
Kini mereka sudah tiba diruang divisi IT. Aldrick langsung menemui Vero, “Kayak yang saya sampaikan ditelepon tadi” kata Aldrick sopan.
Vero dari divisi IT itu mengangguk dan tersenyum kikuk. Ditatapnya Dhyanda dan Aldrick bergantian,
'jadi cewe ini yang bikin si bos kecil jarang ke kantor' batin Vero.
“Nggak perlu kamu yang turun, Ver. Bisa bahaya dengan imajinasi liar mu itu. Kalo bisa yang cewek, soalnya ini kontennya sensitive banget” pinta Aldrick lagi seraya mengedipkan sebelah matanya.
Vero mendengus halus, mengerti yang dimaksud Aldrick. Lelaki itu begitu melindungi Dhyanda meski nyatanya tubuh elok yang terekspos itu bukan milik gadisnya.
“Oh, baik, Pak” ujar Vero mengangguk paham. “saya panggilkan orang-orangnya dulu” lanjutnya seraya bergegas mencari karyawan yang dimaksud.
“Kita tunggu disana!” tunjuk Aldrick pada ruang tunggu yang dilengkapi satu set sofa, juga kulkas dengan berbagai pilihan minuman dingin.
Dhyanda mengangguk lalu mengikuti langkah Aldrick. “makasih, kak. Udah bantuin masalah aku” ucap Dhyanda dengan senyum manisnya.
“Ini masalahku juga, Dhy” sahut Aldrick seraya membuka teh botol dingin yang baru saja diambilnya. Lantas dengan begitu manly-nya , diberikannya minuman itu pada Dhyanda. “minum dulu!”
“Meskipun difoto itu bukan badan aku, tetap saja rasanya sakit ngeliat wajah ku disana” lanjut Dhyanda. Ia meneguk minuman dari Aldrick, pandangannya ikut menatap keluar jendela.
“Tenang aja, alamat IP penyebarnya bakalan langsung ketauan,” sahut Aldrick ikut meneguk air mineralnya. “Dialah pelaku yang meretas web sekolah”
“Makasih juga udah minta programmer cewe, kak” kata Dhyanda lagi menatap Aldrick dengan pesonanya.
Aldrick tidak menanggapi. Terlalu banyak 'makasih' yang Dhyanda ucapkan hari ini.
“Kamu gak ada gambaran sama sekali soal pelakunya?” Aldrick menoleh Dhyanda yang tengah minum sambil menatapnya. Gadis itu pun tersedak.
“Jangan asal noleh gitu napa sih, Kak? Aku kan kaget!”
“Kenapa? Takut ketauan lagi diem-diem mandangin aku lagi?” goda Aldrick. “setelah dari sini lo boleh mandangin gue sepuasnya” bisik nakal Aldrick mendekati telinga Dhyanda.
“Heuh? Maksudnya?” Dhyanda gagal paham.
“Itu Vero, Ayo!” tiba-tiba Aldrick menarik tangan Dhyanda. Ia menunjuk ke arah Vero yang baru saja datang dan meminta Aldrick membawa Dhyanda ke ruang programmer.
__ADS_1
Aldrick sekilas menyapa dua perempuan muda dengan penampilan modis yang ternyata pegawai dari divisi IT juga. Aldrick memang tidak kenal dengan semua pegawai dikantornya, dia hanya kenal Vero untuk yang dibagian divisi IT.
“Tadi saya udah kirim alamat webnya” ucap Aldrick sekenanya.
“Iya kami usahakan ya, Pak Aldrick” ujar salah satu programmer dengan nametag Arin itu.
“Bisa mulai sekarang?” sela Aldrick tak sabar.
“Oke, Pak” balas seorang lagi yang bernama Intan.
Arin dan Intan menghadapi laptopnya sangat serius. Dibelakang mereka, Aldrick mengawasi begitu cermat. Sementara Dhyanda ikut melihat aksi dua karyawan perempuan hebat itu bekerja.
.
“Ini, Pak” tunjuk Intan pada layar laptopnya.
Aldrick membungkuk, mengamati dengan cermat grafik yang muncul didalam layar. Ia berdecak kecil, kelihatan tidak puas dengan hasil pencarian itu.
