Penantian DHYANDA

Penantian DHYANDA
Untung ada dia


__ADS_3

“Jangan mendekat!”, lirih Dhyanda menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


Dua orang preman mabuk yang mengaku penguasa wilayah ini terus mendekati Dhyanda. Kawasan disana memang tampak sepi dan mereka melihat gadis itu terlunta sendirian di jalanan, siapa yang tak tergiur tubuh molek indah yang terjaga dengan sangat baik kemulusannya itu.


“Gue kena HIV Bang!” lirih Dhyanda demi melindungi dirinya sendiri.


“Lo nggak bisa bodohin kita! Kalo mau jualan jangan disini, ini wilayah gue, lo harus bayar pajak sama kita-kita,” ujar salah satu preman dengan penuh tato disepanjang lengannya.


“Jangan coba-coba bikin masalah kaya tadi, atau gue tampar lo lebih keras lagi!” ancam preman satunya lagi. “sekalipun lo minta bantuan, nggak ada yang berani nyampurin urusan kita, atau dia emang niat nganter nyawanya”


“Gue nggak takut karena gue salah!” lawan Dhyanda percaya diri.


“Mulut besar lo bikin gue makin nafsu”, kekeh lelaki bertato. Seringainya paling mengerikan dan membuat nyali Dhyanda menjadi ciut.


Dhyanda terpojok. Kedua preman itu terus menekan Dhyanda, menarik-narik bajunya sambil tertawa-tawa. Sampai mati Dhyanda tidak akan membiarkan mereka merengut harga dirinya.


“Gue bukan pela*cur!” seru Dhyanda meronta.


“Kalo bukan pela*cur, ngapain lo mangkal di wilayah kita, Neng?” tanya preman itu mendorong pundak Dhyanda kasar.


“Gue nggak mangkal, gue lagi di jalan menuju pulang!” balas Dhyanda menangis. Ia benar-benar ketakutan sekarang.


Dalam hati ia berharap ada seseorang siapa pun itu menolong dan menyelamatkannya dari kedua preman mabuk ini.


“Lepasiin!!” ronta Dhyanda terisak, habis tenaganya untuk melawan. “Lepasin gue, Bang!” mohon Dhyanda putus asa saat kedua preman itu menarik-narik lagi tangannya.


“Lo biasa jualan tapi masih aja jual mahal sama kita?!” sentak preman bertato itu geram. “Emang harus dipaksa kayanya nih. Ayo kita bawa saja dia ke markas!”


"Jangan, Bang. Tolong lepasin..." Dhyanda terus memohon. Namun kedua preman itu tak menghiraukan, mereka menyeret Dhyanda dan memaksanya.


“Tunggu!!” teriak seseorang geram. Membuat Dhyanda dan kedua preman yang sedang memaksanya itu menoleh bersamaan.


“Lo sentuh sehelai rambutnya, gue hajar lo sampe mamp*us!” ucap seorang lelaki berdiri dengan gagahnya tanpa rasa takut.

__ADS_1


“Casey?” lirih Dhyanda merasa lelaki itu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menolongnya.


“Siapa lo?” kedua preman itu menegakkan badannya mendekati Casey. Sementara Dhyanda masih terisak, bersyukur akhirnya ada seseorang yang menolongnya.


“Jangan sentuh dia pake tangan kotor kalian! Kalo Cuma pengen duit, lo nggak perlu nyentuh dia, gue kasih berapa pun yang kalian mau!” kata Casey tak gentar.


“O ya? yakin lo mau ngasih duit buat nuker pela*cur kecil ini? berapa pun itu?” tantang si preman.


“Lepasin dia dulu!” seru Casey tetap waspada.


“Gue minta 10 juta sekarang juga, baru dia gue lepas” ujar preman kelas bawah itu.


“10 juta doang?” gumam Casey meremehkan, “Oke, gue transfer sekarang” Ia menyanggupi begitu entengnya. Dhyanda tak menyangka sepupu kekasihnya itu begitu saja menerima permintaan si preman.


“Gue minta cash”


“Gue nggak punya uang cash sebanyak itu!”, ujar Casey.


