Sekali lagi aku tegesin sama kamu ya Dhyanda! kamu emang perempuan berkualitas, kamu mencakup semua wishlist perempuan idaman versiku, tapi kamu nggak ngerusak hubungan apa pun, oke?" kata Aldrick.


"Kamu yakin?" tanya Dhyanda.


"Of course, Persetan dengan kerjasama perjodohan itu. Aku pasti nemuin cara agar tidak merugikan perusahaan dari perjanjian bisnis itu tanpa harus ngelanjutin perjodohan," bisik Aldrick berusaha untuk membuat Dhyanda tak merasa bersalah karena masalah bisnis yang nanti akan dihadapinya.


Dhyanda lantas tersenyum, "Kamu punya pundakku buat berbagi beban, Kak" katanya tulus. Dia hanya ingin mulai sekarang Aldrick bisa lebih terbuka lagi apalagi menyangkut dengan perjodohan bisnis itu.


"Aku cuma butuh ciuman kamu. Kamu tau Dhy, akhir-akhir ini aku kena penyakit akut yang susah sekali obatnya," ucap Aldrick dengan senyum licik menggoda gadisnya.


"Sakit apa?" tanya Dhyanda curiga.


"Kecanduan bibir Dhyanda," jawab Aldrick sambil tertawa.


Reflek Dhyanda memukul dada Aldrick, lalu ikut tertawa. Sejenak mereka lupa bahwa hubungan mereka sedang diuji.

__ADS_1


Malam kian larut, mereka masih tetap terjaga dalam obrolan yang tak habis-habisnya. Aldrick duduk santai di sofa sambil menonton acara bola, sementara Dhyanda tiduran dipangkuan Aldrick sambil memainkan ponselnya.


"Tetep jaga hubungan baik sama Papa mu ya, Kak!" pinta Dhyanda.


"Aku juga nggak niat buat mutus hubungan sama dia, Dhy. Jangan khawatir berlebihan gitu ya?" jawab Aldrick, diusapnya kepala Dhyanda sayang, begitu menenangkan.


"Gimanapun, aku bakalan bertahan sama kamu, tapi enggak dengan cara bikin kamu jauh dari keluarga," kata Dhyanda. "Menyedihkan banget kalo harus kehilangan keluarga, aku nggak pengen kamu sepertiku." ucapnya lirih.


Aldrick tersenyum, "Kamu ternyata udah sedewasa ini, padahal inget banget dulu pas kamu SMA," ujarnya membayangkan gimana gadisnya itu dulu.


"Orangtuamu pasti udah kenal dekat dengan Annely ya makanya bisa menilai dia itu baik buat kamu, Kak?" tebak Dhyanda, "Emang Anelly itu cantik banget ya?" singgungnya.


Aldrick terdengar menghela napas, lantas ia mengangguk, mengiyakan. "Perempuan itu semuanya cantik, Dhy. Cantik itu relatif, dan menurutku kamu lebih cantik," jelasnya.


"Kalian akrab?" tanya Dhyanda lagi.


"Kalo mau dibilang aku nggak cemburu, kok rasanya maksa banget. Gimanapun perlakuan bucin kamu ke aku, tapi tau bahwa Annely lah yang dipilih keluarga mu, jujur aku sedih," lirih Dhyanda berubah murung. ia lalu bangun dari posisinya dan duduk berhadapan dengan Aldrick. "Salah nggak sih kalo aku ngerasa gitu?" tanyanya merasa insecure lagi.


Aldrick menangkap kedua pipi Dhyanda dengan tangannya, "Itu wajar, Dhy. Aku ngerti" ucapnya lalu mengecup sekilas bibir Dhyanda.


"Kenapa rasanya justru aku yang jadi orang ketiga di antara kamu sama Annely ya, Kak?" desis Dhyanda, pandangannya tak berpaling dari Aldrick.


"Aku sama sekali nggak ada perasaan sama Annely, Dhy. Dia itu calon yang dijodohin ke aku, tanpa sepengetahuanku. Kami bahkan nggak pernah terlibat interaksi berarti. Jadi jauhkan pikiran negatif kamu soal orang ketiga itu," terang Aldrick sabar. Meski sebenarnya ia senang Dhyanda cemburu padanya, tapi ia sedikit kesulitan juga saat harus meyakinkan gadisnya.


"Visiku soal hubungan kita udah jelas kan, nggak ada nama Annely didalamnya karena aku emang nggak pengen menghadirkan dia," Aldrick berucap mantap, tak ada keraguan sedikitpun.


"Tapi kalo kamu dipaksa nikah sama dia gimana? kamu dikurung dikamar dan nggak boleh keluar sebelum hari pernikahan kalian gimana tuh? aku kan nggak bisa ngapa-ngapain lho, Kak. Mungkin aku akan merasa sia-sia karena selama ini aku hanya jagain jodoh orang," ujar Dhyanda malah jadi berimajinasi.

__ADS_1


Aldrick malah tertawa, "Kita lagi ngomongin judul drama yang mana nih? Korea, China, apa sinetron Indonesia?" tantang Aldrick gemas.


"Aku serius ini, bukan bahas judul drama apa sinetron!"


"Yang bilang bercanda siapa coba? nggak bakalan kejadian begitu. Lagian aku hafal banget Papa sama Mama tuh karakternya seperti apa. Mereka nggak bakalan sampe bar-bar segitunya. Percaya suamimu ini deh, aku nggak bodoh, Dhy" ujar Aldrick gregetan dengan imajinasi Dhyanda yang berlebihan.


Wajah Dhyanda bersemu mendengar lelaki didepannya mengaku sebagai suaminya. Aldrick berhasil membalikkan keadaan. Gadis Aldrick ini menghindari pandangan Aldrick dengan meneliti ponselnya. Ternyata ada beberapa chat dari Imel yang belum sempat ia baca.


"Kak, besok rencananya aku mau nengok rumah kontrakan sama Imel, bersih-bersih sekalian nginep." kata Dhyanda kemudian.


"Kok tiba-tiba banget?" tanya Aldrick curiga.


"Imel yang ngajak, kita udah lama nggak punya waktu panjang buat ngobrol dan curhat bareng. Bolehkan?" rajuk Dhyanda.


"Nggak! aku nggak mungkin ngebiarin kalian nginep disana. Bagaimana kalo ada orang iseng yang jahatin kamu lagi? Aku nggak setuju," larang Aldrick.


"Tapi kan---"


"Aku bilang nggak, Dhy! kalo kalian butuh tempat dan waktu panjang buat curhat berdua, kenapa nggak ajak Imel nginep disini aja? biar nanti aku yang ngalah nginep dikantor," ujar Aldrick memotong kalimat gadisnya dengan memberi pilihan.


Dhyanda mendengus halus, percuma ngotot juga, toh Aldrick sudah pasti kali ini tak akan mempan dibujuk apa pun. "Oke, nanti aku ngomong Imel lagi. Aku mau tidur aja sekarang, ngantuk," Dhyanda beranjak pergi menuju kamarnya. Sementara Aldrick masih betah menonton acara bolanya padahal jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.


.


.


.

__ADS_1


Udah Senin lagi nih, bantu like and Vote-nya ya 🤗🥰


__ADS_2