Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Niat membantunya


__ADS_3

"Ini harusnya yang makan semuanya kamu lho Kak, bukan malah nyuruh aku yang ngabisin separuh makananmu!" keluh Dhyanda kesal.


"Aku udah kenyang Dhy, lagian aku nggak enak makan kalo kerjaan belum kelar," jawab Aldrick sudah lanjut sibuk mengamati layar laptop dimeja kerjanya.


Dhyanda menatap kesal, tapi masih tergoda juga untuk menghabiskan makanan sisa Aldrick. Diamatinya Aldrick yang sesekali mengecek ponselnya itu. keindahannya mahakarya Tuhan yang luar biasa dan mempesona meski tengah serius bekerja.


"Ganteng emang," lirih Dhyanda memuji, tapi Aldrick tak mendengarnya. Sebentar kemudian Dhyanda tersipu, merasa malu sendiri mengagumi pacarnya secara diam-diam begini.


"Kamu mau es Boba?" tawar Dhyanda setelah melihat Aldrick tak menyiapkan air minum sama sekali dimejanya.


"Nawarin aku apa kamu yang pengen?" Aldrick malah balik bertanya.


"Kok tau?"


"Kesukaan mu dari SMA nggak pernah robah, Es Boba itu kan?"


"Ih, sok tau!" sambar Dhyanda mencibir.


Aldrick tertawa tapi tetap menatap layar laptopnya. sesekali ia nampak mencocokkan yang ada di laptop dengan sesuatu diponselnya. Lantas ia melirik Dhyanda, mengamati gerak-gerik imut gadisnya. Dhyanda mengitarkan pandangan. Kadang ia berdiri, berjalan mengamati beberapa plakat yang menunjukan semua prestasi sang pacar.


"Kalo mau es Boba aku bisa minta tolong Vero membelikannya untukmu," kata Aldrick.


"Nggak ah, ntar ngerepotin" sahut Dhyanda sungkan.


"Vero udah biasa aku repotin. Lagian didepan kantor ini ada kedai minuman yang jualan es Boba juga," terang Aldrick.


"Oya?" Dhyanda langsung mendekat ke arah meja Aldrick, "Kalo gitu aku beli sendiri aja ya,"


"Tapi kamu harus turun lho Dhy, cape nanti. Biar Vero aja!" cegah Aldrick.


"Ya kali aku pake tangga darurat dari lantai 11 ke lantai dasar, liftnya nggak rusak kan?" ujar Dhyanda.


"Oke, jika itu mau kamu. Tapi ati-ati nyebrangnya lho ya, jam segini jalanan masih rame"


"Dipikirnya gue anak kecil," gumam Dhyanda sangat pelan. "Kamu mau rasa apa Kak, samain sama aku aja ya?"


"Terserah," sahut Aldrick menyerah.


Dhyanda pun bergegas keluar dari ruangan Aldrick,


"Mau kemana Dhy?" tanya Vero saat sudah diluar ruangan kekasihnya.

__ADS_1


"Beli es Boba didepan sana. Kak Vero mau sekalian nitip?"


"Nggak ah, kenyang" sahut Vero.


"Oke, aku turun dulu ya," pamit Dhyanda menuju lift tak jauh dari sana.


Didalam lift, ponsel Dhyanda berdering. Nomor tak dikenal, Dhyanda mengabaikannya. Sampai pintu lift terbuka dilantai 1 ponselnya kembali berbunyi, masih nomor yang tadi. Karena penasaran, kali ini Dhyanda mengangkatnya.


"Hallo," sapa Dhyanda.


"Apa?" pekik Dhyanda setelah mendengar penjelasan dari seseorang diseberang sana. "Baik, saya segera kesana," akhirnya Dhyanda menutup sambungan teleponnya. Saat hendak memasukkan ponselnya kedalam tas, tak sadar ponselnya terjatuh didepan pintu lift karena tergesa-gesa.


Tanpa pikir panjang Dhyanda berlari keluar kantor, terburu-buru ke sebuah klinik dekat bandara. Langkahnya lebar, kepanikan menyergapnya.


Sesampainya di Klinik, Dhyanda menemukan Casey tengah berbaring di ranjang UGD.


"Casey!" Dhyanda menepuk kaki Casey hati-hati. Casey yang tengah memejamkan mata itu akhirnya membuka.


"Dhyanda? kok Lo kesini?" lelaki itu tampak terkejut.


"Mustinya gue yang nanya kenapa Lo bisa sampe disini?" kata Dhyanda.


Seorang perawat datang mendekat, menyapa Dhyanda dan menyerahkan ponsel milik Casey padanya. Perawat itu memberi tahu bahwa ialah yang menelpon Dhyanda untuk datang ke klinik ini karena hanya nomer Dhyanda yang bisa tersambung diantara 7 kontak person yang ada ponsel Casey. Irit sekali.


"Tadi hanya pingsan saja karena shok, tidak ada yang serius. Luka dikaki dan tangannya pun akan kering dengan sendirinya asal rajin dibersihkan. Sekarang juga boleh pulang" kata perawat itu tersenyum ramah.


