
"Aku udah siap kuliah hari ini kak", kata Dhyanda saat akhirnya ia bisa bertemu Aldrick di meja makan. Tepat satu minggu Aldrick selalu pulang larut malam hingga menjelang subuh sampai akhirnya tertidur disofa. Paginya ia sudah kembali ke kantor lagi. Seperti itu terus menerus siklus kehidupannya saat ada proyek besar yang harus ia tangani sendiri. Jadi, satu rumah pun tak membuat Dhyanda berhasil tidur sekamar dengan Aldrick. Hanya saja beberapa kali ia bisa menyiapkan sarapan untuk lelakinya itu.
"Udah siap beneran?" tanya Aldrick menghentikan sarapan roti tawar isi selai coklat dan segelas jus jeruk yang tadi pagi disiapkan Dhyanda sebelum pergi mandi.
"Udah. Aku takut bakalan kena teguran kalo mahasiswa beasiswa kaya aku sering telambat, apalagi kemarin sempat bolos beberapa hari itu" kata Dhyanda.
"Nggak akan kena tegur, lha yang bayarin kantor kok", gumam Aldrick mengulum senyum.
"Apa? Kamu ngomong apa sih? Jangan bergumam gitu napa!", Dhyanda jadi penasaran. Gadis itu ternyata tidak mendengar jelas gumaman Aldrick.
"Enggak apa-apa, nggak penting" kata Aldrick. "Oke, nanti berangkat bareng ya, aku anter sampe kampus", kata Aldrick buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu ke kantor lagi Kak? Ya ampun... baru juga tiga jam lalu pulang udah mau pergi lagi?" Dhyanda membulatkan matanya.
Aldrick mengangguk kecil.
"Sejak aku tinggal dirumahmu, kamu lebih sering di kantor ya sekarang. Padahal sebelumnya kamu selalu siap sedia nemenin aku, dateng tak terduga disaat aku lagi butuh kamu", kritik Dhyanda mengenang.
"Sekarang juga masih gitu, Dhy. Cuma karena kamu tinggal dirumahku aja makanya kamu nggak ngerasa lagi. Aku masih bakalan begitu, jangan khawatir," ucap Aldrick sambil mengedipkan sebelah matanya pada Dhyanda.
"Apaan, nyatanya kamu gila kerja begitu. Kalo bisa juga pasti kantor bakalan kamu bawa kemana-mana!", sindir Dhyanda.
"Dimaklumi dong. Aku cari duit buat menuhin kebutuhin istriku kok," sahut Aldrick serius.
"Istri yang mana?"
"Ya kamu lah, mau aku cari istri lagi?" canda Aldrick dan sukses membuat wajah Dhyanda cemberut begitu menggemaskan.
Aldrick tertawa. Ia kembali sibuk menyuap roti buatan gadisnya itu. Meski kesibukan menyerangnya tanpa ampun, selalu ada senyum dan keceriaan Dhyanda yang menjadi penyembuh kelelahannya.
.
__ADS_1
Lelaki itu benar-benar mengantar Dhyanda hingga ke depan kampus. Tak lupa memberi gadisnya itu kecupan perpisahan di kening. Dhyanda melambai dengan senyum di wajahnya. Satu-satunya alasan Aldrick ingin segera pulang ke rumah tiap lembur kerja.
"Nggak apa-apa kan kalo pulangnya nggak dijemput?" sesal Aldrick yang memang hari ini dirinya sangat sibuk.
"Nggak apa-apa kali Kak. Aku bisa naik angkutan umum nanti. Kamu fokus kerja aja!" , kata Dhyanda memaklumi. Gadis itu lalu melambaikan tangannya lagi pada Aldrick, mengantarnya pergi.
Sepeninggal Aldrick, Dhyanda menemui Belina di selasar dekanat, tempat para mahasiswa menghabiskan waktu menunggu jam kuliah tiba. Keduanya berpelukan saling melepas rindu, seperti sudah lama sekali tak bertemu.
"Lo udah sembuh, Bel?" tanya Dhyanda mengamati tubuh Belina yang terlihat lebih segar dari terakhir mereka bertemu.
"Lumayan sehat" sahut Belina.
"Maaf ya gue nggak jengukin", sesal Dhyanda merasa bersalah.
"Nggak apa-apa" balas Belina.
Dhyanda tersenyum lega, lalu menarik Belina duduk ditangga depan kantor administrasi. Mereka masih memiliki paling tidak setengah jam lagi sampai waktu kuliah dimulai.
