Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Nikmatin aja


__ADS_3

Imel menarik paksa buku yang tengah digenggam Dhyanda, "Sini! biar gue yang ngerjain. Dari tadi cuma bengong tanpa dibuka tuh buku apalagi ngerjain tugasnya Pak Dana."


Dhyanda tersadar, lamunannya buyar setelah buku ditangannya terlepas karena ditarik Imel. "Apa sih, Mel? entar gue kerjain kok" selanya.


"Entarnya kapan? satu jam lagi gue musti ke kafe. Sia-sia dong gue ke rumah Lo cuma liatin Lo bengong doang. Tau gini gue langsung pulang tadi." decak Imel sewot. "fokus dong, Dhy! baru ditinggal lima bulan aja udah kaya gini, gimana setaun", sindir Imel. Dia tau penyebab Dhyanda sering bengong akhir-akhir ini karena ditinggal sang pacarnya itu ke luar negeri.


Dhyanda mendengus, "Siapa juga yang gak fokus. Gue cuma mikir aja kenapa udah 2 minggu ini dia gak hubungin gue. Di chat pun jarang bales, sekalinya dibales udah expired beberapa jam lalu. Bete gak sih?" sahut Dhyanda frustasi, menopang dagu dengan tangan diatas meja. Bola matanya berputar sambil berpikir, "apa mungkin dia punya gebetan baru?" terkanya mulai ngelantur.


Imel mengangkat bahunya tinggi-tinggi, "Gue gak tau ya. Tapi kenapa Lo gak positif thinking aja sih?mungkin dia sibuk disana, secara di London Kak Al Lo itu gak hanya kerja, tapi sambil nerusin pendidikannya juga kan?" katanya lagi.


Dhyanda hanya mengangguk-angguk malas, berusaha memahami. Menjalani hubungan jarak jauh memang gampang-gampang susah. Sebulan dua bulan Aldrick hampir setiap jam memberi kabar. Lepas dua bulan hanya sekali dalam sehari. Selanjutnya dalam seminggu hanya tiga kali mereka saling berkomunikasi. Dan sekarang sudah dua minggu Aldrick sulit dihubungi. Sebenarnya banyak hal yang membuat hubungan jarak jauh itu susah, selain komunikasi yang tidak lancar dan yap, pastinya rindu.


"Benar kata si Dilan kalau rindu itu berat. Mereka yang nggak ngerasain nggak akan paham bagaimana susah dan beratnya LDR. Melihat orang lain yang bisa nge-date saat malam minggu, gue cuma bisa ngeliat dia dilayar ponsel doang." keluh Dhyanda dan sukses membuat Imel ngakak. "seneng banget keliatannya Lo liat gue begini Mel?" katanya lagi mendelik sinis.


"Ya jelas gue seneng banget liat Lo kaya gini. Baru tau kalo seorang Dhyanda model cewe pinter dan tomboi ini ternyata bisa sebucin ini sama Pak Aldrick", ujar Imel kembali tertawa.


"Sialan!" umpat Dhyanda membuang muka.


Imel mendekat, berdiri disamping Dhyanda seraya melingkarkan tangannya kebelakang memegang bahu Dhyanda, "saran gue nih ya, mending sekarang Lo nikmatin aja dan fokus lagi belajar. kita udah kelas XII, berapa bulan lagi sih kita UN? 4 bulan lagi, Dhy. Abis itu terserah Lo" ujar Imel mengingatkan.


"Ibu setuju!" tiba-tiba Arumi datang dari arah tangga, Ia habis mengambil jemuran dibalkon lantai atas dan tak sengaja mendengar percakapan kedua gadis itu. "Ibu ngerti perasaan mu, Dhy. Dari awal ibu juga dukung hubungan kamu sama Aldrick. Tapi untuk saat ini kita ambil sisi baiknya saja. Sambil nunggu dia kembali, kamu fokus belajar. Persiapkan UN dan SNMPTN nanti. Ibu harap kamu bisa masuk perguruan tinggi negeri dengan prestasi yang kamu miliki sekarang" ujarnya secara tidak langsung memberinya semangat.


Dhyanda terdiam, mencoba mencerna kalimat Ibu Arumi. Selama ini Dhyanda merasa Ibunya itu sudah sangat bijaksana terhadapnya. Arumi tidak seperti orangtua kebanyakan yang melarang anaknya untuk berpacaran dimasa sekolah. Arumi sangat paham siapa Dhyanda, anak perempuan yang ia rawat dari sejak kecil meski bukan putri kandungnya.


