Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Perdebatan Aldrick dan Aaron


__ADS_3

"Malam semuanya!" sapa Aldrick penuh percaya diri dengan sebelah tangannya yang erat menggenggam jemari Dhyanda, "Aku kenalin calon istri pilihanku," lanjut Aldrick percaya diri dan mempesona seperti biasanya.


Selain Aaron dan Kinara, disana sudah hadir adik-adik Aaron yakni Atreya dan suaminya Matthew. Juga Marshall yang datang sendiri karena sang istri, Kanaya berhalangan hadir.


Disamping Aldrick, tepatnya sedikit berada dibelakang tubuh tinggi menjulang sang lelaki tercinta, Dhyanda menundukkan kepalanya dalam kebisuan. Segenap kemantapan hati yang tadi sempat ia kumpulkan, bagai meluruh ditelapak kakinya, membuat berat melangkah.


Aaron yang melihat kedatangan putranya bersama dengan perempuan yang bukan Annely mempertajam pandangannya. Wajahnya nampak begitu kecewa saat tau bahwa gadis disamping Aldrick yang membawa sebuket bunga Lily itu adalah Dhyanda, gadis yang pernah kemari dua tahun yang lalu.


"Kenapa semua tegang gini? nggak ada yang nyuruh calon istriku duduk?" tanya Aldrick memecah keheningan didepan semua orang yang tercengang menatapnya, "Kaget karena pada akhirnya aku tetap memilih dan membawa Dhyanda pulang ke rumah ini lagi?" tanyanya sombong, pertanyaan ini tepatnya ditujukan kepada sang Papa.


"Apa kabar Dhyanda?" sapa Kinara akhirnya.


Dhyanda perlahan menggeser posisi berdirinya agar terlihat, ia melirik pada Aldrick sebentar, baru menatap Kinara dengan senyuman.


"Baik, Tante. Tante sendiri apa kabar?", balas Dhyanda seramah mungkin. Mendekatinya sambil menyerahkan sebuket bunga Lily pada Kinara.


"Ah, cantik sekali bunganya. Terimakasih, Kalian duduklah!" Kinara meminta mereka untuk duduk, lalu memperkenalkan orang-orang yang sudah hadir disana pada Dhyanda. Meski nyatanya Atreya sudah bertemu dengan Dhyanda sebelumnya di sebuah restoran waktu itu.


"Kita masih punya waktu sebentar untuk ngobrol sambil nunggu keluarga William datang," ucapnya Aaron datar.


"Memangnya mereka bagian dari keluarga kita? bukannya kita hanya makan malam sama keluarga kan?" ujar Aldrick sengit.


"Kelak mereka akan menjadi keluarga jika kamu menikah dengan Annely," balas Aaron tak kalah sengit.


'Annely?' Dhyanda begitu terkesiap mendengarnya. 'Apa keluarganya sudah mempersiapkan jodoh sendiri untuk Aldrick? lantas untuk apa gue disini? hanya untuk mempermalukan diri sendiri?' batinnya insecure.


"Aku sudah bawa calon istri pilihanku. Perlu ku perjelas lagi?" Aldrick berucap tegas seraya menautkan jemarinya ke jemari Dhyanda sangat erat.

__ADS_1


"She's a girl!" gumam Aaron, bermaksud mengingatkan usia Dhyanda yang masih sangat muda. "Bahkan usianya masih dibawah Aleena, yang benar saja!"


"Apa yang salah?! dia sama-sama perempuan juga kan?" balas Aldrick tak terima. Kedua mata Aldrick dan Aaron saling berpandangan dengan tatapan tajam.


"Cukup! hentikan tingkah kalian ini!" ucap Kinara jengah, menengahi suami dan putra sulungnya dalam perdebatan sengit tersebut.


Dhyanda menghela napas panjang, ia benar-benar shok atas apa yang barusan ia saksikan. Gadis itu merasa, dirinya lah penyebab dari keributan antara anak dan ayah itu.


Keadaan kembali tenang, Aldrick memilih diam setelah jemari Dhyanda meremass jemari Aldrick, memberi isyarat untuk berhenti dan tidak meneruskan perdebatan.


"Jadi Dhyanda, begitulah keluarga O'Neill, kamu masih bersikeras bertahan disisi Aldrick?" ucap Aaron dengan nada datarnya.


"Saya nggak punya alasan untuk pergi, Om" balas Dhyanda memberanikan diri untuk menjawab.


"Bagaimana kalau kami sudah memilihkan calon istri untuk Aldrick? apa kamu rela untuk pergi?" kata Aaron tak lagi memikirkan perasaan orang lain.


Dhyanda terdiam, hatinya begitu panas mendengar kalau lelakinya sudah dijodohkan dengan gadis lain. Tapi ia percaya dengan Aldrick yang tidak mungkin meninggalkan Dhyanda demi gadis yang dipilihkan keluarganya.


"Jangan bercanda Al!" serang Kinara. "Kamu tau nggak perbuatan kamu itu bisa melukai Dhyanda?" sengalnya tak terima, membela Dhyanda sebagai sesama perempuan.


