
Dibawah lantunan live music, Joya White Wine semakin melengkapi makan malam romantis dua sejoli ini. Anggur putih ini terbuat dari campuran anggur Portugal yakni Arinto, Sauvignon Blanc, dan Roupeiro. Aroma citrus langsung tercium dengan rasa manis yang segar dan tingkat alkohol yang rendah.
Sebelum memulai makan malam yang super romantis versi Dhyanda, mereka terlebih dulu menikmati white wine itu yang memang sudah disiapkan pelayan dari awal. Ini kali pertama Dhyanda mengesap minuman jenis wine seperti yang sering ia lihat di drama-drama yang sering ditontonnya.
Kaviar di piring Aldrick sudah ia lahap, sementara milik Dhyanda masih tersisa setengahnya. Gadis Aldrick ini sengaja berlama-lama menyelesaikan makannya karena menikmati dan menerka-nerka seperti apa rasa jamur truffle dan kaviar yang harganya fantastis itu.
"Kamu inget aku pernah cerita kalo dulu aku juga pernah belajar musik?" tanya Aldrick.
Dhyanda mengangguk cepat dengan mulut yang masih mengunyah makanannya.
"Pas aku SMP, mama pernah masukin aku les vocal dan gitar, tapi emang dasar akunya nggak bakat jadi kerasa sulit aja dan nggak sebagus permainan kamu. Udah lama nggak sih, tapi kamu dapet kesempatan buat liat permainan ku malem ini," kata Aldrick serius.
Dhyanda spontan menelan bulat-bulat makanan yang masih ada dimulutnya, "What? apaan nih, kamu mau nge-band? enggak pantes Al!" tahan Dhyanda pada ujung jas Aldrick yang sudah mulai berdiri.
"Apanya yang nggak pantes?"
"Penampilan kamu! Mana ada anak band setelan kaya bos gini? berjas?" kata Dhyanda masih sanksi.
__ADS_1
"No problem. Kamu tunggu disini dan nikmati dessert nya sambil liat aku perform. Kesempatan langka lho kamu bisa liat aku begini, bahkan Vero dan Bang Sony pun nggak pernah tau. So, jangan dilewatin, abadiin kalo perlu," pesan Aldrick mewanti-wanti sambil mengedipkan sebelah matanya.
Dhyanda masih bengong tanpa menjawab permintaan Aldrick yang sudah mulai memegang gitar dipinggangnya. Lelaki itu nampak mencoba beberapa kali memetik senarnya, menyamakan nada. Ini adalah kesempatan langka untuk melihat seorang Aldrick bermain gitar. 'Seriously?'
Dhyanda mulai menyantap puding dessert sebagai penutup jamuan makan malamnya, diiringi petikan gitar dari jemari Aldrick yang melantunkan lagu milik Bruno Mars, Marry you versi acoustic cover.
Aldrick sengaja hanya menyanyikan beberapa bagian lirik lagunya yang sesuai dengan yang ingin ia sampaikan pada Dhyanda. Hari ini, ia ingin melamar gadisnya dalam cara yang istimewa dan yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Aldrick melamar Dhyanda dengan lagu yang ia mainkan sendiri dengan sepenuh hati.
"Cause it's a beautiful night, we're looking for something dumb to do. Hey baby, I think I wanna marry you. Is it the look in your eyes or is it this dancing juice. Who cares baby, I think I wanna marry you," tutupnya sangat romantis.
Dhyanda menutup mulut dengan kedua telapak tangannya takjub sekaligus terharu. Dhyanda sadar Aldrick sedang melamarnya saat lelakinya itu datang mendekat sambil menunjukkan kotak berukuran kecil berisi cincin kehandapannya.
"Dhy, aku mencintaimu sejak tawa, tangis, canda, dan keceriaanmu mengisi hidupku. Aku mau kamu menemaniku mengarungi hidup, menjadi nyonya Aldrick, menjadi ibu dari anak-anak kita nanti," lirih Aldrick syahdu.
Dhyanda masih menggigit bibir bawahnya dengan mata berbinar, tak percaya dengan apa yang tengah ada didepan matanya.
"Dhyanda, aku pengen ngajak kamu nikah, kamu mau kan?" kata Aldrick sekali lagi, to the poin.
__ADS_1
Gadis itu mengerjap, lengkung garis bibirnya mulai tersenyum. "Of course it's gonna be yes!" jawabnya langsung memeluk Aldrick.
Aldrick balas memeluk pinggang Dhyanda, menempelkan dagunya dipundak sang gadis. Ia memang sudah yakin kalau gadisnya itu pasti tidak akan menolaknya. Aldrick bahagia bisa melihat raut haru diwajah Dhyanda.
Setelah mengurai pelukannya, Aldrick lalu menumpu tubuhnya dengan berlutut disebelah kakinya. Tangannya terangkat menyodorkan cincin tadi pada Dhyanda. Senyumnya terkembang, penuh ketulusan.
"Dhyanda Genovefa, I love you with the breath, the tears and the smile of my life. Will you marry me?" pinta Aldrick sekali lagi dengan penuh kesungguhan hati.
Mata Dhyanda berbinar cerah, wajahnya merona merah. Dhyanda sampai tercekat tak bisa berkata apapun juga. Air mata mengalir ke pipi, sebuah air mata bahagia. Ia mengangguk-angguk tanpa suara, bahagia yang sebenarnya.
"Yes, Al. Yes, I Will," balas Dhyanda, kali ini suaranya sangat lantang dan sangat yakin. Ia langsung menyodorkan jemarinya untuk dipakaikan cincin oleh Aldrick. Dan satu kecupan mendarat di keningnya.
Mata Dhyanda berbinar begitu bahagia saat melihat cincin cantik itu sudah tersemat di jari manisnya. Cincin indah sederhana bermata satu yang membuat Dhyanda langsung jatuh cinta.
.
.
__ADS_1
.