
- Aku nggak apa-apa, besok aja ketemunya. Mending Kak Al istirahat aja, pasti cape kan baru balik dari Singapore - ucap Dhyanda diseberang sana dengan suara ceria seperti ciri khasnya.
"Oke, besok aku kerumah" sahut Aldrick tak lama kemudian mengakhiri obrolannya dengan Dhyanda via telpon.
Lelaki itu hendak membersihkan diri saat tiba-tiba Casey masuk begitu saja ke dalam kamarnya.
"Lo tuh kebiasaan banget ya masuk kamar nggak pake permisi!" ujar Aldrick kesal.
"Sorry, tapi ini urgent. Gue disuruh Om Aaron manggil Lo ke ruang kerjanya. Penting!" kata Casey masih berdiri diambang pintu.
"Mau mandi dulu! gak liat apa gue baru nyampe" sahut Aldrick hendak menuju kamar mandi.
"Bang! Dia lagi bad mood, dan Lo musti buru-buru turun," saran Casey dengan tatapan serius.
Aldrick hanya bisa menghembuskan napasnya. Ia tau betul dengan tabiat Papa Aaron yang tidak bisa menunggu, apalagi tadi Casey bilang Aaron sedang badmood. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mandi dan memilih menuruti perkataan Casey.
Diruang kerja pribadi nampak Aaron tengah duduk disofa sambil membaca sebuah buku ditangannya. Kaca mata baca berbingkai persegi melekat di hidung mancung pemiliknya.
Aldrick duduk disebelahnya tanpa berkata, kedua kaki saling bertumpang dengan kedua tangan melipat didepan dada.
"Tuan Lois minta kamu yang menghandle proyek city aldgate di London" gumam Aaron tanpa mengindahkan tatapannya ke buku yang tengah ia baca tersebut.
"Aku?" tunjuk Ardrick ke dirinya sendiri, "bukannya Om Marshall?" ujarnya sambil memiringkan kepala menatap Aaron yang masih asik membaca buku.
"Dia minta kamu yang disana, bukan Marshall. Lagipula Marshall mana mau jauh dari anak istrinya untuk waktu yang lama", ujar Aaron akhirnya menutup buku yang dibacanya dan menatap putranya serius..
"Tapi----"
"Siapa yang mengijinkan orang asing tinggal di perumahan karyawan perusahaan?", potong Aaron mengubah topik pembicaraan. Kali ini sukses membuat Aldrick memutar kedua bola matanya bingung mencari alasan. Aldrick tidak menyangka sang Papa bisa dengan cepat mengetahuinya. "kamu nggak bisa seenaknya make rumah itu apalagi buat orang lain yang bukan karyawan kantor" lugasnya.
"She is not a stranger! she is my girlfriend..." tegas Aldrick menekan suaranya, kembali menegaskan pada Aaron kalau Dhyanda adalah kekasihnya.
Aaron memejamkan matanya sambil menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya, "Besok lusa kamu berangkat ke London!"
"What?" desis Aldrick lebih ke arah nada dan raut kecewa. Ia sudah tidak kaget lagi dengan keputusan Aaron yang tiba-tiba seperti itu tanpa mengenal kata berunding.
"Fine! you win", kesal Aldrick setelah cukup lama keduanya berdebat dan membahas masalah ini.
***
__ADS_1
Keesokan harinya sampai dirumah kontrakan, Aldrick dengan cekatan menurunkan beberapa kantung belanjaan titipan Ibu Arumi dari kursi belakang mobilnya. Senja hampir kembali ke peraduan, semburat jingganya memanjakan mata. Siluet Aldrick yang begitu maskulin dengan postur tubuh proposional menggoda itu benar-benar membuat Dhyanda terpesona, apalagi rasa rindu yang tengah membelenggu setelah beberapa hari tidak bertemu membuat gadis itu semakin menggilai sosok dan hatinya seorang Aldrick.
"Not bad, lingkungannya nyaman" ucap Aldrick mengitarkan pandangannya ke sekeliling, kedua tangannya menenteng dua kantung belanjaan.
"Iya kak. Aku dan ibu dapet harga murah tiap bulannya. Gak nyangka ada rumah sebagus ini dibanderol dengan biaya sewa yang terjun bebas" ucap Dhyanda yang menenteng satu kantung kecil belanjaannya dan mulai berjalan menuju teras rumah.
Aldrick menanggapinya dengan senyuman, ia sejenak mendongak "Kayaknya bakalan ujan deres nih tar malam," gumam Aldrick lalu menyusul Dhyanda naik ke teras, dilangit utara mendung tebal memang sudah menggantung.
"Oh shit! hp gue keting---"
Dhyanda tertegun. Ia merutuki dirinya sendiri karena berbalik tanpa aba-aba dan menabrak dada Aldrick yang ada dibelakangnya. Wangi maskulin itu kembali menguar. Jantung Dhyanda tiba-tiba berdegup begitu kencang. Ini bukan pertama kalinya mereka posisi berpelukan begitu. Tapi entah kenapa Dhyanda merasa momen ini tidak akan ia rasakan lagi.
"Biar aku yang ambil," ucap Aldrick lalu menyerahkan kantung belanjaan ditangannya pada Dhyanda.
Dhyanda mengangguk pelan, tapi tak segera bergerak. Ia masih berusaha menata hatinya. Aldrick benar-benar sudah membuatnya jatuh hati. Untuk pertama kalinya Dhyanda mengenal cinta pertama. Cinta yang murni, sederhana dan tanpa paksaan.
