
Dhyanda lalu duduk di sisi tempat tidur, siap turun tanpa menggunakan alas kaki.
"Pake sandalku," ujar Aldrick yang langsung menghampiri Dhyanda dan melepas sandal yang dipakainya.
"Nggak usah, Kak" tolak Dhyanda.
"Demam kamu baru turun, lantainya dingin!" Aldrick memaksa dan berjongkok. Dipakaikannya Dhyanda sandal yang sebelumnya ia gunakan untuk alas kaki.
Wajah Dhyanda bersemu, perlakuan Aldrick begitu manis dan romantis. Apalagi saat Aldrick mendongak dan menatapnya. Pahatan mahakarya Tuhan di wajah lelakinya itu sungguh candu yang tak pernah gagal membuatnya sakau. 'wajah ini punya gue, nggak akan jauh-jauh lagi dari gue!'
Dhyanda tersipu, dan Aldrick justru makin berani mengusap pipi gadisnya yang semerah tomat. Meski masih terlihat pucat, Dhyanda sudah lebih baik.
"Beneran kamu udah baikan?" tanya Aldrick penuh perhatian, "Udah nggak kebayang-bayang kejadian kemarin?"
Dhyanda menggeleng, "Beneran udah enakan kok" katanya.
"Nih, minum dulu!", ujar Aldrick meraih teh hangat manis yang tadi ia bikin sendiri, "tapi udah rada dingin," cengirnya menggemaskan.
"Kak Al yang bikin?", tanya Dhyanda sangsi.
"Emang disini ada orang lagi?" Aldrick malah balik bertanya, "Ya aku lah, siapa lagi?" katanya bangga.
Dhyanda tersenyum bangga, Aldrik rela membuatkan teh manis untuknya. "Kak, aku ma---" Dhyanda tercekat. Pasalnya, Aldrick spontan memeluk tubuhnya, mengalirkan energi hangat yang menyamarkan hati Dhyanda. Sejenak suasana menjadi sangat istimewa, penuh rasa syukur.
"Makasih untuk udah baik-baik aja ya, Dhy" bisik Aldrick lantas melepas pelukannya.
Dhyanda yang sedianya ingin mengatakan sesuatu, urung. Semua tersamarkan pesona Aldrick yang benar-benar memabukkan. Dhyanda sampai lupa apa yang mau ia tanyakan.
"Makasih juga udah jagain aku", tatapan mata Dhyanda berubah sendu.
"Itu kewajibanku", kata Aldrick mengecup kening Dhyanda sekali lagi. "kamu kebangun gara-gara laper ya?", tebaknya kemudian.
"Kok tau?" Dhyanda tersenyum malu. "Ini jam berapa ya?"
"Hampir jam 8 malam"
"Masa sih? Ini hari apa?"
"Kamu udah tidur sehari semalam dalam kondisi demam tinggi, Neng" jawab Aldrick sabar.
"Oya? Bisa gitu aku tuh!" pekik Dhyanda tak menyangka, "Bentar!" ia tiba-tiba bangkit dan berlari ke depan cermin. Ditolehnya Aldrick yang menatap bingung.
__ADS_1
"Kenapa sih?" tanya Aldrick.
"Jangan liat!" larang Dhyanda panik. "Aku berantakan gini, nggak sikat gigi, nggak mandi, dicium lagi sama kamu, Kak. Kan malu" keluhnya menggemaskan.
Sontak Aldrick tertawa. Bukannya menurut, ia justru mendatangi Dhyanda dan memeluknya. "Mana... mana...yang malu", godanya.
"Kak! Seriusan ini! Bau tau..." Dhyanda meronta minta dilepaskan.
"Badan kamu aku lap tadi pagi sama sore tadi. Baju kamu juga aku ganti" jelas Aldrick.
"Ya?" mata Dhyanda membelalak, "kamu yang ngelap sama gantiin bajuku? terus dalemannya?"
Aldrick mengangguk dengan begitu polosnya.
"Iih, mesum" tuduh Dhynada.
"Enak aja. Ada Dokter Rani yang bantuin. Dia udah berbaik hati pagi-pagi kemari buat ganti daleman kamu," jelas Aldrick membuat Dhyanda bernapas lega.
"Seneng banget bikin orang panik", kata Dhyanda kesal. "Dia itu Dokter yang meriksa aku?" tanyanya.
"Iya, kebetulan dia temen waktu SMA"
"Ooh... Cantik?" tanya Dhyanda mendelik.
"Nggak mau dicium! Aku belum gosok gigi", lirih Dhyanda merah padam wajahnya.
