
Hari demi hari, bulan demi bulan, tak terasa sudah Dhyanda lalui. Bahkan ketegangan dan stress tingkat tinggi pun sudah dirasakannya ketika ujian nasional tingkat SMA dua bulan yang lalu. Kini gadis itu pun tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri. Semoga keberuntungan selalu ada padanya.
"Ada yang mau ibu bicarakan dengan mu, duduklah Dhy!" pinta Arumi seusai mereka menghabiskan makan malam bersama seperti biasanya.
"Apa Bu? keliatannya serius amat" sahut Dhyanda akhirnya duduk di sofa ruang tengah samping Arumi.
"Kamu inget Bibi Amira?"
Dhyanda mengernyit, "Bibi Amira adik ibu kan?" terka Dhyanda.
Ibu Arumi mengangguk, "Tadi siang dia telpon ibu, mengabari kalo dia baru bikin usaha rumah makan tahu di kampung tempat ibu lahir dulu. Dan ia minta ibu membantu usahanya disana. Menurutmu gimana?"
"Ibu mau pulang kampung ke Sumedang?" Dhyanda sudah bisa menerka maksud perkataan Arumi.
Arumi menarik nafasnya sejenak sebelum berkata, "Nggak tau, Dhy. Ibu bingung. Ibu gak bisa ninggalin kamu disini sendiri, tapi disini pun ibu nggak punya pekerjaan tetap. Hanya jualan makanan online seperti ini nggak akan menjamin kita ke depannya seperti apa" ujar Arumi pesimis.
"Uang tabungan ibu dari ngejual rumah itu bukannya masih ada? kenapa gak dipake buat modal usaha yang lain aja?" tanya Dhyanda mengubah posisi duduknya jadi menghadap Arumi.
"Itu buat keperluan masuk kuliah kamu nanti, Dhy. Jangan sampe kepake! meskipun cuma 15 juta tapi setidaknya kita punya simpenan dan mudah-mudahan cukup untuk biaya operasional pendidikan kamu jika lolos di PTN nanti. Selanjutnya ibu akan kerja keras untuk biaya semesterannya" ujar Ibu Arumi semangat.
Dhyanda tertegun dan terharu. Ketulusan ibu Arumi yang menyayangi dirinya sepenuh jiwa sungguh menyayat hati. Sungguh ironis, Arumi yang sama sekali tidak ada hubungan darah tapi begitu mencintai dirinya, hingga rela kerja banting tulang demi pendidikan dan kehidupan yang layak untuk Dhyanda. Sementara keluarganya, bahkan ayah kandungnya sendiri udah sepuluh tahun lebih tiada kabar bahkan tidak mencarinya sama sekali.
"Kalo gitu kita pindah ke Sumedang aja. Aku bisa melanjutkan kuliah sambil kerja disana, dan ibu bisa bantu Bi Amira ngurus restorannya" kata Dhyanda memberi solusi tapi langsung dipatahkan Arumi.
__ADS_1
"Tidak, Nak! ibu nggak setuju, pokoknya kamu harus tetep kuliah di Jakarta. Ibu pengen kelak kamu jadi orang yang berhasil dan sukses" ucap Arumi seraya menangkup kedua pipi Dhyanda dengan telapak tangannya. "Kamu harapan ibu satu-satunya. Tolong jangan kecewakan ibu mu ini!"
"Tapi bu---"
"Oke, ibu akan coba cari pinjaman untuk modal usaha dipasar seperti dulu" ujar Arumi.
"Itu artinya Ibu menolak tawaran Bibi Amara?" tanya Dhyanda ragu.
Ibu Arumi hanya mengangguk senyum memberi jawabannya. Namun Dhyanda bisa menangkap ada kegalauan diwajah ibunya itu. "Ibu maunya gimana? jujur sama aku Bu" tanyanya meyakinkan Arumi.