“Kita nggak mau tau!”


"Diseberang jalan sana ada ATM, Lo jalan kesana buruan! jangan macem-macem apalagi sampe ngehubungin polisi. Lo akan tau akibatnya nanti!" ancam lelaki penuh tato pada Casey. Sementara Dhyanda meringis kesakitan karena kedua tangannya ditarik kebelakang punggungnya agar tak bisa berkutik.


"Ya, gue nggak akan panggil polisi!" sahut Casey. Ia kembali menatap Dhyanda, semakin tidak tega melihatnya. Casey pun langsung menyanggupi permintaan mereka. Ia hanya tidak ingin mengulur waktu lagi untuk segera membebaskan Dhyanda dari posisinya sekarang.


.


Casey kembali dengan membawa uang 10 juta yang barusan ia ambil langsung dari ATM.


“Lo nggak coba-coba panggil polisi ke sini kan?” tanya preman bertato sangat waspada.


“Gue udah bilang dari awal, gue nggak mau ngelibatin polisi!” kata Casey datar.


Preman itu tertawa menggelegar. Ia mengkode preman satunya untuk melepaskan Dhyanda dari sanderanya. Setelah membawa uang tebusan 10 juta tersebut kedua preman itu pergi. Berjalan dengan meninggalkan tawa senang tanpa tahu hal buruk apa yang tengah menanti mereka didepan sana.

__ADS_1


Melihat Casey membiarkan para preman itu pergi, Dhyanda reflek berlari, tanpa peduli apa pun, Dhyanda menubruk tubuh Casey, memeluknya erat, terisak dipelukan lelaki yang bukan siapa-siapanya.


“It’s okay. Semua udah berakhir,” bisik Casey seraya mendorong pelan bahu Dhyanda, melepas pelukan.


"Terimakasih" lirih Dhyanda.


"Kebetulan gue lewat sini dan liat lo sedang diganggu preman rendahan itu" ujar Casey.


“Kenapa mereka dibiarin pergi? Kamu nggak lapor polisi tadi?” lirih Dhyanda bingung.


“Gue nggak bodoh! Mungkin sekarang mereka sudah dibekuk polisi didepan sana. Dasar preman kampung!” kata Casey.


Tadi pas di ATM, Casey diam-diam menghubungi polisi dan sepakat menjebak para preman yang meresahkan warga itu. Tim dari kepolisian akan membekuk mereka setelah mendapatkan uang tebusan dari Casey. Mereka sudah mengantongi identitas si preman yang merupakan residivis pemalakan diwilayah tersebut.


“Trus uang lo yang 10 juta?”


“Masih mikirin tuh duit?” geleng Casey, “Ayo gue anter lo pulang!” lelaki itu meraih tangan Dhyanda dan mengajaknya masuk kedalam mobilnya.


"Pulang? gue nggak mau!" tolak Dhyanda kembali syok. Ia kembali teringat kejadian dirumahnya beberapa jam yang lalu.


"Kenapa?" Casey mengernyit bingung. Dia melihat wajah Dhyanda yang memucat, bibirnya gemetaran serta keringat yang menetes di pelipisnya. "are you oke?" tanya Casey. Lelaki itu curiga, pasti banyak hal buruk yang dilalui Dhyanda hari ini.


Dhyanda terdiam sambil menyatukan kesepuluh jemari tangannya didepan dada. "Gue takut..." gumamnya yang masih terdengar jelas oleh Casey.


"Gue nggak tau apa aja yang udah terjadi sama Lo. Tapi gue rasa Lo per-- Hey! Lo nggak apa-apa? Dhy! Dhyanda!", Casey langsung panik saat menyadari Dhyanda sudah tak sadarkan diri di kursi penumpang mobilnya. Ia menepuk-nepuk pipi Dhyanda agar tersadar. "dia demam" gumamnya saat merasakan hawa panas diarea wajah gadis itu.


.


.


.


Ada yang minta visualnya Casey nih, beginilah kira-kira ya, Gaess 😁

__ADS_1



__ADS_2