Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Who is He??


__ADS_3

Sepulang sekolah, langkah berat Dhyanda yang kini bagai diawasi ratusan pasang mata ia seret paksa ke pintu gerbang sekolah. Dia ingin segera menjauh. Dhyanda masih sesenggukan meski sudah tidak menangis, biasanya ia tidak pernah secengeng ini. Hanya saja masalah yang gadis itu alami cukup berat untuk seusianya.


Dhyanda tersentak, dikagetkan oleh suara klakson mobil nyaring disampingnya saat ia tengah berdiri disisi jalan menunggu angkutan umum yang lewat. Dhyanda  tidak melihat Aldrick melewatinya, tapi tiba-tiba lelaki itu sudah ada di dalam mobilnya, meminta Dhyanda segera naik dan ikut bersamanya.


“Carikan saya alamat IP-nya. Nanti saya bahas lagi di kantor”, ucap Aldrick pada ponselnya, tepat saat Dhyanda masuk ke dalam mobil. “Saya dalam perjalanan menuju kantor” ucapnya lagi lalu mengakhiri panggilan teleponnya.


“Seandainya kemarin Kak Al tidak menciumku mungkin kejadian ini gak bakalan ada” sengal Dhyanda tertahan, “Ini salah Lo, Kak! Semua rumor ini muncul gara-gara kemarin lo cium gue” tuduhnya tak kuasa menahan tangisnya kembali.


“Oke, aku minta maaf kalo itu jadi penyebab semua kesulitan kamu.  Aku akan bertanggung jawab, Dhy” balas Aldrick lembut.  Dia tau kalau foto lelaki yang disamarkan itu memang dirinya saat mencium Dhyanda dirumah makan kemarin.


“Udah telat! Telat! Kak Al tau seberapa berat ini buat gue? foto gue diedit dan dijadiin gambar porno, gue dituduh gak punya adab karena gue berwajah bule yang menurut mereka sudah biasa berpakaian model bikini seperti itu. Gue dihina macam-macam, Kak. Gue taksir Kak Al nggak pernah ngalami hal kayak gini kan?” Dhyanda menangis lagi, ia ingin berteriak dan mengumpat sepuasnya, tapi tak ada yang bisa disalahkan lagi selain lelaki berwajah tampan yang kini duduk disampingnya.


Aldrick mendesah gemas. Diraupnya wajah tampannya beberapa kali. Ia harus melakukan sesuatu atau Dhyanda akan terus menuduhnya dan menyalahkannya.


“Lo lupa kalo difoto itu nyatanya ada gue juga, Dhy. Walaupun disamarkan tapi gue yakin orang yang mengambil gambar kita itu tau kalo itu gue” ujar Aldrick gak sabar untuk menyadarkan Dhyanda bahwa disini yang menjadi korbannya bukan hanya dia seorang.


Dhyanda langsung terdiam.  Dia sadar telah menyalahkan Aldrick dengan begitu emosi dan mencecarnya tanpa filter. Dhyanda merasa sedikit keterlaluan setelahnya.


Hening. Aldrick lebih sibuk menatap ke arah jalanan ramai didepan, focus menyetir. Sedangkan Dhyanda terlihat masih ragu untuk memulai pembicaraan. Diliriknya wajah Aldrick yang serius menyetir, garis-garis tampan anugrah Tuhan tercipta disana. Dhyanda hampir saja tersedak saat Aldrick yang tengah focus menyetir itu tiba-tiba saja menolehnya. Memergokinya yang tengah asik menikmati pahatan sempurna Tuhan secara cuma-cuma milik lelaki disampingnya.  Napas Dhyanda bagai ditahan ditenggorokan, apalagi tatapan tajam Aldrick yang berusaha merobek pertahanannya.


“Ki-kita mau kemana Kak?” tanya Dhyanda tergagap, menutupi kegugupan. Ia tidak mau Aldrick meledeknya karena tertangkap basah tengah memandangi wajah tampannya.


“O’Neill Group” jawab Aldrick singkat. Tangannya kembali sibuk menyalakan music player, memecah rasa canggung diantara mereka yang masih saling berdiaman.


“O’Neill Group?” Dhyanda berusaha memperjelas pendengarannya. Siapa tau ia salah menangkap ucapan Aldrick karena masih belum bisa menguasai dirinya.


Aldrick mengangguk pelan.

__ADS_1


“Perusahaan O’Neill Grup, Multinasional  corporation yang menyerap tenaga paling tinggi per tahunnya di Indonesia?” tanya Dhyanda dengan mata membulat sempurna.


“Kok kamu tau banyak tentang O’Neill Group?” balas Aldrick menoleh sekilas pada gadisnya itu.