"Terimakasih nak Aldrick udah anter Dhyanda beli kebutuhan sehari-hari dipasar", kata Ibu Arumi sambil membawakan teh manis hangat dan makanan ringan untuk Aldrick sebagai ucapan terimakasih.
"kita gak ke pasar Bu, jadinya tadi ke supermarket. Trus duitnya kurang, jadi gak semua yang ibu catet aku beli" gumam Dhyanda pada Ibunya.
"Lho, kenapa gak ke pasar? kan harganya bisa ditawar", protes Bu Arumi.
Dhyanda sekilas melirik Aldrick, "tadi sekalian ke toko buku, biar gak bolak balik" tukasnya. Sementara dihadapannya Aldrick tengah susah payah menelan salivanya. Lelaki itu tidak mau diajak Dhyanda ke pasar apalagi harus berdesakan didalam.
Aldrick hanya mengangguk sungkan. Ditengah hujan-hujan begini memang paling pas minum teh manis hangat sambil ngemil pisang goreng kipas buatan Ibu Arumi.
"Hmm, Dhy..." gumam Aldrick memanggil Dhyanda ragu selepas Ibu Arumi pergi ke kamarnya. Membiarkan dua anak manusia ini duduk berdua diteras rumah menikmati gemericik hujan. "besok sore aku ke London. Papa minta aku yang handle proyek kerja sama disana. Kamu mau nganter aku bandara?" ujarnya dengan berat hati.
"Owh, bisa-bisa" sahut Dhyanda dengan nada terpaksa. 'Baru aja nyampe udah ditinggal lagi' batinnya menggerutu. "sibuk bener kamu ya Kak. Bay the way, lebih suka ngajar apa ngantor sih?" tanyanya tiba-tiba.
"Entahlah" jawab Aldrick lalu berdiri dari duduknya. Ia berjalan ke sisi teras, menatap langit malam yang pekat. "apapun yang ku sukai tidak ada yang bisa aku capai" ucap Aldrick dengan kedua telapak tangannya seperti biasa masuk ke dalam kantong celana.
"Kok bisa? apa yang kita sukai itu kan bukan cita-cita yang harus dicapai" ujar Dhyanda polos.
'Ya, tapi itu gak berlaku jika dibawah kendali Papa. Lo gak tau dia, Dhy. Gue dan Aleena yang bisa ngerasain. Jangankan punya cita-cita, punya hobi saja harus dengan persetujuannya', batin Aldrick.
"Emangnya cita-cita kamu apa?" tanya Aldrick melirik Dhyanda yang sudah ikut berdiri disampingnya.
"Jadi programmer" jawabnya.
__ADS_1
"Heuh?" Aldrick tak menyangka ternyata cita-cita gadisnya ini sama dengan sepupunya yang tak pernah akur itu, "kamu gak cocok jadi programmer" ledeknya tak terima.
"Ih, kenapa? buat aku programmer itu keren lho" sahut Dhyanda bangga.
"keren apaan" gumam Aldrick sambil mendengus.
"Ya keren lah... pokoknya kalo kuliah nanti aku bakalan ngambil jurusan teknik informatika" ujar Dhyanda.
"Terserah, toh pada akhirnya kamu nanti ngurusin anak-anak aku dirumah" kata Aldrick dan sukses mendapat cubitan kecil dilengannya hingga ia meringis, "lho, emang iya kan?" tegasnya lagi.
"Mikirnya kejauhan" sahut Dhyanda seraya memencet hidung mancung Aldrick hingga Semerah tomat.
Aldrick terkekeh, lalu memegang kedua pundak Dhyanda berhadapan. Ditatapnya mata bulat gadis itu begitu dalam, "kali ini aku di London agak lama", ucapnya.
"Seminggu?" terka gadis itu.
Aldrick menggelengkan kepalanya.
"Dua Minggu?" tebak Dhyanda lagi. Namun Aldrick tak menjawab. "Sebulan? dua bulan?"
Aldrick menggeleng lagi, "setahun, bisa jadi lebih" ujarnya dengan berat hati.
"Apa?" Dhyanda terkekeh, ia mengira Aldrick hanya mengerjainya. Tapi melihat ekspresi wajah Aldrick yang serius membuat Dhyanda merasa lelaki dihadapannya itu tidak sedang bercanda. "beneran nih?" tanyanya lagi.
Aldrick hanya mengangguk tanda mengiyakan.
"Lama sekali" gumam Dhyanda kecewa.
"Dia juga meminta ku mengambil gelar master disana. Dan aku bisa apa?" ujar Aldrick malas.
"Dia siapa?" tanya Dhyanda.
Aldrick mendelik, "Aaron Gildan O'Neill. Kamu kenal dia kan?"
Mendengar nama itu Dhyanda sudah paham. Sekeras-kerasnya Aldrick tapi lelakinya itu tidak bisa melawan keinginan sang Papa yang jauh lebih keras darinya.
"Belajar yang rajin! bulan depan kenaikan kelas kan? Mungkin pas aku balik nanti kamu udah jadi perempuan dewasa yang udah bisa aku nikahi", kekeh Aldrick diakhir kalimatnya.
"Eh," Dhyanda terperanjat, menatap wajah Aldrick seraya mengerutkan keningnya. "Kak Al mau nikahin aku?" tanyanya ragu.
__ADS_1
Aldrick membungkuk, menyondongkan wajahnya ke arah wajah Dhyanda begitu dekat. "tunggu aku kembali ya, my sugar baby!" gumamnya. Gadis itu tersipu, Aldrick lalu mengecup kening Dhyanda sebelum akhirnya berpamit pulang.
**Jarak hanyalah sebuah ujian untuk melihat seberapa jauh cinta bisa berkelana.