
Pagi-pagi sekali Dhyanda pergi ke rumah Imel. Dia meminta sahabatnya itu untuk mengantar dirinya ke sekolah menemui Kepala sekolah.
"Now we're free, Dhy! Kenapa juga kepsek tiba-tiba nyuruh Lo ke sekolah pagi-pagi buta gini? dan Lo libatin gue yang nggak tau apa-apa", kata Imel yang seperti nggak ikhlas dimintai tolong.
"Gue juga nggak tau, Mel. Kemarin wali kelas ngehubungin gue, katanya gue diminta ngadep kepsek karena ada hal penting hari ini" jawab Dhyanda.
"Emang harus pagi-pagi ya? sebelum bel masuk bunyi? kepsek nggak nyuruh kita masuk kelas XII lagi kan?" ujar Imel kesal dan sukses membuat Dhyanda tertawa terbahak.
"Ya nggak kali, Mel. Kecuali kalo kita nggak lulus UN kemarin" sahut Dhyanda.
Imel menggedikan bahunya, lantas mengikuti langkah Dhyanda menuju ruang kepala sekolah.
.
"Bener Pak, saya dapet beasiswa di universitas Tunasjaya?" bola mata Dhyanda tak menyangka saat Pak Kamil memberitahu serta menyerahkan surat undangan dari kampus yang bersangkutan.
"Iya, Dhyanda. Kamu benar-benar beruntung. Karena di sekolah ini hanya kamu sendiri yang mendapatkannya. Beasiswa dari awal sampai lulus jika prestasi mu stabil memenuhi standar" ujar lelaki paruh baya yang sangat disegani disekolah ini.
Sementara Imel hanya diam duduk disebelah Dhyanda. Hati kecilnya sedikit iri karena keberuntungan selalu ada di pihak Dhyanda yang pada dasarnya gadis itu memang pintar dan punya prestasi membanggakan. Tak khayal kampus elite seperti Tunasjaya menawarkan beasiswa kepada Dhyanda.
"Tapi Pak, rencananya saya mau ikut UTBK-SBMPTN. Ibu saya masih berharap saya bisa kuliah di UI" kata Dhyanda percaya diri.
Pak Kamil tersenyum, "Bapak tau kamu pinter. Kita memang harus optimis, tapi yang namanya ujian masuk perguruan tinggi negeri itu susah-susah gampang. Dan tak bisa dipungkiri lagi selain faktor kepintaran, lulus ujian masuk PTN lebih besar faktor keberuntungannya" ujarnya memberi gambaran agar Dhyanda mempunyai alternatif kedua untuk pendidikannya.
"Saya setuju!" seru Imel mulai memberikan komentar. "Dulu ujian PTN ini memang standar buat anak-anak pintar, soalnya universitas negeri dianggap lebih berkualitas, lebih murah, jadi harus bersaing untuk masuk ke situ. tapi menurutku sekarang yang pasti SBMPTN bukan satu-satunya, kalau gagal juga bukan akhir dunia. Masih banyak PTS yang bagus dan berkualitas salah satunya Tunasjaya" kata Imel bersemangat.
Dhyanda terbelalak mendengar komentar Imel yang menurutnya perlu diacungi jempol. Pemikiran Imel membuat Dhyanda mulai tidak merasa terbebani lagi harus lolos PTN. Apalagi kini ia memiliki kartu emas, kartu beasiswa PTS bonafit sekelas Tunasjaya jikalau nanti ia tidak lolos SBMPTN.
__ADS_1
"Saran Bapak, kamu tetap ikut UTBK-SBMPTN sesuai keinginan ibumu. tapi untuk jaga-jaga kamu juga ambil program beasiswa ini. Nanti biar pihak sekolah yang mengurus segalanya. Bagaimana?" ujar Pak Kamil bijak.
Dhyanda mengangguk setuju, "Iya Pak, saya mau"
"Bagus!" sahut Pak Kamil seraya mengacungkan satu ibu jari tangannya. "Kamu ikut SBMPTN juga kan, Imel?" tanyanya pada Imel.
"Heuh?" Imel terkesiap, "Sa...saya Pak?" ia malah balik bertanya.
"Ya, nama kamu Imelia kan? memang ada lagi yang namanya Imel disini?" sindir Pak Kamil.
