
Saat Dhyanda tiba dikantor, terlihat orang-orang masih sibuk bekerja. Wajah mereka makin terlihat kusut dan lelah, apalagi staff khusus yang bekerja langsung dibawah komando Aldrick. Dhyanda sampai tak berani menegur untuk sekedar basa basi saking mereka seriusnya bekerja lembur.
Didepan pintu menuju ruangan Aldrick, ia menemukan wajah yang tak kalah kusutnya tengah menghadapi layar komputer dengan deretan grafik didepannya.
"Sibuk banget ya Kak?" tanya Dhyanda setelah beberapa saat berdiri didekatnya dan Vero belum juga menegurnya.
"Kamu abis dari mana Dhy? bukannya tadi pamitnya beli es Boba?" tegur Vero balik, tanpa berpaling dari layar komputernya.
"Emh, tadi ada urusan mendadak jadi buru-buru pergi," ucap Dhyanda.
"Penting ya?" tanya Vero akhirnya menoleh Dhyanda dengan mata merahnya.
Dhyanda mengangguk lemah.
"Lain kali bilang dulu sama dia," ucap Vero lagi setelah menghela napas panjang.
" Iya kak, aku tau aku salah. Kak Al masih ada diruangannya kan?" ucap Dhyanda jadi merasa bersalah.
"Masih. Tapi jangan masuk dulu ke sana ya!" larang Vero seakan takut terjadi sesuatu.
"Kenapa? lagi sibuk banget ya? atmosfirnya juga jadi horor gini. Kalian udah mirip zombie semua," kata Dhyanda polos.
"Hem," Vero meringis gemas. Sepertinya Dhyanda tidak tahu bahwa penyebab terciptanya atmosfer itu adalah Dhyanda sendiri. "Kami nggak akan boleh pulang kayanya"
"Kenapa? bukannya cuma dibatasi sampe jam 12 malem lemburnya?", wajah Dhyanda masih menampilkan ekspresi sepolos bayi.
"Si bos kambuh. Kita semua kudu kerja keras bagai kuda. Semua proyek yang ada dalam antrean tunggu dipaksa diselesaikan sekarang juga. Jadi masing-masing pegang hampir 5 proyek dan kudu selesai dalam deadline 8 jam dari sekarang," terang Vero menyedihkan.
"Kenapa begitu?" gumam Dhyanda mengernyit.
"Kalo marah atau kesel, Aldrick emang punya kebiasaan gitu. Persis sama kaya bokapnya. Dia pasti kerja lebih keras dari biasanya dan pasti pekerjaan orang-orang dibawahnya juga bakalan lebih banyak," tutur Vero sudah mulai sibuk dengan komputernya lagi.
"Dia ngeri ya kalo udah nyangkut masalah kerjaan, disiplin banget," kata Dhyanda antara memuji dan meratapi nasib para staf dibawahnya Aldrick.
"Kamu tau caranya supaya si macan yang lagi PMS itu nggak uring-uringan lagi? buatin dia lemon hangat!" saran Vero pada Dhyanda.
"Si macan yang PMS?" alis Dhyanda bertaut, "Siapa?" tanyanya.
"Suamimu!" kekeh Vero seolah mendapat hiburan.
"Ih, Kak Vero. Masa dibilang Macan PMS sih?!" Dhyanda ikut tertawa.
"Abisnya dia suka marah-marah nggak jelas, dan nggak masuk akal. Mengerikan" kata Vero menggedikkan bahunya.
__ADS_1
"Emang Kak Vero tau orang PMS itu gimana? sendirinya kan nggak punya pacar yang suka PMS tiap bulannya," ledek Dhyanda.
Tawa Vero langsung berhenti, "Oh, kamu ketularan dia nih ngina saya yang jomblo," protesnya tak terima.
"Abis istilahnya absurd gitu sih. Macan PMS, lucu aja. Kebayang dia nahan sakitnya kaya cewe yang mau datang bulan," kata Dhyanda geli.
Vero kembali tertawa lepas, ikut membayangkan. Setidaknya itulah hiburan receh yang cukup menjadi penawar penatnya tubuh karena pekerjaan.
"Kamu bisa bikinin kan? OB disini udah pulang dari jam 8 tadi," pinta Vero.
"Bisa kok, Kak Vero mau dibikinin sekalian?"
"Boleh, kalo kamu nggak keberatan," kekeh Vero, lalu menunjukan arah ke pantry pada Dhyanda.
"Oke, aku buatin dua ya," senyum Dhyanda sambil melangkah menuju Pantry yang tidak jauh dari dari sana dan masih dalam lantai yang sama.
.
Langkah Dhyanda ringan. Sambil membawakan secangkir lemon hangat gadis itu berjalan menuju ruangan Aldrick setelah sebelumnya memberikan secangkir lemon hangat lainnya untuk Vero. Diketuknya pelan pintu ruangan kekasihnya, bersiap memberikan senyum terbaiknya.
"Masuk!" ujar Aldrick dari dalam.
"Aku buatin lemon hangat nih Kak"
"Kamu dari mana? Mana es Boba yang katanya mau kamu beli?" cecar Aldrick ketus.
"Tadi nggak jadi beli es Boba nya," jawab Dhyanda sambil menaruh minuman lemon hangat buatannya keatas meja kerja Aldrick.
"Kenapa? ada yang jauh lebih penting lagi?" tanya Aldrick sinis, lalu mengesap sedikit lemon hangat buatan Dhyanda.