"Gimana Gavin?" tanya Dhyanda penasaran. "Jangan bilang Lo sakit kemaren gara-gara dia!", curiga Dhyanda sambil memicingkan matanya.
"Apa?" kedua mata Dhyanda membulat. "Ada bukti yang bikin Lo berasumsi begitu?" tanya lagi.
"Nggak ada sih, gue curiga aja. Dia sering pulang ke Bandung dengan alasan nyokapnya lagi sakit, padahal gue dapet info dari Doni, katanya nyokapnya udah meninggal pas dia SMA. Aneh kan? gue yakin ada yang dia sembunyikan," ujar Belina frustasi.
"Wait!!" Dhyanda sejenak memejamkan kedua matanya, berusaha mengingat sesuatu. "Kayanya bener," ucapnya lagi.
"Bener apaan?" Belina dibuat penasaran oleh Dhyanda yang menggantung kalimatnya. "Buruan! apa yang Lo tau Dhy?"
"Gavin itu kakak kelas beda satu angkatan waktu SMA. Gue tau dia karena dia pengurus OSIS,"
"Terus?" tanya Belina tak sabar.
__ADS_1
"Gue masih inget dulu ada pengumuman dari pihak sekolah yang mengabarkan kalau ibunda dari salah satu anggota OSIS bernama Gavin meninggal," jelas Dhyanda yang masih bisa mengingat hal tersebut.
"Bener kan gue bilang?!" kata Belina mulai tidak sabar. "Dia bohongin gue," ucapnya emosi.
"Sori Bel, gue nggak maksud ngompor-ngompirin Lo sama dia. Lo coba tanya dulu dia baik-baik, takutnya gue yang salah" kata Dhyanda jadi ragu melihat sikap Belina yang mulai tak kontrol.
"Kalo gitu selesai kuliah nanti Lo anter gue ke apartemennya ya! Kita selidiki dan cari bukti, kalo perlu kita geledah aja barang-barang dia", ujar Belina impulsif.
"Eh, napa ngajak-ngajak gue? gue nggak mau lho geladah barang orang gitu aja!" tolak Dhyanda mentah-mentah.
"Lo tenang Dhy, yang punya rumah lagi praktek kerja lapangan di Karawang. Baliknya seminggu sekali dia tuh" ujar Belina menyeringai, meyakinkan Dhyanda yang hanya menanggapi dirinya dengan gelengan kepala.
"Udah ah, masuk kelas yuk!", ajak Dhyanda kemudian, Berharap setelah selesai kuliah nanti dirinya bisa meloloskan diri dari Belina agar tidak terlibat lebih jauh dengan masalah asmara temannya tersebut.
**
Dhyanda tak sempat mendebat karena keduanya sampai didepan gedung apartemen Gavin. properti milik pacar Belina itu hanya dilantai dua, jadi mereka tak perlu menggunakan lift untuk sampai ke sana.
Saking seringnya Belina datang, ia sudah hafal kode kunci dipintunya. Jadi, meski tanpa sepengetahuan Gavin, mereka tetap bisa masuk ke dalam ruangan.
Nasib buruk sepertinya memang kini dialami Belina. Dia tidak menyangka melihat pacar yang diyakininya sedang sedang kerja praktek lapangan di Karawang itu justru ada di ranjangnya sendiri, bersama perempuan lain.
"Jadi maksudnya kerja praktek Lo ini disini?!" teriak Belina emosi.
Belina berlari membabi buta. ia langsung menjambak rambut gadis yang tengah memakai roknya itu. dicakarnya kuat-kuat wajah selingkuhan Gavin, meluapkan emosi.
Gavin yang keget berusaha melerai, ia menarik Belina dan menghempasnya kuat-kuat. Hal ini membuat Dhyanda yang masih berdiri syok, bereaksi. Ia ikut menyerang Gavin, menamparnya dengan sepatu miliknya yang entah kapan sudah terlepas.
"Brengsek Lo!" cerca Dhyanda ikut meluapkan emosi karena tak terima temannya telah dikhianati lelaki bernama Gavin itu.
Keributan tak terhindarkan. Beberapa tetangga yang mendengar pada keluar menyaksikan. Petugas keamanan pun datang, berusaha melerai meski sudah terlambat mencegah wajah babak belur milik Gavin dan selingkuhannya.
__ADS_1
"Gue bakal lapor polisi!" ancam Gavin marah, "ini penyerangan dan penganiayaan namanya! liat aja kalian!" serunya seraya mengambil ponsel untuk menghubungi polisi.
Belina dan Dhyanda yang sudah diamankan petugas security hanya bisa tersenyum puas, merasa tak bersalah sedikitpun.