Aldrick terbatuk, tak kuat mengatasi kegemasan yang ditunjukan gadisnya itu.
"Makan dulu aja yuk, kamu laper kan?" ajak Aldrick langsung meraih jemari Dhyanda dan membimbingnya ke meja makan.
Momen berharga dan menyenangkan ini. Lelaki yang mengisi hati dhyanda dan mencintainya sepenuh hati. Dhyanda tak henti berterima kasih atas kesulitan dan kebaikan yang diberikan Tuhan kepadanya.
"Kamu juga belum makan kan?" tanya Dhyanda sambil mengamati Aldrick yang sibuk menyiapkan makanan untuknya.
Aldrick menggeleng, "Sengaja nunggu kamu bangun. Feeling aja kamu bakalan laper, terbukti kan?"
"Kenapa harus nunggu aku? nanti kamu sakit lho. Harusnya pikirin juga kesehatan mu, Kak" protes Dhyanda.
"Udah, makan dulu" ujar Aldrick memberikan piring milik Dhyanda yang sudah ia isi penuh dengan makanan.
Dhyanda mengalah, ia menyuap makanannya tanpa protes lagi. Selain perutnya yang memang lapar, ia juga harus mengisi energinya yang lemah agar cepat pulih.
__ADS_1
"Enak. Ini Kak Al yang masak?" tanya Dhyanda disela-sela makannya.
Aldrick terbahak, "Kira-kira dong kalo mau ngejatuhin orang"
"Kenapa?", tanya Dhyanda begitu polosnya.
"Aku bukan chef Juna yang jago masak dan bikin cewek terpesona dengan keahliannya itu" ujar Aldrick insecure.
"Kalo bukan kamu, terus makanan ini?"
"Pesan dari katering langganan Mama. Vero yang bawain tadi" kata Aldrick.
"Yaah, kirain kamu yang masak", sesal Dhyanda.
"Kecewa ya? Sorry, aku cuma bisa bikin teh manis doang," aku Aldrick. "Kamu suka cowok yang jago masak btw?" tanyanya jadi serius.
"Emh... nggak juga kok", jawab Dhyanda ragu.
Secara tidak sadar, selama ini Dhyanda selalu menganggap laki-laki yang pintar masak itu sebagai sosok yang lebih stabil, sabar, dan setia. Selain itu, laki-laki yang jago masak juga terlihat seperti seseorang yang dapat menawarkan rasa aman dan nyaman.
"Fix, kamu suka cowok yang bisa masak kan", ujar Aldrick langsung bisa menyimpulkan dari jawaban Dhyanda yang meragukan. Ia terlihat sedikit kecewa.
"Ih, nggak gitu kali. Ngambekan deh!!", Dhyanda yang sadar gelagat Aldrick langsung merangkul bahunya dari dipinggir. Ditatapnya wajah kekasihnya itu dari samping. "Buat aku, kamu lebih dari chef Juna. Nggak usah pintar masak, cukup aku aja yang masakin kamu, aku rela."
Mendengar itu wajah Aldrick kembali sumringah, "Bener nih?" goda Aldrick balas menatap Dhyanda hingga keduanya kini saling berhadapan. "Besok-besok kamu masakin aku tiap hari ya!"
Dhyanda mengangguk malu, lalu segera mengambil minum dalam gelas yang tadi sudah dituangkan Aldrick untuknya.
Tiba-tiba listrik dirumah itu mati. Saat itu juga Dhyanda langsung panik dan histeris. Aldrick segera menyalakan lampu senter dalam ponselnya, "Tenang, ada aku disini" ujarnya seraya mendekap Dhyanda.
"Kenop pintu!", Dhyanda berdiri dari duduknya panik, teringat kenop pintu rumahnya yang rusak dicongkel seseorang malam itu. "Gimana kalo dia datang lagi? ganjal pake meja Kak! Ayo, cepet!!" paniknya ketakutan.
Aldrick berusaha menenangkan gadisnya, "Kenop pintu dan pengunci jendela yang longgar semua sudah diganti, kamu tenang ya. Nggak akan ada lagi yang jahatin kamu selama ada aku" kata Aldrick lalu meminta Dhyanda duduk kembali supaya lebih tenang. "Vero dan Bang Sony yang menggantinya tadi siang", imbuhnya lagi.
"Iya?", tanya Dhyanda lirih.
Aldrick mengangguk memberi jawaban. Lalu kembali memeluk Dhyanda erat. Sadar gadisnya itu masih belum baik-baik saja.
.
.
__ADS_1
.