"Nggak gitu Kak. Aku hanya bantuin temen yang lagi kesusahan," jelas Dhyanda. Ia tidak berniat menyembunyikannya dari Aldrick, hanya saja kondisinya sedang tidak enak, bakal runyam kalau Aldrick tau teman yang ditolongnya itu sesepunya dia sendiri.
Aldrick tampak tak peduli. Ditatapnya Dhyanda sangat tajam, melampiaskan kemarahan yang hanya bisa ia pendam dalam diam. 'kamu nggak ngerasa salah ya Dhy?'
"Kamu keterlaluan, Dhy! Harusnya kamu bilang kalo mau pergi nemuin teman kamu itu. Jangan niat awalnya beli es Boba tapi malah nemuin orang lain. Kamu nggak tau segimana paniknya aku nyariin kamu," ujar Aldrick dengan suara seraknya.
Dhyanda diam. Ia tak menjawab ataupun menyangkal ucapan Aldrick. Digigitnya bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan tangis. Ia tidak boleh merasa seperti ini kan? Aldrick sudah bertindak benar. Dhyanda sadar ia salah. Ia tau Aldrick marah karena ia pergi gitu aja tanpa ijin, tak bisa dihubungi pula.
"Seenggaknya kamu ngomong dulu mungkin aku nggak akan sekecewa ini," ucap Aldrick lagi.
"Kak, ku mohon. Aku tau kamu marah karena aku pergi nggak pamit. Hp ku juga ilang nggak tau kemana. Tadi aku buru-buru dapet kabar mendadak dan nggak sempet ngasih tau kamu, maafin aku ya?" bujuk Dhyanda sambil menyeka air matanya.
Aldrick sudah hampir luluh saat melihat air mata dipipi Dhyanda. ia semakin merasa keterlaluan karena mencipta embun Dimata gadisnya. Namun Dhyanda yang berbohong dan mengingkari janjinya membuat Aldrick bertahan pada egonya.
__ADS_1
"Aku nggak suka Lemon hangat yang dikasih gula, apalagi bukan gula rendah kalori" gumam Aldrick sedikit teredam amarahnya karena tetes air mata Dhyanda.
"Maaf aku nggak tau soal itu,"
"Kamu nggak tau karena kamu nggak pernah mau nyari tau Dhy. Kamu lebih sibuk bantu orang lain tapi kamu lupa sama aku," sindir Aldrick kembali duduk dikursi kerjanya, pura-pura sibuk membuka laptopnya.
"Maaf Kak, ke depannya aku bakalan lebih perhatian ke kamu," sesal Dhyanda tersadar bahwa selama ini hubungan mereka memang tidak seimbang.
Dhyanda terlalu banyak menerima dari Aldrick. Semua perhatian, cinta, tercurah sepenuhnya dari Aldrick untuknya. Aldrick senantiasa memanjakan Dhyanda hingga gadisnya itu lupa untuk balas memberi. Aldrick yang notabene tau semua hal tentang Dhyanda, bahkan tak Dhyanda ketahui seperti apa minuman favoritnya.
"Kedepannya?" Aldrick melirik tajam ke arah Dhyanda.
"Aku minta maaf, serius aku nyesel udah bikin kamu marah begini," sesal Dhyanda.
"Kamu tau aku nggak bakalan begini kalo emang nggak keterlaluan, iya kan Dhy?" tanya Aldrick akhirnya benar-benar menatap lekat wajah gadisnya, sedikit luluh, pandangan matanya berangsur teduh.
"Iya, aku tau itu," lirih Dhyanda menunduk. "Aku minta maaf," ujarnya lagi.
"Kalo emang minta maaf berguna, pasangan nggak akan ada yang putus sama cerai cuma karena salah paham," ujar Aldrick membuat Dhyanda yang semula menunduk jadi mendongak spontan.
"Kak Al mau kita pisah? kita udahan?" tanya Dhyanda menahan napas, takut mendengar jawaban Aldrick yang seperti tengah siap dilontarkan.
"Aku nggak pernah bilang gitu. Yang bikin aku marah kan kamu, berarti kamu yang pengen kan?"
"Enggak!" sahut Dhyanda cepat, "Bahkan nggak terpikirkan sedikitpun dibenakku yang begituan" ucapnya.
"Aku harus kerja lagi, kamu mending tiduran disofa, Istirahat," balas Aldrick enggan membahas masalah mereka ditengah penatnya pekerjaan.
"Aku nggak dimaafin?" tanya Dhyanda dengan begitu polosnya.
Aldrick terlihat menghela napas panjang. Ditatapnya lagi Dhyanda begitu lekat. Gadisnya itu benar-benar menyesal dan tak ingin salah paham antara mereka sampai berlarut-larut. Meskipun Aldrick tau alasan Dhyanda pergi tiba-tiba tadi adalah Casey, siapa yang akan tega mendiamkan gadis seimut Dhyanda bahkan sehari saja?
"Kita lagi di kantor. Nanti kita bahas lagi dirumah," ucap Aldrick jauh lebih tenang. Lebih bijaksana tapi tetap dengan ekspresinya masih dingin.
"Aku mau semuanya selesai sekarang. Kamu maafin aku dulu, ya!" bujuk Dhyanda berusaha mengembangkan senyuman terbaiknya.
"Oh jadi gitu ngebujuk orang yang lagi marah?" sebelah alis Aldrick terangkat.
Dhyanda tersenyum, merasa lega nada suara Aldrick sudah lebih lembut dan sorot mata lelakinya itu sudah berangsur berubah. Setidaknya Aldrick mau menatapnya dengan pandangan yang lebih teduh dan tidak seperti siap membunuh.
.
.
__ADS_1
.