Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Sebelas dua belas


__ADS_3

Sorot matahari pagi menyeruak ringan, menembus tirai tipis yang melindungi jendela kamar digedung pencakar langit berlantai puluhan itu. Dhyanda beringsut kecil dari posisinya di atas ranjang yang sangat asing ditengah ruangan.


"Eheem", Dhyanda berdehem menjernihkan tenggorokannya yang kering seiring dengan matanya yang terbuka secara perlahan. Tangannya meraih wajahnya dan mengusapnya ringan, lalu ia mengucek matanya sepintas.


Gadis itu kini terduduk dengan pandangan menyapu setiap sudut diruangan tersebut. "Ini kamar siapa?" gumamnya berusaha menggali ingatan yang seolah samar. Ingatan akan peristiwa semalam membuat Dhyanda jadi panik.


"Demi Tuhan! siapa yang bawa gue kemari? Casey? dimana dia sekarang?" pandangan Dhyanda menyebar ke seluruh ruangan dikamar itu. Dia mulai mengingat rangkaian kejadian yang ia alami semalam. Dhyanda juga ingat saat terakhir dirinya ditolong Casey dari dua preman, lalu ikut bersamanya ke dalam mobil. Dan sampai disitu ingatannya kembali buntu. "gue pingsan? apa ketiduran?" panik Dhyanda langsung beranjak turun dari tempat tidurnya sekarang, buru-buru keluar dari kamar itu.


"Lo udah baikan?" sapa Casey saat Dhyanda nongol begitu saja dihadapannya.


"Gue dimana?" Dhyanda malah balik bertanya seperti orang linglung.


Casey tidak buru-buru menjawab. Lelaki itu masih sibuk membalikkan omelet diatas wajannya. Setelah matang barulah ia angkat menggunakan spatula dan pindahkannya ke atas piring.


"Semalam Lo pingsan, badan Lo juga demam. Tadinya gue mau bawa ke rumah sakit, tapi Lo nggak bawa identitas apapun. Gue nggak mau ribet" ujar Casey sambil membawa sepiring omelet itu ke atas meja makan.


'Demam? gue ngerasa baik-baik aja kok', batin Dhyanda meragukannya.


"Eh, kalo semalem gue pingsan jadi yang bawa gue dan tidurin gue dikasur itu---?" Dhyanda nggak sampai hati melanjutkan kalimatnya.


"Gue," sahut Casey lantang.


"Hah?" Dhyanda bergidik, "Trus, ini rumah siapa?" tanya Dhyanda kembali mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Seingatnya ini bukan rumah kedua orangtua Aldrick yang dulu sering ia datangi.


"Apartemen gue" jawab Casey datar.


"Apa?" Dhyanda reflek melangkah mundur hingga mentok disudut meja seraya menyilangkan kedua tangan didadanya.


Casey yang melihatnya langsung mengerutkan dahi, "Lo samain gue sama preman semalem?" tuduhnya.


"Heuh? Ng...nggak gitu juga" sahut Dhyanda terbata. Entah kenapa ia percaya dengan lelaki itu, mungkin karena Casey sepupunya Aldrick.


Casey menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menarik kursi makan dan duduk disitu sambil menuangkan omelet ke piringnya, "Kalo mau ikut sarapan ambil piringnya sendiri didapur!" tegasnya lagi sambil melahap omelet buatan sendiri ke dalam mulutnya.


Dhyanda mengangguk sungkan. Perutnya emang terasa lapar karena dari kemarin sore belum sempat makan apa-apa lagi. Akhirnya ia mengambil piring dan ikut makan satu meja dengan Casey.


"Lo nggak tinggal lagi dirumah Kak Aldrick?" tanya Dhyanda disela makannya.


"Nggak" sahut Casey irit.


"Kenapa? kan enak nggak perlu nyiapin sarapan sendiri begini, ada banyak pembantu", ujar Dhyanda.


"Bosen" jawab Casey sekenanya.


