Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Tentang lingerie


__ADS_3

Keesokan harinya Aldrick dan Dhyanda mendatangi butik baju pengantin yang sudah dipesankan Kinara. Untuk urusan pernikahan mereka, Kinara dan Atreya lah yang sibuk mengurus segala sesuatunya. Waktunya terlalu singkat, dan Aldrick tidak menginginkan pesta pernikahan yang megah. Cukup dihadiri keluarga terdekat dan beberapa kolega saja yang diundangnya.


Setelah selesai fitting baju pengantin, Dhyanda mengajak Aldrick ke sebuah toko khusus pakaian dalam dan pakaian tidur wanita. Awalnya Dhyanda enggan mengajak Aldrick, tapi berhubung Imel sibuk dan tidak bisa mengantar, akhirnya sekalian saja mumpung Aldrick hari ini tidak pergi ke kantor.


Aldrick duduk dikursi tunggu masih dengan tatapan tak lepas dari ponselnya. Ia sengaja meminta Vero untuk tidak mengganggunya seharian ini demi kelancaran pernikahannya nanti dan demi bisa menemani Dhyanda membeli kebutuhannya menikah nanti. Semua pekerjaan sudah ia tuntaskan semalam, termasuk janji dan kesepakatan kerja untuk dua hari ke depan.


"Yang merk ini lebih cenderung nyaman untuk dipakai tidur, kak" ucap penjaga toko menyadarkan Dhyanda yang tengah melamun menatap Aldrick. Ia bingung harus memilih model yang mana. Ingin minta pendapat Aldrick tapi kok canggung rasanya.


"Ah iya," jawab Dhyanda tersenyum, "Saya nyari yang model biasa aja tapi nyaman dipake. Kalo ini terlalu terbuka deh Mbak," balasnya.


Aldrick spontan menoleh pada lingerie yang dibawa penjaga toko tersebut. "Ini bagus, aku suka modelnya," ucap Aldrick terang-terangan hingga membuat Dhyanda jadi salah tingkah. Begitu juga dengan si Mbak pelayan toko yang sudah tersenyum-senyum sendiri entah apa maksudnya.


"Yang ini aja Mbak, bungkus untuknya!" pinta Aldrick lagi yang langsung mendapat sikutan dan lirikan tajam dari Dhyanda. "Aku suka yang ini lho Dhy," tegasnya lagi.


"Ya udah kalo gitu kamu aja yang pake!" balas Dhyanda.


"Kok Aku? kamu dong, sugar" balas Aldrick berbisik menggodanya.


Dhyanda menghela napas tanda mengalah, lagipula kalo terus berdebat kasihan juga dengan si Mbak pelayan toko harus berlama-lama menyaksikan perdebatan keduanya.


"Oke, saya ambil yang model ini, tapi cari yang warnanya soft aja Mbak, jangan yang mencolok gini," pinta Dhyanda lagi, ia melirik Aldrick, dan lelaki itu kali ini mengangguk setuju.


"Baik, saya pilihkan beberapa ya Kak, silahkan dipilih warna yang cocok," kata sang penjaga toko seraya menyerahkan beberapa lingerie model yang sama dengan warna yang berbeda.


"Kayanya yang ini deh Mbak," tunjuk Dhyanda pada lingerie berwarna coklat susu, cocok sekali dengan kulit Dhyanda yang putih mulus.


"Baik Kak, saya bungkus. Barangkali mau liat model yang lain?" tanya penjaga toko ramah, berharap pelanggannya ini membeli lebih dari satu.


"Yang ini, ini, dan ini sekalian ya Mbak" tunjuk Aldrick tiba-tiba pada lingerie lainnya yang terpajang didepannya. Lingerie dengan model dan warna berbeda yang dipilih Aldrick.

__ADS_1


Penjaga toko itu dengan semangat mengambilkan lingerie yang barusan ditunjuk Aldrick. "Bungkus ya kak?" ujarnya.


"Eh, apaan? kebanyakan lho ini, emang aku seharian mau pake baju ginian terus apa?" protes Dhyanda.


Aldrick menyeringai, "Setelah kita nikah kamu harus sering-sering pake ginian dirumah," bisiknya.


"Ya?" Dhyanda kaget. Menolak pun rasanya sudah malas, "Oke lah, bungkus aja semua mbak!" ucapnya kemudian pasrah.


