
Hari-hari pun berlalu, tak terasa tiga hari lagi pentas seni di sekolah Dhyanda akan digelar. Gadis itu nampak sibuk, apalagi dia juga terpilih sebagai salah satu panitia penyelenggara pensi tersebut.
Sore itu sepulang sekolah, Dhyanda diantar Imel pergi ke pusat pembelanjaan untuk membeli beberapa perlengkapan untuk acara disekolahnya tersebut.
"Udah bereskan? pulang yukk!!" ajak Imel yang sudah merasa lelah karena sedari tadi menemani Dhyanda membeli berbagai kebutuhan untuk melengkapi acara pensi.
"Kayanya sih udah beres. Ayo, gue juga udah laper nih" sahut Dhyanda seraya memegangi perutnya yang rata, lalu melirik ke arah food court, disana ia melihat beberapa remaja seumurannya tengah menikmati steak ayam yang dilapisi dengan adonan tepung yang renyah, ditemani kentang goreng dan aneka sayuran diatas hot plate. hhmm... yummy!! Dhyanda dan Imel hanya bisa menelan salivanya masing-masing.
"Udah Dhy, makanan dirumah jauh lebih enak dari yang itu" ujar Imel lalu menarik tangan Dhyanda dengan cepat, agar segera menjauh dari tempat yang membuat keduanya malah berkecil hati. Tapi tarikan tangan Imel terlalu kencang hingga membuat Dhyanda sedikit terpelanting dan,
BRUKK!!
Diandra menabrak seseorang yang tengah berdiri sendirian didekat eskalator menuju lantai bawah, untung saja orang itu dengan cepat menahan tubuh Dhyanda hingga keduanya terlihat sedang berpelukan, dan Dhyanda tidak sampai terjatuh ke eskalator tersebut.
"Aahhgg..." pekik Dhyanda kaget, selepas itu dia segera membenahi posisi tubuhnya kembali.
"Lo gak apa-apa, Dhy? sorry gue gak sengaja..." ucap Imel hampir shock karena dipikirnya Dhyanda akan jatuh ke eskalator.
"Gue gak apa-apa" sahut Dhyanda masih memegangi dadanya karena masih kaget dan sedikit gemetaran.
"Kannst du beim gehen vorsichtig sein?"
(bisakah anda hati-hati kalau berjalan?) ujar lelaki itu seraya melotot ke arah Dhyanda.
Dhyanda mengernyit, tapi sesaat kemudian dia mengatupkan kedua telapak tangan didepan dadanya, "tut mir leid" (saya minta maaf) ujar Dhyanda reflek.
Lelaki itu hanya diam saja, ia tak merespon permintaan maaf Dhyanda.
"Lo ngomong apaan sih, Dhy? itu bukan bahasa Inggris kan?" Imel menyikut lengan Dhyanda. Dan gadis itu hanya mengangkat bahunya tanpa menjawab pertanyaan Imel.
Pandangan Dhyanda masih tertuju pada lelaki yang barusan menolongnya. lelaki itu nampaknya tengah kebingungan.
"Kann ich irgendetwas helfen?" (ada yang bisa saya bantu?) kata Dhyanda mencoba berkomunikasi dengan orang itu. Mungkin dia tersesat atau tidak tau jalan keluar, pikir Dhyanda.
"Hhmm...Ich suche eine Toilette" (saya mencari toilet disekitar sini), ujarnya seraya mengedarkan pandangannya.
"Ooh, die toilette ist da druben" (toiletnya ada disebelah sana), kata Dhyanda menunjuk kearah pojok sebelah kanan.
"Oh, oke terimakasih, dari tadi saya mencarinya" ujar lelaki itu, lalu main nyelonong pergi begitu saja tanpa berpamitan. Sepertinya orang itu memang sudah kebelet ingin ke toilet.
"Eh, sialan! ngomong dong kalau bisa bahasa Indonesia" gerutu Dhyanda dan sukses membuat Imel yang disebelahnya itu jadi ngakak tak tertahankan.
__ADS_1
"hahaha... abis nya Lo belagu sih, Dhy. Pake gaya-gayaan segala ngomong Perancis, ternyata doi bisa indo juga kan" ledek Imel masih tak meninggalkan tawanya.
"Sotoy Lo, Mel. Jerman kali, bukan Perancis" ujar Dhyanda balas meledek.
"Oh, salah ya? tapi kok Lo bisa bahasa Jerman, belajar dimana?" tanya Imel jadi penasaran.
"Gak tau tuh, tiba-tiba bisa aja gitu, kayanya bawaan lahir deh" sahut Dhyanda asal.
Ha...ha...ha... kedua kembali tertawa, mengiringi kepergian mereka meninggalkan pusat pembelanjaan tersebut.
***
Sesampainya didepan gang masuk menuju rumahnya, Dhyanda nampak mengerutkan dahi saat melihat sebuah mobil yang tak asing lagi terparkir disana.
Inikan mobilnya Pak Aldrick? kok disini? ngapain lagi dia kemari? Haishh...pede banget gue, kali aja Pak Aldrick memang lagi ada urusan didaerah sini. Inikan jalan umum, bukan halaman rumah gue.
Batin Dhyanda merasa geli sendiri karena kepedean. Gadis itu dengan tergesa-gesa segera berjalan kerumahnya. ia ingin memastikan kalau dirumahnya tidak ada tamu siapa pun.