"Bosen?" Dhyanda mengerutkan dahinya bingung, "disana banyak aturan ya, makanya Lo tertekan dan milih tinggal sendiri?" terka gadis itu spontan.


Casey berhenti menyantap omelet didepannya. "Bisa nggak kalo makan nggak ngomong dulu?" lelaki menatap tajam pada Dhyanda yang duduk dihadapannya.


"Hish, kaku amat! dasar landak laut!" gumam Dhyanda mengumpat.

__ADS_1


"Gumaman Lo masih kedenger jelas lho kesini," kata Casey datar.


"Opps! Sorry", Dhyanda diam tak bicara lagi, mulutnya terbuka hanya untuk menerima omelet dari sendoknya.


.


"Masalah uang yang 10 juta itu gue pasti ganti, tapi nggak bisa cepet" ucap Dhyanda disaat ia selesai menyantap sarapan omelet buatan Casey.


"Nggak perlu diganti, nanti uangnya juga balik" jawab Casey sambil membawa piring bekas makan ke dapur dan langsung mencucinya.


"Oya? jadi beneran preman semalem udah ketangkep?" Dhyanda penasaran langsung menguntit Casey sampai ke dapur, menyaksikan dengan lihainya lelaki itu mencuci piring bekasnya dan Dhyanda.


"Kita tunggu kabar dari polisi. Kalo nggak ketangkep dan duit gue nggak kembali, anggap itu hutang Lo ke gue" ujar Casey.


"Bisa dicicil kan?" tanya Dhyanda cepat.


Casey beranjak dari dapur setelah menyimpan rapi piring-piring bersih kedalam rak. "Gue aja nebusnya full, masa balikinnya nyicil" sindirnya.


Dhyanda mengerucutkan bibir mungilnya, "Sadis!" gumamnya mengumpat. Ia lalu duduk di pegangan sofa ruang depan.


"Duduk yang bener! Sofanya rusak Lo mau ganti?" seru Casey mengingatkan Dhyanda yang duduk sembarangan.


"Hish!! ribet amat sih landak laut" Dhyanda langsung berdiri lagi.


"Apa? landak laut?" Casey melotot tak terima.


"Perlu pake toa masjid biar gue nggak ngulang kalimatnya?" seru Dhyanda. "Landak laut itu terlihat lucu, tapi sayangnya berduri, tajem banget ampe nusuk ke ulu hati" katanya lagi kesal.


Semua perabot didalam apartemen Casey terlihat mewah dan bersih, bahkan tidak ada debu yang menempel. Untuk ukuran tempat tinggal lelaki lajang, Casey patut diacungi jempol karena kebersihannya. Belum lagi ditunjang dengan desain ruangan yang elegan, sudah dipastikan ini merupakan salah satu apartemen elit yang ada di Jakarta. Menabung seumur hidup pun Dhyanda tak akan mampu membeli salah satunya. Jiwa miskinnya memberontak, Casey maupun Aldrick terlahir dengan semua keajaiban hidup, bertolak belakang dengan dirinya.


“Baju lo kotor dan bau, lo bisa pake baju gue dulu,” ucap Casey muncul tiba-tiba dibelakang Dhyanda. Diserahkannya satu set baju ganti yang beraroma wangi pada Dhyanda.


“Beneran kaya setan deh! Ngagetin” dengus Dhyanda kesal karena kaget dengan kemunculan Casey.


“Orang numpang itu nggak pantes ngatain begitu sama tuan rumah”, ujar Casey santai dan datar.


“Hey, suruh siapa lo nolongin gue?” balas Dhyanda sengit.


“Oh, jadi gitu balasannya udah ditolong? Nggak sadar lo punya utang nyawa sama gue!” sambar Casey tak kalah sengit.


Dhyanda mendengus, ia sadar kalau tidak ada Casey entah apa yang akan terjadi semalam. “Oke, sorry. Jadi mau gimana pun, gue nggak berhak protes gitu?”


“Nah itu tau,” ucap Casey.


