Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Siapa diluar?


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu. Seusai dari kampus, Dhyanda langsung pulang kerumah karena badannya merasa tidak enak, entah kenapa suhu tubuhnya mendadak demam. Ia langsung merebahkan dirinya ke atas tempat tidur, terlelap hingga malam menjelang. Apa yang yang terjadi dengannya akhir-akhir ini? Apa kini gadis itu merasa kesepian?


Sudah satu Minggu ini Ibu Arumi pulang kampung ke Sumedang, ia memutuskan untuk menjalankan usaha bersama dengan Amira, sang adik yang baru saja membuka rumah makan di kota tahu tersebut. Awalnya Arumi menolak tawaran itu karena tidak ingin meninggalkan Dhyanda sendirian di Jakarta, tapi Dhyanda terus meyakinkan Arumi bahwa dirinya akan baik-baik saja. Kini Dhyanda sudah dewasa, ia sudah cukup mandiri.


Saat bangun, malam sudah larut. Dhyanda sengaja tetap berbaring diatas tempat tidur. Pikirannya sedang kacau karena tiba-tiba saja teringat Aldrick yang sudah hampir dua tahun lamanya tak kunjung kembali. Mereka hanya sesekali berkomunikasi lewat video call dan chat untuk saling memberi kabar.


"hubungan LDR kaya gini bikin capek!" desis Dhyanda seraya memijat keningnya karena sedikit pusing. Ditambah lagi raganya berasa remuk redam karena aktivitas dan tugas  dikampus yang membuat dia sibuk. Hingga Dhyanda sering terlambat makan beberapa hari terakhir ini.


“Gue ketiduran sampe segini malemnya jadi lupa kalo mau ke kafe Imel,” lirih Dhyanda mengambil ponselnya dan menekan nama 'Imel Comel' untuk menghubunginya.


Sekali dua kali, Imel masih tidak mengangkat teleponnya. Pesan yang dhyanda kirim pun tak dibaca meski sudah tertulis ‘send’ pada laporannya. Pikiran Dhyanda pun menjadi macam-macam, apa mungkin Imel marah karena gue gak jadi dateng ke kafe?


Dhyanda:


sorry, tadi gue ketiduran makanya gak jadi ke kafe.


Send.


Masih tidak dibaca. Sudah hampir ke 10 kalinya Dhyanda menelpon, tapi Imel masih mengabaikannya.


Baru Dhyanda ingin mengirim pesan lagi pada Imel, seseorang memencet bel di pintu depan berkali-kali. Dari suaranya, nampak seperti sedang tergesa-gesa.

__ADS_1


“Si Imel kali ya baru pulang dari kafe, dia kan janji mau nginep disini kemaren-kemaren” tebak Dhyanda bersemangat.


Menuruni tangga, Dhyanda masih mendengar bel ditekan. Semakin dekat ke pintu, Dhyanda merasa curiga. Jika itu adalah imel, seharusnya namanya dipanggil bukan? Kenapa ini diam saja dan terkesan memaksa masuk?


Perasaan Dhyanda mulai tak enak. Pelan-pelan sekali, Dhyanda mencoba mengintip dari jendela samping yang tirainya terbuka sedikit. Hati Dhyanda seperti mau rontok rasanya saat dilihat tak ada satu orang pun didepan pintunya.


“Nggak mungkin orang iseng nih,” gumam Dhyanda tergesa berlari ke pintu dan menguncinya rapat-rapat.


Tak cukup mengunci pintu, Dhyanda menggeser satu meja kayu jati untuk menahan pintu jika ada kekuatan besar mendorongnya dari luar. Ia lantas berlari masuk lagi ke dalam kamar. Pikirannya mulai dipenuhi pikiran buruk. Ditambah ia teringat berita di televisi yang mengungkap bahwa akhir-akhir ini sering terjadi kejahatan perampokan dan pemerkosaan yang terang-terangan.


“Please Mel, angkat!!” desis Dhyanda dengan tangan bergetar sambil memegangi ponselnya. Imel masih tidak bisa dijamah, pesan Dhyanda pun masih ceklis abu-abu dan tak kunjung dibacanya.


