Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Moody


__ADS_3

Dhyanda mengernyit heran dengan sikap Aldrick yang tiba-tiba berubah dingin. Ia pun mengikuti langkah Aldrick ke kamar.


Diamatinya lelaki tampan itu bergerak. Seakan tak mempedulikan Dhyanda, Aldrick melepas kancing kemejanya satu persatu, lalu membukanya. Ia bertelanjang dada didepan Dhyanda yang dengan sangat jelas menatapnya takjub. Aldrick tidak bisa dibilang kekar layaknya binaragawan. Jadwal bekerja yang menyita waktunya tak cukup ia gunakan untuk berolahraga. Namun bukan berarti Aldrick tak memiliki daya tarik lelaki kebanyakan. Perutnya terbentuk sempurna dengan enam abs yang masih bisa terlihat begitu menggoda. Lengannya cukup kokoh dan kencang, meski tak sebesar milik model iklan susu pembentuk otot kaum lelaki.


Mata Dhyanda masih berbinar menatapnya takjub, membuat Aldrick tersenyum bangga. “jangan ngiler atau kamu bakalan aku suruh ngepel seluruh lantai diruangan ini!” tegurnya menjentik jari didepan wajah Dhyanda.


Dhyanda tergagap, ia mendapati wajah Aldrick didepannya yang tersenyum penuh arti, terkesan meremehkan dan angkuh, tak seperti biasanya. Cepat-cepat Dhyanda membuang pandangan, tak ingin terjebak dalam pesona Aldrick yang begitu memabukkan.


"Aku buatin sarapan dulu ya," Dhyanda buru-buru keluar kamar menuju ke dapur untuk membuat sarapan.


Apaan sih? kenapa jadi jutek gitu? dasar aneh!


Sarapan nasi goreng pun sudah terhidang diatas meja makan. Aldrick sudah terlihat rapi dan tampan dengan balutan setelan jas berwarna navy, dipadu dengan kemeja berwarna biru muda dan dasi motif salur. Benar-benar sempurna.


"Makan dulu Kak!", Dhyanda meminta Aldrick untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke kantor.


"Ditunggu rapat direksi pagi ini," sahut Aldrick yang begitu saja melewati Dhyanda. Ia sudah mengenakan sepatu didepan pintu dan siap berangkat.


"Tap---"


BLUPP! suara pintu yang ditutup sedikit keras.


Sosok Aldrick pun menghilang dibalik pintu yang sudah kembali tertutup. Lelaki itu sudah pergi ke kantornya.


Kening Dhyanda mengerut menyaksikan perubahan mood Aldrick yang tiba-tiba turun begitu. Tak mau ambil pusing Dhyanda akhirnya makan sendiri. Hari ini dia ada jadwal kuliah jam 10 sampai jam 1 siang. Dia sudah memberitahu Aldrick untuk tidak menjemputnya karena rencananya sehabis dari kampus akan langsung menemui Imel di One kafe.

__ADS_1


**


Suasana di One Kafe memang agak lengang. Disiang hari memang pengunjung kurang ramai, biasanya Kafe ini akan ramai ketika malam menjelang. Apalagi hari ini Sabtu, ada live concert yang biasanya menarik banyak pengunjung.


"Kebangetan Lo Mel, nggak ngabarin gue blaass!", omel Dhyanda saat ditemuinya Imel di kafe tempatnya bekerja.


"Gimana lagi, HP gue dicopet" sahut Imel terlihat masih kesal. "Gue denger dari Kak Vero katanya waktu itu juga Lo hampir dijahatin orang? ceritanya gimana?" katanya lagi penasaran.


"Itu gara-gara Lo nggak ada dirumah. Coba kalo Lo sebelumnya ngabarin gue, mungkin hari itu gue nggak akan datang ke rumah Lo dan nggak akan dijahatin tu preman," kata Dhyanda mengenang pengalaman buruknya.


"Sorry... mana gue tau kali Dhy," sesal Imel tapi tidak mau disalahkan. "tapi untungnya Lo nggak pa-pa kan?"


Dhyanda mengangguk memberi jawaban. "Ya, ada Casey yang nolong gue," ucapnya terus mengingat kejadian traumatis yang masih melekat dalam memori gadis itu.


"Casey?", Imel mengernyit bingung. Siapa lagi dia? Imel merasa asing dengan nama itu.


"Oh, yang gantengnya sebelas dua belas sama Pak Aldrick itu ya?", akhirnya Imel mengingatnya.


"Dasar! giliran yang ganteng aja Lo inget," ledek Dhyanda terkekeh geli.


Imel terbahak. "Yes, of course. karena penampilan luar itu yang pertama akan kita ingat. Apalagi memiliki paras wajah se-imut si Casey itu. Hupp! pengen gue emam aja tuh dia," kagum Imel gemas.


"Gila Lo!" decak Dhyanda. "By the way, gue turut berbelasungkawa atas meninggalnya nenek Lo yang di Bogor ya Mel", ucapnya lirih.


"Makasih, Dhy. Kita semua udah pada ikhlas kok", ujar Imel tersenyum.

__ADS_1


Dhyanda melirik jam tangannya sebentar, "Kalo gitu gue balik ya, Mel"


"Masih sore ini, emang Lo masih tinggal dirumah kontrakan itu Dhy?", Imel malah bertanya. dia belum tau kalau Dhyanda udah tinggal bersama dengan Aldrick.


"Eng... nggak," jawab Dhyanda terbata.


"Terus tinggal dimana sekarang?", tanya Imel seraya memicingkan sebelah matanya mulai curiga.


"Mm... gue---"


"Wait! Lo tinggal sama Pak Aldrick?", tebakan Imel benar-benar membuat Dhyanda mati kutu.


Dhyanda mengangguk pelan, Imel terbelalak dengan pengakuan sahabatnya itu. "Demi Tuhan, Dhy. Lo beneran, sekarang tinggal serumah dengan pacar Lo itu?", tanya Imel menohok dan Dhyanda hanya mengangguk. "Lo nggak diapa-apain kan?? Kalian nggak tidur sekamar juga kan?" cerca Imel khawatir.


"Gue masih takut buat balik ke rumah kontrakan, Mel. Lo jangan khawatir soal itu, Dia bukan laki-laki yang suka ngemanfaatin keadaan", ujar Dhyanda.


"Owh gitu, sukur deh," kata Imel merasa lega.


Dhyanda mengangguk yakin, lalu ditatap ponsel miliknya yang tergeletak diatas meja, dia baru sadar kalau seharian ini Aldrick sama sekali belum mengabarinya. Padahal kemarin saat dirinya berada di kampus, Aldrick beberapa kali menghubunginya via telepon maupun chat. Aneh.


Tak terasa jam menunjukan pukul 5 sore. Dhyanda berpamit pulang sebelum hari mulai gelap, terlebih lagi pengunjung kafe mulai ramai. Dhyanda tidak mau lebih lama mengganggu kerjaannya Imel.


.


.

__ADS_1


.


 


__ADS_2