Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Kekhawatiran Aldrick


__ADS_3

Keduanya kini saling berhadapan cukup lama. Dhyanda bisa melihat sorot terluka dimata Aldrick yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ada ekspresi khawatir yang sulit Dhyanda terka artinya.


"Aku nggak akan deket-deket lagi sama cowok mana pun sekali pun itu Casey, kamu bisa pegang kata-kataku" janji Dhyanda serius.


"Justru karena dia aku nggak terima. Dan nggak ada jaminan aku bisa pegang kata-katamu," kata Aldrick.


Dhyanda menggigit bibir bawahnya seraya menunduk. Ternyata kali ini Aldrick cukup sulit dibujuk.


"Kamu nggak percaya sama aku, Kak?"


"Aku percaya dengan perasaan kamu, tapi aku nggak yakin dengan perasaanya dia ke kamu, Dhy. Aku takut pada akhirnya kamu menjauhiku," ujar Aldrick meragukan gadisnya.


"Demi Tuhan itu nggak akan terjadi. Aku cinta sama kamu, Al!" ucap Dhyanda mantap, mengejutkan Aldrick yang selalu meragukannya. "Setelah semua yang kulalui, semua yang kamu lakuin buat kamu, nggak ada alasan buat nggak cinta sama lelaki se-istimewa kamu," ikrar Dhyanda tanpa ragu.


Aldrick menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ditatapnya Dhyanda yang juga berganti menatapnya. Mereka hanyut dalam satu perasaan bernama cinta yang tak sesederhana pengucapannya.


"I love you so much," ulang Dhyanda lirih.


Masih tak ada tanggapan, Aldrick tetap memeluk pinggang gadisnya, sorot matanya meredup, terluka. Dhyanda semakin panik, ia tak mau kehilangan sosok Aldrick. Ia tak mau ada perpisahan, perasaannya sudah terlanjur dalam. Saking bingungnya, Dhyanda tak berpikir panjang. Ia berjinjit, merangkul leher Aldrick dan tanpa aba-aba, dikecupnya bibir lelaki tampan dihadapannya.

__ADS_1


Ciuman Dhyanda semakin dalam, seolah memaksa. Namun Aldrick masih bergeming. Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menahan diri sekuat tenaga. Aldrick malah membuang pandangannya ke arah luar jendela. Jalanan dibawah sana yang tadi sempat lengang sudah mulai hidup kembali meski tidak begitu ramai. Aldrick bukan tidak menginginkan gadisnya. Ia hanya merasa gamang saat melihat dengan langsung perhatian Dhyanda pada Casey sampai merangkul dan memapahnya seperti tadi, itu melukainya. Hatinya gusar saat harus membayangkan perempuan yang ia cintai dan jaga sepenuh hatinya, pergi menemui lelaki lain tanpa sepengetahuannya.


"Kamu tau yang sekarang ada dipikiran ku, Dhy?" gumam Aldrick tanpa menatap gadisnya.


Dhyanda menggeleng lemah, bingung harus bagaimana, "Apa?" tanyanya.


Sejenak Aldrick membasahi bibirnya, lantas ditatapnya Dhyanda, "Siapa sih kamu? sepenting apa kamu sampe aku harus rela membagi perhatian ku sama kamu? sampe bikin aku cemburu buta gini? terus dari semua pertanyaan itu, apa kamu juga sama seperti itu ke aku?"


Hening. Dhyanda mencoba mencerna semua ucapan Aldrick yang benar adanya. begitu banyak pengorbanan Aldrick kepadanya. Lantas, sekarang apa yang bisa ia lakukan untuk membalasnya, meyakinkan lelakinya tentang perasaannya?


"Kamu boleh nggak percaya sama aku. Mungkin kamu cape ya ngebohongin diri kamu sendiri dengan coba nerima semua latar belakangku yang nggak seimbang sama kamu. Aku cukup sadar diri, kamu itu langit, aku bukan apa-apa, bahkan asal-usul ku pun nggak jelas. Tapi soal perasaanku ke kamu, kamu nggak berhak buat menilainya setelah semua yang udah kita lalui selama dua tahun lebih. Aku selalu setia nungguin kamu selama kamu dilondon, karena aku serius cinta sama kamu",


Luluh, Aldrick spontan menarik lagi pinggang Dhyanda agar tubuh gadisnya itu menempel padanya. Aldrick benar-benar sudah cemburu buta atas perlakuan Dhyanda kepada Casey. Kali ini dikecupnya bibir Dhyanda lembut, semakin lama semakin menuntut dan dalam. Terbawa suasana, Dhyanda mengimbangi pagutan Aldrick. Dua anak manusia yang tengah secara tanpa sengaja mendapatkan momennya. Aldrick menyerah pada harga dirinya, Dhyanda juga begitu. Mereka tak lagi bertahan pada ego masing-masing. kedua jemari Dhyanda naik ke kepala Aldrick, meremas rambutnya menegaskan kepemilikan. Sementara lengan Aldrick erat memeluk pinggang Dhyanda, tak rela melepaskan. Inilah puncak dari rasa rindu, sara sakit dan cemburu yang tertahan karena salah paham dan komunikasi yang tidak berjalan dengan baik.


Cukup lama mereka saling berpagutan, merangkum bibir dengan lembutnya. Aldrick menegakkan kepalanya, senyumnya tersungging. Ia mengakhiri kecupan manisnya pada Dhyanda yang tampak terengah-engah kehabisan nafas. Lalu sepontan dipeluknya Dhyanda sangat erat, tak rela aroma parfum Casey menempel ditubuh Dhyanda.


Bagai ditarik keluar nyawanya oleh Aldrick, Dhyanda kehilangan daya. Ia menyandarkan kepalanya didada Aldrick, menikmati aroma maskulin yang terus dan terus membuat Dhyanda sakau. Seandainya Aldrick butuh pembuktian perasaannya, Dhyanda rela kehilangan harga dirinya. Terlalu murahankah jika Dhyanda merasa begitu?


"Kamu hampir bikin kucing imut ini lepas kendali, Kak" kata Dhyanda lirih, membuat Aldrick berjenggit geli.

__ADS_1


"Gini ini dibilang kucing imut? kamu itu kucing garong, Dhy" ledek Aldrick iseng.


"Jahat kamu!" sungut Dhyanda memukul dada Aldrick kesal, "Masa kucing garong sih," protesnya.


"Karena kamu mampu nyuri semua yang ada dalam diriku, termasuk hatiku" gumam Aldrick. Ia berusaha menata hatinya. mengendalikan tubuh normalnya dengan mengalihkan perhatian dan fokusnya ke hal lain. Ia harus menjaga Dhyanda, harus! tak boleh merusaknya.


"Terserah apalah mau mu memanggiku apa, yang penting kamu nggak marah lagi kan?" rayu Dhyanda seraya mengusap-usap dada Aldrick mesra.


"Shit, Dhyanda Genoveva!!" umpat Aldrick tak kuasa menahan kegemasannya lagi, ia menggertakkan giginya geregetan pada gadis dipelukkannya, "aku gigit ya kamu!" ancam Aldrick iseng.


Dhyanda nyengir, "kenapa? nggak tahan ya?" godanya makin menjadi, "Ayo pulang kak! pagi ini aku ada kuliah,"


"Ayo, nanti aku yang anter ke kampus," ucap Aldrick sambil menggandeng Dhyanda keluar dari ruangan kerjanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2