
Sesampainya dirumah, Aldrick dan Dhyanda merebahkan dirinya diatas tempat tidur yang sama. Dhyanda yang awalnya tadi dijalan mengantuk sekarang sudah tidak lagi.
“Tidurlah, nanti aku bangunin sejam sebelum kamu berangkat ke kampus” kata Aldrick.
Dhyanda mengangguk tersenyum, dipeluknya pinggang Aldrick dari samping. Ia gunakan lengan kokoh Aldrick sebagai bantal dan dikecupnya mesra rahang seksi lelakinya.
“Kamu juga tidur Kak, setiap hari jam tidurmu kurang banget, dan itu bisa memperburuk kesehatanmu lho,” tegur Dhyanda.
“Tapi aku nggak ngantuk Dhy,” balas Aldrick.
“Apa karena ada aku disamping kamu? Jangan bilang pikiranmu lagi mesum ya kak”, bisik Dhyanda menggodanya dengan mendekati telinga Aldrick nakal.
Aldrick tak menjawab, ditatapnya wajah cantik Dhyanda yang juga balas menatapnya. Dorongan itu semakin kuat menderanya. Hasrat yang ia lawan sekuat tenaga demi menjaga dan melindungi Dhyanda seakan mencapai puncaknya. Bagaimana jika malam ini juga ia meniduri gadisnya?
“Kamu capek, apa perlu aku pijitin?” goda Dhyanda iseng.
“Kamu sendiri yang udah maksa aku jadi berpikiran seperti itu ya Dhy!” suara Aldrick terdengar parau, mati-matian bertahan agar tidak menyerang Dhyanda yang terkesan tengah menggodanya.
“Ah masa?” ujar Dhyanda seolah terkesan menantang, “Pacar malaikatku ini bisa ngapain sih?” tambahnya seraya menarik turunkan kedua alisnya berirama.
Aldrick melepas pelukannya, ditatapnya Dhyanda dengan sorot nakal. Sebagai seorang lelaki normal yang memiliki kecerdasan emosional yang diatas rata-rata, jiwa Aldrick tertantang. “Jangan nyesel kalo aku beneran jadi jahat malam ini,” gumam Aldrick seakan meminta persetujuan Dhyanda.
“Serius Kak, kamu mau jahatin aku?” Dhyanda mengulum senyum, hatinya masih yakin kalau Aldrick tak akan sampai hati melakukan itu padanya.
“Kamu yang nantang ya Dhy! siap-siap aja,” geram Aldrick tak tahan dan siap menerkam Dhyanda saat itu juga.
Dhyanda memekik kecil, dibiarkannya Aldrick membenamkan wajahnya diceruk lehernya.
“Al!” desah Dhyanda sangat lirih, diremasnya rambut Aldrick agar lelakinya berhenti.
“Hem?” Aldrick mendongak tak sabar.
“Apa ini yang pertama kalinya juga buat kamu?” tanya Dhyanda konyol.
“Perlu dijawab sekarang? Nanggung lho ini,” gemas Aldrick geregetan.
“Perlu lah, biar aku tau siapa aja yang pernah kamu sentuh selain aku,” kata Dhyanda.
__ADS_1
Aldrick meraup wajahnya lalu menegakkan punggung. Ia berguling ke sisi Dhyanda, terlentang disamping gadisnya. Tidak perlu buru-buru, lagipula ia tak ingin membuat Dhyanda menyesal karena perlakuannya yang bar bar.
“Aku nggak sempet main perempuan Dhy. Di SMA aku bahkan dikenal sebagai kulkas karena nggak ada satupun cewe yang bisa deketin aku,” ujar Aldrick jujur.
“Kenapa gitu? Kamu cupu banget kayanya ya?” tebak Dhyanda sembarangan.
“Semua cewe takut saking kayanya keluargaku dan saking dinginnya aku,” Aldrick tertawa mengenang masa lalu.
“Bukannya kalo kamu kaya bisa gampang dapetin cewe tipe apa pun?”
Aldrick menggeleng, “Itu berlaku di sinetron dimana cowo kaya dikejar sama cewe matre,” urainya geli.
“Tapi masa sih nggak ada satu pun gitu? Dhyanda masih penasaran.
“Aku pernah deket dengan seseorang pas kuliah dulu. Sayangnya dia malah menyukai Casey dan mengejarnya sampe ke Berlin. Dia lebih suka daun muda,” ujar Aldrick.
“Oya? Kok bisa suka sama Casey? Berarti cewe kamu dulu nggak konsisten sama perasaannya tuh”
“Perasaan seseorang bisa berubah Dhy, dan itu yang aku takutkan dari kamu. Aku takut pesona Casey bisa meluluhkan hatimu hingga lupa sama aku,”
Dhyanda mengelus dada Aldrick lembut, “Aku nggak gitu. Aku hanya menganggap Casey layaknya temen biasa. Casey udah nolong aku waktu itu, dan aku utang budi padanya. Terlepas dari itu, Casey sepupu kamu,” terang Dhyanda, berharap Aldrick tidak salah paham lagi dengan hubungan dirinya dan Casey.