Dhyanda menepuk jidatnya sendiri saat melihat pintu rumahnya terbuka lebar dan sayup-sayup ada suara-suara asing yang tengah berbincang selain suara ibu Arumi.
"Fix, Guru si tebar pesona itu ada disini, dirumah gue. Mau apa sih dia? tebar pesona sama ibu juga?" gumam Dhyanda sedikit menggerutu.
Dhyanda tidak langsung menjawab semua pertanyaan Arumi, Ia masih terkesiap saat melihat Aldrick dan Kinara ada dirumahnya.
"Dhyanda!" sentak Arumi mengagetkan gadis itu seketika.
"Oh, iya ibu... Aku kan pagi tadi sudah ijin mau membeli perlengkapan pentas seni bersama Imel. Ibu lupa?" ujar Dhyanda sambil menunjukan beberapa kantong kresek besar yang ia tenteng
Arumi menepuk jidatnya, "Ah iya ibu lupa. tapi kenapa tadi ibu telpon gak aktif?"
"hpnya lowbat, Bu. jadi pas di mall tadi mati" ujar Dhyanda, lalu pandangannya beralih kepada Kinara.
"Eh, ada Tante Kinara" sapa Dhyanda mendekati lalu menciumi punggung tangannya. "Tante udah lama disini?" tanya Dhyanda kemudian.
"Enggak juga, tadi Tante sama Aldrick abis dari toko kue langganan kami yang diperempatan jalan sana, eh saat melewati gang Flamboyan tiba-tiba ingat sama kamu, sekalian aja mampir" ujar Kinara tersenyum lembut.
"Ooh, begitu" sahut Dhyanda.
"Oiya, Tante beliin kamu Muffin Coklat, kamu suka kan?" ucap Kinara sambil memberikan satu Muffin coklat dari kotaknya yang sebelumnya disimpan diatas meja.
Dengan senang hati Dhyanda menerima kue itu dengan matanya yang berbinar, "kok Tante tau sih kalau aku suka muffin cokelat?"
__ADS_1
"Tante tau dari Aldrick, katanya kamu suka dengan muffin cokelat"
Hah? Dhyanda langsung melirik ke arah Aldrick.
'Uhuk...uhuk...' Aldrick tiba-tiba saja tersedak tanpa sebab, reflek ia meminum teh manis yang sudah disuguhkan Arumi sebelumnya.
"Kamu kenapa, Al?" tanya Kinara seraya menepuk lembut punggung Aldrick.
"Ehem..." Aldrick berdehem, menjernihkan tenggorokannya yang serasa menelan biji kedondong. Tercekat dan seperti ada yang menyangkut didalamnya. "Gak apa-apa, Ma. Hanya tersedak biasa" ucap Aldrick kemudian.
Aneh nih, kok Pak Aldrick bisa tau sih kalau gue suka muffin cokelat? batin Dhyanda.
"Jangan salah paham dulu, aku sebetulnya gak tau kalau kamu suka kue itu. Hanya saja aku pernah melihat kamu sama pacar kamu sedang makan muffin cokelat dikantin sekolah" ujar Aldrick seolah bisa mendengar kata hati Dhyanda.
"Pacar? kamu punya pacar, Dhy?" cerca Arumi melotot ke arah Dhyanda. Tatapannya penuh selidik dan mengintimidasi.
"Ih apaan sih, aku gak punya pacar kok. Jangan percaya, Bu!! Pak Aldrick itu salah kira, mungkin maksudnya Pak Aldrick itu Gio, soalnya kemarin-kemarin aku pernah makan Muffin bareng dia dikantin" jelas Dhyanda melakukan pembelaan.
"Oh, Gio... itu mah temen Dhyanda dari SMP, Nak Aldrick" ucap Arumi meluruskan kesalahpahaman ini.
"Dhy, gak apa-apa kan kalau Tante sering main kemari?" ucap Kinara tiba-tiba.
"Oh, ya gak apa-apa dong, Tan. tapi ya begini rumah kami, kecil, berantakan dan harus melalui selokan dulu yang sangat bau. Bahkan ada orang yang bilang aku ini cewe yang gak penting malah" ujar Dhyanda sambil melirik ke arah Aldrick. Maksudnya untuk menyindirnya perkataan Aldrick padanya tempo hari.
Mendengar itu Aldrick dengan susah menelan salivanya, sialan!! dia masih mengingatnya juga.
"Terimakasih, Dhyanda. Tante senang sekali kalau kamu memperbolehkan Tante main kemari. Sejak anak perempuan Tante meneruskan kuliah di London, Tante jadi kesepian, gak punya temen ngobrol. Hanya Aldrick dan suami Tante, mereka kan laki-laki, kadang tidak bisa paham mengenai hati perempuan" ujar Kinara dari hati.
"Iya Tante, aku dan ibu akan selalu menerima Tante disini, rumah kecil kami selalu terbuka untuk Tante kapan saja main kemari. Iya kan, Bu?" ujar Dhyanda.
"Iya, Bu Kinara. Saya justru senang jika ibu dan nak Aldrick sering main kemari. Saya berasa punya sodara" sahut Arumi.
Dhyanda tersenyum hangat saat menatap Kinara dan Arumi secara bergantian. Entah kenapa Dhyanda merasa cocok dengan Kinara, dan kini ia merasa memiliki dua orang ibu.
.
.
.
Jangan lupa like, comen, and votenya ya 🤗
__ADS_1