"Sudahlah, kita bahas masalah ini nanti lagi. Ibu harus pastikan kamu lolos dulu masuk perguruan tinggi negeri" ucap Arumi.
Dhyanda menunduk diam. Entah kenapa ia malah takut mengecewakan ibunya tersebut. Bagaimana kalau dia tidak lolos masuk PTN? Selama ini Dhyanda tidak terlalu menggebu-gebu untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perkuliahan. Ia cukup tau diri dengan kondisi keuangan dirinya dan Arumi selama ini. Tapi justru dari pihak ibu Arumi lah yang ngotot kalau Dhyanda harus tetap melanjutkan pendidikan apapun kondisinya.
Sementara di benua yang berbeda, seseorang tengah berbincang serius melalui pesawat teleponnya.
"Perusahaan kita punya program beasiswa bagi siswa berprestasi kan? Lo urus gimana caranya dia dapet beasiswa dari kita untuk universitas swasta terbaik di Jakarta. Nanti Lo tinggal hubungin kepala sekolahnya" ujarnya pada orang yang dihubunginya.
-Oke bos, laksanakan-
"Good!" Dia pun mengakhiri panggilan telponnya.
"Rencana apa lagi yang kamu lakuin, Bang?" tanya perempuan cantik bermata bulat yang sedari tadi menguping pembicaraannya dengan seseorang ditelepon.
__ADS_1
"Aleena? kapan kau datang?" seseorang yang ternyata Aldrick begitu terkesiap, nggak menyangka adik perempuannya itu sudah berdiri dibelakangnya sedari tadi.
"Aku jadi penasaran sama dia. Seperti apa sih kekasih mu itu sampai terkesan begitu istimewanya?" tanya Aleena tertawa kecil tapi terkesan meledek.
Aldrick malah menyunggingkan senyuman tipis. Ia berjalan mendekati jendela lebar berkaca tanpa tirai. Tatapannya menerawang jauh melihat gedung-gedung pencakar langit lain diluar sana. Cukup lama lelaki itu memandangnya dengan tatapan kosong.
"Finally, aku harus membuat keputusan untuk meninggalkan dia demi melanjutkan hubungan tersebut. Jujur, sebuah keputusan yang berat, tapi gak akan bisa dihindari. Hanya saja itulah situasi yang harus aku lalui waktu itu. Hingga akhirnya aku memilih London dan meninggalkan rasa yang pernah ada saat di Jakarta, menikmati hubungan yang aku dan dia jalani saat ini," ujar Aldrick masih menatap pemandangan dibalik jendela ruang kerjanya. Kedua telapak tangan dimasukkan kedalam kantong celana seperti kebiasaannya.
"Dan itu semua karena Papa kan?" kata Aleena seraya memeluk tubuh Aldrick dari belakang. Menyandarkan kepalanya dipunggung sang kakak tanpa canggung. "Maksud Papa mungkin baik, tapi terkadang kita terlambat menyadarinya" ujarnya lagi.
Aldrick berbalik, melepaskan tangan Aleena yang melingkar manja ditubuhnya, "kita udah dewasa, jaga sikap mu, Aleena!" tegurnya yang merasa risih dengan sikap sang adik yang masih sering memeluk dan menciumnya tiba-tiba seperti kebiasaannya dari sejak kecil.
"Kenapa?" tanya Aleena tampak bingung.
"Kenapa kamu bilang?" Aldrick malah balik bertanya, "itulah kenapa laki-laki itu bisa merusak masa depanmu. Kamu terlalu polos, Aleena"
Aleena terdiam, kata-kata Aldrick kembali menampar dirinya untuk mengingat kejadian empat tahun silam.
Ketika kehilangan sebuah harapan, terkadang apapun yang dilakukan terasa begitu hampa, bahkan cederung tak berguna. Entah itu kesenangan, kemewahan atau apapun yang didapat, semuanya terasa kosong.
.
.
__ADS_1
.