Dhyanda terlonjak saking kagetnya saat pintu tiba-tiba digedor dari luar. Ini jelas bukan perbuatan orang iseng. Bahkan seseorang seperti memaksa untuk masuk berkali-kali, menggerakkan kenop pintu yang bersuara khas itu. Pikiran Dhyanda mulai kalut, ia takut dan panik. Yang terlintas dalam pikirannya hanyalah Aldrick, tapi gak mungkin juga dirinya menghubungi Aldrick, kejauhan.  Vero! Ya, Dhyanda ingat, dulu Vero sempat menyimpan nomernya di kontak ponsel milik Dhyanda. Ia meminta menghubunginya jika ada sesuatu yang mendesak.


Tolong aku, Kak Vero! Seseorang nyoba ngebobol pintu rumah kontrakan aku yang di jalan Tulip nomor  12. Aku takut, Kak.


Send.


Dhyanda menangis setelah pesannya terkirim tapi tanpa direspon seperti Imel. Sementara suara diluar makin terdengar mencekam. Ia menyesal karena tak mengindahkan pesan ibu Arumi saat memintanya untuk memperbaiki beberapa kunci pintu dan jendela. Terlebih dulu ia dan Arumi memilih kontrakan yang sebelah kanan dan kirinya rumah kosong. Misalpun dihuni, penghuninya jarang kelihatan, hanya sering terdengar lolongan anjing saja yang menjaga rumahnya agar tetap aman.


Merasa buntu dan tersudut, Dhyanda akhirnya menghubungi polisi. Itu satu-satunya cara teraman dan cepat yang terpikirkan olehnya.

__ADS_1


“Saya nggak berani ngeliat ke depan Pak, suaranya masih terus terdengar” isak Dhyanda benar-benar ketakutan. Ia diminta terus bicara ditelepon oleh polisi yang menerima panggilannya. Sedangkan katanya, sudah ada tim yang cepat tanggap menuju lokasi rumah Dhyanda.


"Ada suara lain selain gedoran dipintu? Masih terdengar?" kata polisi diseberang sana.


“Masih Pak. Hanya gedor-gedor pintu, tadi sempat kaya mau maksa masuk, tapi pintu udah saya kunci dan saya ganjal pake meja. Berapa lama lagi sampenya Pak? Saya takut!!” keluh Dhyanda sudah abis akal, air matanya tak henti keluar.


"Tim kami akan sampai kira-kira 10 menitan ke lokasi. Mbak Dhyanda harus tetap tenang, laporkan pada kami semua yang Mbak Dhyanda dengar dan lihat. Kami yakin Mbak Dhyanda kuat dan bisa bertahan!", bujuk petugas polisi yang terus memandu dan menenangkan Dhyanda sementara tim lapangan bergerak menuju rumah kontrakan.


“Makin keras digedornya Pak, saya mohon lebih cepet lagi!”


Dhyanda berjongkok disudut kamarnya, memeluk kedua lutut. Ia sudah sangat lemas dan ketakutan, tak memiliki harapan. Terbayang dimatanya trauma masa kecil yang pernah ia alami. Saat dirinya dan Ibu Arumi serta beberapa orang dirumahnya disekap, dikumpulkan di dalam satu ruangan. Teringat dengan jelas baku hantam dan suara tembakan beberapa kali didepan matanya. Rasanya juga setakut ini, setertekan ini, tapi tak juga Dhyanda dapati peristiwa apa dulu secara detailnya pernah terjadi. Mungkin karena usianya dulu masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.


"Mbak Dhyanda masih sama kami kan?" tegur petugas polisi beberapa kali karena tidak mendengar suara Dhyanda.


“Tolong lebih cepat Pak!” lirih Dhyanda hampir tak terdengar.


Ketakutan Dhyanda mencapai puncaknya. Ia sendirian, terancam, nggak ada Ibu Arumi. Juga kehilangan satu-satunya perlindungan yang selalu bisa ia andalkan. Kemana gerangan Aldrick sang pahlawan tampan pujaannya itu? mengapa tak kunjung pulang? Dhyanda benar-benar membutuhkannya saat ini.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2