Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Ngigau


__ADS_3

"Abis ini aku ke kantor bentar ya, Dhy. Kamu istirahat" ujar Aldrick seraya mematikan laptopnya.


"Tengah malam gini? ngapain sih?" tanya Dhyanda tak rela ditinggal. Ia masih takut berada dirumah sendirian.


"Ada kerjaan. Vero masih dikantor soalnya," jawab Aldrick santai.


"Bentar! disaat aku setuju tinggal di rumah mu ini, kamu malah mau ke kantor. Terus aku sama siapa? aku merasa dijebak nih."


"Dijebak gimana? kamu sendiri yang setuju kok. Kata yang udah keluar dari mulut nggak bisa ditarik lagi," ujar Aldrick seraya berdiri dari kursi.


"Ikut boleh?" seru Dhyanda dengan nada manja yang dibuat-buat.


"Kamu istirahat aja dirumah"


Cepat Dhyanda menggeleng, "aku takut sendirian dirumah," rengeknya.


"Aku dikantor kerja lho Dhy. Nggak bisa ngerawat kamu," jelas Aldrick berusaha membujuk agar Dhyanda mau istirahat dan menunggunya dirumah.


"Aku nggak akan ganggu kamu kerja kok. Janji!" ucap Dhyanda menunjukan jari telunjuk dan tengahnya ke udara.


Aldrick mengusap tengkuknya sebentar. "Nggak bisa, Dhy. Aku janji akan cepat pulang, lagipula disini aman. Nggak ada orang jahat yang berani kemari karena penjagaan disini sangat ketat", jelas Aldrick.


"Oke, gue dirumah. Kak Al boleh pergi", kata Dhyanda seakan tak rela. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus berani dirumah ini sendirian. Lagipula apa yang ditakutkan disini? seperti yang dikatakan Aldrick barusan, disini lebih aman.

__ADS_1


Selepas kepergian Aldrick ke kantor, Dhyanda tak berani masuk ke kamar. Ia menghempas tubuhnya di sofa. Dipeluknya tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangan didepan dada. Gadis itu lebih memilih menonton televisi meski kedua matanya sudah terkantuk-kantuk. Setiap menit diliriknya jam dinding yang menempel ditembok sisi kirinya.


"Waktu kok terasa lama sih?" gumamnya benar-benar membuat Dhyanda merasa tidak tenang sendiri. Hingga akhirnya gadis itu pun tertidur dengan sendirinya.


.


Hampir menjelang subuh Aldrick baru kembali dari kantornya. Ia melihat Dhyanda terlelap di sofa, separuh kakinya dari lutut sampai telapak menggantung ke bawah. Posisi tidurnya miring, beberapa helai rambut halus menutupi cantik wajahnya. Aldrick melepas jasnya lalu berjongkok didepan gadisnya sebentar, spontan mengecup bibir ranum Dhyanda. Ada desiran hebat yang lelaki itu rasakan tiba-tiba. Tubuhnya yang lelah tak membuat hasratnya ikut lemah.


"for God shake, Al!! Apa yang lo pikirin?” rutuknya menyesali perbuatannya sendiri dan pikirannya yang dihasut iblis bertanduk merah.


Tak tega, Aldrick merengkuh lalu membawa tubuh Dhyanda dan memindahkannya agar tidur didalam kamar. Gadis itu benar-benar pulas, ia tak terbangun sama sekali bahkan ketika Aldrick kembali membaringkannya di tempat tidur.


“Aku janji bakal jagain kamu, Dhy. Nggak ada yang bisa nyakitin kamu lagi, atau mereka akan berhadapan denganku” gumam Aldrick. Diusapnya pipi Dhyanda berulang, deru napas halus dan hangat menyapu punggung telapak tangan Aldrick.


Perasaan Aldrick pada Dhyanda begitu dalam. Cinta yang ia miliki untuk gadis lincah dan ceria didepannya  ini semakin menuntut kepemilikan sepenuhnya, mendesak untuk segera diutarakan. Namun Aldrick belum yakin betul apakah Dhyanda menyetujuinya atau tidak. Sebagai seorang yang bisa mendapatkan segalanya ibarat hanya dengan menjentik jari tangan, Aldrick takut mendapat penolakan. Angkuh dan dingin dirinya bisa seketika lenyap dan luruh didepan Dhyanda. Aldrick sudah benar-benar kecanduan gadisnya itu.


Namun Dhyanda bergerak, ia menggaruk lehernya sebentar. Matanya setengah terbuka, tapi masih dalam keadaan tak sadar.


“Caseey,” desis Dhyanda nyaris tak terdengar.


Seketika rahang Aldrick mengeras. Bahkan dalam ketidaksadarannya, Dhyanda bisa membawa nama, Casey?


"Kenapa harus dia? sejauh mana Dhyanda mengenalnya?" gumam Aldrick tak terima.

__ADS_1


Hati lelaki itu langsung dibakar cemburu, ia berdiri dan urung mengecup kening Dhyanda. Merasa hatinya panas karena ternyata Casey yang dimimpikan oleh Dhyanda, bukan dirinya, Aldrick keluar dari kamar begitu saja, dadanya berkecamuk tak terima. Seakan bunga sakura yang ia tumbuhkan susah payah didalam hatinya, disiram begitu saja dengan air panas oleh sang gadis. Ia memilih pergi keluar untuk menenangkan diri, merasa tak dibutuhkan oleh satu-satunya perempuan yang ia perjuangkan selama ini. Suasana hati Aldrick memang sedang tidak baik. Entah itu karena capek dengan masalah di perusahaan, atau memang karena ini berhubungan dengan sepupunya yang bernama Casey. Masalah pertikaian mereka di masa lalu membuat Aldrick membencinya.


**


Dhyanda terbangun diatas kasur empuk milik Aldrick keesokan harinya. Ia hanya ingat bahwa ia tertidur disofa panjang ruang tamu dan tidak merasa saat Aldrick menggendongnya hingga menidurkannya kembali diranjang yang nyaman.


"Gayanya minta tidur satu kamar. Dianya juga nggak ada disini," sungut Dhyanda menggeliat mengitari pandangan.


Seusai menyisir rambut, menyikat gigi dan mencuci wajahnya, Dhyanda keluar kamar. Rupanya Aldrick ada diruang tamu, tertidur di sofa dengan membiarkan laptopnya tetap menyala.


Tak tega membangunkan Aldrick, Dhyanda justru menopang kepala Aldrick dengan bantal sofa agar tidur lelakinya itu lebih nyaman.


"Kamu pasti cape ya," gumam Dhyanda lirih, merasa bersalah tiba-tiba saat mengamati wajah Aldrick dengan mata yang terpejam rapat itu.


Aldrick menggeliat, ia terbangun. Matanya memicing beberapa saat dan melempar sedikit senyum saat menyadari Dhyanda tengah duduk menatapnya.


"Udah bangun?" tanya Aldrick dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Kamu nggak sakit apa badannya tidur disofa gini? bisa pegal-pegal lho nanti badannya. Liat! baju kamu juga belum ganti dari kemarin", omel Dhyanda gemas.


"Enaknya punya istri, pagi-pagi udah dapet omelan," gumam Aldrick seraya bangkit dan berjalan ke kamar. Tapi tiba-tiba ia teringat kembali tentang Dhyanda yang mengigau memanggil nama lelaki lain semalam. Senyum Aldrick pun berubah menjadi masam.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2