“Aku pernah membacanya di tabloid bisnis punya Ayahnya Ayu. Bahkan aku sempat bercita-cita kelak ingin bekerja disana setelah lulus perguruan tinggi. Tapi apakah mungkin aku bisa melanjutkan pendidikan setinggi itu” ujar Dhyanda merasa insecure.


“Kenapa gak mungkin? Kamu gak boleh pesimis gitu!” kata Aldrick tanpa menoleh karena kendaraan didepannya sangat rame.


“Trus kita ngapain kesana?” tanya Dhyanda mengalihkan topik, sekarang ada yang hal yang lebih penting daripada bermimpi disiang bolong. Dhyanda jadi lupa kalau sebelumnya ia sempat marah-marah membabi buta pada lelaki yang menjadi supirnya ini.


“Aku udah bilang akan bertanggung jawab sama kamu kan? Lagipula didalam foto itu ada akunya meski disamarkan” ujar Aldrick.


‘Oh, jadi karena difoto itu ada Lo-nya juga makanya mau tanggung jawab? Sialan, ganteng sih ganteng, tapi egois juga ternyata!’ batin Dhyanda.


“Jangan dipendam, kalo pengen ngumpat dan ngata-ngatain gue, lo bisa lakuin kaya tadi itu lho, Dhy” gumam Aldrick bernada sindiran, sepertinya lelaki ini bisa membaca pikiran dan kata hati Dhyanda.


Meski Dhyanda tidak tau yang dikatakan soal O’Neill grup itu hanya bohong belaka atau benar-benar kenyataan, setidaknya ia menghargai niat Aldrick yang ingin bertanggung jawab dan ingin membantunya keluar dari masalah. Perusahaan O’Neill Group bukan perusahaan main-main. Itu salah satu perusahaan besar berkualitas yang ada di Indonesia. Itulah kenapa Dhyanda wajib curiga dengan kebenaran ucapan Aldrick.


Kecurigaan Dhyanda tak terbukti. Aldrick benar-benar membawanya ke kantor pusat O’Neill group yang terkenal sangat luas dan bersih itu. Dhyanda sampai melongo menatap Aldrick yang berubah bak malaikat bersayap.


“Makasih udah ngebantuin masalah aku, Kak” ucap Dhyanda kembali bersemangat, ia harus bisa membuat Aldrick tak berubah pikiran.


“Masalah yang mana?” tanya Aldrick menggodanya, terkesan angkuh karena merasa menang telah membuat gadis kecilnya percaya padanya.


Dhyanda mencebik kesal, Aldrick pun tertawa ringan seraya mengacak poni rambut Dhyanda dengan gemas.


“Kamu pernah denger soal gimana hebatnya ahli IT perusahaan ini?” tanya Aldrick masih tanpa menoleh ke arah Dhyanda. Ia sibuk menghalau para security, tak terkecuali petugas parkir yang reflek memberi hormat padanya meski ia sudah berusaha mencegahnya dengan mengibaskan tangan.

__ADS_1


“Kita minta tolong mereka?” balas Dhyanda tertegun tak percaya.


“Biar mereka yang cari pelakunya” ujar Aldrick.


“Emang mereka mau bantu, Kak?”


“Jelaslah. Mereka gak mungkin nolak, aku bukan orang asing”


“Kak Al kerja disini juga? Bagian apa? udah lama kerja disini?” cecar Dhyanda ingin tau.


“Duuh… kamu banyak nanya ya, Dhy. Intinya kita kemari untuk meminta bantuan ke bagian divisi IT-nya. Bukan nginterogasi aku!” balas Aldrick akhirnya focus menatap Dhyanda yang terkagum-kagum hanya dengan melihat konstruksi bangunan tempat parkir perusahaan, “kamu mau ikut masuk apa mau sampe malem ngitungin rangka atap lahan parkir?” tegur Aldrick.


"Heuh?" Dhyanda tersentak, ia berlari menyusul Aldrick yang sudah berjalan lebih dulu. Diamatinya tampilan maskulin sang pacar tampan dari belakang. Siapa sebenarnya dia, apa hubungannya dengan perusahan besar ini? Wait!! Dhyanda ingat saat pelayan rumah makan kemarin menyebut nama Aldrick O’Neill ditagihan bill-nya. Dia langsung membuka ponselnya penasaran, mencari tau tentang petinggi perusahaan besar ini lewat si jenius google.


"Hah?!" Dhyanda pun menganga. Namun ia segera tersadar, berlari mengejar langkah Aldrick yang semakin menjauh.


Cinta adalah masalah hati dan rupa. Dia tak mengenal kasta, usia, waktu, atau jarak sekalipun.


.


.


.


Jangan lupa LiKE KOMEN and VOTEnya 🤗


 

__ADS_1


__ADS_2