Dhyanda berdecak, berdebat dengan Casey tidak akan kelar-kelar. Sebelas dua belas dengan kakak sepupunya, Aldrick. Hanya akan menghabiskan banyak tenaga, apalagi dengan ekspresi dingin dan nada datarnya seperti itu.


Demi Tuhan, Casey mengingatkan Dhyanda pada sosok Aldrick yang sangat dominan dan suka mengintimidasi. Turunan siapa sih mereka berdua hingga memiliki sifat dan karakter yang hampir mirip? yang jelas mereka satu keturunan dari mendiang Kevan O’Neill, sang Kakek yang terkenal tegas, dingin dan terkadang tak berperasaan. (Bisa baca di novel In a broken heart to find you).


Dhyanda reflek menyentuh hiasan bandul besi berayun diatas meja, tanpa memedulikan Casey lagi ketimbang harus terlibat percakapan dengannya.

__ADS_1


“Jangan sentuh! Itu barang kesayangan gue, sampe berkarat lo nggak akan bisa ngegantinya” cegah Casey setengah bercanda saat melihat Dhyanda hendak mengambil hiasan favoritnya yang terpajang.


“Maaf Tuan muda! Gue bukan Elsa Frozen, nggak mungkin juga benda yang gue sentuh bisa berkarat” balas Dhyanda kesal.


“Si Elsa kalo nyentuh jadi es, bukan berkarat. Lagian lo lebih mirip manusia saljunya ketimang si Elsa,” ledek Casey menohok.


“Olaf, maksud lo?” Dhyanda melotot. “tetep aja hiasan ini nggak bakalan terluka, ya Tuhan!” geram Dhyanda gemas.


“Hiasan itu gue bawa dari jerman, asli dan mahal. Gue nggak mau repot nyari lagi cuma gara-gara kena sentuhan lo!”


“Terserah! Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Terus ngapain lo ngajak gue ke apartemen lo?” Dhyanda sudah tidak tahan pada sikap keterlaluan Casey.


“Excuse me!”  Casey tersenyum sinis, “Gue ngajak lo? Tolong diralat ya, Nona!” protesnya.


Dhyanda tak mau lagi berdebat dengan Casey. Ia merasa kasihan pada dirinya sendiri karena sudah terlibat begitu jauh dengan lelaki sedingin kulkas ini. Meski Casey telah menolongnya dari para preman semalam, tetap saja Casey orang asing bagi Dhyanda.


“Lo bisa pake kamar mandi kalo pengen bersih-bersih atau mandi. Pake baju gue buat ganti,” ujar Casey tanpa tanggapan. Dhyanda masih kesal dengan Casey. “O ya, gue cuma punya satu handuk, jangan pake handuk gue!”


“Terus?”


“Cari apa saja. Sprei kasur mungkin?”


“What? Sprei?” mata Dhyanda membulat sempurna.


“Yes, of course!” jawab Casey mantap.


“Wah, kebangetan. Nggak manusiawi!” protes Dhyanda.


“Istilah manusiawi cuma berlaku buat manusia” ujar Casey.


“So, menurut lo apa gue bukan manusia?”


“Manusia salju kan?” ledek Casey, “siapa namanya? Olaf itu kan, ya?” ucapnya lagi.


“Lo yang manusia salju! Dingin, jahat!” cecar Dhyanda begitu kesal.


“Kalo gue jahat, udah gue biarin lo dimangsa para preman itu!” balas Casey.


“Terserah!”, Dhyanda tak mau lagi meladeni Casey. Ia berlalu begitu saja dan masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih sambil membawa baju ganti milik Casey dalam pelukannya.


Ukuran kamar mandi Casey yang luas mengubah mood Dhyanda. Rasa kesalnya pada Casey mereda. Ia jadi tau kenapa Casey melarangnya ini dan itu. Semua tercermin dari kamar mandi Casey yang bersih dan wangi, juga sangat rapi.


“Eh, tunggu! Tapi kenapa dia cuma punya satu handuk?” gumam Dhyanda heran.


.


.


.

__ADS_1


 


 


__ADS_2