Karena bagi Arumi sebenarnya syarat Dhyanda untuk berpacaran yaitu dilihat dari tingkat kedewasaannya. Kedewasaan yang tidak dilihat dari segi umur, tetapi hanya dapat dinilai dan dirasakan oleh diri sendiri pada anaknya. Ia merasa Dhyanda cukup dewasa, otomatis pikirannya akan berkembang sehingga dapat menentukan hal dan perbuatan apa saja yang baik dan wajar pada usianya.


"Bu, aku boleh main ke kafe? malam Minggu gini biasanya suka ada live music dikafe tempat Imel kerja" ijin Dhyanda saat Imel berpamitan pada Bu Arumi. Entah kenapa Dhyanda merasa suntuk dan ingin mencari suasana ramai yang bisa membuat dirinya merasa terhibur.


"Boleh, tapi pulangnya jangan malam-malam ya! jam 7 sudah ada dirumah" jawab Ibu Arumi. Ia paham sekali dengan suasana hati Dhyanda saat ini.


"Kok jam 7 sih Bu, itu masih sore" sesal Dhyanda protes. "Ini kan malem Minggu, jam 9 ya...ya?" rajuknya.


"Itu kemaleman, Dhy! ibu khawatir kamu dijalan"

__ADS_1


"Pake ojol jadi aman Bu"


Arumi menghembuskan napas seraya sejenak memejamkan mata, "Oke, tapi kamu tetap harus ati-ati. Jam 9 sudah ada dirumah, titik!" tegasnya.


"Siaapp!" sahut Dhyanda langsung mencium pipi Arumi. Perempuan berusia empat puluh tahun itu hanya bisa tersenyum simpul.


*


One Cafe, Sebuah bisnis di bidang makanan bergaya western ini ternyata terbilang ramai dikunjungi anak muda yang sengaja datang untuk makan dan nongkrong sambil mendengarkan live music gratis. Cafe ini menjadi trend masa kini yang menyajikan makanan cepat saji yang menarik, unik namun juga memiliki cita rasa yang tinggi serta sesuai dengan selera masyarakat disini.


"Gue duduk disana!" tunjuk Dhyanda ke arah meja kosong dekat jendela dipojok sana.


Imel mengiyakan, "Lo mau pesen apa?" tanyanya saat Dhyanda sudah duduk nyaman dikursinya.


"Mmhh, apa ya?" Dhyanda nampak membuka buku menu. "Lychee smoothies?" tunjuk Dhyanda pada salah satu gambar dibuku menu tersebut.


"Oke, ada lagi?" tanya Imel.


"Itu dulu deh" sahut Dhyanda.


"Iya gue tau. Sana, kerja yang bener!" usir Dhyanda seraya mengibaskan telapak tangan kanannya.


"Oh, ngelunjak" umpat Imel hendak pergi.


"Tunggu, Mel?" cegahnya.


"pesen makan sekalian?" tebak Imel.


"Gue boleh kedepan sana?" tunjuk Dhyanda ke stage kecil tempat untuk live music malam ini. Kebetulan penyanyi kafe yang biasa perform disini belum datang.


Kening Imel mengernyit, "Lo mau nyanyi?" tebaknya, dan langsung mendapat respon anggukan kepala dari Dhyanda. "Gue bilang bang David dulu, dia manager disini" ucapnya berlalu masuk ke ruangan belakang.


'So look me in the eyes

__ADS_1


Tell me what you see


Perfect paradise


Tearing at the seams


I wish I could escape


I don't wanna fake it


Wish I could erase it


Make your heart believe


But I'm a bad liar, bad liar


Now you know


Now you know


I'm a bad liar, bad liar


Now you know, you're free to go'


Lagu Bad Liar dari Imagine dragons terasa merdu disenandungkan Dhyanda. Gadis itu mampu menghipnotis para pengunjung kafe melalui suara dan petikan gitar akustik yang ia mainkan.


Termasuk seseorang yang duduk di meja pojok belakang sebelah sana. Suara Dhyanda mampu membuat ia mengalihkan konsentrasi dari layar laptop miliknya, "Not bad" gumamnya menyunggingkan senyuman.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2