
"Apa?" bola mata Dhyanda terbelalak.
"Iya, Gio udah pindah sekolah. Gue taunya dari walikelas tadi" kata Imel sekembalinya dari ruang guru dan memberi kabar tersebut pada Dhyanda.
"Pindah kemana? kok gak bilang-bilang sih?" Dhyanda terlihat frustasi. Tak terima dengan kabar mengejutkan tentang kepindahan Gio yang mendadak.
"Gue gak tau, Ibu Nawang gak kasih tau dimana sekolah barunya. katanya sih pindah keluar kota sekeluarga karena mutasi kerjaan bokapnya" jelas Imel.
"Gue telpon Gio!" Dhyanda menarik ponsel dari dalam tasnya. melakukan panggilan telepon ke nomer Gio yang ternyata sudah tidak aktif. "Mati, Mel" ucapnya beringsut dari kursi yang didudukinya.
"Apanya yang mati, Dhy?" Imel kaget.
"Lost contact deh kita dengan dia" lirih Dhyanda sedih, memasukkan kembali ponselnya ketika melihat guru mata pelajaran pertamanya itu datang ke kelasnya.
"Nomernya gak aktif?" bisik Imel.
"Udah gak terdaftar" balas Dhyanda berbisik.
"Nanti kita coba lagi" kata Imel mengakhiri obrolannya karena pelajaran bahasa Indonesia pagi ini sudah dimulai.
Bagi Dhyanda, pembelajaran Bahasa Indonesia itu terkadang membosankan dan terkadang menyenangkan. Alasannya karena pembelajaran berbasis teks cenderung membosankan karena menurutnya siswa dipaksa berkutik dengan teks secara terus menerus serta berkutik pada hal-hal yang itu itu saja. Alasan kedua yang membuatnya menyenangkan karena pelajaran bahasa Indonesia membuat seorang Dhyanda yang bukan seorang pribumi asli menjadi sangat pasih dan paham tentang tatanan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
"Oke, tugas Minggu ini adalah membuat resensi dari sebuah buku. Judul bukunya bebas yang penting tidak boleh ada yang sama. Bagaimanakah penilaian kalian terhadap isi sebuah buku tersebut? Bisakah kalian mengungkapkan penilaian tentang sebuah buku ke dalam bentuk resensi? sampai jumpa dipertemuan selanjutnya. jangan sampai ada yang tidak mengerjakan!" tekan Ibu Nawang diakhir kalimatnya sebelum guru bahasa Indonesia itu keluar dari kelas karena jam mengajarnya sudah habis.
.
Sepulang sekolah Dhyanda dan Imel memutuskan ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas pelajaran bahasa Indonesia tadi. Mereka harus segera mencari buku untuk dijadikan resensi agar tidak keduluan dengan yang lainnya.
Di pintu masuk, Dhyanda dan juga Imel baru saja selesai menyimpan tas mereka. Sebelum meminjam buku, mereka memilih mampir ke kantin terlebih dahulu untuk membeli minuman Thai tea dan camilan yang khusus diperbolehkan untuk dinikmati di dalam perpustakaan.
"Taruh dulu minumannya biar meja kita nggak ditempatin orang!" ujar Imel memberi ide.
__ADS_1
Dhyanda mengangguk setuju. Setelah meletakkan minuman dan makanannya, ia dan imel mendatangi petugas perpustakaan. Antrian sebenarnya tidak terlalu panjang. Namun saat Dhyanda dan Imel kembali ke meja mereka, makanan dan minuman mereka sudah raib. Kursi mereka telah diisi minuman dan makanan milik orang lain.
"Berdiri aja!" putus Dhyanda, "lagian gue harus nyari buku novel yang gue incar dirak bagian belakang" ujarnya untuk mengobati kesal.
Dhyanda memang lebih sering mengunjungi perpustakaan sepulang sekolah. Bahkan petugas perpustakaan pun sudah hafal dengan Dhyanda. Sebagai siswi berprestasi, Dhyanda memiliki tuntutan tersendiri termasuk dalam target nilai dan pengelolaan keuangan hidupnya. Ketimbang keluar nongkrong atau nonton bioskop yang banyak menghamburkan uang, perpustakaan adalah pelariannya.
"Dapet bukunya?" tanya Imel menyusul ke deretan rak belakang.
"Kayanya lagi dipinjem orang lain deh, soalnya ini ada yang pengarangnya sama tapi judulnya beda. Gue gak mau yang ini" , balas Dhyanda mengangkat buku ditangannya, "nanti gue coba cek peminjaman dikomputer depan" ujarnya.
Imel mengedikkan bahunya tanpa membalas, ia menguntit saja langkah Dhyanda yang kembali ke deretan rak depan.