"Siap. Ada lagi? Mumpung punya pacar yang baik banget gitu Kak. Jarang lho ada yang mau nganter ceweknya milih lingerie, biasanya mereka sok jaim gitu padahal doyan kalo pas lagi kencan," ucap penjaga toko setengah berbisik pada Dhyanda. Untungnya kali ini Aldrick sedang tak fokus karena bersamaan ada pesan masuk dari Vero. Lelaki itu kini sedang berbalas pesan dengan Vero tentang urusan pekerjaan di kantor.


"Ah," Dhyanda tercekat, "Dia emang pacar saya, tapi Minggu depan kami mau menikah. Kalo nikahnya masih lama nggak bakalan aku beli pakaian gini Mbak. Ini persiapan setelah sah jadi suami istri," balasnya seraya tersenyum.


"Wah, kali gitu selamat ya Kak. Semoga acaranya lancar, dan bahagia selamanya sampe kakek nenek," ucap penjaga toko itu ikut senang. "Aku bungkus semua ya Kak. Untuk pembayarannya bisa langsung ke kasir," lanjutnya.


Sementara Dhyanda yang mendengar kata kasir disebutkan meringis frustasi. Dhyanda hanya membawa beberapa lembar uang yang hanya cukup untuk beli satu lingerie. Jadi malah beli lebih dari satu, bagaimana ini? Canggung sebenarnya jika ia harus meminta uang pada Aldrick, apalagi untuk sekedar membeli lingerie. Namun bagaimana lagu, walau bagaimanapun Aldrick yang memilihkan 3 lingerie lainnya, berarti dia yang harus membayarnya.


"Kak, udah," tegur Dhyanda membuat Aldrick mengangguk dan mengalihkan pandangannya dari layar ponsel sekejap.


"Pake ini," ujar Aldrick menyerahkan satu kartu mirip ATM berwarna gold pada Dhyanda. Sebuah gold card yang hanya dimiliki oleh member eksklusif, kartu sakti, begitu orang awam menyebutnya, karena bisa digunakan untuk transaksi apa pun tanpa batasan limit.


"Sama kamu aja Kak, aku---"


"Udah kamu aja, passwordnya 150506. Aku mau nelpon Ver---"


"Kak!" Dhyanda memotong ucapan Aldrick cepat, "Bukannya nggak boleh ada orang yang tau passwordnya? itu rahasia kan?" tambahnya belum mau menerima kartu gold yang Aldrick ulurkan.


"Kenapa? kamu istri aku lho, lagian kamu udah bisa pake kartu itu semaumu," jawab Aldrick sangat enteng.


"Nggak mau ah, takut salah password," tolak Dhyanda.

__ADS_1


Aldrick menghela napasnya, "Kamu tuh ya," gerutunya lantas berdiri dan berjalan menuju kasir, "Ya udah aku yang bayar!" ucapnya bernada kesal. Sepertinya ada sedikit masalah dikantor yang membuat mood Aldrick sedikit turun tiba-tiba.


"Harusnya bersyukur tuh karena aku nggak nyabotase informasi pribadinya, kenapa malah ngambek!" kritik Dhyanda sambil menyusul Aldrick ke kasir.


"Udah? ada yang bau dibeli lagi?" tanya Aldrick menoleh Dhyanda.


"Udah itu aja," jawab Dhyanda.


"Seleramu luar biasa ya, Dhy" Aldrick kembali tersenyum menyeringai.


"Hinaan apa pujian nih?" tanya Dhyanda balik, ia mencium nada suara yang mencurigakan.


"Maunya apa?" balas Aldrick malah balik bertanya, lalu memberikan barang yang sudah dibayarnya pada Dhyanda, lantas berjalan menelusuri para lingerie yang berjejer rapi dipajangan.


"Kak Al juga mau make? mau pilih yang mana? gantian aku pilihan ya," goda Dhyanda seraya melingkarkan tangannya dilengan lelakinya itu.


"Are you mad? aku hanya nggak sabar aja nunggu hari itu tiba," bisik Aldrick mendekati telinga Dhyanda, balas menggodanya.


"Ih, udah mesum aja pikirannya," balas Dhyanda tertawa. Mereka pun keluar dari toko itu.


"Kemana lagi kita?" tanya Dhyanda.


"Makan siang," ucap Aldrick irit sekali.


Keduanya kini menuju tempat makan langganan Aldrick. Seharian ini mereka menghabiskan waktu bersama sekalian membeli beberapa keperluan Dhyanda sesuai yang disuruh ibu Arumi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2