“Ketemu, Kak?” tanya Dhyanda penuh harap. Jika itu menyangkut tentang teknologi informasi, Dhyanda benar-benar buta.
“Arin, kamu jelasin situasinya” perintah Aldrick.
“panggil saya Dhyanda aja, Mbak!” pinta Dhyanda mengerti.
“Ah, gini Dhy-Dhyanda” ucap Arin ragu, “ternyata, foto hasil editan ini dikirim bukan dari laptop atau komputer pribadi. Tapi dari salah satu komputer milik warnet. Penggunanya puluhan, jadi kita juga gak bisa mastiin siapa yang menggugah foto di jam-jam krusial itu” jelasnya.
“Artinya siapa pengedit dan penggugah foto itu bakalan susah banget ditemukan ya?” gumam Dhyanda sangat lirih, wajahnya kembali muram.
Arin dan Intan tak buru-buru menjawab. Mereka justru saling bertatapan, menunggu reaksi Aldrick. Apalagi bos kecil itu hanya terdiam dengan pandangan yang masih lekat pada layar laptop didepan Arin.
“Kita bisa mempersempit pencarian kalau kerja sama dengan warnetnya” ucap Arin berusaha menghibur.
“Iya, masih bisa kami usahakan. Biasanya setiap warnet memiliki cctv kan? mungkin kita bisa lacak mulai dari sana”, tambah Intan.
Dhyanda menoleh ke arah Aldrick. Masih dengan gaya bossy-nya mengantongi kedua telapak tangan disaku celana. Lelaki itu belum beralih dari pandangannya menatap layar laptop. Kini Dhyanda putus asa, ia ingin sekali menangis rasanya. Dia mulai lelah, Dhyanda menyerah.
__ADS_1
Aldrick lalu bereaksi, ia menoleh ke Dhyanda, tatapannya sedikit lunak, bahkan terkesan cukup teduh ketimbang sebelumnya.
“Oke. Kirim semua yang kalian temuin ke saya!” pinta Aldrick pada Arin dan Intan, “biar saya yang urus” lanjutnya seraya beranjak pergi. Dhyanda terpaksa mengikutinya setelah tergesa berpamit dan mengucapkan terima kasih kepada dua perempuan programmer itu.
Aldrick rasa hari ini sudah cukup. Dia tidak mau membuat gadisnya ini terus bersedih. Dhyanda memang nampak kelelahan, ditambah seharian ini sudah berapa kali dia menangis. Aldrick paham, gadis itu pasti shok menghadapi masalah yang kini tengah dihadapinya.
"Aku anter kamu pulang aja ya" kata Aldrick, membawa kembali gadisnya turun menuju lobby kantor.
"Ku rasa kita tidak akan menemukan pelaku penggugah foto itu, Kak" gumam Dhyanda lemah.
"Siapa bilang?" Aldrick menoleh sekilas pada Dhyanda. "aku yang akan mengurusnya. Aku akan beri si pelaku sedikit pelajaran karena berani-beraninya mengganggu ketenangan pacarku ini"
"Heu? gimana nyari pelakunya? yang Dateng ke warnet itu banyak kak. Gak satu dua orang, tapi puluhan bahkan ratusan" lirih Dhyanda absurd.
"Kaya slogan wafer tango, dong. Berapa lapis? ratusan..." Aldrick tertawa berniat menghibur sang pacar, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Dhyanda hingga membuat pipi gadis itu kembali merona.
"Ih, apaan sih, Kak! seriusan ini" gadis itupun tersipu.
"Udah tenang aja. Lagian forum sekolah dan grup daring kelas juga udah diblokir sementara, jadi aman"
"jadi yang nge-hecker itu Kak Al?" Dhyanda membulatkan bola matanya sempurna.
"Iya lah" akunya sombong, "buat siapa coba?" Aldrick menatap Dhyanda dalam.
Dhyanda mengernyit bingung, terlihat berpikir. "Aku?" terkanya sambil menunjuk wajahnya sendiri.
"For God sake, Sugar!! Lo bikin gue gemes tau gak" Aldrick mengacak poni rambut Dhyanda seperti biasanya.
Cinta bukanlah memiliki dan dimiliki Namun cinta adalah pengorbanan dan perjuangan.
.
.
.
__ADS_1
Happy Monday, Sugar! jangan lupa LiKE KOMEN and VOTEnya 😉