"Ah, syukurlah", gumam Dhyanda merasa lega.


Setelah membereskan semua administrasi, Dhyanda memapah lelaki itu keluar dari klinik. Ada luka dikaki kanannya yang menyebabkan jalannya Casey tertatih dan butuh batuan Dhyanda.


"langsung ke apartemen kan?" tanya Dhyanda sambil menunggu taksi online yang sebelumnya sudah dipesan.


"Lo nggak usah nganter, gue bisa pulang sendiri," ujar Casey.


"Kaki kamu sakit gini, yakin nggak butuh bantuan gue? Ayo! taksinya udah datang tuh," kata Dhyanda sambil memapah kembali Casey, mendekati taksi online yang sudah berhenti dihadapan.


"Sorry," gumam Casey saat keduanya sudah berada didalam taksi.


"Sorry kenapa? sungkan karena Lo udah ngerepotin gue?" tebak Dhyanda.


Casey menghela napas, "Gue lagi nggak mau ribut ya, tolong jangan mancing-mancing emosi" lirih Casey terdengar lemah.

__ADS_1


"Lo nyebrang apa nggak liat-liat ampe bisa ketabrak gitu?" tanya Dhyanda penasaran dengan kronologis kecelakaan yang dialami Casey.


"Gue abis nganter orangtua gue ke bandara, abis itu nyebrang dan nggak liat ada mobil ngebut melintas. Gue kaget, dia juga kaget. Ya udah," ujar Casey.


"Ya udah gimana? ketabrak? emang orangtua Lo udah balik ke Jerman? bukannya mereka baru datang?" cecar Dhyanda tak sabar.


"Mereka ke Bali, ada temen lama Mama disana yang mengundangnya untuk acara peresmian hotel baru miliknya,"


"Ooh" Dhyanda membulatkan bibirnya.


Sesampainya di apartemen milik Casey, Dhyanda memapah sepupu kekasihnya itu dengan sangat hati-hati.


"Lo musti banyak istirahat," perintah Dhyanda seraya membantu membaringkan tubuh Casey keatas tempat tidur.


"Ini udah malem, gue nggak bisa nganter Lo pulang" kata Casey yang tiba-tiba jadi perhatian sama Dhyanda.


"Nggak apa-apa, masih banyak taksi kok. Gue pergi ya," pamit Dhyanda beranjak.


"Air, gue haus Dhy," keluh Casey seolah menahan langkah Dhyanda.


Tak tega, Dhyanda akhirnya merubah arah ke pantry, mencari air hangat. Namun ternyata, Casey bahkan tidak memiliki termos air. Dispenser yang ada diruang makan pun kosong, tak ada air didalam galonnya. Mau tak mau, Dhyanda akhirnya memilih untuk merebus air lebih dulu. Saat itulah ia melirik jam di dinding, dan ia teringat dengan Aldrick yang pastinya masih menunggu Dhyanda dikantor. Panik, Dhyanda mencari ponselnya. kemanapun, ponsel itu tak ia temukan. Terjatuh dimana? taksi atau pas di klinik tadi? Ah, Dhyanda stres sendiri.


"Mana gue nggak hafal nomernya Kak Al, ya ampun!!" desis Dhyanda menyadari telah membuat kesalahan.


Buru-buru Dhyanda menuang air mendidih yang baru saja dimasaknya ke dalam teko kaca. lantas dibawakannya satu gelas untuk Casey. Lelaki itu masih terbaring diatas tempat tidur. Panas dingin ditubuhnya mulai terasa akibat dari luka-luka yang ada dikaki dan tangannya.


"Airnya masih panas, tunggu dingin bentar," ucap Dhyanda penuh perhatian.


Karena rasa kasihan dan balas budi yang ia miliki, Dhyanda dengan telaten melepas sepatu Casey. Diletakkannya sepatu itu di bawah tempat tidur. Aldrick yang pacarnya saja tidak pernah ia perlakukan seperti itu dan Dhyanda merasa konyol setelah ia selesai.


"Dhy," panggil Casey lemah, membuat Dhyanda langsung terkesiap. "Bahaya kalo lo pulang malem gini, apa sebaiknya nginep dulu aja," lanjut Casey membuat Dhyanda menahan napasnya kaget.


"Gue berani kok, Lo tenang aja" jawab Dhyanda yakin. Ia sadar, saat ini Aldrick pasti mengkhawatirkannya. Ia harus bertekad untuk segera pergi dan menemui Aldrick secepat yang ia bisa.


Kali ini Casey tak bisa lagi mencegahnya, "Oke, hati-hati," ujarnya melepas kepergian Dhyanda.


"Lo cepet pulih ya, yang semangat biar tangannya bisa dipake main game lagi. Gue pergi!" pamit Dhyanda langsung berlari ke pintu, tak ingin sesuatu menahan langkahnya lagi.


Dhyanda memanggil taksi yang lewat, secepatnya harus sampai di O'Neill grup dan menemui kembali pemilik hatinya yang sejati.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2