"Hehe... iya Pak" Imel tersenyum ragu, "Saya mau kerja dulu Pak, mungkin taun depan mulai mikirin buat lanjutin kuliah" ujarnya.
"Kerja?" Pak Kamil sedikit terkejut, "Nggak nyoba SBMPTN?" tanyanya serius.
"Nggak Pak" sahut Imel seraya menggelengkan kepalanya. "Kebetulan saya udah terlanjur terikat kontrak kerja dikafe selama setahun"
"Kamu kerja di kafe?" tanya Pak Kamil menyipitkan kedua matanya curiga.
Pak Kamil selaku kepala sekolah begitu menyayangkan salah satu anak didiknya ini, yang memutuskan untuk bekerja daripada meneruskan jenjang pendidikannya. Namun ia paham, mungkin ada alasan dibalik keputusan Imel yang memilih bekerja dulu selepas lulus SMA.
Banyak orang yang mendambakan kuliah setinggi mungkin demi masa depan yang lebih baik. Sayangnya, tidak semuanya bisa mewujudkan itu. Termasuk Imel, banyak sekali kendalanya untuk bisa kuliah. Di antaranya adalah halangan biaya. Jika ibunya yang merupakan single parent itu memang sudah tidak sanggup membiayai, mau apa lagi? Imel hanya bisa ikhlas dan berusaha tetap semangat.
***
Sesampainya di rumah Dhyanda langsung menceritakan kabar baik ini pada Ibu Arumi. Tak henti-hentinya Arumi bersyukur karena Dhyanda mendapatkan beasiswa yang menjamin biaya pendidikan anaknya itu hingga lulus nanti.
"Kalau gitu kamu nggak usah ikut ujian PTN aja deh, Dhy" ujar Ibu Arumi jadi berubah pikiran.
__ADS_1
"Lho, kenapa?" Dhyanda mengernyit bingung. "bukannya ibu yang minta masuk PTN agar biayanya lebih murah tapi tetep bergengsi?" katanya lagi.
"Awalnya sih begitu. Tapi kalau ada yang nawarin kuliah gratis seperti ini apa kelewatan namanya kalau kita menolak? Tunasjaya itu kampus swasta terbaik di Jakarta lho, Dhy" ucap Arumi masih tak menyangka. Ia merasa ketiban rejeki yang berlimpah.
"Jadi ibu nggak antusias lagi nyuruh aku untuk ikut SBMPTN?" tanya Dhyanda seraya menopang dagu dengan satu tangannya.
"Mmhh... terserah kamu aja, apapun ibu dukung" sahut Arumi meraih tangan Dhyanda, meyakinkan anaknya bahwa ia bersungguh-sungguh.
Dhyanda tersenyum menatap manik mata ibu Arumi yang tampak bersinar, "Logikanya ya Bu, seandainya aku lulus PTN pun kita tetap harus mengeluarkan dana untuk biaya semesterannya. Sementara di program beasiswa itu gratis. Kita gak perlu bayar uang semester lagi. Jadi kurasa aku akan memilih kuliah di Tunasjaya aja" ujarnya.
"Syarat dan ketentuan berlaku lho, Dhy. IPK kamu harus selalu berada diatas 3,0" kata Arumi kembali mengingatkan.
"Iya, aku ngerti" sahut Dhyanda. Namun tiba-tiba gadis itu teringat Imel. Dhyanda berharap Imel bisa kuliah bareng lagi bersamanya.
"Apa yang kamu pikirin?" tanya Arumi menepuk bahu Dhyanda saat tersadar anaknya itu malah melamun.
"heuh?" Dhyanda terperanjat kaget. "Nggak ada apa-apa, cuma inget Imel" ucapnya.
"kenapa Imel? dia mau dilanjutin kemana?"
"Justru itu, Bu. Imel memilih kerja dan nggak mau kuliah" ujar Dhyanda kecewa.
Ibu Arumi menghela napasnya sejenak, "Ibu yakin Imel sudah memikirkan hal ini baik-baik. Kamu hormati saja keputusannya, Dhy. Kamu harus selalu mendukungnya, persahabatan kalian jangan sampai terputus hanya karena sekarang sudah tidak sama-sama lagi."
Dhyanda mengangguk setuju. Persahabatan yang kuat tidak membutuhkan kebutuhan sehari-hari atau bersama. Selama hubungan itu hidup di hati, teman sejati tidak pernah berpisah.
.
__ADS_1
.
.