“Bercinta,” sahut Dhyanda asal. "Nggak ngapa-ngapain kali, masakin air minumnya dulu soalnya dia kehausan dan air galonnya kosong," ralatnya mengatakan yang sebenarnya.
“Beneran itu?” Aldrick menggertakkan rahang tegasnya. Dhyanda malah tertawa. “Aku nggak terima ya, nakal kamu sekarang,” Aldrick tau kalau Dhyanda hanya bergurau. Dia percaya gadisnya itu bukan perempuan sembarangan.
“Trus cewe itu kemana? Masih sama Casey?” tanya Dhyanda masih penasaran dengan cerita perempuan dimasa lalunya Aldrick.
"Emh, ngeles kamu ya," Aldrick menoyor kepala Dhyanda. “Setaun jalan sama Casey di Berlin, ia kembali ke Jakarta. Ia kembali mengatakan cintanya padaku saat kondisinya sudah memburuk,” kenang Aldrick. Kini matanya yang mulai mengembun.
“What? Maksudnya gimana?” Dhyanda terkesiap begitu penasaran.
“Dia terkena Cancer stadium akhir. Aku yang menemaninya sampai ia tiada, dan aku juga yang akhirnya terpuruk karena kepergiannya,” ucap Aldrick seraya menatap kosong langit-langit kamarnya. Sebetulnya ia tak ingin mengungkitnya lagi, tapi ada baiknya Dhyanda juga perlu tau kisah cinta masa lalunya.
Dhyanda menarik paksa kepala Aldrick agar menoleh kearahnya, ia tidak ingin membuat lelakinya kembali mengingat masa lalunya yang menyedihkan. “Ternyata wajah sama mulut kamu aja yang dingin dan sinis Kak, sebenarnya hati kamu baik,” lirih Dhyanda mengedipkan sebelah matanya genit.
Aldrick kembali tersenyum, “Aku nggak akan kasih ampun sama kamu malam ini ya!!” ancamnya kembali gemas, mengacak-acak rambut Dhyanda hingga kusut tak beraturan.
__ADS_1
Malam yang manis masih berlanjut, mereka saling bercerita, mulai saling terbuka lagi sedikit demi sedikit. Dhyanda bisa membaca tentang hidup lelaki tercintanya.
.
Dhyanda tersipu malu saat Aldrick menatapnya bernafsu. Beberapa kali ia menolak dicium, menambah kegemasan Aldrick terhadapnya.
“Mau apa enggak?” goda Aldrick menggesekkan hidungnya ke hidung mancung Dhyanda.
“Jangan gitu, aku malu Kak,” lirih Dhyanda memalingkan wajahnya.
“Kita lanjut tidur apa ngobrol ampe pagi biar kamu rileks?” tawar Aldrick maklum. Dirinya sendiri juga gugup sebenarnya, tapi desakan di dalam tubuhnya lebih besar dari rasa gugup yang timbul.
“Seandainya nggak jadi pun, nggak apa-apa kan?”
“Aku nggak maksa kamu Dhy, kita bisa ngobrol atau main game sampe pagi kalo kamu emang nggak ngantuk” ajak Aldrick pengertian.
Dhyanda tersenyum lega. Ia tidak siap melakukannya, tidak untuk saat ini apalagi benar-benar harus melepas keperawanannya. Bersyukur Aldrick mau mengerti dan tidak memaksanya. Di saat Belina bahkan menyarankan untuk mengatasi semua masalah dengan bercinta, Dhyanda merasa Aldrick masih bisa ia bujuk hanya dengan rayuan biasa. Nyatanya Aldrick tidak memaksanya, mereka hanya akan menghabiskan sisa malam ini dengan bercerita panjang lebar.
“I'm sorry,” sesal Dhyanda tak ingin Aldrick kecewa.
“Kenapa minta maaf? Aku nggak marah Dhy,” ujar Aldrick lembut.
Dhyanda mengangguk dengan senyum bahagianya, “Kamu denger suara hujan nggak?” tanyanya sumringah.
Aldrick terdiam sejenak, ikut mendengar suara samar diluar. Bukannya pergi melihat lewat jendela, Aldrick malah memeluk pinggang Dhyanda, menyusup dengan nyaman didada gadisnya.
“Menjelang pagi kok hujan, ini mah bikin semua orang malas bangun dong ya,” celetuk Dhyanda.
“Kalo gitu kita bobo aja yuk! Enak nih bisa meluk kamu kaya gini,” gumam Aldrick.
Dhyanda memukul lengan Aldrick pelan, merasa malu karena perlakuan manis Aldrick padanya. Belina tidak sepenuhnya salah, buktinya tanpa harus bercinta, Dhyanda dan Aldrick bisa kembali berbaikan.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen and Vote-nya ya say 🤗