"Jadi pelakunya mereka?" Imel berkacak pinggang dengan wajah kesal. Ia menunjuk kursi tempat ia dan Dhyanda kehilangan minuman dan makanan sebelumnya.
"Mauren and the genk?" Dhyanda berdecak, "mereka emang nggak ada matinya ya!" sungutnya terpancing emosi.
Suasana hati Dhyanda dan Imel menjadi tidak baik. Mereka langsung mendatangi meja Mauren and the genk untuk melabraknya, berdiri dengan sombong disisinya.
"Selain tukang gosip kalian piawai juga ngerebut kursi kita ya?" tegur Dhyanda tanpa basa-basi. Baru kali ini Dhyanda menanggapi tingkah menyebalkan mereka.
"Mana minuman gue yang tadi ada dimeja ini?" tanya Imel dengan intonasi menantang.
Mauren berdiri dari duduknya, diikuti Fatiya dan Bianca yang ikutan pasang badan. "Oh, yang tadi gue buang ke tong sampah itu minuman dan makanan kalian? Sorry, gue kira itu sampah" ucapnya.
"Lo tu ya! emang gak bisa bedain itu sampah ato minuman yang utuh? bahkan tutup cupnya aja belom gue tusuk sedotan. Gila!" Dhyanda geram, minuman Thai tea dan cokelat miliknya ternyata sudah dibuang ketiga cewe rese itu.
"Ya sorry, kita kan gak sengaja kali" kata Bianca terkekeh memberi kesan merendahkan.
Saking jengkelnya Imel mendorong bahu Bianca, "Brengsek kalian ya! pokoknya ganti minuman dan makanan gue sama Dhyanda!"
"Hey, jangan kasar gitu dong!" Mauren membantu Bianca yang hampir terjatuh. "Berapa sih makanan dan minuman Lo itu? gak mampu beli lagi? apa karena uang jajannya kurang ya? kasian" ucap Mauren menghina.
__ADS_1
"Emang cocok ya yang satu model foto vulgar dan yang satunya preman. Gak ada bagus-bagusnya kalian tu," tambah Fatiya dan sukses membuat Dhyanda dan Imel makin geram.
"Gue gak peduli sama penilaian brengsek kaya Lo!" sengal Dhyanda bergidik. Dia tau dan cukup sadar diri, dengan adanya foto editan dirinya yang cukup viral disekolah membuat penilaian semua orang tentang dirinya semakin buruk.
"Kalian tinggal pindah aja, jangan disini. Bisa kan?" Imel menutup celah lemah Dhyanda dengan berusaha membuat mereka pergi.
"Gue gak salah apa-apa, buat apa pergi?" kata Mauren ngeyel, "harusnya kalian yang pergi, toh kalian yang bikin keributan" tambahnya.
Gumamam muncul dari kerumunan orang disekitar perpustakaan, mendukung Mauren and the genk. Hal ini membuat Mauren seolah makin mendalami peran tersakitinya.
"Kita gak tau kalo ini kursi kalian," ujar Mauren masih dengan suara bagai tercekik ditenggorokan, dibuat-buat, "kalo gue tau, gue gak akan duduk disini" ujarnya.
"Sekarang Lo udah tau kan?" Dhyanda mendongak lagi, matanya berembun menahan amarahnya, "cepet pindah!"
"Itu bukan salah kita buat gak tau soal kursi ini sebelumnya dipake siapa, kenapa Lo maksa banget nyuruh kita pindah?" tantang Fatiya.
"Karena dari awal kalian udah salah", sela Imel tak sabar.
"Salah dimana?" Mauren makin ngelunjak, "ini kursi milik umum, semua orang berhak buat duduk disini kan?"
"Beda urusannya kalo yang ngerebut kursi ini bukan kalian. Sejak awal kenapa seneng banget sih memprovokasi gue? kalian mau jungkir balik silahkan, tapi jangan ngubek-ngubek kehidupan gue dengan semua pengetahuan Lo soal gue! mulai dari kursi favorit sampe minuman dan makanan gue yang sengaja kalian buang itu!" tunjuk Dhyanda kesebelah tong sampah disisi kaki Bianca.
"karena gue liat minuman dan makanan Lo itu udah basi," pancing Mauren.
"Wah, Lo emang bener-bener ngajak gue ribut" seru Dhyanda habis kesabaran.
Hampir saja Dhyanda menjambak rambut panjang Mauren jika sebuah tangan kekar berhias jam tangan mahal menahan gerakannya.
.
.
__ADS_1
.
Kamu memiliki kekuatan dalam dirimu untuk bangkit tentang apa pun yang saat ini berusaha untuk menjatuhkanmu.