"Itulah kenapa aku harus bertanggung jawab dan nikahin dia, Ma!" jawab Aldrick merasa berhasil dengan strateginya, sementara Dhyanda menahan napasnya tegang, "Sebagai keturunan O'Neill nggak boleh menghindar dari tanggung jawab kan, Pa?" tanyanya beralih menoleh Aaron yang sudah melotot dari tadi.


Kinara terdiam, ia sangat kecewa dengan putranya yang sudah merusak anak gadis orang. Kinara merasa gagal mendidik dan membesarkan kedua anaknya, Aldrick dan Aleena.


"Kamu harus tanggung jawab, Al!" ujar Matthew sambil meneguk air putihnya, "Kamu nggak boleh jadi pengecut. Bukan begitu, Aar?" belanya sambil melirik Aaron.


"Dhyanda," Atreya menoleh gadis disebelah Aldrick, merasa tidak asing saat menyebut nama itu. "Benar Aldrick sudah melakukan itu, nak? dia nyakitin kamu? dia maksa kamu ngelakuin itu makanya kamu nurut dibawa kesini karena butuh pertanggung jawabannya?" tanyanya lirih, ia sangat paham jika kondisinya memang seperti itu.

__ADS_1


Dhyanda menoleh ke arah Atreya, lalu manatap Aldrick. Tatapan keduanya beradu, bingung harus menjawab bagaimana. Jika Dhyanda mengangguk, bukankah yang Aldrick katakan tidak semuanya benar? mereka memang tinggal serumah, tapi tidak pernah terjadi apa-apa apalagi sampai berhubungan intim. Namun jika ia bilang tidak, apa kabarnya dengan nasib hubungan mereka yang masih butuh pengakuan?


"Aku yang maksa dia ketika dia dalam keadaan nggak sadar," sambar Aldrick menyelamatkan gadisnya dari pertanyaan yang menurutnya jebakan.


"Al! itu bukan lelaki namanya!", kali ini giliran Marshall yang geram tak setuju. Om nya yang satu ini memang satu-satunya lelaki yang tidak punya masa lalu buruk bersama pasangannya, tidak seperti Aaron ataupun Matthew. (session di novel sebelumnya)


"Aku tau Om, makanya biar jadi lelaki, aku pengen bertanggung jawab. Aku cinta sama Dhyanda, apapun kondisinya. Bakalan berengsek banget kalo aku ninggalin dia dalam kondisi udah pernah ku pake," jelas Aldrick frontal.


Tatapan semua orang disana meredup khususnya pada Dhyanda, bermuatan empati yang dalam. Sementara Aaron beberapa kali menghela napasnya. Ia sudah tak bisa berkata-kata lagi. Garis-garis ketampanannya masih terlihat dan masih menyisakan pesona diwajahnya. Ya, itulah alasan dari mana ketampanan Aldrick itu berasal. Aaron memang keras kepala, tapi sesungguhnya ia sungguh tidak tegaan, terlebih terhadap mahluk yang namanya perempuan. Namun, ada alasan yang membuatnya bersikeras untuk memisahkan Aldrick dan Dhyanda.


"Kamu masih kuliah, Dhyanda. Tidak apa-apa kalau menikah? bagaimana dengan orangtuamu?" tanya Atreya sekali lagi, berharap kali ini Dhyanda sendiri yang menjawabnya. Sesungguhnya Atreya merasa penasaran dengan sosok Dhyanda, ia ingat dengan gadis kecil yang tinggal dirumah itu, gadis kecil yang sempat mengira dan memanggilnya 'Mommy'.


Dhyanda tak langsung menjawab. Kali Ia mengembangkan senyuman dan berusaha tetap tenang meski telapak tangannya sudah berkeringat. Ia lalu menoleh Aldrick, mencari kekuatan diwajah tampan lelakinya. Aldrick yang balas menatapnya mengedipkan sebelah mata seakan mencoba berkata bahwa semua akan baik-baik saja.


"Sudah saya pikirkan matang-matang. Saya bersedia menikah dengannya", ucap Dhyanda mantap, seakan ada kekuatan yang mendorong untuk terus mempertahankan cintanya. Bahkan Ia harus rela bila semua orang dirumah ini menganggapnya murahan karena termakan ucapan Aldrick bahwa dirinya sudah pernah dipake Aldrick.


"Orangtuamu?" tanya Atreya lagi.


"Aku akan segera menemui ibu asuhnya. Tante Rea tenang aja," sambar Aldrick, tidak ingin kekasihnya di cecar pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuat Dhyanda terluka lagi.


"Ibu asuh?" gumam Atreya sambil memicingkan sebelah matanya, semakin penasaran.


"Dhyanda dari kecil di asuh Ibu Arumi, tapi sekarang beliau sedang ada diluar kota, dikampung halamannya di Sumedang. Aku berencana akan menemuinya untuk meminta restu," Jelas Aldrick.


"What?" Atreya tercengang, ia terkejut bukan main. 'Dhyanda Genovefa, Geny, benarkah dia gadis kecil itu?' batin Atreya berkata lirih. Setelah penculikan dirinya bertahun-tahun lalu, Atreya pernah diam-diam kembali ke kerumah itu untuk mencari seorang gadis kecil yang pernah ia temui, namun salah satu penjaga rumah disana mengatakan kalau gadis kecil itu sudah pergi ke Indonesia bersama dengan pengasuhnya bernama Arumi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2